
Menjadi siswa di sebuah sekolah menengah pertama membuat Ayu semakin sibuk dengan aktivitas sekolahnya. Berangkat pagi pulang sore sudah menjadi hal biasa untuk Ayu sekarang ini.
Sore itu setelah pulang sekolah, Ayu lantas mengambil sapu lidi dan membersihkan halaman rumahnya. Selesai dengan pekerjaan itu, Ayu berniat masuk ke dalam rumah untuk mencuci piring tapi, langkahnya terhenti saat melihat mobil bulek Vera yang baru saja tiba di rumahnya. Seorang wanita yang dia kenal sebagai bulek Vera keluar dari dalam mobil bersama lelaki yang dia tebak adalah teman dari bulek Vera, pikirnya. Tapi kening Ayu berkerut saat melihat bulek Vera dirangkul mesra oleh lelaki tadi dan sekilas dia bisa lihat lelaki yang dia tak kenal siapa, tengah mencium kening bulek Vera.
"Dinda mau punya papah baru.." Gumam Ayu tak ambil pusing dan masuk ke dalam rumah.
"Iiiieh maass.. Kamu apa sih kok cium aku di depan tadi, kalau ada yang lihat gimana?" Pipi Vera memerah mendapat perlakuan bak ratu dari pacarnya.
Iya, setahun belakangan Vera menjalin hubungan dengan lelaki yang dia kenal secara tak sengaja di tempat perbelanjaan. Dari pertemuan pertama mereka itu terjadi lah pertemuan selanjutnya. Dan membawa hubungan mereka semakin dekat. Vera nyaman bersama pacarnya, hatinya yang dulu haus akan siraman kasih sayang sekarang seakan telah menemukan telaga impiannya.
Teguh, selain sulit dilupakan lelaki itu juga sulit untuk didapatkan. Vera menyerah.. Pada akhirnya, dia melabuhkan hati pada lelaki yang berhasil membuat hatinya bagai terkena aliran setrum setiap kali mereka bersama.
"Kalau ada yang lihat? Mereka akan tahu jika aku sayang banget sama kamu. Aku enggak tahan pengen nikahin kamu, jadiin kamu wanitaku seutuhnya." Mendengar jawaban sang pacar, pipi Vera lagi-lagi berubah bak tomat merah.
"Aku juga tahu mas.. Kapan dong kamu lamar aku? Aku kan juga mau kita cepet-cepet nikah." Rengeknya manja.
Di usianya yang menginjak tiga puluh tujuh tahun, Vera tak berubah sama sekali. Dia masih secantik dulu, banyak kaum adam yang mengagumi kecantikannya, tapi hatinya tertambat pada satu sosok yang saat ini menggenggam lembut jemarinya.
"Aku usahain secepatnya ya sayang.. Kamu makin manis kalau merajuk seperti ini." Tangan itu terulur memegang pipi Vera gemas.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, di anak tangga duduk gadis kecil yang tak lain adalah Dinda Altafunisa, putri semata wayang dari pernikahan pertama Vera dan almarhum Cokro. Mata Dinda menatap tak percaya dengan apa yang mamahnya lakukan saat ini dengan lelaki yang bukan mahramnya.
"Mah.. Dinda mau ke rumah Ayu." Dinda cuek saja melewati ruang tamu di mana tadi dia melihat mamahnya menautkan bibir pada bibir lelaki yang dia kenal sebagai om Theo.
Kedua insan berlawanan jenis itu gelagapan, mereka tak tahu jika Dinda ada di rumah. Vera mengatur nafasnya sebelum mengiyakan keinginan Dinda yang akan berkunjung ke rumah Ayu.
"Kamu sih mas.. Aah.. Dinda pasti lihat kita deh," Vera merasa tak enak.
"Kenapa memangnya yank? Biarin aja. Biar seluruh dunia tahu kalau kamu milikku! Lagian kita kan pasti akan menikah, biarin aja Dinda terbiasa dengan kehadiran ku. Aku yakin dia bisa menerima ku sebagai ayah sambungnya." Ucap Theo bangga.
"Mau lanjut lagi? Mumpung enggak ada orang di rumah..." Ajak Theo makin berani.
"Yu.. Mamahku kebangetan deh." Ucapnya kemudian.
"Kenapa?" Ayu membuka halaman buku selanjutnya yang akan dia baca. Di depan Ayu terdapat dua buku pelajaran berbeda. Dia belajar sambil menemani kegalauan Dinda.
"Kamu lihat aku lah Yu. Gitu amat sih kamu ini." Protes Dinda kesal.
Ayu menutup bukunya. Mulai menyimak apa yang Dinda ingin utarakan kepadanya.
__ADS_1
"Ndang monggo." (Silahkan lanjutkan.) Ayu mempersilahkan Dinda melanjutkan ceritanya.
"Yu.. Aku mau tanya sama kamu, apa bapak mu pernah bawa pulang wanita ke rumah? Maksudku wanita dewasa yang mungkin adalah pacar bapak mu gitu Yu?" Tanya Dinda. Ayu menggeleng. Jawaban yang simpel.
"Mamahku sering Yu.. Kamu tahu enggak.. Ada aku di rumah aja mereka ciuman Yu. Itu kan enggak sopan ya Yu? Jijik aku lihatnya, mamah makin aneh setelah kenal om itu.. Dandanannya menor. Kayak enggak inget umur aja. Aku kesel sama mamah." Dinda menceritakan apa yang dia rasa pada Ayu.
"Ciuman? Cium tangan? Salim?" Ayu sangat tidak mengerti.
"Bukaaaan.. Ish kamu malah fokusnya ke sana. Kamu pernah nonton yutub enggak, drama Korea gitu? Ada adegan kek gitu.. Nempelin bibir ke bibir.. Namanya ciuman." Dinda kembali memberi penjelasan.
"Eh.. CPR?" Tanya Ayu lagi.
"Enggaaaaak Yu.. Ngapain nyampe CPR?? Kita lagi enggak bahas olahraga renang di sini!! Ini aku lagi cerita tentang mamahku lho Yu. Aku kesel kok malah makin kesel sih jadinya gara-gara cerita sama kamu." Dinda melipat tangannya ke depan.
"Hehehe.. Iya iya, maaf. Terus apa Din?"
"Ya gitu deh.. Mamah makin enggak jelas. Makin di luar batas manusia normal." Dinda kesal.
"Din.. Kamu jangan ngomong gitu. Ingat, surga di bawah telapak kaki ibu lho.." Ayu mencoba mencairkan suasana.
"Tapi mamah kayak gitu lho Yu.. Masa ada surga di telapak kakinya?"
__ADS_1
Ayu diam tak menjawab. Dia sendiri tak tahu harus bicara apa. Karena yang dia tahu, bapaknya lah letak surganya di dunia.