Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 152


__ADS_3

Di kampus, Ayu terkenal humble dan mudah bergaul dengan siapa saja. Cerdas sudah pasti, tapi di balik itu semua.. Dia juga banyak memiliki haters. Sesuatu yang dia anggap biasa karena sedari kecil dia sudah digembleng dengan cibiran serta pandangan tetangga yang tak suka padanya.


Kemiskinan dulu jadi faktor utama mengapa mereka anti pati pada keluarga Teguh, tapi sekarang meski Teguh dan Ayu hidup berkecukupan tak serta merta membuat para haters berkurang jiwa julidnya pada mereka. Terutama pada Ayu.


Cantik, pintar, mudah bergaul, sholehah.. Nyatanya tak membuatnya selalu mendapat perilaku baik entah dari teman maupun tetangga. Hal itu bisa dilihat dari cara mereka melihat Ayu, memicingkan mata seperti merekalah makhluk yang paling mulia di muka bumi.


"Kelian tahu, kemarin kan aku liat dia di toserba depan itu lagi ngerayu Ganesh dong!!" Kompor satu, sebut saja begitu.


"Oh em jiii.. Yang bener?? Emang ya, sok polos aja dia itu, tapi jiwanya liar kek ular! Heran gue cowok cowok kok suka sama dia, yang mereka lihat dari dia tuh apa?? Modal kerudung dibelit belitin di kepala doang, gue juga bisa!!" Kompor dua makin sangar ghibahnya.


"Hahaha.. Iya ya, cakep juga nggak seberapa pinter juga umum, nggak ada yang bisa dibanggakan lah! Murahan emang!" Kompor satu mulai menaikan level julidnya.


Dengan keras, Seruni menjambak rambut kompor dua. Tak ayal kelakuan barbarnya mengundang massa untuk melihatnya. Sepertinya Seruni mendengar semua ucapan para kompor tadi yang asyik membicarakan Ayu.


"Kamu mau kepalamu dibelit belitin kain? Kain apa? Sini biar aku yang kasih, ku kasih kain kafan sekalian! Idup mu apa sekurang kerjaan itu nyampe nyampah di sini?"


"Punya salah apa Ayu sama kamu? Kamu juga? Melotot melotot gitu? Dikira aku takut hah? Mau kosplei jadi Suzana kamu hah??" Tunjuk Seruni ke arah kompor satu.


Yang lain bukannya memisahkan tapi malah merekam adegan tersebut, adu mulut tak terelakkan. Sampai ada Reza dan Ayu yang datang dari arah berbeda. Mereka langsung menuju ke arah keramaian itu terjadi.

__ADS_1


"Buset Uni, kamu ngapain? Udah udah.. Jangan gini, malu.. Kita ini di sini cari ilmu. Bukan adu bela diri, mahasiswa bukan berarti maha benar! Jangan membiasakan diri adu fisik kalau kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Reza melerai perkelahian itu. Terlihat Seruni sudah berkeringat dan acak acakan karena di serang dua kompor sekaligus.


"Ya Allah Uni.. Kamu kenapa?" Ayu langsung memeluk Seruni yang masih terbakar emosi. Mukanya merah padam.


"Tanyain tuh sama dua utusan Dajjal itu! Mulut nggak bisa di jaga! Percuma kuliah tinggi tinggi kalo akhirnya otak hanya dipake buat mencari keburukan orang lain!" Bentak Seruni ke arah dua kompor.


"Heh! Kamu yang mulai kok malah nunjuk nunjuk kami sih! Dasar gila!" Kompor satu membetulkan letak jepit rambut yang berpindah ke dada. Masuk ke celah blouse yang dia pakai, karena tadi dia selesai melakukan akrobat adu kekuatan otot melawan Seruni.


"Kelian tahu? Dia juga bebegig di sebelahnya itu, jadi biang gosip di sini. Mereka yang sering ngasih info ke anak-anak sini kalau Ayu tuh cewek nggak bener! Nggak abis pikir aku sama mulut mereka, baik-baik jadi intip di neraka mbak! Di sekolahin nyampe tahap ini bukannya makin waras, makin bener kalo bicara malah yang ada cuma jadi sampah aja! Noh tong sampah noh! Di sana tempat mu harusnya!!" Seruni ingin maju kembali menjambak lawan-lawannya. Tapi dia ditahan oleh Ayu.


"Bener kek gitu??" Tanya Ayu pada kedua julid yang tak suka ditanyai seperti itu.


"Kami salah apa? Toh nyatanya bener, kamu cuma sok kecakepan aja, sok alim, bersembunyi di balik kerudung tapi suka godain cowok cowok di sini! Udah kebukti kok! Banyak yang tau kamu kayak apa sebenarnya, tapi pada diem.. Mereka diem karena nggak mau berurusan sama Reza! Yang jelas jelas kamu manfaatin jadi kacungmu! Jadi jongosmu, pinter lah.. Milih tameng yang pas buat nutupin kebusukan mu!" Mendengar hal itu Ayu menggenggam erat jemarinya.


"Jaga bicaramu! Kalau nggak tau apa-apa tentang kami jangan asal bicara!" Reza maju membela Ayu.


"Tentang kami?? Tentang kalian itu maksudnya apa ya? Kita tau kok.. Kamu dan Ayu nggak ada apa-apa. Just friend! Dan itu juga berlaku buat Ganesh juga cowok lain yang matanya buta bisa suka sama Ayu! Biar apa kamu nggak milih satu diantara cowok yang naksir kamu? Ya biar kamu lebih bebas morotin mereka lah, makin bebas pehapein mereka! Ngasih gombalan sana, ngasih iming-iming sini, bilang sayang sana tapi pas di ajak serius nanti nanti! Ck murahan!"


'Plaakkkk'

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi penceramah ulung tadi. Ayu pelakunya. Dia tak bisa diam dirinya dituduh macam-macam seperti tadi.


"Kurang kurangin nonton sinetron ikan teri. Biar kepala kelian ada isinya dikit!" Ayu tak ingin berlama-lama di sana. Dia menarik Seruni yang masih belum puas adu mekanik dengan dua mulut racun tadi.


Reza belum menyusul mereka. Entah apa yang dilakukan lelaki itu pada kedua gadis yang membuat hati Ayu dan Seruni panas membara. Ayu tak peduli.


"Kenapa pergi dulu sih?? Kurang tadi elaaah.. Kita belum juga jedotin mereka ke tembok biar otaknya bisa geser kembali ke tempatnya. Cuma di gampar doang mah mana asyik!" Seruni mencak-mencak.


"Sebenarnya aku juga yang salah.." Ayu ingin menangis.


"Harusnya aku kurangi interaksi dengan Ganesh, Reza atau cowok lain.. Nggak ada faedahnya, ujungnya malah jadi fitnah gini. Kamu nggak salah apa-apa malah kebawa-bawa.. Maaf ya.." Air mata itu turun juga.


"Kamu nggak waras ya? Jangan bilang kamu kemakan omongan mereka? Hei.. Mereka kayak gitu biar kamu jauh dan dijauhi orang-orang yang sayang sama kamu! Lagian gimana nggak sering bareng kalo dari kecil kita emang temenan, kita juga bikin usaha bareng! Bullshit lah sama urusan Dajjal itu yang ngomong asal njeplak! Mereka pengen kamu down, bikin kamu kena mental karena pancingan mereka!" Seruni berucap bak ibu-ibu pemimpin majelis taklim, sangat bersemangat dan berkobar-kobar.


"Aku nggak bisa milih salah satu diantara mereka Uni.. Buatku mereka itu sama pentingnya.. Apa aku semaruk itu?" Masih sesenggukan.


"Iya sih.. Aku kadang iri.. Eh tapi nggak nggak.. Kamu punya inner beauty yang nggak dimiliki cewek kebanyakan. Jadi come on.. Nikmati aja semua yang ada, jangan terlalu mikirin omongan netijen!!" Ucap Seruni antara curhat sendiri dan menghibur Ayu.


"Aku mau jadi apapun itu yang dibilang mereka, asal kamu nggak jauh dariku. Mau di sebut kacung, jongos, babu.. Aku nggak masalah.. Karena yang aku butuhin kamu, meski kita belum bisa naikin level hubungan kita.. Seenggaknya jangan minta aku pergi dari sisimu.." Reza berkata dengan tegas dan sangat jelas.

__ADS_1


Makin galau saja Ayu mendengar perkataan Reza yang dia tahu semua itu tulus dari hati.



__ADS_2