
Masih duduk di dalam mobil, Djaduk memperhatikan calon istrinya keluar rumah. Vera biasanya akan mengantar anaknya sekolah di jam-jam segini.
"Dia mau nganter anaknya pake baju itu? Apa semua bajunya kurang bahan, tak habis pikir aku sama orang itu." Djaduk bicara sendiri.
"Mah.. Itu mobil siapa mah?" Tanya Dinda memperhatikan mobil Djaduk ada di samping jalan.
"Orang gila kali. Udah ayo. Nanti telat!" Ucap Vera sambil ngaca di spion motor.
"Ayu diajak bareng enggak mah?" Kembali bertanya.
"Jam segini si dekil itu udah berangkat lah Yu, dia kan diantar sepeda sama bapaknya."
"Tapi, sepeda paklek masih di rumah tuh mah.. Lihat deh." Dinda menunjuk sepeda yang masih teronggok di depan rumah Teguh.
"Eh.. Iya ya.. Kok masih di rumah. Apa mas Teguh enggak kerja?" Vera menebak.
Dia yang tadi bersemangat ingin segera mengantar Dinda berangkat sekolah jadi membatalkan niat mulianya itu dan berjalan menyeberang jalan menuju rumah Teguh. Vera masih tak sadar jika apa yang dia lakukan diperhatikan oleh calon suaminya.
"Mas.. Mas Teguh? Ada orang?" Vera mengetuk pintu rumah Teguh.
Tak ada suara dari dalam sana. "Kok sepi ya?" Vera ingin meraih gagang pintu itu tapi, ada suara tak asing yang memanggil namanya.
"Vera!" Djaduk ada di seberang jalan bersandar pada mobil SUV putih miliknya.
Vera memutar bola matanya malas. Sejak kapan orang itu di sana? Pikir Vera. Meski malas melihat sosok Djaduk, dia tetap berjalan menuju suara calon suaminya itu.
__ADS_1
"Apa?" Sengitnya.
"Kamu mau nganterin anakmu sekolah pake baju kurang bahan gitu? Mau ditaruh di mana mukaku, punya calon istri open-openan gini?! Salah pilih kayaknya aku ini." Djaduk menggeleng mengamati penampilan Vera saat ini.
"Kenapa? Apa yang salah? Ini modis namanya modiiis! Enggak tahu fashion ya.. Ya wajar sih caramu berpakaian aja jadul gitu! Aneh!" Vera mulai mencibir.
"Aku aneh? Sini.. Sini kamu.. Kamu lihat ayam itu? Bahkan dia lebih sholehah dari kamu, karena seluruh tubuhnya tertutup bulu. Lha kamu?" Djaduk menunjuk ayam yang sedang mencari makan. Entah salah apa ayam itu sampai dijadikan pembanding antara dia dan Vera.
"Aku baru tahu, selain aneh, enggak modis kamu juga menjurus pada gangguan kejiwaan! Yang benar saja.. Kamu nyamain aku sama ayam? Kalau gitu nikah aja sama ayam!" Bentak Vera.
"Ya kalau ayam bisa lahirin anak-anakku, mending juga nikah sama ayam aja. Kamu susah diatur!"
"Apaaa? Kamu kok asal mangap kalau ngomong! Dosa apa aku bisa dijodohin sama orang macam kamu!!"
"Hei wanita! Diam kamu ya, tak pantas mulutmu itu mengeluarkan kata-kata yang menistakan calon tulang punggung mu! Tak ku beri nafkah seumur hidupmu saat jadi istriku kapok kamu! Jangan nyebelin ya kamu!"
"Lihat ini? Otot-otot ku yang bikin separuh kaum hawa di negeri ini tergila-gila? Lihat mobilku!! Lihat.. Tiap hari aku ganti mobil, senin Avanza, selasa Ayla, rabu Ferrari, kamis Lamborghini, Jumat SUV, sabtu Sedan, minggu Nissan! Kagum kan kamu? Pasti kagum lah..! Lihat matamu mulai berbinar!" Sombongnya...
"Emang pantas namamu ada di nisan." Vera tak berani bicara keras. Hanya bergumam saja membalas ocehan Djaduk.
"Mah.. Udah jam tujuh.. Aku bolos aja ya?" Dinda mengagetkan Vera dan Djaduk.
__ADS_1
"Apaaaa? No Dinda! Kamu harus sekolah, gara-gara orang aneh ini mamah jadi lupa nganterin kamu! Udah ayo pergi sekarang!" Vera bergegas ke motornya.
"Masuk sini aja. Aku anterin!" Djaduk membuka pintu mobilnya.
"Enggak usah. Anakku telat gara-gara kamu, enggak usah sok baik!!" Vera berlalu pergi.
"Telat gimana? Diapa-apain aja belum kok bilang telat.." Djaduk pergi membawa kekesalan dalam diri. Begitu juga Vera dan Dinda, pagi mereka kacau gara-gara kedatangan Djaduk.
____
Teguh sampai di tempat kerja. Hari dia memang tak membawa sepedanya, bannya kempes dan pasti memakan waktu jika harus menambal ban sepedanya. Ayu dia antar ke sekolah dengan berjalan kaki. Meski lebih lama tapi tak apa, mereka juga terbiasa tanpa kendaraan di setiap harinya.
"Siang banget mas.. Udah aku cek semua ini. Tinggal berangkat, Yok! Sebelum budhe Efa berubah dari bidadari jadi naga nyemburin api."
"Iya. Bentar tak masuk dulu." Teguh berjalan memasuki toko. Sedangkan Ervin menunggu sambil celingukan mencari ada yang kurang dari Teguh. Saat diingat kembali, ternyata hari ini Teguh ke toko tanpa menggunakan sepeda.
"Mas nanti pulangnya enggak kemaleman apa? Bawa sepeda aja nyampe rumah pas maghrib gitu kok." Kata Ervin sudah ada di samping kemudi.
"Aku udah bilang sama anakku Vin. Insya Allah enggak apa-apa. Mau ada apa emang?" Tanya Teguh balik nanya.
"Ya takutnya anakmu takut di rumah sendirian mas.."
"Dia biasa sendiri Vin." Masih fokus dengan jalan.
"Mending nikah lagi mas, Ayu ada yang jagain. Ada yang nemenin Ayu waktu mas Teguh belum pulang kerja. Kan enak, malem ada yang nemenin tidur, ada yang mijitin kalau capek.. Ada yang bikinin sarapan dan kopi, pagi, laaah.. Kok malah aku yang kepengen nikah mas hahaha"
__ADS_1
Teguh hanya tersenyum tipis. Dia tak begitu memikirkan apa yang diucapkan Ervin. Bisa menyelesaikan pekerjaan dan segera pulang adalah hal yang dia inginkan saat ini.