
Vera berteriak, dia marah. Dia kecewa atas perlakuan Djaduk pada dirinya yang dirasa tak memihak nya sama sekali.
Ada Dinda di sana, dia yang awalnya mencoba membujuk mamanya agar tenang sekarang malah membiarkan saja orang tuanya itu melampiaskan kemarahannya.
Dalam hati, tentu Dinda kecewa dengan mamahnya. Wanita itu seakan tak sadar juga jika semua yang terjadi pada dirinya tak lain atas kuasa Allah SWT. Sebuah teguran untuknya agar bisa merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.
"Mamah enggak capek apa dari tadi marah-marah?" Dinda memunguti pecahan vas dan perabot lain yang dibanting mamahnya guna melampiaskan emosinya.
"Diam Din! Kamu juga sekarang enggak menghargai mamah jadi orang tuamu! Bagaimanapun mamah seperti ini, itu karena siapa? Kamu! Jadi diem aja!" Bentak Vera.
Sudah puluhan kali Dinda mendengar mamahnya berkata demikian, menuding dirinya sebagai penyebab kebutaan yang dialami.
Tentu saja Dinda sedih. Gadis itu bisa sabar karena dukungan dari budhe Mimin. Budhe Mimin selalu menasehatinya agar Dinda bisa sabar dan ikhlas menghadapi kondisi mamahnya sekarang.
"Mbak Dinda, makan dulu ya.. Mamahnya mbak Dinda tadi sudah makan. Mbak Dinda jangan ambil hati omongan mamah ya, semua ini cobaan mbak.. Kalau mbak Dinda ikhlas dan sabar, InsyaAllah.. Allah akan memberi kekuatan kepada mbak Dinda dalam menghadapi ujian dariNya. Sekarang maem dulu ya cah ayu." Budhe Mimin membujuk Dinda yang habis menangis di kamarnya.
"Budhe.. Ujian kemarin Dinda berusaha sebaik mungkin nyelesein semua soal. Dinda pengen bikin mamah bangga kalau nanti Dinda lulus dengan nilai bagus. Dinda pengen mamah tahu kalau Dinda sayang sama mamah.. Tapi, kayaknya semua itu bakal sia sia ya budhe.." Dinda menghapus air matanya.
__ADS_1
"Ndak ada yang sia sia mbak, nanti saat mbak Dinda lulus dan namanya di sebut untuk menerima penghargaan murid terpintar. Budhe yakin.. Mamahnya mbak Dinda akan jadi orang yang paling bahagia.. Dan jika saat itu tiba, mamahnya mbak Dinda akan sadar selama ini beliau sudah salah karena mengabaikan anak sebaik mbak Dinda ini,"
Suntikan motivasi dari budhe Mimin sedikit banyak mampu menenangkan hati Dinda. Setidaknya masih ada orang yang mau mendengar keluh kesah dan isi hatinya.
_____
Di rumah, Shopiah melihat Sakti yang tertidur pulas. Air matanya kembali jatuh. Rasanya begitu sulit mengikhlaskan suaminya yang lebih dulu berpulang ke rahmatullah dengan cara yang tidak biasa.
"Shop.. Kamu di dalam?" Suara bapak Shopiah. Selama ini Shopiah beserta suami dan anaknya tinggal bersama orang tua Shopiah.
Segera Shopiah hapus air matanya, dan bergegas membuka pintu kamar. "Iya pak."
"Maaf ya Shop.. Aku bukan bermaksud nambah beban mu.." Ucap bapaknya Shopiah mendului.
"Ada apa pak?"
"Jadi gini, kamu tahu sendiri kan.. Ibumu sakit-sakitan, aku juga udah tua.. Enggak bisa kerja.. Enggak ada pemasukan. Selama ini kan Wibi yang nanggung semuanya, dari makan sampai pengobatan ibumu, dia juga yang tanggung. Lha sekarang Wibi udah meninggal.. Hmm.. Uang kita kan makin hari juga makin nipis.." Shopiah mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Maksudnya apa pak? Jangan berbelit-belit begini, aku enggak ngerti." Shopiah memang tak tahu arah pembicaraan bapaknya.
"Hmm gini, gimana kalau kamu nanti ikut kerja si Lastri ke Hongkong. Dia di sana sukses. Gaji gede, bisa bangun rumah, bisa nyekolahin anaknya, tabungannya di bank banyak.."
Mata Shopiah membulat. "Pak.. Sakti baru kehilangan ayahnya, dan bapak nyuruh aku kerja jadi ke luar negeri? Apa bapak enggak kasihan sama cucu bapak itu? Sampai sekarang aja, dia masih suka nangis nanyain ayahnya."
"Soal uang, Shopi masih ada tabungan. InsyaAllah cukup untuk kita kedepannya." Lanjutnya.
"Bukan gitu Shop, tabungan kamu itu kan paling cukup buat makan sehari-hari aja, bisa bertahan berapa hari memangnya uangmu itu untuk kita semua? lha nanti buat kontrol ibumu? Belum lagi keperluan mendadak lainnya? Shop.. Sakti juga harus sekolah kan, buat segala keperluannya itu, kamu dapet duit dari mana nanti? Mau pinjam sana sini? Ndak kan?"
"Mumpung di sana ada lowongan kerja lho. Mending kamu ambil kesempatan ini, soal Sakti, lambat laun juga akan terbiasa ditinggal kamu. Semua ini kan demi masa depannya juga. Lain cerita kalau Wibi masih hidup, bapak enggak akan ngurus atau ngatur-ngatur kamu kayak gini Shop."
Shopiah tak mampu meneruskan pembicaraan itu. Dia kembali ke dalam kamar tanpa ijin kepada bapaknya.
Makin pilu saja hati Shopiah, di sana dia melihat Sakti yang belum bangun dari tidurnya. Tangannya mengusap pelan keringat yang ada di dahi anaknya.
"Ayah.." Lenguh Sakti dalam tidurnya.
__ADS_1
Shopiah tak kuasa membendung air matanya. Semua ini begitu menyesakkan hatinya.