Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 67. Perubahan sikap


__ADS_3

Teguh menguatkan hati untuk bangkit kembali setelah kepergian emak untuk selamanya. Yang pergi tak bisa kembali, dan hidup masih terus berjalan meski rasa kehilangan itu tak bisa dipungkiri selalu menggelayuti hati. Dan Teguh tahu, meratapi kepergian orang tercintanya tak akan membuat mereka yang meninggal bahagia dan kembali kepadanya. Maka dari itu, Teguh berusaha tegar. Menguatkan hati, seperti namanya.. Teguh.


"Pak.. Ada om Ervin.." Ayu mengagetkan bapaknya yang sedang mencuci baju. Dengan celana pendek dan kaos hitam tipis, Teguh menemui Ervin. Penampilan sederhana dari seorang yang memang sederhana menjadi ciri khasnya.


"Assalamu'alaikum mas." Sapa Gendis terlebih dahulu. Nampak di depan rumahnya ada Ervin, Gendis dan Dewa yang tersenyum ramah padanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, lho ada apa ini mas mbak.. Vin? Oiya mari masuk dulu. Maaf berantakan rumahnya mas mbak.." Teguh mengambil sarung dan peci yang dia taruh di atas meja.


Tadinya dia ingin langsung ke rumah pamannya untuk tahlilan tiga hari kepulangan emak keribaan Sang Khaliq setelah selesai mencuci baju tapi kedatangan tamu membuatnya menunda niatnya tersebut.


Ayu tanpa di suruh bergerak menuju dapur. Dia tahu adab menghargai tamu, harus disuguhi makanan atau minuman yang dia punya di rumah. Ayu bermaksud membuatkan teh hangat untuk ketiga tamu bapaknya itu.


"Mau ke mushola mas? Kok nyiapin sarung sama peci." Ervin melihat sarung terlipat yang sudah berada di samping Teguh.


"Ke rumah paklek Vin." Ucapnya tenang.


"Ada acara apa? Emak gimana kabarnya mas, udah lama aku enggak ketemu beliau.." Ervin membuka obrolan agar suasana tak canggung.


Teguh menarik nafas berat. Seakan diingatkan kembali sosok emak yang sudah tiada. "Emak meninggal kemarin Vin."

__ADS_1


"Innalillahi wainnailaihi raji'un. Ya Allah, mak sakit apa mas?" Ervin kaget. Gendis dan Dewa pun demikian.


Sebelum menjawab, Ayu sudah datang dengan membawa nampan berisi empat gelas teh hangat. Hanya itu yang dia bisa sediakan.


"Aku tak ikut yasinan mas." Ucap Ervin lagi.


"Mas Teguh.. Saya ikut berbelasungkawa atas kepergian ibu mas Teguh untuk selamanya, dan untuk mempersingkat waktu karena mungkin mas Teguh sibuk.. Saya ingin menyampaikan maksud kedatangan saya beserta istri saya.. Saya secara pribadi meminta mas Teguh untuk kembali bekerja di tempat istri saya. Saya juga ingin meminta maaf atas kesalahan saya secara tidak langsung karena mempekerjakan pak Jatmiko di sana, yang nampaknya hal itu bukan keputusan bijak yang saya ambil." Dewa berkata dengan sungguh-sungguh.


"Maaf mas.. Tapi, kemarin aku udah dikasih gaji terakhir sama uang pesangon dari pak Jatmiko. Dan uang tersebut sudah tak pakai untuk keperluan pemakaman emak kemarin.." Teguh menunduk.


"Itu hak mas Teguh kok. Ya enggak apa-apa, pakai aja untuk kebutuhan mas. Oiya jadi gimana, mas terima enggak tawaran kami tadi buat gabung lagi di tokoku?" Sekarang giliran Gendis yang bertanya.


Tadinya Teguh sudah bingung, mau cari kerja ke mana.. Sambil mencuci bahkan dia sudah membayangkan akan kembali bekerja di pasar menjadi kuli angkut barang di sana. Tapi, kebingungannya terjawab saat sekarang kedua bos dan temannya lah yang datang sendiri ke rumahnya untuk menawarkan pekerjaan. Tak henti ucapan syukur dan hamdalah dia kumandangkan dalam hati dan lisannya.


Vera merasa hidup di rumah sendiri rasanya seperti di rumah mertua. Selalu ada teguran dari mertua dan Theo suaminya. Seperti tadi saat Vera sengaja bangun siang, dia dibentak oleh sang mertua saat keluar dari kamarnya.


Hal itu berlangsung sepanjang pernikahan Vera dan Theo terjadi. Ribut dan adu mulut sudah jadi santapan sehari-hari. Vera sampai jengah dan tak tahan dengan kelakuan suami serta mertuanya.


"Mau kemana mas?" Tanya Vera ketus.

__ADS_1


"Pergi. Enggak betah di rumah." Ucap Theo datar.


"Ya enggak betah wong ini bukan rumahmu." Hampir kalimat itu keluar dari mulutnya tapi masih bisa dia tahan dengan hanya bergumam saja.


"Kamu tahu kan mama udah tua, jangan terus ngajak dia berantem bisa enggak sih? Lama-lama aku capek sama kamu!"


Mata Vera membulat. Selalu dia yang disalahkan dengan semua pertengkaran yang terjadi? Dan lebih parahnya, Theo yang dulu lembut, perhatian dan sayang padanya sekarang berubah jadi sedingin es.


"Inget mas, bagaimana pun juga ini rumahku! Kelian hanya numpang di sini! Bawa apa kamu ke sini? Enggak ada.. Jadi inget batasanmu!" Vera mulai tersulut emosi kembali.


"Rumahmu? Hahahahaa... Kamu bilang ini rumahmu? Kamu kan pernah bilang, rumah ini adalah peninggalan mantan suamimu yang sudah mati itu untuk Dinda! Dengan kata lain, kamu pun juga numpang di sini!" Kenapa semua ucapan Theo seperti ada pisaunya? Selalu mengiris hati mungil Vera.


"Tapi Dinda anakku dan apa yang Dinda punya itu adalah kepunyaanku juga!" Bantah Vera.


"Oowh bagus kalau kamu ngerti rumus itu, jadi aku enggak perlu lagi repot-repot jelasin apa yang kamu sendiri sudah paham." Theo ingin berlalu pergi tapi tangannya di tarik Vera.


"Apa maksudmu mas?" Tanya Vera menyelidik.


"Kamu tidak sepintar itu ternyata... Jadi selama aku di sini, apapun milikku itu juga lah yang menjadi milik mamaku! Apapun itu! Termasuk kamu!! Jika mamah nyuruh kamu ngerjain ini dan itu ya jangan protes! Jika mamah minta uang ke aku, kamu enggak boleh marah.. Karena seperti yang kamu tahu. Apa yang aku punya, itu juga kepunyaan mamahku!"

__ADS_1


Seperti mendengar petir yang menggelegar.. Vera tak habis pikir bagaimana bisa Theo menjadi sekasar itu padanya, bahkan tadi sebelum keluar tanpa menutup pintu Vera sempat di dorong oleh Theo.


"Mas.. Mau kemana kamu?? Mas!!" Tak ada jawaban, Theo sudah pergi dengan mobilnya.


__ADS_2