Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 112. Ritual yang belum selesai


__ADS_3

Pagi itu, Selvi menatap nanar pada tubuhnya setelah tadi dia membersihkan diri. Banyak tanda merah yang dia lihat di bagian depan tubuhnya, tak terhitung.. Itu belum di punggung juga bagian lain yang dia sendiri tak bisa melihatnya.


Sudah seperti ini, jika Ervin tak bisa menjadi miliknya dia akan tega berubah menjadi Dewi kematian untuk sang dukun yang sekarang sudah ada di bilik pemujaan setan miliknya.


Selvi tergerak untuk ikut ke bilik itu, mengintip apa yang sedang dilakukan mbah Ribut setelah semalaman menggempur dirinya.


Selvi melihat kakek tua itu duduk bersila dengan mata terpejam, banyak asap dari kemenyan yang telah dibakar mbah Ribut untuk mengundang datang junjungannya sudah mengelilinginya. Di sebelah tembikar yang dipergunakan untuk membakar kemenyan, terdapat bunga mawar, melati putih dan sisanya bunga kantil dengan jumlah lumayan banyak.


"Kemari nduk." Meski mata kakek tua itu tertutup, dia bisa merasakan kehadiran Selvi di luar biliknya.


Sempat terkejut karena berpikir dari mana mbah Ribut Wahgelo tahu jika sedari tadi dia sedang mengintip kegiatan yang dilakukan kakek itu di sana. Tapi kembali, dia tak mau ambil pusing. Segera dia masuk ke dalam bilik tersebut sesuai keinginan mbah Ribut.


"Lakukan puasa selama sepasar. Selama puasa itu kamu harus terus pikirkan dan sebut nama orang yang menjadi targetmu. Ambil beberapa helai rambut lelaki incaran mu dan satu saja benda miliknya untuk kamu kubur dengan jimat ini." Mbah Ribut menyerahkan benda berupa kain kecil yang sudah diikat sedemikian rupa menyerupai sebuah boneka.


"Sepasar itu berapa lama mbah?" Selvi tak mengerti.


Mata mbah Ribut menatap awas, dia sampai membola tak percaya oleh pertanyaan Selvi. "Lima hari!" Sentaknya singkat.


"Jangan lagi memotong apa yang aku sampaikan kepadamu dengan pertanyaan konyol! Semua orang Jawa pasti juga tahu berapa jumlah hari sepasar." Lanjut mbah Ribut tak suka dengan pertanyaan tak penting yang diajukan Selvi barusan.


Mulut mbah Ribut kembali komat kamit. Sekilas timbul senyum tapi langsung hilang, Selvi tak mengerti, sebenarnya dia datang pada dukun atau menemui orang gila. Cepat sekali berubahnya mimik muka dari mbah Ribut ini.

__ADS_1


"Kamu punya saudara yang dekat dengan target incaran mu. Gunakan dia untuk mempermudah jalanmu menjadi istri dari Ervin, lelaki itu sangat menghormati saudara mu! Ingat gunakan tutur kata sopan untuk berbicara dengan saudara mu maupun anaknya! Dekati mereka. Gunakan mereka untuk mempercepat keinginan mu itu." Sekilas bayangan Teguh dan Ayu terlintas dalam benak Selvi. Selvi mengangguk tanpa bersuara.


"Jika nanti kamu sudah selesai berpuasa selama lima hari, kamu harus tidur di dalam kamar dalam keadaan tanpa busana, tanpa selimut, dan kunci pintu kamarmu. Kamu tak ingin jika orang lain melihat mu dalam kondisi telan_jang bukan? Biarkan angin mengirimkan rasa rindu pada dirinya untuk menyentuhmu, tak ada yang bisa menolak keinginan melakukan hal itu bersama mu karena sebenarnya kamu sudah memiliki pemikat di dalam dirimu." Ujar mbah Ribut terlihat serius.


Selvi hanya bisa mengangguk menyetujui dan seolah mengerti. Saat semua penjelasan selesai, Selvi pamit dan meletakkan amplop berisi uang kepada mbah Ribut Wahgelo di atas meja.


"Jangan pergi dulu. Kamu bisa pulang nanti sore, sebelum itu.. Kamu di sini saja untuk melakukan ritual Ngungkal Djiwo (Mengasah jiwa) agar pelet pemikat dalam dirimu makin kuat nantinya."


"Maksudnya masih ada ritual lagi mbah?" Selvi kebingungan.


"Ya. Aku akan membuatmu menjadi wanita pusat perhatian banyak pria, akan banyak orang yang menggilaimu. Tak hanya Ervin saja! Dan itu harus dengan ritual khusus seperti semalam. Kamu ngerti?" Selvi langsung terbayang pergumulannya dengan kakek tua di depannya ini semalem.


Selvi merasa berat hati jika tubuhnya masih harus dijamah lelaki berkulit keriput itu tapi dia tak memiliki pilihan lain selain nurut perkataan mbah Ribut.


"Baik mbah.. Saya setuju.. Saya akan di sini dan pulang nanti sore." Itu lah jawaban yang diinginkan mbah Ribut. Manut, patuh dan tak berdaya adalah sifat yang sangat mbah Ribut senangi dari para pemujanya.


"Ya sudah, persiapan dirimu. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan ritual ini. Kamu bisa keluar." Mbah Ribut kembali memejamkan mata. Meminta Selvi meninggalkannya.


Selvi mengikuti kemauan si dukun yang dia pikir bisa mengabulkan keinginannya. Dengan pelan, satu persatu pelindung tubuh yang sudah dia pakai kembali dia lepas. Kini dia bisa kembali melihat tanda merah bekas kegarangan mbah Ribut atas dirinya tadi malam.


___

__ADS_1


Caca merasa sesuatu yang tak beres. Dia merasa gelisah, ingin terus berada di dekat suaminya. Padahal setiap hari mereka bertemu. Tapi, kali ini dia merasa rindu dengan lelaki yang menjadi imam keluarganya itu.


"Kenapa? Lihatnya gitu banget.." Ervin tersenyum simpul setelah selesai mandi.


Hari ini libur, Ervin belum memikirkan akan kemana hari ini. Mungkin ke rumah Teguh, atau jalan-jalan ke tempat lain, kemanapun agar keluarganya bisa senang dan tak merasa kurang akan perhatiannya.


"Nggak apa-apa. Mau sarapan sekarang mas?" Caca mengalihkan pandangannya.


Caca bukan wanita yang sering mengungkapkan apa yang dia rasa. Dia sering diam dan menunjukkan kasih sayangnya lewat tindakan dan perhatian.


Tahu bagaimana sifat istrinya, Ervin yang ingin menjahili istrinya tersebut.


"Mas.. Ih kamu basah tahu nggak." Caca berusaha menghindar dari pelukan Ervin.


Bukan Ervin melepaskan pelukannya, dia malah menyerang bagian lain yang membuat istrinya mengeluarkan suara candu untuknya.


"Mass..."


"Aku minta sarapan di sini aja.."


"Kamu habis mandi,"

__ADS_1


"Gampang. Nanti mandi lagi.."


Di saat Selvi mengarungi paginya dengan jamuan ritual bersama mbah Ribut, Ervin justru menikmati paginya dengan syahdu bersama kekasih halalnya.


__ADS_2