
Pak Darmaji kembali ke rumah sakit bersama Teguh. Perasaannya sudah tak enak sejak menginjakkan kaki di tempat itu. Kaki beralas sandal jepit itu dipaksa berlari untuk segera mungkin bisa bertemu istrinya.
"Pak.." Bu Indun tersenyum sayu melihat kehadiran suaminya.
"Iya buk, maaf tadi tak tinggal sebentar. Ini Teguh juga ke sini," Pak Darmaji lega setelah bisa kembali melihat istrinya. Segelas air yang masih penuh menandakan bu Indun belum sedikitpun menyicipinya.
"Minum dulu buk," Pak Darmaji membantu istrinya untuk minum air minum yang disediakan rumah sakit.
Teguh seperti mengalami dejavu, dia seperti melihat dirinya yang sedang merawat Nur sewaktu di rumah sakit dulu. Hatinya ngilu saat itu juga, bayangan orang terkasih akan pergi meninggalkannya kembali dia rasakan.
Secepatnya dia mengusir pikiran semrawut itu, dia yakin jika bulek Indun pasti sembuh. Namun.. Sekilas dia melihat pancaran netra itu tak lagi punya semangat untuk melanjutkan hidup. Bu Indun sudah banyak berubah, baik fisiknya yang kian kurus juga tutur katanya yang lebih halus dan dijaga saat akan mengucapkan apapun.
"Guh.. Mana Ayu? Ndak ikut ke sini?" Tanya bu Indun melihat ke arah Teguh.
"Dia masih kuliah bulek. Nanti pasti ke sini, bulek harus sembuh.. Biar bisa kumpul bareng paklek dan Selvi di rumah. Bisa pulang secepatnya." Ujar Teguh memberi semangat.
Senyum itu timbul. Nafasnya pendek-pendek, seperti memang berat dan susah menghirup oksigen dan memberi paru-parunya suplay o² untuk menopang kehidupannya.
"Nanti juga pulang.." Ucap bu Indun kembali terbatuk-batuk. Siapapun yang mendengarnya pasti merasa iba.
Batuk yang lama dan seperti tak berjeda, saat pak Darmaji membantu menepuk-nepuk tengkuk istrinya bertujuan memberi energi agar istrinya itu kuat, tangan tua pak Darmaji malah digenggam oleh bu Indun.
"Pak.. Sakit, dada ku sakit.." Lirih hampir tak terdengar.
Teguh membantu mengoleskan minyak kayu putih di telapak kaki bu Indun agar lebih hangat, supaya suhu dingin tak membuat buleknya ini makin menjadi batuknya.
__ADS_1
"Guh.. Aku minta maaf ya, selama ini selalu bikin kamu susah. Kamu sama Ayu, bapak juga.. Banyak orang yang aku susahin." Tuturnya pelan. Bu Indun terlihat kepayahan.
"Udah buk udah.. Istirahat, jangan mikir macem-macem ya. Kamu pasti sembuh,"
Di dalam hatinya, pak Darmaji juga takut jika dia harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi belahan jiwanya. Meski usia tak muda lagi, tapi mereka sudah melewati susah senang bersama selama ini. Meski sebetulnya rumah tangga mereka sering diwarnai pertengkaran dan kesenjangan tapi, pada kenyataannya pak Darmaji tak pernah berpikir menduakan cintanya kepada lain wanita.
Teguh diminta pak Darmaji memanggil suster untuk mengganti cairan infus yang sudah habis. Menurut, karena Teguh tahu jika pak Darmaji butuh waktu berdua dengan istrinya.
Dengan langkah tegap Teguh menuju tempat suster berjaga, meski berada di luar ruang rawat bu Indun namun pikiran Teguh masih tertuju pada buleknya itu.
Belum juga Teguh sampai di tempat yang dia tuju, suara teriakan pakleknya membuat Teguh kembali ke ruangan tempat bu Indun di rawat dengan berlari.
Pemandangan yang kontras dengan awal dia memasuki ruangan itu, sekarang Teguh melihat banyak darah bercecer di lantai juga ranjang tidur pasien yang ditempati bu Indun. Ini tak masuk akal, harusnya separah apapun batuk seseorang tak akan sampai seperti itu. Darah sudah seperti ayam yang disembelih, begitulah penampakan yang Teguh lihat sekarang. Sedangkan bu Indun, beliau sudah lunglai dengan mata terpejam sempurna.
"Bulek.. Ya Allah.. Ini kenapa? Paklek aku tak panggil dokter dulu ya," Kembali Teguh keluar dari ruangan itu. Kali ini dia bergerak lebih cepat, sambil berlari!
"Pak.. Kami sudah berusaha, tapi umur manusia bukan kami yang menentukan. Ikhlaskan ya pak, mas.. Saya turut berdukacita yang sedalam-dalamnya." Dokter menutup selimut untuk bu Indun hingga menutupi raga yang ditinggalkan nyawanya.
Bagai sambaran petir menggelegar tanpa turunnya hujan. Pak Darmaji dan Teguh begitu terkejut dengan ucapan yang dokter barusan katakan. Pak Darmaji hanya diam tanpa suara tapi matanya melukiskan seluruh perasaannya.
Beliau menangis untuk orang yang dia kasihi, mata tua itu harus basah karena air mata, kehilangan tanpa lagi bisa bisa bersua.
Mendadak pak Darmaji merasakan dadanya sakit, tapi beliau hanya diam dan sesekali berucap istighfar.
"Paklek.. Sabar njih, bulek sudah tenang di sana. Ikhlasin bulek.." Tak bisa Teguh menghibur dengan banyak kata jika dirinya sendiri juga merasakan kehilangan yang sama.
__ADS_1
"Iya Guh," Pak Darmaji masih sempat menjawab.
____
Selvi pulang, dia menyaksikan keramaian di rumahnya. Dia belum tahu jika ibunya sudah meninggal dunia. Langkahnya tipis-tipis,semakin lama dia semakin mendekati area pekarangan rumahnya.
Sayup-sayup dia mendengar orang yang melantunkan ayat suci Al-Quran. Kakinya terhenti, atmosfer tak mengenakan sudah mulai Selvi rasakan. Dia takut jika apa yang dia sembunyikan selama ini terendus orang tua serta tetangganya. Yang dia takutkan jika orang tuanya mengetahui jika dia bermain dengan ilmu hitam, bersekutu dengan setan dan jauh meninggalkan ajaran agamanya.
Matanya menangkap lambang duka, sebuah bendera kuning terpasang di depan tiang penyangga rumahnya.
"Ada apa ini??" Selvi muka khawatir.
"Pak.. Ada apa? Ini ada apa? Kenapa banyak orang? Mana ibu??" Tanya Selvi saat melihat bapaknya ada di antara orang-orang di dalam rumahnya.
"Anak kurang ajar! Masih berani pulang kamu? Minggat aja, ndak usah pulang lagi! Ibu mu sakit sampai meninggal kamu ngilang kemana hah? Otakmu kamu gadein kemana? Kalau tak bisa menghargai aku sebagai bapakmu, setidaknya lihat ibumu. Siang malam hanya kamu yang dicari, hanya kamu yang dipikirkan, kamu yang dikhawatirkan!"
Pak Darmaji tak bisa mengontrol emosinya. Dia marah, anak yang dibesarkan penuh cinta kasih kini tumbuh menjadi sosok yang tak punya belas kasih. Manja mungkin yang pak Darmaji tangkap dulu sebagai sifat jelek anaknya tapi semakin dewasa sifat angkuh dan tak mau menghormati orang tuanya sendiri justru menjadi gempuran mental yang menjadikan sakit hati pada pak Darmaji.
"Bapak bercanda?? Ibuk masih hidup!! Aku pulang karena ibuk yang nyuruh pak! Semalem aku ada di rumah temenku, aku pinjem duit buat bantu bapak ngobatin ibuk! Tapi tadi subuh ibuk ke sana, dia nyuruh aku pulang! Bapak jangan ngomong yang nggak nggak!" Selvi tak mau kalah menggemakan suaranya.
Sebuah tamparan keras di pipi membuat Selvi menjatuhkan air matanya. Pak Darmaji turut sakit hatinya karena sudah memukul anaknya sendiri. Mungkin mulutnya berkata keras tapi, jauh di lubuk hatinya pak Darmaji sangat menyayangi Selvi. Tak ada yang bisa mematahkan kenyataan jika Selvi adalah satu-satunya anak yang dia miliki.
Selvi mengedarkan seluruh pandangannya ke berbagai sudut ruangan. Dia bahkan berlari menuju kamar ibunya dan berharap ibunya masih ada di kamar itu seperti biasanya.
"Cari siapa??" Bentak pak Darmaji keras.
__ADS_1
"Ibuk! Ibuuuuuk.. aku tahu ibuk lagi pergi kan, bapak bohong sama aku buuuk!! Ibuuuk, ibuk di mana??? Tadi pagi ibuk ke tempat temenku, ibuk masih sehat, dia jalan ke sana padahal tempat temenku jauh dari sini.. Buuuuk! Ini Selvi udah pulang buuuk!" Selvi berteriak dengan langkah cepat mencari keberadaan ibunya.
Ibunya yang sudah dikebumikan, ibunya yang pergi tak akan pernah kembali.. Selvi tak kuasa menahan kesedihan itu. Dia pingsan saat yang dia cari tak kunjung menampakkan diri.