Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 149. Membuka hati


__ADS_3

Semua berawal dari beberapa kali pertemuan yang tidak disengaja. Theo mulai merasakan ketertarikan kepada gadis yang dia ketahui bernama Selvi maaf.. Sapi!


Bukan gadis alim yang menggemaskan tapi ada suatu sengatan saat mereka bersama. Theo berpikir Selvi pasti punya kekuatan seperti ubur-ubur yang memiliki sengatan listrik alami dalam dirinya. Nyatanya dia selalu merasakan sensasi berbeda saat bersama gadis itu.


"Tapi.. Gadis itu hamil, apa dia udah punya suami? Atau.. baru cerai? Atau.. Atau dia.. Aaach! Pi Sapi.. Kapan ya kita bisa ketemu lagi," Senyum itu samar tapi masih bisa terlihat jelas karena aura kebahagiaan itu nyata adanya.


"Aku nggak boleh ngelakuin kesalahan kayak dulu lagi.. Harusnya aku lebih bisa mengontrol hatiku agar bisa ngerem perasaan yang muncul ini. Masa aku semurah itu, atau emang udah waktunya aku move on? Aku bingung.." Theo menyeruput kopi tanpa gula yang disajikan pemilik warung untuknya.


"Mas.. Aku kok takut kamu kena sawan, dari tadi ngomong sendiri.." Pemilik warung bergidik ngeri setelah mengantarkan mie goreng pesanan Theo.


"Emang bisa ya orang kayak aku kena sawan bulek?" Theo tertawa sendiri.


Karena nggak jelasnya Theo, pemilik warung kembali ke dapur dan membawa semangkok garam kasar lalu disebarkan di sekitar Theo juga di atas kepala Theo.


"Lho lho ini kenapa? Kok aku digaremin bulek? Aku bukan ayam potong yang kudu di marinasi.." Protes Theo setelah mendapat guyuran garam pada kepala juga badannya oleh pemilik warung.


"Biar setan yang nempelin kamu pergi mas! Eman eman.. Bocah ganteng kok dadi edan!"


Theo manyun tak lagi meneruskan khayalannya tentang Selvi. Buyar semuanya bersama butiran garam yang disebar pemilik warung tadi.


Deru mesin motor terdengar mendekati warung yang jadi tempat ngopi Theo saat ini. Theo tak memperhatikan siapa yang datang, fokusnya sedang ada pada mie goreng di depannya. Lapar juga doyan adalah duet tepat untuk menggambarkan bagaimana lahapnya Theo menyantap makanan di depannya.


"Bulek, mie goreng dua bungkus ya. Teh anget satu sama jeruk angetnya satu."


Deg. Suara itu. Dengan mulut penuh mie, Theo menoleh ke arah sumber suara. Ada Selvi di sana. Selvi tak melihatnya, dia sibuk menghitung uang dua ribuan di tangannya.


"Sapi..." Sapa Theo setelah menelan makanannya.

__ADS_1


Selvi menoleh. Keningnya berkerut memastikan jika namanya memang dipanggil oleh.. Dia lagi, pikir Selvi diiringi dengan sebaris senyum masam.


"Ternyata aku nggak salah denger waktu itu, nama kamu unik ya?" Theo mencoba berbasa-basi.


"Kamu tinggal di sekitar sini?" Tanya Selvi ikut berbasa-basi. Dia belum ngeh kalau tadi Theo salah menyebutkan namanya.


"Nggak. Kebetulan lewat sini, kebetulan juga pas lagi laper, dan kebetulan ketemu kamu lagi. Apa mungkin kita jodoh yang dipertemukan karena kebetulan yang bertubi-tubi ya?" Theo tertawa renyah.


Receh banget, tapi senyum itu justru timbul karena ucapan receh dari Theo. Tak bisa dipungkiri, Selvi sendiri butuh seseorang yang bisa menghiburnya. Menciptakan lengkungan khas di bibirnya, tak ada salahnya sedikit meladeni lelaki yang dia ketahui bernama Theo itu.


Selvi duduk menjaga jarak dari Theo. Mereka bukan abg labil yang baru mengenal cinta. Untuk Theo, dia lebih ahli dalam membaca karakter seseorang dari pengalaman yang dia miliki sebagai lelaki yang gagal berumahtangga dua kali.


"Hmm maaf tadi cuma bercanda..." Takut Selvi salah paham dengan guyonannya, dia segera meminta maaf karena lontaran kalimat yang tadi diucapkan.


"Aku takut salah lho.. Kemarin aku tanya namamu dan, kamu jawabnya Sapi. Maaf.. Bener itu nama kamu?" Setidaknya dia ingin tahu jika pendengarannya tak bermasalah.


"Sapi? Kapan aku bilang namaku sapi?! Namaku Selvi! Kuping mu perlu dibersihin pake linggis deh keknya." Selvi mendengus diikuti bola mata yang memutar malas.


"Aku aja yang bayar, sebagai permintaan maaf karena aku salah denger hahaha. Aku pikir namamu Sapi."


"Eh, nggak usah. Aku nggak semiskin itu nyampe harus kamu bayarin." Tolak Selvi menjaga sikapnya agar tak dianggap terlalu welcome kepada lelaki yang baru ditemui beberapa kali.


Tapi, namanya juga gratisan, ditraktir, siapa yang bisa menolak? Termasuk Selvi, awalnya saja bilang nggak usah tapi ujungnya Theo juga yang bayarin pesanan Selvi.


"Makasih ya.. Aku nggak enak jadinya." Selvi menyimpan belanjaannya di motor.


"Rumah mu deket sini ya?" Theo ada di samping motor Selvi. Gelagatnya mudah terbaca kalau dia sedang mendekati Selvi.

__ADS_1


"Nggak juga. Kenapa?"


"Aku anterin mau?"


"Anterin? Aku bukan anak kecil, lagian juga bawa motor sendiri.. Nggak usah lah." Jawab Selvi sudah menghidupkan motornya.


"Emang hanya anak kecil yang boleh dianter anterin gitu? Kenapa kesannya kamu nggak mau di deketin sih? Hmm.. Kamu udah nikah? Kalau udah ya maaf.. Aku nggak akan ganggu kamu lagi." Tak ingin rasa penasarannya tertanam lama di hati. Dia ingin menuntaskan apa yang menurutnya perlu dia ketahui, mumpung ada ya kan?


Selvi mematikan kembali motornya. Memandang tajam ke arah Theo yang tak gentar dengan tatapannya. Sepertinya ini memang harus di selesaikan di sini.


"Aku belum punya suami. Belum menikah tapi, aku lagi hamil." Keduanya diam.


"Jadi, aku nggak mau masalah di hidupku nambah hanya karena dianggap ganjenin kamu. Kamu siapa juga aku nggak tahu, aku cuma tahu namamu, kita hanya bertemu beberapa kali. Jadi, dari pada kamu atau aku dapat masalah ke depannya.. Mending stop kepoin aku dari sekarang."


Selvi berhenti bicara.


"Aku Theo. Aku duda dua kali. Bukan orang kaya, hanya pekerja serabutan. Oiya, tentang statusmu.. Aku justru senang karena kamu bukan istri orang, seenggaknya saat aku deketin kamu nanti nggak ada hati yang tersakiti karena menuduhku perebut bini orang." Dengan mantab Theo bicara seperti tak ada beban.


Tentu saja Selvi melongo dibuatnya. Dua dua kali? Kok bisa? Orang seganteng itu? Sekeren itu? Dan sudah dua kali gagal berumah tangga, apa orang di sampingnya ini punya kelainan?


Paham jika Selvi sedang berpikir yang iya iya tentang dirinya, Theo malah tertawa. Makin jadilah pikiran Selvi tentang Theo yang menurutnya sedikit kurang waras itu.


"Permisi..." Selvi bergidik ngeri.


"Ganteng sih, tapi kalo gila juga siapa yang mau jadi istrinya?" Bergumam sendiri. Padahal masih ada Theo di situ.


"Siapa yang gila? Aku normal kok. Aku ketawa karena ekspresi mu itu lucu. Kamu pasti mau tau kenapa aku bisa jadi duda nyampe dua kali kan? Tanya aja.. Aku nggak masalah."

__ADS_1


"Aku nggak ada waktu untuk sesi curhat.. Mie goreng ku bisa berubah jadi mie obesitas kalau terus di sini sama kamu." Selvi ingin pergi.


Saat berhasil meninggalkan Theo, Selvi terus memikirkan alasan kenapa Theo segetol itu ingin mendekatinya. Tak terasa senyumnya tercipta dengan sendirinya. "Mungkin aku emang semenarik itu, iya.. Aku kan cantik! Pantes aja dia jadi terselvi-selvi."


__ADS_2