
Langkahnya pelan tak terburu-buru. Sepeda motor yang dia naiki sudah terparkir rapi di depan area pemakaman. Mengenakan hijab hitam dan baju yang berwarna sama, Ayu sampai di makam ibunya.
Pandangan mata Ayu langsung tertuju pada baru nisan yang mulai ditumbuhi lumut. Dengan terampil tangannya membersihkan daun serta rumput yang tumbuh di atas makam ibunya.
"Assalamu'alaikum buk, buk maaf Ayu baru ke sini lagi buat tengokin ibuk.. Ayu sekarang buka usaha onlen buk. Semoga bisa berkembang ya buk, bisa lancar, biar bapak nggak kepikiran biaya kuliah Ayu terus.. Jujur saja buk.. Ayu kasihan sama bapak. Bapak sering diem, kadang Ayu lihat bapak ngelamun malah pernah juga ngomong sendiri.."
Berusaha sekuat hati agar tidak menangis tapi isakan itu terdengar juga. Ayu memegang nisan ibunya sambil menunduk.
"Buk.. Apa Ayu egois jika minta bapak nikah lagi? Bapak butuh seseorang yang bisa selalu menemaninya.. Seperti ibuk dulu.. Sampai kapanpun ibu adalah ibuk Ayu. Nggak ada yang bisa merubah hal itu tapi saat Ayu melihat bapak, di mata bapak jelas menyimpan kehampaan."
"Ayu berdoa untuk kebaikan ibuk dan bapak dunia akhirat, semoga kita bisa berkumpul lagi nanti di surgaNya Allah ya buk. Buk.. Ayu pulang dulu ya. Ayu mau berangkat kuliah, wassalamu'alaikum.."
Sebungkus bunga ditabur di atas makam Nur. Hanya Ayu yang tau bagaimana rasanya merindukan seseorang tapi tak pernah bisa bertemu lagi. Di balik senyumnya, ada gurat kesedihan yang tak akan bisa dimengerti orang lain. Meski telah lama berpisah tapi kehilangan ibu untuk selamanya pasti merupakan cobaan berat bagi setiap anak. Kata orang ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya, tapi sosok ibu merupakan malaikat tak bersayap untuk anak-anaknya.
"Hai.." Suara itu terdengar jelas di telinga Ayu. Ayu agak terkejut dengan adanya Reza di sekitar tempat pemakaman sekarang ini. Nggak mungkin dia kesini mau jualan bunga untuk ziarah ke makam kan?
"Apanya yang hai?" Tanya Ayu menghentikan langkahnya. Memperhatikan sosok yang dari kecil selalu bersamanya. Ya, dari SD sampai bangku kuliah Reza seperti satpam pribadi yang mengawal Ayu.
Kemeja hitam yang dilipat sampai batas siku, juga peci hitam yang masih menghiasi kepalanya, dia mau apa?
"Udah ya ke tempat ibu? Aku baru mau ke situ.." Ujar Reza.
__ADS_1
"Udah. Kamu bukannya kuliah pagi? Kenapa ke sini?"
Reza meminta agar Ayu menunggunya sedangkan dia bergerak memasuki area pemakaman. Ayu menurut. Dia memperhatikan ke mana Reza akan nyekar. Dahinya berkerut saat tahu yang di tuju adalah makam ibunya. Tanpa disuruh kaki Ayu kembali meniti jalan mendekat ke area pemakaman lagi.
Ayu melihat dari belakang punggung itu, suaranya syahdu saat membacakan surat yasin untuk sang ibu, beberapa menit berlalu hingga di ujung lantunan Reza menyudahinya dengan bacaan al-fatihah.
Masih diam. Reza menengadahkan tangan berdoa, baru kali ini Ayu melihat Reza seperti itu. Sering bersama saat di kampus namun ketika di luar seperti sekarang jika memang tak ada hal penting yang mengharuskan Ayu bertemu Reza, maka mereka tak akan terlihat bersama.
"....Bu, saya meminta ijin untuk mendekati Ayu, bukan sebagai teman tapi sebagai seorang perempuan yang layak diperjuangkan..." Hanya itu yang Ayu tangkap dari lirih suara Reza di depan pusara ibunya.
Ayu mundur. Dengan pelan dia bergerak meninggalkan tempat pemakaman umum. Motor sudah dia naiki saat suara Reza lantang menyerukan namanya.
_____
Duduk menunggu di kursi. Namanya belum dipanggil karena dia mendapat antrian paling akhir. Helaan nafas terdengar saat mengedarkan pandangan, di deretan kursi tunggu lain terlihat berpasang-pasangan suami istri membuatnya iri.
"Periksa sendiri ya mbak?" Seorang ibu dengan perut membesar bertanya padanya.
Selvi mengangguk pelan. Mau apa lagi, memang dia periksa kehamilan seorang diri.
"Emang suaminya kemana? Kerja di luar kota? Atau belum pulang kerja?" Masih sibuk bertanya karena dia datang dengan suaminya. Mungkin hanya sekedar ingin tahu tapi, bagi Selvi pertanyaan itu begitu mengganggu.
__ADS_1
"Eh.. Itu kan Selvi! Anaknya pak Darmaji, nggak tau ya? Dia hamil di luar nikah.. Ngapain ditanyain ke sini sama suami apa enggak! Ya pasti enggak! Malah aneh kalo ke sini ada yang ngaku ngaku jadi suaminya, belum nikah aja udah tek dung lalalala!" Seseorang yang mungkin mengenal Selvi tak bisa mengontrol ucapannya untuk tidak menggunjing di depan yang bersangkutan.
Selvi kesal! Dia ingin membalas ucapan ibu-ibu yang tadi membicarakannya tapi apalah daya, semua itu benar adanya. Dia memang hamil di luar nikah! Tapi, sungguh sangat sakit di dengar saat dia terus-terusan digunjing dan di bicarakan keburukannya seperti ini.
"Memang siapa sih yang hamili dia? Kebangetan banget lho.. Kalo kepalanya masih ada isinya sih harusnya minta pertanggungjawaban dong. Masa diem aja!!" Lagi.. Semua terasa menusuk pendengaran Selvi. Sebenernya ini rumah bidan apa rumah ghibah?
"Hssshh.. Nanti dia dengar.." Ungkap yang lain memperingatkan.
"Eleh paling juga dia jual diri, nggak heran sih.. Dari kecil dia biasa idup enak, idup manja, minta ini itu langsung cemawis (tersedia). Giliran bapaknya udah nggak punya apa-apa, nggak bisa nuruti dia.. Dia pake cara instan biar dapet duit! Kayak yang di tipi tipi itu lho mbaak!" Makin ke sana makin ke sini saja obrolan mereka. Tak memperdulikan apakah yang dighibah mendengar atau tidak.
"Bapak bapak di sini yang nganterin istri kelian, apa kelian nggak bisa minta istri istri kelian untuk nggak ngurusi masalah orang lain? Ada masalah apa kelian dengan ku hah? Kenapa? Kenapa emang kalo aku hamil di luar nikah?? Apa cuma aku aja di dunia ini yang hamil di luar nikah?? Apa aku aja yang punya dosa di sini?? Bersyukurlah kelian jika sekarang masih bisa berdiri tegak dengan senyum bangga karena Allah belum membuka aib kelian masing-masing! Aku bejat! Aku wanita sun_del, iya!! Seribu kebaikan pun tak akan merubah kenyataan itu, silahkan omongin aku lagi! Sepuas kelian!!"
Selvi melangkah pergi dengan amarah berkecamuk di dada. Rasanya sakit sekali. Selalu seperti ini, kenapa dia musti mempertahankan anak yang dari awal kehadirannya hanya membawa nestapa untuknya??
Kilasan untuk menggugurkan kandungan itu muncul lagi. Dia nggak sanggup! Sangat tidak sanggup dengan jahatnya mulut tetangga.
"Kamu!! Belum lahir aja udah bikin aku susah!! Pergi sana, pergi ke bapakmu yang lukcnut itu!!" Teriak Selvi kencang sambil menatap perutnya.
Putus asa, lagi lagi dia menangis sejadi-jadinya. Tapi saat tangannya akan memukul perutnya, sebuah tangan terulur untuk menghentikan niatannya. Selvi menengok ke samping untuk melihat siapa gerangan yang jadi pelindung janin dalam rahimnya itu.
"Kamu..."
__ADS_1