
Hujan selalu memberi kesejukan pada setiap makhluk di dunia. Saat hujan turun jutaan kali bumi mendapat hujaman air dari langit dan di saat itu pula doa kita diijabah oleh Nya, Allah Tuhan yang Esa.
Seperti sekarang.. Ayu menengadahkan tangan dengan mata sembab dia memohon agar ibunya mendapatkan tempat terindah di sisi Allah, memohon kesehatan serta kelancaran rejeki untuk bapaknya, tak lupa doa untuk si mbah yang sore tadi sudah dimakamkan. Tidur di keabadian. Meninggalkan dunia tanpa banyak yang tahu kisah hidupnya.
"Yu.." Panggil Teguh dari luar kamarnya.
"Dalem pak." Ayu buru-buru melepaskan mukena yang dia pakai.
Ayu menghampiri bapaknya yang baru pulang takziah ke rumah mbah penjual singkong. Memang bukan tetangganya, Teguh juga tak mengenal beliau secara langsung selama ini.. Tapi dari semua cerita Ayu tentang beliau semasa hidup, Teguh jadi berkeinginan untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhumah.
"Jangan terlalu bersedih Yu, yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Ayu juga pasti tahu itu kan? Sekarang sini, duduk deket bapak sini.. Anak bapak udah gede sekarang.. Udah bisa ngepang rambutnya sendiri ya Yu?" Teguh menyuruh Ayu duduk di sampingnya, setelah itu membuka karet ikat rambut yang masih terpasang di rambut Ayu.
"Iya pak.." Ayu patuh.
"Pak.. Nanti kalau Ayu udah gede, udah kerja, Ayu enggak akan ninggalin bapak. Ayu enggak mau jauh dari bapak. Nanti kita sama-sama terus ya pak.." Ayu berceloteh saat rambutnya dirapikan bapaknya.
"Pasti nanti Ayu yang ninggalin bapak.." Teguh tak bisa membayangkan hampa nya hidup tanpa Ayu suatu hari nanti.
"Enggak pak, Ayu enggak akan ninggalin bapak. Pokoknya kita harus sama-sama terus. Ayu lihat gimana sedihnya simbah yang hidup sendirian di gubuknya pak, kesian. Anaknya banyak tapi enggak ada yang menemani beliau hingga akhir hidupnya. Sedih ya pak..? Anak-anaknya simbah udah dosa karena nelantarin ibunya! Iya kan pak?" Ayu terus bertanya dalam setiap ucapannya, dia kembali mengingat sosok simbah.
"Sepeninggalnya ibumu.. Bapak sadar Yu, suatu saat nanti entah itu kapan.. Kamu juga pasti akan meninggalkan bapak. Untuk menuntut ilmu lebih tinggi mungkin, atau untuk bekerja, atau bisa jadi nanti ketika kamu dewasa.. Kamu akan tinggal bersama pasanganmu. Saat ini kamu belum paham tentang apa yang bapak ucapkan.. Tapi, percayalah nduk.. Jika saat itu tiba, tanpa kamu meminta ijin terlebih dahulu sama bapak, bapak sudah mengijinkan. Bapak ikhlas." Teguh tersenyum sendu.
"Bapak ikhlas? Bapak enggak apa-apa kalau Ayu pergi jauh dari bapak gitu maksudnya pak?? Kok bapak gitu.. Padahal Ayu aja enggak mau kita pisah lho pak.. Bapak malah ngomongnya gitu.." Terdengar kekecewaan di suara Ayu.
Ayu mengambil tas sekolahnya. Mengambil buku yang ada di sana dan menyerahkan pada bapaknya. Mukanya manyun, dia ngambek karena jawaban dari pertanyaannya tak sesuai yang dia inginkan.
"Ululuuuh anak bapak ini kalau ngambek makin manis aja. Ini apa Yu?" Tanya Teguh membuka buku yang diberikan Ayu padanya.
__ADS_1
Di sana ada puisi yang Ayu tulis dengan tinta hitam, sudah diberi nilai A+ di sana. Mata Teguh berkabut, rasanya dia ingin menangis saat itu juga setelah selesai membaca puisi buah karya anaknya.
Sepeda Tua
Minggu pagi telah tiba, decit remku membuyarkan asa
Bukan ke taman, bukan ke pasar, bukan juga menuju obyek wisata.
Lalu aku mau dibawa kemana?
Nisan berjejer di depan sana jadi jawaban
Minggu pagi langkahku terhenti di depan tempat pemakaman
Seorang lelaki yang mengayuh ku berjalan mendekati satu nisan
Lagi-lagi dia hanya duduk terdiam
Sudah berapa tahun semua ini dia lakukan?
Bahkan beberapa orang telah melupakan siapa yang terkubur di dalam sana
Tapi lelaki itu masih setia dengan rutinitasnya.
Akulah si sepeda tua
Menjadi saksi kesetiaan cintanya
__ADS_1
Cinta lelaki kepada istrinya
Yang telah tidur abadi meninggalkannya
Akulah si sepeda tua
Menjadi saksi kuat imannya
Mempertahankan ku meski banyak ejekan tertuju padanya
Membuatku bangga pernah berguna untuknya..
Iya.. Aku hanyalah sepeda tua..
Teguh memeluk Ayu. Menyembunyikan lelehan bening itu, tak ingin anaknya tahu jika dia terharu dengan perhatian yang Ayu berikan padanya. Dalam diam ternyata Ayu memperhatikan apa saja yang dia lakukan.
Malam itu hujan turun sangat deras. Menghapus jejak kesedihan di hati Teguh maupun Ayu. Keduanya kembali bersemangat di pagi ini. Setelah sarapan, Teguh bergegas pamit kepada putrinya untuk bekerja. Ayu sekarang tak lagi berangkat sekolah dengan diantar bapaknya karena lokasi sekolah yang lumayan dekat serta Ayu telah memiliki sepeda sendiri.
Ayu melihat punggung bapaknya mulai menjauh dari tempatnya berdiri, dia kemudian kembali ke dalam rumah. Menyiapkan buku serta bekal untuk makan siang. Saat mengambil nasi dari mejikom, Ayu teringat pada simbah.. Ah benar dia tak harus membawa bekal makan siang dobel lagi sekarang. Setelah menutup kembali tempat menanak nasi tadi, Ayu beranjak mengambil tasnya. Mulai mengayuh sepeda setelah menutup pintu rumah dan menguncinya.
___
"Yu..." Panggil teman Ayu yang dulu sekelas dengannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Hmm iya Za. Ada apa?" Ayu memarkirkan sepedanya.
"Sore nanti ke rumahku ya, nih.. Aku masuk dulu. Dateng ya..!" Teman Ayu itu memberikan selembar undangan ulang tahun untuknya.
__ADS_1
Ayu mengerutkan kening. 'Kenapa dia baru ingat kalau punya teman bernama Ayu.. Dari dulu kalau ulang tahun juga enggak pernah ngundang aku.. Aneh!' Pikir Ayu.
Di sana tertulis.. Undangan dari Reza untuk Ayu. Ayu cuek saja memasukkan undangan ulang tahun Reza ke dalam tasnya.