Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 84. Kesedihan Shopiah


__ADS_3

Suara sirine mobil ambulan membelah kedamaian pagi itu. Berita tentang kematian Wibi di rumah sakit akibat luka tusukan benda tajam sudah sampai di telinga Shopiah.


Berkali-kali dia pingsan tak kuasa menahan kesedihan di hati. Belum lagi Sakti yang terus menangis melihat keramaian di rumahnya. Bocah lima tahun itu terus merengek ingin ikut ayahnya.


Memang sejak mertua Wibi di rawat di rumah sakit, perhatian Wibi untuk Sakti sangat berkurang. Pagi hari dia harus bekerja, sore harinya saat dia pulang bekerja, dia langsung menuju rumah sakit untuk menjaga mertuanya. Jadi wajar jika bocah itu merindukan ayahnya yang sekarang sudah selesai disholatkan.


Ada Teguh di sana, dia melihat Sakti yang mulai mengamuk karena tak ingin ayahnya dibawa ke peristirahatan terakhir. Bocah itu bahkan berteriak histeris mencegah siapa saja yang akan mendekati jenasah ayahnya.


Kepiluan sangat terasa, kesedihan itu cepat menular pada orang-orang yang datang melayat. Sedangkan Shopiah, air matanya sudah kering. Dia terus mendekap foto Wibi dalam pelukannya.


"Sakti.. Jangan nangis terus.. Ayah nanti ikut sedih. Ikut mbah aja yuk." Ajak tetangga Wibi yang tak tega melihat tangisan Sakti dengan suara lantang terus memanggil ayahnya agar bangun dan mau bermain dengannya.


"Hei jagoan, ikut om mau?" Teguh mendekati Sakti. Masih dengan tangisan yang belum juga ingin reda, Sakti acuh kepada siapa saja yang berniat membujuknya.


Saat itu Shopiah berdiri dan menarik tangan Sakti keras. Makin menjadi saja tangisan bocah itu.

__ADS_1


"Ayahmu itu udah nggak ada! Jangan kamu kayak gini! Kamu ngerti nggak??" Bentak Shopiah pada Sakti. Pemandangan itu disaksikan banyak orang.


Sebagian merasa iba, sebagian lagi asik mengghibah penderitaan mereka. Shopiah lalu kembali menangis sambil memeluk anaknya. Dia tak tega melihat anaknya itu terus merengek ingin ikut ayahnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Shopiah menggendong Sakti, mereka ikut mengantarkan orang yang disayang ke peristirahatan terakhir.


Rintik hujan mengiringi proses pemakaman Wibi. Di gundukan tanah itu, terbaring seseorang yang berusaha menjadi kepala keluarga yang baik selama hidupnya. Orang yang merupakan tulang punggung keluarganya. Orang yang pernah punya mimpi ingin memiliki rumah sendiri dengan keluarga kecilnya, namun sebelum mimpinya itu terwujud.. Malaikat maut sudah datang menjemputnya.


Shopiah masih di sana, gerimis tak menggetarkan inginnya untuk terus berada di dekat makam suaminya. Air mata itu kembali mengalir. Rasanya sungguh sulit untuk bisa menerima kenyataan jika Wibi telah tiada.


"Mas.. Maafin aku, selama jadi istrimu.. Mungkin aku sering membuatmu kecewa. Sering membuat mu marah, aku belum bisa jadi istri yang baik untukmu... Tapi, kenapa secepat ini kamu pergi ninggalin aku.."


"Kamu lihat Sakti, dia terus menangisimu.. Bagaimana aku menjelaskan padanya jika tidurmu di sini untuk selamanya?"


"Mbak.. Ayo aku antar pulang, kesian tadi Sakti nangis terus.. Ikhlaskan Wibi mbak.." Teguh masih ada di sana. Dia menawarkan diri mengantar Shopiah pulang ke rumah.


"Kenapa mas Wibi bisa meninggal mas? Waktu dia berangkat sore itu untuk menemani ibuku di rumah sakit, dia masih sehat-sehat aja. Dan.. Setahuku, mas Wibi nggak punya musuh. Kenapa bisa dia meninggal dengan cara kejam kayak gini mas? Aku nggak rela! Aku nggak rela nyawa mas Wibi direnggut paksa kayak gitu!!!" Shopiah sedikit berteriak menyuarakan isi hatinya.

__ADS_1


Harus menjawab apa, Teguh juga tak tahu. Dia sendiri hanya tahu jika Wibi meninggal karena kehabisan darah. Hal itu akibat enam luka tusukan pada pinggangnya.


"Polisi sudah menangani kasus Wibi mbak... Kita doakan saja supaya pelakunya segera ditangkap dan kita bisa tahu motif pelaku menghilangkan nyawa Wibi itu apa." Hanya itu yang bisa Teguh ucapkan untuk menenangkan amarah dan kesedihan Shopiah saat ini.


Tentu saja jawaban Teguh itu tak bisa memberi rasa puas atas keterpurukan yang dia alami. Shopiah menolak diantar pulang oleh Teguh, dia memilih jalan kaki. Meninggalkan Wibi yang berbaring di peristirahatan abadinya.


____


Mendapat laporan tentang anak buahnya yang salah target saat akan menghabisi Teguh membuat pak Jatmiko naik pitam. Dia emosi sampai melemparkan apa saja yang ada di depannya. Amarahnya semakin memuncak kala nomer telepon para kacungnya tak bisa dihubungi.


"Brengsek semuanya! Kerja nggak becus! Tapi minta bayaran gede! Ciiih.. Bagus malah mereka nggak bisa aku hubungi, jadi aku juga dengan mudah terhindar dari masalah. Tapi, kenapa musti salah sasaran gini!! Polisi pasti nggak akan tinggal diam! Apalagi mereka lakuin semua itu di area rumah sakit! Be_go!! Goblok!! Emang mereka semua nggak ada otak!!" Maki pak Jatmiko penuh amarah.


Dia mematikan televisi yang menayangkan berita pembunuhan di area rumah sakit. Pak Jatmiko bisa tahu jika anak buahnya salah sasaran dari ciri-ciri korban yang disebutkan polisi. Polisi belum bisa memastikan modus pembunuhan sadis tersebut tapi, pihak yang berwajib itu berjanji akan segera mengusut tuntas kasus yang menggemparkan itu.


"Aku harus secepatnya pergi dari sini. Ya.. Sebelum mereka mengaitkan ku dengan kecelakaan si kupret Ervin dan pengeroyokan yang menimpa si gembel Teguh, aku harus secepatnya pergi dari sini. Ke luar kota, atau kalau bisa keluar negeri sekalian!"

__ADS_1


"Kalau matinya siapa itu tadi, jangan salahkan aku! Para cecu_nguk itu saja yang goblok, nggak becus kerja!!"


Pak Jatmiko bicara sendiri. Dia mengeluarkan kartu perdana dari ponselnya. Dia tak ingin sampai jejaknya terendus polisi. Secepat mungkin dan sebisa mungkin dia akan meninggalkan tempat ini agar lolos dari dinginnya kursi pesakitan untuk yang kedua kalinya.


__ADS_2