Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 117. Kalah dari istri sah?


__ADS_3

Ervin terus memperhatikan Selvi seakan tak ingin melepaskan pandangannya dari gadis di depannya ini.


"Mas Ervin kan harus kerja, kenapa masih di sini?" Ucap Selvi dengan nada manja dibuat-buat.


"Kerja? Ini juga kerja.. Memastikan pelanggan spesial seperti mbak Selvi mendapat servis terbaik juga kan termasuk pekerjaan ku di sini kan?" Ervin sudah terpengaruh oleh kepulan asap kemenyan mbah Ribut.


"Mas.. Kapan aku bisa mulai kerja di sini? Aku nggak enak sama yang lain, mereka seperti nggak suka sama aku.." Selvi sekarang memegang tangan Ervin, tak disangka Ervin justru balik menggenggamnya.


Ervin sesaat ingat Caca, tapi kabut itu menenggelamkan bayangan istrinya. Selvi makin mempesona di matanya. Apapun yang Selvi lakukan seperti sebuah tarikan untuk Ervin agar lebih mendekati gadis di depannya itu.


"Mas.. Aku nggak nyaman deh dilihatin orang kayak gini, hmmm.. Kita keluar aja gimana?" Ajak Selvi, Ervin hanya mengangguk menyetujui.


"Itu mbak wewe kok bisa deket banget sama pak Ervin ya? Jangan-jangan dia pakai pelet lagi!" Celetuk salah satu karyawan di sana.


"Hush.. Kamu jangan asal ngomong, nanti kalau dia nggak terima bisa diamuk kamu. Kita ini cuma jongos, nggak usah ngurusin yang gitu-gituan!" Saran karyawan lain mengingatkan.


"Ah aku telepon mbak Caca aja, biar mbak wewe sadar diri sadar posisi! Aku nggak rela dia deket-deket pak Ervin kayak gitu! Udah keliatan jiwa pelakornya itu! Kalau kita biarin, sama aja kita ikut bantu orang melakukan maksiat! Berselingkuh di depan mata kita biarin, kan sama aja kita kecipratan dosanya!" Tutur mbak waiters tadi.


"Serah mu lah, aku nggak ikutan. Idup udah susah, nggak minat nambah-nambahin beban!" Yang satu berlalu tanpa mau melanjutkan ghibah elegan mereka.


Ternyata yang dikatakan mbak waiters dengan menghubungi Caca tadi bukan isapan jempol belaka, satu jam berlalu dan Caca tiba di kafe tempat kerja suaminya.


"Siang mbak Caca.." Sapa waiters pelapor tadi menyambut kedatangan Caca.


"Assalamu'alaikum, siang mbak." Caca menunduk kepala sesaat sebagai bentuk menghormati mbak karyawan.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, mbak.. Pak Ervin sama cewek yang tadi aku kirim fotonya ada di ruangan pak Ervin. Tadi mau pergi keluar mbak, tapi tiba-tiba bu Gendis telepon ngasih tugas buat pak Ervin. Makanya mereka nggak jadi pergi, pas pak Ervin mau nugas eh si mbak wewe malah ikutan ke ruangan pak Ervin." Laporan lengkap. Caca mengangguk mengerti.


Caca mengetuk pintu ruang kerja Ervin setelah sebelumnya pamit meninggalkan mbak waiters pelapor kegiatan suaminya di tempat kerja.


"Kamu mau bikin mbak Caca sama pak Ervin perang ya? Dasar nggak punya hati!" Sindir salah seorang karyawan yang selesai mengelap meja costumer yang baru saja pergi meninggalkan kafe.


"Apa? Aku kan cuma berusaha melindungi rumah tangga mereka dari serangan pelakor! Salahku di mana?" Bela si mbak waiters.


Gagang pintu di putar, Caca bisa melihat Ervin menengadah memegangi kepalanya seperti menahan sakit di bagian sana, sedangkan Selvi, perempuan yang baru dia lihat dua kali ini ada di antara ceruk lelaki halalnya. Seakan merangsek ingin memberikan ciuman untuk Ervin nya.


"Assalamu'alaikum." Salam itu Caca ucapkan.


Selvi tentu saja gelagapan, dia sampai mundur membetulkan posisi duduknya. Tapi, setelah melihat siapa yang datang.. Dengan sengaja Selvi membiarkan bajunya yang tak beraturan tanpa berniat merapikan. Dua kancing atas terbuka dan pundak yang dia ekspos memamerkan tanda merah di sana.


Caca tak peduli. Dia melangkah mendekati suaminya yang masih terpejam memegangi kepala. Sekarang Ervin terlihat menunduk.


"Kamu sakit mas?" Tanya Caca, Ervin mengenali suara itu.


Tangan dingin penuh keringat jelas terasa saat Ervin berusaha memegang tangan Caca. Pandangan mata mereka bertemu, Ervin beristighfar saat melihat Caca di hadapannya.


"Kepalaku sakit dek.." Ucapnya parau.


"Kamu apain suamiku?" Tanya Caca menatap tak suka pada Selvi.


"Apa??" Hanya itu yang Selvi bisa katakan.

__ADS_1


"Mungkin kamu belum tahu siapa aku, aku istrinya mas Ervin. Dan aku nggak suka kamu ada dalam satu ruangan dengan suamiku." Tegas Caca memberi tahu posisinya.


"Teruuus?? Aku kudu bilang waaoow gitu? Istrinya mas Ervin kan sekarang, kita nggak tahu kedepannya kayak gimana.. Ya kan mas? Tadi mas Ervin hot banget lho.. Makasih ya mas, aku akan terus ingat hal yang kita lakuin tadi." Sepertinya saat Tuhan membagikan rasa malu untuk seluruh umat-Nya, Selvi absen tak menghadiri acara pembagian jatah tersebut. Makanya dia sekarang jadi seperti ini.


"Mas, kita ke rumah sakit ya.. Aku takut kamu kenapa-napa." Caca berusaha membantu suaminya berdiri. Jelas terlihat Caca kepayahan di sana.


Dan Selvi, dia berjalan mendekati Ervin juga Caca. Alih-alih membantu, dia malah mendorong keras Caca sehingga Caca jatuh tersungkur. Dan Ervin, tangannya ditarik Selvi sehingga Ervin limbung ke arahnya.


"Jangan sentuh suami ku!" Caca menarik keras rambut Selvi dan menampar pipi wanita itu dengan sekali gerakan cepat dan tepat sehingga menghasilkan cap lima jari yang nyata di pipi rivalnya.


"Aaaach... Kamu berani sama aku hah?!! Kurang ajar!" Selvi bersiap membalas tamparan di wajahnya dengan mengambil ancang-ancang tapi, Caca lebih dulu mengambil map lumayan besar di meja kerja Ervin dan memukulkan benda itu ke kepala Selvi.


Caca, perempuan ini sehari-hari hanyalah ibu rumah tangga biasa. Tak pernah neko-neko dan terkesan sederhana. Tapi, saat diperlukan, istri imut dari Ervin ini bisa berubah garang dan sangar.


"Pergi dari ini sekarang. Jangan paksa aku mengangkat kursi ini dan melemparkannya ke arahmu." Ucap Caca datar namun penuh ancaman.


"Dasar gila! Aku akan laporin kamu ke polisi! Aku nggak terima diginiin!! Awas aja kamu!!" Bentak Selvi bergerak menuju pintu dan hilang setelahnya. Tak terlihat lagi bayangan gadis yang tadi berusaha merayu suaminya di ruangan itu.


Caca menghampiri Ervin yang meringkuk dengan mata terpejam. Tadinya Caca berpikir jika itu adalah kebohongan suaminya agar dirinya tak ikut kena lemparan kursi olehnya. Tapi, setelah di dekati.. Nampak Ervin seperti kesakitan yang sebenarnya.


"Kamu sakit beneran apa bohongan mas? Sampai sengaja pura-pura sakit karena ketauan masukin bebegig sawah ke ruangan mu, ku santet kamu!!"


Ervin bisa mendengar suara Caca, tangan lelaki itu berusaha terulur untuk menggapai istrinya namun rasa sakit di kepala mengalahkan keinginannya. Dia pingsan.


Dan Caca, dia meminta bantuan karyawan untuk membantunya membawa Ervin ke rumah sakit tak jauh dari tempat Ervin bekerja.

__ADS_1


__ADS_2