
Tak mau banyak membuang waktu, Selvi segera berangkat menuju rumah dukun bernama mbah Ribut Wahgelo. Bermodal nekat dan uang satu juta rupiah hasil meminjam dari Pretty, dia yakin bisa menaklukkan Ervin, sang pujaan hati.
Apalagi sepak terjang mbah Ribut Wahgelo di dunia perdukunan cukup mampu membuat Selvi berdecak kagum. Bukti nyata adalah Pretty. Dia sekarang hidup serba kata 'enak'. Dan dia juga kepengen hal yang sama terjadi padanya.
Rumah mbah dukun cukup jauh dari perkotaan. Sepi, bisa dikatakan terpencil. Tapi, tak apa.. Selvi bisa sangat bersemangat hanya membayangkan keberhasilan rencananya setelah bersekutu dengan si mbah Ribut.
Perjalanan berakhir. Selvi tiba di rumah Joglo tua dengan pekarangan ditumbuhi banyak rumput liar. Terkesan angker tak terurus.
"Ini rumah orang apa rumah setan sih, gini amat." Selvi Menggerutu.
Diparkirkan begitu saja motornya, dia celingukan mengintip pada celah papan kayu yang merupakan dinding dari rumah tua yang disinyalir merupakan tempat tinggal mbah Ribut Wahgelo.
"Assalamu'alaikum.. Eh dukun kan nggak usah salam ya, mbah.. Mbah Ribut, ada orang nggak ini?" Selvi mengelap tangannya yang dia pakai untuk mengetuk pintu tadi. Berdebu dan kotor.
Tak ada jawaban, Selvi ragu apakah ini benar rumah dukun hebat yang dimaksud Pretty atau bukan. Baru akan mengambil ponselnya untuk menghubungi Pretty, Selvi dikagetkan dengan deheman dari dalam rumah.
"Ebuset.. Siapa tadi? Mbah.. Mbah Ribut.." Kembali Selvi memastikan jika di dalam rumah memang ada orangnya. "Kupingku masih normal kok, ieh ini rumah nyeremin." Selvi bergidik ngeri.
Pintu terbuka, bak adegan di dalam film horor pintu terbuka tanpa ada siapapun di sana.
Selvi sampai melonjak kaget. "Apa-apaan ini? Guambleh deh, bikin orang kaget aja." Mulutnya seperti tak bisa mengontrol setiap hal yang ingin dia katakan.
"Masuk nduk." Terdengar suara berat khas lelaki tua dari dalam rumah.
__ADS_1
Selvi mengikuti perintah suara itu. Benar tidaknya mengenai suara tadi adalah milik mbah Ribut atau bukan, dia pikir belakangan. Yang penting dia bisa menuntaskan rasa penasarannya.
"Permisi.." Selvi mencoba sesopan mungkin.
"Duduk dulu nduk. Kamu pasti capek kan karena perjalanan jauh?" Seorang lelaki sepuh muncul dengan pakaian serba hitam.
Lelaki yang pantas dipanggil kakek itu memandangi Selvi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti melakukan scanning saja.
"Kamu bisa mendapatkan lelaki incaran mu. Mudah.. Sangat mudah buat mbah membolak-balikan hati dan pikiran lelaki yang bernama Ervin itu agar mau menikahimu."
Selvi menutup mulutnya tak percaya. Dia bahkan belum mengatakan apapun, tapi mbah Ribut Wahgelo sudah bisa membaca maksud dan tujuannya ke mari.
"Jangan kaget gitu nduk. Bahkan mbah bisa tahu kamu ke sini tanpa ijin orang tuamu terlebih dahulu." Si mbah dukun tersenyum menunjukkan barusan giginya. Bukan terpesona, Selvi malah bergidik melihat gigi emas yang nyempil diantara gigi yang lain.
"Nggak tahu mbah.. Tapi, aku bawa uang satu juta. Ini." Selvi mengeluarkan amplop putih berisi sepuluh lembar uang seratus ribu.
Gelegar tawa kakek tua itu memenuhi ruangan. Selvi bingung dengan sikap mbah Ribut. Apanya yang lucu, pikirnya.
"Maharnya bukan hanya uang.. Tapi-" Mbah Ribut, dukun berperawakan kecil dengan tulang iga terpampang nyata karena memakai baju hitam tanpa kancing itu memandang Selvi sambil menelan salivanya.
"Sebelum menjadi istrinya Ervin, kamu harus tak mentorin dulu. Supaya nanti Ervin bisa lengket sama kamu karena ilmu yang aku berikan akan kamu terima langsung dari diriku." Ucapan mbah Ribut makin menjadikan kepala Selvi berdenyut nyeri saking tak mengerti dengan maksud kakek tersebut.
"Apa Prapti tidak memberi tahu mu tentang syarat utama agar ritual yang aku lakukan nanti berhasil?" Dukun cungkring itu seperti mengamati setiap gerak-gerik Selvi. Membaca apakah dalam ucapan gadis itu mengandung kebohongan atau tidak.
__ADS_1
Selvi lantas menggeleng pelan. Dia hanya diberi pinjaman satu juta sebagai mahar atau bayaran kepada mbah Ribut atas bantuan yang akan dia lakukan.
"Syarat wajib di sini adalah kamu harus tidur dengan ku."
Selvi membulatkan bola matanya. Dia kaget tak percaya dengan syarat utama yang diajukan mbah dukun tua bangka yang sekarang terlihat terkekeh itu.
"Boleh saja kamu mundur. Semua terserah kamu nduk. Tapi, apa kamu tidak kepengen merubah masa depanmu? Menikah dengan orang yang kamu sayang? Akun ini cuma membantu. Mau lanjut atau berhenti di sini adalah keputusanmu." Seperti mendapat kalimat bujukan, Selvi yang tadinya ragu sekarang justru mengangguk menyetujui.
Gadis yang dulu hanya tahu meminta uang dan bermanja kepada orang tuanya kini menjadi sosok tamak dan serakah. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia anggap miliknya dan patut dia miliki.
Di bilik dengan pencahayaan kurang itu, telah terjadi pertukaran jasa antara dua insan yang bertaut usia sangat jauh.
Mbah Ribut tersenyum senang. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu dengan gadis yang masih segelan, tak ada raut penyesalan karena memang itu yang mbah Ribut inginkan. Menyesal juga untuk apa? Selvi menyerahkan sesuatu yang dianggap berharga bagi kebanyakan wanita kepadanya dengan suka rela.
"Kamu pintar nduk. Kamu sudah memasuki tahap awal mendapatkan kekuatan dan keahlian dariku. Nantinya semua ilmu yang aku ajarkan tadi bisa kamu praktekan dengan suamimu." Masih dengan nafas memburu.
Risih adalah hal yang Selvi rasakan sekarang ini. Dia seperti bukan dirinya, urat malunya pergi entah kemana saat dia justru begitu menikmati setiap sentuhan mbah Ribut atas dirinya.
Tanpa menjawab perkataan mbah Ribut, Selvi berusaha memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Mau ngapain nduk? Nggak usah dipakai saja, kita akan melakukan ritual selanjutnya."
Hancur. Selvi hanya menurut karena sudah kepalang tanggung. Mbah Ribut suka pada Selvi, gadis yang sudah dia beri stempel kepemilikan di mana-mana. Senyum itu terus tercipta di wajah mbah Ribut, hingga sang bulan berganti tugas dengan matahari yang bersinar untuk memulai hari.
__ADS_1