Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 123. Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Menunggu Selvi selesai diperiksa dokter, Teguh melihat Vera memasuki rumah sakit bersama suaminya, Djaduk.


Mata mereka saling beradu, tapi tak ada tatapan ingin memiliki seperti dulu. Vera sudah bisa menempatkan diri. Kehilangan Dinda menjadi pukulan dan pelajaran penting dalam hidupnya.


"Siapa yang sakit mas?" Tanya Vera pada Teguh. Teguh sempat kaget dengan panggilan 'mas' yang Vera tujukan untuknya.


"Eh.. Itu-" Belum juga Teguh selesai menjawab pertanyaan dari Vera, Vera sudah dipanggil oleh Djaduk.


"Abis ini kamu dek, di dalem ada pasien." Djaduk melihat ke arah Teguh, lalu tersenyum santai.


Djaduk tak mengetahui masa lalu di antara istri dan lelaki di sampingnya, oleh sebab itu dia bisa keep kalem melihat interaksi antara Vera dan Teguh di depan matanya.


"Periksain istrinya juga mas?" Tanya Djaduk mendekati Teguh.


"Bukan, nganter-"


"Keluarga ibu Selvi, di sini ada keluarga atau kerabat ibu Selvi?" Lagi lagi Teguh tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Suara petugas rumah sakit mencari keluarga Selvi, yang tak lain adalah Teguh sendiri membuat konsentrasinya tertuju langsung pada suster itu.


"Iya suster." Teguh berjalan cepat menuju suster berkacamata itu yang langsung menggiringnya ke dalam ruang pemeriksaan.


"Udah nikah dia ya?" Tanya Djaduk entah pada siapa.


"Kamu nanyeak??" Vera acuh. Vera sendiri sebenarnya ingin melangkah mendekati ruangan yang dimasuki Teguh tadi, rasa penasaran mendorongnya melakukan hal tersebut. Tapi hal itu urung dia lakukan, tak pantas rasanya menguping pembicaraan orang lain untuk mengetahui informasi bagi dirinya sendiri.


"Hamil?? Kok bisa?? Sel.. Kamu hamil sama siapa?? Astaghfirullah.." Teguh memandang Selvi dengan sorot mata marah dan kecewa.

__ADS_1


"Ak.. Aku.. Aku hamil..??" Tanya Selvi menutup mulutnya tak percaya.


Dokter di sana ikut bingung. Dokter tersebut mengira jika Teguh adalah suami pasien yang di bawa ke sini dalam kondisi tak sadarkan diri. Setelah pemeriksaan menyeluruh, pihak rumah sakit menyatakan jika Selvi tengah hamil. Usia kandungannya baru dia puluh hari.


"Istirahat yang cukup ya bu, selama bu Selvi tidak stress dan pola makan dijaga dengan asupan gizi seimbang. Saya yakin, janin dalam rahim bu Selvi akan tumbuh sehat dan kuat. Ada yang mau ditanyakan bu, pak?" Ucap dokter itu masih belum tahu jika yang dihadapannya bukan sepasang suami-istri.


Teguh pamit setelah disodorkan resep obat serta vitamin yang harus dikonsumsi Selvi selama masa kehamilan.


Selvi syok, pikirannya bercabang kemana-mana. Dia tak menginginkan anak dari dukun tua yang merenggut kesuciannya. Apa rencananya harus berakhir sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan? Tidak! Dia tak mau mengalah dengan keadaan! Justru dengan adanya bayi di rahimnya itu, dia akan meneror Ervin untuk segera menikahinya.


"Anak siapa?" Tanya Teguh ketus.


"Kamu udah tau jawabannya, minggir! Nggak usah menghakimi ku di sini, karena kamu sendiri yang akan malu nantinya!" Seperti tak merasa malu atas kehamilan tanpa suami, Selvi malah berlenggok bak peragawati yang menang kompetisi.


"Mas Djaduk.. Ngapain ke sini mas?" Tanya Selvi begitu percaya diri.


"Eh.. Siapa ya? Bentar deh.. Kayak kenal?" Djaduk tersenyum semenarik mungkin. Vera tak suka lelakinya terlihat ganjen bahkan saat ada dia di sana.


"Aku Selvi maaas.." Suara Selvi dibuat bernada. Dengan getaran di sana, membuat kaum adam yang mendengarnya jadi ikut merasakan vibranya.


"Kamu siapa?" Kali ini Vera yang melucuti Selvi dengan pandangan tak suka.


"Kenapa? Aku temennya mas Djaduk! Temen deket!! Ya kan maaasshh" Makin menjadi saja Selvi ini. Dia tak tahu jika di depannya ini adalah istri merangkap pemegang kendali tertinggi kedua setelah Hermiku atas diri Djaduk.


Djaduk ingin mengangguk tapi waktu melihat ke arah Vera senyum itu pudar. Mendung di wajah Vera akan berubah jadi badai besar jika Djaduk masih ada di sini dan ngobrol bareng ntah siapa yang ngakunya teman dekatnya itu.

__ADS_1


"Jangan paksa aku untuk botakin rambutmu di sini! Aku nggak suka siapapun deketin suamiku!" Vera langsung memberi ultimatum.


Dengan gelagapan, Selvi tak tahu kudu bagaimana.. Dia dihadapkan dengan istri Djaduk. Secepat itu pertemuan mereka terjadi. Di saat sudah tegang itu, Teguh datang setelah sebelumnya dia menebus obat serta vitamin untuk Selvi.


"Ayo pulang Sel, banyak hal yang perlu kita bicarakan!!" Sentak Teguh menarik tangan Selvi. Kali ini dia tak ingin jika Selvi hilang lagi seperti siang tadi.


"Aku nggak mau!! Aku mau ketempat mas Ervin!! Dia kudu tau kalo aku lagi hamil anaknya!!"


Entah berapa kali hari ini Teguh syok karena ulah Selvi. Dan Sekarang pun terulang lagi, dia sampai terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia bisa mencerna apa yang Selvi uraikan tadi.


Vera tak bisa melihat lagi kelanjutan drama yang membuatnya penasaran, dia diajak Djaduk ke ruang dokter spesialis kandungan.


"Kamu jangan bercanda Sel! Ervin udah punya istri!" Teguh tentu membela Ervin karena dia tahu sendiri tabiat sepupunya itu dan Ervin sangat jauh berbeda.


Lama Teguh mengenal Ervin, lelaki itu selalu bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Tentang pekerjaan, tentang statusnya sebagai seorang suami dan ayah untuk kedua buah hatinya. Tak ada hal aneh yang menjurus pada perselingkuhan seperti dugaan mbak Gendis. Dan sekarang, Selvi yang notabene adalah sepupunya sendiri memberi tahunya jika anak yang dia kandung adalah anak Ervin, Teguh tak bisa percaya begitu saja.


"Mau punya istri atau belum, aku nggak peduli! Dia udah bikin aku hamil kayak gini, terus aku harus diem aja gitu? Guh, kamu ini bela aku apa temen mu!? Ini semua temen mu yang lakuin tau!!" Bentak Selvi berapi-api. Dia berperan apik seperti korban pelecehan yang sesungguhnya.


Dalam hati Selvi berteriak kegirangan karena bisa membuat Teguh jadi bungkam seperti itu. Ada bagusnya juga dia hamil anak si tua bangka itu, pikirnya.


"Sel.. Aku tau siapa Ervin, dia nggak mungkin lakuin itu.." Teguh membela Ervin terang terangan di depan Selvi.


"Lalu kamu pikir aku bisa hamil sendiri tanpa campur tangan dari dia gitu?? Kamu kira aku hamil anak setan hah?! Sodara kok gini amat!! Udah Guh, aku cukup tau aja kamu kayak apa.. Selama ini kamu nggak pernah suka sama aku, dan sekarang saat aku kena musibah kayak gini pun kamu nggak bisa nolong aku. Atau setidaknya cari keadilan untuk ku dan juga anakku ini! Mata mu seakan buta, kamu tutupi matamu itu dengan keegoisan mu! Aku benci banget sama kamu Guh!!" Selvi langsung berlalu pergi.


Dalam hati Teguh masih mempercayai jika Ervin tak sebejat itu. Semoga saja..

__ADS_1


__ADS_2