
Reza menghela nafas pelan, huuuft jawaban dari Ayu membuatnya ingin mengelus dada beberapa kali.
Dia ditolak? Bisa jadi.. Karena alasan ingin menamatkan pendidikannya dahulu. Reza putus asa? Tentu tidak! Membiarkan begitu saja gadis incarannya pergi, jelas nggak mungkin.
Dia bukan seseorang yang gampang menyerah dengan keadaan. Dan dia yakin Ayu adalah tulang rusuknya yang patah. Hanya menunggu beberapa tahun lagi, tak masalah baginya.
Lagi pula, Ayu juga memberi sinyal jika dia memiliki perasaan khusus untuk Reza. Terlalu pede? Katakan saja begitu, karena bagi Reza tak ada yang tak mungkin selagi dia mau berusaha. Selebihnya serahkan pada Sang Pencipta, mau dibawa ke mana jalan cerita kehidupannya.
"... Tapi aku belum siap jalanin komitmen sama siapapun Za, kamu temenku, sahabatku, dari kecil kita bareng-bareng. Aku nggak mau karena hal ini, kita jadi renggang. Za.. Aku tahu apa yang kamu harapkan dari aku, tapi maaf.. Aku belum bisa ngasih balasan untuk harapanmu itu."
"Za.. Aku punya impian.. Sederhana.. Aku ingin menikah sekali seumur hidup hanya dengan lelaki yang mencintaiku tulus.. Bahkan jika aku yang lebih dulu pergi membawa jiwa menghadap Sang Illahi, pria ku nanti masih bisa tersenyum bangga karena pernah memiliki ku sebagai bagian dari cerita hidupnya. Za.. Aku ingin memiliki suami seperti bapakku, apapun yang ada dalam diri beliau. Setianya, jujurnya, penuh tanggung jawab, saat beliau marah saja bisa membuatku kagum. Maaf ya Za, mungkin aku berlebihan.. Tapi saat ini, aku benar-benar belum bisa menjalin hubungan apapun dengan lelaki manapun kecuali pertemanan."
"Iya Yu.. Aku ngerti.. Aku yang minta maaf.. Aku hanya ungkapin apa yang ada di hati. Dan aku mau ngasih tau kamu kalo hati ini milih kamu.." Reza menunduk diam, panjang lebar mengutarakan apa yang ada di hati juga tak akan mengubah keputusan Ayu menaikan level hubungan diantara mereka.
Simpel! Cara nolak yang elegan. Tadinya Reza pikir jika Ayu akan mengucapkan 'Kamu terlalu baik buatku', 'kita lebih cocok temenan' atau 'aku nyaman sama kamu, tapi sebagai saudara.. Aku anggap kamu kakak'. Adalah gambaran kalimat yang akan didengar Reza dari Ayu. Tapi, kalimat 'Belum bisa ngasih balasan...' Di kunci Reza sebagai cara menolak yang menyedihkan.
Keduanya berpisah setelah obrolan ringan di pinggir jalan. Ayu duluan yang pergi, dan Reza hanya melihat saja bayangan itu hingga menghilang bersama rintik hujan.
Ada sesak di sana, ada kesedihan juga.. Tak bisa dibohongi, meski berusaha tegar tapi itu caranya menyemangati dirinya sendiri. Berharap hatinya masih aman di tempatnya meski habis kena gelombang pasang penolakan.
Ayu sampai rumah, terlihat mbah kung dan bapaknya ada di sana. Sepertinya sudah cukup lama mbahnya ada di rumahnya karena Ayu tak menemukan tetesan air ada di lantai. Baju mbah kung juga kering, tak seperti orang yang habis terkena air hujan.
"Lho bapak udah pulang?" Ayu salim kepada bapaknya. Berlanjut menghampiri mbah kungnya.
"Iya Yu, sudah dari tadi. Lalu ke sawah malah ketemu mbah kung, karena tadi sudah gerimis bapak ajak mbah kung pulang saja." Ayu manggut-manggut mendengar penuturan bapaknya.
"Tadi hujannya emang deres banget pak, Ayu sampe neduh dulu karena nggak bawa mantel." Ayu bercerita di samping bapaknya.
Ayu dan Teguh terlihat sangat akrab, bahkan seperti sahabat. Tak ada kecanggungan antara bapak dan anak itu ketika berbincang. Pak Darmaji tersenyum kecut membedakan keadaannya dan anak semata wayangnya yang jomplang jauh berbeda. Bahkan seujung kuku pun pak Darmaji malu menyamakan dirinya dengan keponakannya.
"Teguuuuuuh... Guuuuuh.. Bapakku ilang Guuuh!! Teguuuuuuh," Terdengar deru motor yang berhenti dan berganti suara lengkingan khas orang berteriak.
Ayu, Teguh, serta pak Darmaji keluar mendengar suara yang akrab di telinga mereka. Selvi! Tentu saja, siapa lagi?!
"Apa sih Sel apa? Apanya yang ilang?" Teguh melihat kondisi Selvi yang basah dan kotor karena lumpur sawah.
__ADS_1
"Lho.. Bapak?! Bapak kok di sini? Aku tadi muterin sawah paaaak, nyari bapak! Aku keujanan! Aku bingung cari bapak nggak ada! Nyampe ini motor mati di jalan! Regulatornya tadi bermasalah!" Selvi ngecipris di depan rumah Teguh.
Ayu berusaha menutupi senyumnya. Di mata Ayu, kali ini tantenya terlihat lucu.
"Kamu nyari aku di sawah ngapain bawa regulator? Kompor di rumah rusak?" Pak Darmaji belum paham apa yang di sampaikan Selvi.
Sambil melangkah masuk rumah Teguh, Selvi mengibaskan rambutnya yang basah. Karena membawa helm pun percuma nyatanya kepalanya masih basah juga karena air hujan. Entah dipakai di mana tadi helmnya, hanya dia sendiri yang tahu.
"Bukan kompor yang rusak pak! Itu lho yang di motor ituuuu.. Namanya tor tor gitu Regulatornya mbuh kenapa tadi lah.. Mogok! Nggak bisa nyala tadi!"
"Yu, pinjem bajumu aku mau mandi." Selvi melenggang pergi langsung ke belakang tepatnya ke kamar mandi.
Ketiga orang di sana saling pandang, Ayu akhirnya ngakak.
"Mungkin karburator pak, Ya Allah tantee.. Bisa ngelawak juga ternyata." Ayu memberi penjelasan.
Pak Darmaji menepuk jidatnya sendiri. Sedangkan Teguh ikut tersenyum karena tingkah absurd Selvi.
Selesai mandi, Selvi menceritakan kisahnya berulang-ulang kepada Ayu, Teguh juga bapaknya. Dia kesal sekali sepertinya karena setelah jauh-jauh ke sawah tak menemukan bapaknya di sana.
Ayu malah makin ngakak. Tak biasanya keluarganya bisa seakrab ini. Dalam tawanya dia berharap, semoga keluarganya bisa terus sedekat dan sehangat ini. Tak terasa air mata itu menetes.. Mbah yi, mbah uti, serta ibunya tak ada di sini melihat betapa indahnya kebersamaan mereka.
"Napa kamu mewek? Kamu terharu kan denger ceritaku? Emang aku semenyedihkan itu ya?" Selvi bertanya karena memang tak peka dan tak mengerti apa yang dirasakan Ayu.
Hanya Teguh yang paham kenapa Ayu menangis, pelan.. Teguh usap kepala anaknya, usapan itu rupanya mampu memberi semangat untuk Ayu. Melihat hal itu, hati kecil Selvi iri. Tapi, dia langsung mengalihkan pandangannya. Tak ingin membuat hatinya kembali bertabur ego, iri dan dengki untuk kedua kalinya.
"Pak, ayo pulang. Udah reda ini hujannya." Selvi mengajak bapaknya pulang.
Ajakan Selvi di iyakan pak Darmaji, keduanya ijin pulang setelah sebelumnya Teguh menitipkan sebuah amplop berisi uang pada pakleknya itu. Ingin ditolak tapi, akhirnya pak Darmaji menerima amplop itu karena desakan Teguh.
Di tempat lain.. Reza, Ganesh dan Wildan ada di satu tempat. Reza tidak mengatakan jika dirinya habis mengungkapkan perasaannya pada Ayu dan ditolak. Egonya jelas melarang hal itu, apalagi jika sampai Ganesh yang merupakan rivalnya mengetahui kegagalannya.. Sudah bisa dipastikan dia akan mendapat seribu kalimat ejekan dari Ganesh.
"Napa?" Tanya Wildan kepada Reza.
"Siapa? Aku? Aku kenapa emangnya?" Reza linglung.
Ganesh anteng dengan game online yang sedang dia mainkan. Tak begitu peduli dengan adanya Reza atau Wildan di sana.
__ADS_1
"Ketempelan nih anak. Makin nggak jelas, kamu ke sini cuma mau pamer kebengoanmu apa gimana?" Tegas Wildan.
"Huuftt.. Bodo lah Wil.. Serah kamu mau ngomong apa." Reza memejamkan mata.
"Kalau udah lelah.. Istirahat aja. Sesuatu yang dipaksakan itu nggak baik." Ganesh menaruh kembali ponselnya ke saku celana.
Ucapan Ganesh entah mengapa menyulut emosi Reza. Padahal perkataan Ganesh tadi tak bermaksud menyinggung Reza. Tapi memang kondisi hati Reza sedang tidak baik-baik saja, jadi semua terasa seperti sindiran untuknya. Apalagi yang mengucapkan adalah Ganesh, rivalnya.
"Ayo balapan!" Tantang Reza.
Ganesh tersenyum smirk menjawab ajakan Reza.
_____
Ganesh ⬇️
Reza⬇️
Wildan ⬇️
Seruni⬇️
Selvi⬇️
Agus⬇️
__ADS_1