
Silih berganti kendaraan lalu lalang melewati jalan setapak, pandangan anak kecil itu sesekali memperhatikan jalur penghubung antar desa yang biasa dilewati kendaraan bermotor.
Di depannya ada mainan truk dengan dua roda yang biasa jadi teman setianya. Ada juga kertas yang sudah dilipat sedemikian rupa hingga membentuk pesawat terbang. Memang tak rapi dan tak simetris tapi itu lah yang dia suka mainkan saat ini.
"Jadi mbak Shopiah ke luar kota njih pakdhe?" Tanya Teguh yang saat ini bertamu di kediaman Shopiah.
"Iya mas, baru beberapa hari. Belum ada seminggu. Ya itu lah mas, mau tak larang juga aku sendiri merasa nggak mampu mencukupi kebutuhan Shopi sama Sakti. Sejak Wibi nggak ada mas, keluarga anakku tak henti-hentinya dapet cobaan. Anaknya masuk rumah sakit gara-gara kesrempet motor, ekonomi morat-marit, belum lagi tahun ini kan Sakti harus masuk TK. Semua itu butuh biaya.." Keluh bapaknya Shopiah yang mengenal Teguh sebagai teman dari menantunya.
Teguh menatap sendu ke arah Sakti, bocah itu pasti mengalami masa sulit. Terpisah dari ayahnya secara paksa, dan sekarang ibunya pun harus dia relakan pergi untuk menjemput rezeki di kota lain. Pandangan anak lima tahun itu tak lagi ceria, guratan kesedihan nampak di netra indahnya.
"Hei.. Jagoan, lagi main apa?" Tanya Teguh mendekati Sakti, dia ikut berjongkok agar bisa melihat jelas apa yang sedang Sakti lakukan.
Bocah itu memandang Teguh, mengedipkan matanya tapi tak bicara. Hanya menunjuk jari ke arah mainan truk usang memberi tanda jika Sakti sedang main benda yang kehilangan dua rodanya itu.
"Lho, ban truknya ilang to? Om benerin boleh?"
Teguh menanyakan hal itu bukan tanpa sebab, anak sekecil itu biasanya mudah bosan dengan suatu benda. Jika rusak atau sudah tak ingin dimainkan lagi, mereka akan meminta ganti yang baru. Lain cerita jika benda atau mainan tersebut mempunyai kenangan tersendiri untuk mereka, sampai benda tersebut dekil, kucel tak berbentuk pun tetap sayang untuk di buang.
__ADS_1
Sakti menggeleng cepat. "Jangan, ini mau dibenerin ayah nanti."
Teguh mengerutkan keningnya. Dalam hati dia berpikir, apakah anak itu belum mengerti jika ayahnya sudah tidak ada?
"Lha ini pesawat buat apa? Yang bikin Sakti sendiri?"
"Kata mbah, ibu udah enggak punya uang.. Aku buat ini.. Biar ibu enggak pergi jauh cari uang. Ini mau aku jual, uangnya buat ibu semua. Tapi, ibu nggak mau. Ibu tetap pergi, ibu pergi naik mobil." Penjelasan itu cukup dimengerti Teguh, hatinya terenyuh mendengar cerita Sakti.
"Mau dijual ya.. Harganya berapa?" Teguh berusaha meredam sesak di hatinya, tak bisa dibohongi berinteraksi dengan Sakti seperti ini mengingatkan Teguh dengan sosok Wibi. Mereka sangat mirip.
"Aku nggak tau harus jual berapa, asal uangnya bisa bikin ibu pulang aja dan nggak pergi lagi." Sakti membuat Teguh tertegun.
Adzan ashar berkumandang, Teguh mengajak Sakti pergi ke mushola berdekatan dengan rumahnya.
"Om.. Kalau aku minta sama Allah buat kembaliin ayah lagi bisa nggak?" Celetuk Sakti menghentikan langkah Teguh.
"Ayah mu itu orang baik Sakti, Allah sudah ngasih tempat paling indah dan terbaik untuk ayah.. Kalau Sakti berdoa seperti itu, nanti ayah Sakti sedih. Sedih karena di sini jagoannya belum bisa berdoa untuk kebaikan ayah di sana.. Sakti tahu? Meski ayah ada jauh di sana.. tapi, semua kenangan ayah selalu ada di hati Sakti kan? Itu tandanya ayah masih ada di sini.. Di dekat Sakti." Teguh menunjuk dada Sakti.
__ADS_1
"Tapi aku nggak mau ayah pergi... Kalau pergi kenapa nggak ngajak aku sama ibu? Biar kita bareng-bareng terus." Masih ingin tahu kenapa mereka harus terpisah.
"Karena Allah tahu Sakti dan ibu itu hamba Allah yang kuat dan tabah. Mungkin sekarang Sakti dan juga ayah belum bisa bersama, tapi.. om kasih tahu, pas Sakti denger adzan buru-buru sholat dan berdoa untuk ayah untuk ibu.. Jadi anak sholeh ya nak.. Menangis saja jika kamu pengen nangis, jangan diem.. jangan dipendam. Sakti kangen ayah?"
Tak disangka Sakti langsung menutup matanya dengan lengan kanannya. Dia sesenggukan sendiri. Bocah itu membalas pelukan Teguh, dia merasa pelukan itu seperti dekapan ayahnya. Hangat dan memenangkan.
______
Vera menangis di kamar Dinda. Dia menemukan banyak memo kecil yang tertata rapi di kotak berenda. Tulisan anaknya yang bercerita tentang apa saja yang dia rasa.
Salah satu yang membuat Vera makin sesak dalam tangisannya adalah, saat membaca sebuah memo singkat berisi curhatan Dinda beberapa waktu setelah ujian kelulusan sekolah.
'Moga dapet nilai bagus. Nggak juara umum juga nggak apa-apa, biar mamah nanti bangga.'
'Gimana caranya bikin mamah balik kayak dulu ya, aku kangen mamah yang suka nyubit pipiku.. Mah, semoga mamah bisa lihat lagi ya'
Tak sanggup. Vera menutup kotak itu. Memeluknya seperti mendekap putrinya. Tangis itu tak berarti saat orang yang dia kasihi tak lagi ada di sini untuk menemani.
__ADS_1