Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 98. Masih ada rasa?


__ADS_3

Jika hidup adalah perjuangan.. Maka aku adalah orang yang gagal memperjuangkan apapun yang aku punya.__Vera Nacia Minolta.


___


Tak terasa sudah hampir dua bulan sejak kepergian Dinda. Vera kembali bisa melihat indahnya dunia tapi dunianya sekarang tak seindah dulu.


Dia berjalan pelan menuju rumah yang dulu pernah dia tinggali bersama suami dan anaknya. Rumah yang terletak tepat di depan rumah Teguh.


Dia melihat dari jauh, rumah itu sekarang ditinggali keluarga lain. Ya, sejak dia memutuskan bercerai dengan suami keduanya, Theo, rumah itu dijual. Dia jual untuk kebutuhan ekonominya saat belum diperistri Djaduk. Sedangkan Dinda tinggal di rumah yang sekarang dia tempati, rumah orang tuanya.


Pemandangan yang tak asing, rumah itu masih sama seperti dulu. Hanya saja sekarang terlihat lebih hidup. Dia melihat beberapa anak yang sedang bermain di teras rumah. Ada empat anak di sana, tiga perempuan dan satu laki-laki. Vera sendiri tak tahu apakah mereka itu anak dari pemilik baru rumah itu atau hanya anak dari tetangga yang ikut meramaikan keceriaan di sana. Suasana yang tak pernah ada saat dia menempati rumah itu. Karena dulu, setiap Dinda mengajak teman-temannya bermain di rumahnya, dia akan langsung mengusir mereka dengan alasan berisik dan mengotori rumahnya.


Pandangannya tiba pada rumah yang dulu reyot dan sering dia katakan gubuk. Rumah itu sekarang tampak asri, bagus dan terawat. Terlihat sangat berbeda. Apa mungkin sekarang Teguh sudah mempunyai istri, itu yang ada di dalam pikiran Vera karena melihat perubahan drastis pada rumah Teguh.


Pagi itu, Vera merasakan kerinduan pada masa lalu. Rindu dengan suasana pagi dengan suara teriakan tukang sayur keliling komplek, rindu dengan sapaan tetangga kepadanya, rindu pada suara nyaring Dinda yang memaksanya untuk cepat-celat mengantarkannya ke sekolah.


Pintu rumah Teguh terbuka, ada Ayu yang keluar dari sana. Mengambil sapu dan bergerak lincah membersihkan halaman rumahnya. Dulu, untuk menyebut nama Ayu saja membuat Vera uring-uringan sendiri. Tapi sekarang mata itu betah berlama-lama menatap pemandangan gadis seusia anaknya menyapu dengan luwesnya. Mungkin juga, Dinda, pemilik netranya lah yang sedang merindukan sahabatnya sehingga Vera betah melihat Ayu dari kejauhan.

__ADS_1


Lalu tak lama muncul sosok itu, sosok yang puluhan tahun lalu menjadi pemegang tahta di hati Vera.


Teguh.. Masih sama seperti dulu. Lelaki yang tanpa melakukan apapun bisa membuat hati Vera menghangat. Seperti sekarang, melihat interaksi antara Ayu dan Teguh membuat detakan jantungnya terasa berbeda.


Pandangan mata mereka bertemu. Vera masih berdiri terpaku melihat Teguh dan Ayu berjalan mendekatinya.


"Ver.." Panggil Teguh, terasa syahdu di telinga Vera.


"Hmm iya mas.. Maaf maksud ku Guh," Vera menunduk tak enak hati.


"Bulek kenapa cuma berdiri di sini, ayo masuk.." Ajak Ayu kemudian.


"Tapi.. Selama ini aku udah jahat sama kamu, kamu enggak marah?" Kembali Ayu menggeleng pelan diimbuhi senyuman.


Ketiganya sudah ada di dalam rumah Teguh. Sesaat timbul iri pada diri Vera pada kehidupan Teguh dan Ayu.


Lihat saja, dulu orang yang dia benci karena memiliki riwayat kemiskinan akut dan pernah jadi mantan terindah untuknya, sekarang bisa hidup dengan layak. Punya rumah yang nyaman, punya pekerjaan mapan, serta anak yang selalu menemani.

__ADS_1


Sedangkan dirinya, beberapa kali menikah.. Tiga kali memiliki suami tapi tak membuat hatinya bahagia. Rasanya semua yang dia lakukan selama ini sia-sia.


Dia ingin memiliki banyak harta, tanpa susah payah bekerja, semua terwujud tapi harta yang paling berharga untuknya malah pergi meninggalkannya.


"Kamu kuliah di mana?" Tanya Vera pada Ayu yang menghidangkan secangkir teh hangat untuknya.


"Di Undip bulek. Biar nggak jauh dari sini." Jawab Ayu.


"Dulu Dinda juga pengen kuliah di sana," Ucapnya tak diteruskan.


"Ikhlaskan Dinda pergi Ver, dia pasti senang melihat perubahan ibunya sekarang ini.." Teguh bersuara.


Sekarang, Vera sedikit menutup penampilannya. Tak lagi memakai pakaian kurang bahan. Tidak berhijab, hanya sekarang penampilan Vera terlihat lebih sopan. Hal itu saja sudah menjadi perubahan besar untuk seorang Vera.


"Aku merasa gagal jadi orang tua.. di mana-mana, orang tua lah yang berkorban untuk anaknya tapi, aku.. anakku justru mengorbankan dirinya untuk ku.." Terdengar getaran pada suara itu.


"Ver, sangat disayangkan jika kamu terus berpikir seperti itu. Kenapa tidak kamu pergunakan waktu mu untuk membuka lembaran baru. Mempergunakan mata indah Dinda untuk hal yang lebih bermanfaat untuk mu, untuk Dinda juga.. Dengan apa? Dengan berdoa, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, dekatkan diri pada Allah Ver.. InsyaAllah hatimu akan lebih tenang."

__ADS_1


Bak mendapat guyuran air di hatinya yang tandus, Vera merasa Teguh sangat perhatian pada dirinya. Apakah mungkin, Teguh juga memiliki rasa yang sama kepada nya..? Vera tak bisa menebak hal itu lewat kedalaman mata Teguh saat memandangnya..


"Hmmm mas, apa mas Teguh sudah menikah lagi?"


__ADS_2