
'Mas tolong aku.. Aku butuh kamu.. Tolong aku.. Tolong aku mas Ervin.. Tolong aku..'
Keringat membasahi kening Ervin, nafasnya tercekat. Dia sampai melihat ke sekeliling untuk mencari suara yang bermain di mimpinya. Nihil tak ada siapapun.
Tapi, dia yakin ada yang meminta pertolongannya. Dia mengingat-ingat sebenarnya sedang berada di mana, ini bukan kamarnya, bukan rumahnya. Lalu ini di mana?
"Dek.." Panggil Ervin kepada Caca. Tapi, tak ada sosok wanita yang dinikahinya itu muncul meski dia sudah beberapa kali mengulangi panggilan untuk istrinya.
"Udah bangun? Nggak usah dak dek dak dek! Caca nggak ada di sini! Nggak perlu dicari." Tegas budhe Efa menjawab rasa penasaran Ervin karena sedari tadi tak ada yang menjawab panggilannya.
"Ini di mana budhe?" Ervin sudah dengan posisi duduk. Kepalanya terasa pusing, dadanya sakit seperti dihantam sesuatu, dan sekali lagi. Dan tiba-tiba mual yang dahsyat muncul memaksa semua isi perutnya keluar.
"Hmm.." Tanpa berkomentar panjang, budhe Efa membantu saudara iparnya itu agar bisa lebih nyaman mengeluarkan apa yang musti keluar dari dalam tubuhnya.
"Udah inget? Kamu tak bawa ke sini sama mas mu biar di ruqyah. Biar balik waras, meski aku tau sebenarnya kamu udah nggak waras dari sononya." Perkataan nyelekit itu hanya dibalas senyuman yang dipaksakan bertengger menghiasi wajah Ervin yang nampak pucat pasi.
"Kamu mikirin apa?" Budhe Efa memberikan segelas air pada Ervin.
"Aku nggak pernah bayangin di hari tuaku masih kudu ngurusin orang kayak kamu. Dulu waktu Caca bilang kalau dipacarin kamu aku udah doa tiap malam biar kelian nggak jodoh. Jauh-jauh lah kamu dari aku atau keluargaku. Tapi nyatanya doaku nggak terkabul, Caca malah klepek-klepek sama kamu." Ucap budhe Efa bercerita.
"Budhe kok gitu sih.." Raut muka Ervin cemberut.
"Iya lah, kamu pecicilan nggak ada obat! Sama siapa aja dibaikin, ya gini jadinya. Ada yang melet kamu, terobsesi pengen jadi bini mu! Yang susah siapa kalo udah gini? Mak mu? Bapak mu? Istri mu? Nggak.. Aku! Yang mok susahin aku." Sekali lagi budhe Efa meluncurkan kalimat-kalimat yang membuat kalbu terusik ketenangannya.
__ADS_1
"Iya maaf budhe.." Ervin tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu. Seperti setumpuk penyesalan sedang bertengger cantik di hatinya.
"Aku ngomong kayak gitu harusnya untuk ke depannya kamu bisa lebih hati-hati. Boleh baik sama orang tapi juga kudu liat sikon! Jangan berlebihan, inget statusmu. Kamu udah punya anak istri. Kalo yang kamu baikin itu baper kan bikin susah diri sendiri sama keluargamu." Panjang lebar budhe Efa memberi nasehat untuk saudara iparnya.
"Iya budhe iya.. Aku salah iya.." Ervin tertunduk seperti anak kecil yang pasrah mendengar ocehan emaknya.
"Iya emang salah! Vin, kita nggak tau ke dalaman hati seseorang. Apa mereka benci atau suka pada kita, eh sebab itu.. Kita sendiri yang harus berhati-hati dalam segala hal. Dalam bercanda, dalam bertutur kata, setiap tingkah laku kita pasti ada akibatnya entah untuk kita atau orang lain!"
Kali ini Ervin hanya diam. Dia seperti ditampar berkali-kali meski tangan budhe Efa tak melakukan apapun.
Di tempat lain, Ayu sudah ada di kantor polisi. Dia mendengar cerita dari bapaknya jika tantenya itu tersandung masalah hukum karena kesalahpahaman. Ayu memang tak suka dengan tabiat Selvi tapi, dia juga tak sampai hati membiarkan tantenya itu meringkuk di balik jeruji besi atas perbuatan yang tidak dia lakukan.
"Mau apa kamu ke sini?!" Bentak Selvi keras kepada Ayu.
"Tant.. Tante kenapa jadi gini..." Ayu mengelus dada beristighfar.
"Siapa tan?! Setan? Iya kamu setannya! Kamu sama tua bangka itu sama-sama pembawa sial! Kamu sama si Ervin itu sama-sama bikin edan!! Hahaha, dasar munafik! Bilang mau bantu taunya bantu dorong aku ke jurang kesengsaraan yang tak ada ujungnya! Dasar setan!!" Selvi terus marah-marah. Ayu prihatin melihat nasib tantenya.
Setelah mendapatkan izin dari pihak kepolisian, Ayu diperbolehkan membawa Selvi pulang dengan alasan kemanusiaan. Selvi disinyalir mengidap gangguan kejiwaan. Memenjarakan orang yang mentalnya terganggu bukan lah hal yang dibenarkan. Apalagi orang itu belum terbukti bersalah, dengan segala pertimbangan Selvi bisa kembali menghirup udara bebas.
Ayu bingung bagaimana menjelaskan keadaan Selvi sekarang ini kepada kedua orang tua Selvi nantinya. Tapi di luar dugaan, Selvi yang tadinya bertingkah layaknya orang yang kehilangan akal kini kembali ke sosok Selvi yang Ayu kenal sombong serta menyebalkan.
"Nggak usah pegang-pegang aku gini bisa?! Kulitku bisa gatel gatel nanti!" Selvi mengibaskan tangan Ayu keras ke udara. Pertanda dia tak suka dengan keramahtamahan Ayu padanya.
__ADS_1
"Ayu cuma mau bantu tante aja kok.. Alhamdulillah kalau tante baik-baik aja." Ayu mundur untuk memberi ruang untuk tantenya karena tadi dia sempat membantu Selvi berjalan.
"Aku kayak gitu biar pada percaya kalo aku gila!! Ya kali aku gila beneran, apa kata dunia?! Lagian aku juga kan nggak salah apa-apa, kenapa musti di penjara?! Mereka aja yang suka nuduh orang sembarangan!" Selvi bersungut-sungut.
Ayu hanya menghembuskan nafas pelan. Dia merasa tantenya ini sudah melangkah terlalu jauh sehingga dia bisa terlibat masalah dengan kepolisian.
"Tante, Ayu anterin ke rumah ya. Abis itu Ayu mau ke tempat bapak lagi.. Bapak masih di rumah sakit." Ayu menawarkan diri untuk mengantarkan Selvi kembali pulang ke rumah orang tuanya.
Selvi celingukan, dia mencari motor Ayu tapi tak menemukan alat transportasi itu di parkiran.
"Ke sini pake permadani Aladin!? Mau nganter aku pake apa??" Harus ekstra sabar menghadapi manusia satu ini.
"Aku dianterin temen tant, aku bisa minta tolong dia buat anterin tante pulang nanti." Ayu memainkan ponselnya, tak berapa lama Reza muncul dan memberi senyuman ke arah Ayu.
"Siapa? Pacarmu? Kok mau sama kamu?" Selvi terus mencari gara-gara dan memicu emosi Ayu meledak.
"Jadi kita boncengan bertiga?? Nggak mikir kalo aku nggak bisa deket-deket kamu hah?" Selvi menunjuk Ayu seperti melihat kuman.
"Aku bawa mobil tante." Kata Reza tanpa di suruh.
Mata Selvi langsung tertuju pada Reza, sosok tinggi, putih, serta tampan itu seketika membuat lengkungan di bibir Selvi. Selvi tertarik pada lelaki yang pantas menjadi keponakannya. Dengan langkah seksi di buat-buat, Selvi menghampiri Reza sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Selvi. Tantenya Ayu. Panggil aja aku Selvi. Jangan tante.. Biar kedengaran lebih akrab, ya?!" Selvi.. Entah setan apa yang merasuki mu.
__ADS_1