
Dulu sewaktu kecil, Ayu bisa kuat menjalani semua masalah juga beban hidupnya karena ada Teguh yang senantiasa di sisinya. Memberi dukungan dan motivasi pada anak semata wayangnya, bahwa meski sudah tidak memiliki orang tua lengkap masih ada bapaknya yang siap jadi sandaran dan berkeluh kesah. Juga tempatnya berbagi cerita.
Teguh tak membiarkan Ayu kesepian meski pada dasarnya dia sendiri merasakan hal itu. Dia tak akan menunjukkan jika dia lemah tanpa Nur, semua demi Ayu. Teguh seakan mengesampingkan perasaannya.
Satu lagi, Teguh menempatkan dirinya seperti seorang bapak, ibu, juga sahabat untuk Ayu. Menegur seperlunya jika Ayu berbuat salah, karena pada dasarnya anak-anak merupakan cerminan dari orang tuanya. Mereka layaknya kanvas putih, tergantung orang tua ingin menuliskan apa pada kanvas tersebut.
Dan seperti itulah yang Teguh lakukan, dia tak akan memarahi Ayu di depan banyak orang atau membentak-bentak anaknya jika dia merasa Ayu melakukan kesalahan. Bapak bijak satu ini lebih memilih menasehati dengan halus serta memberi pengertian melalui tindakan untuk membedakan mana yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dan buktinya sekarang Ayu menjadi pribadi kalem juga pemberani lewat didikan dan kasih sayang bapaknya.
Ayu bisa senyaman itu jika bersama dengan bapaknya. Merasa bapaknya adalah tempat untuknya pulang, bahkan dia mempunyai kriteria lelaki pendamping kelak bisa seperti bapaknya. Secinta itu dia kepada bapaknya.
Berbeda dengan Ayu, Sakti tumbuh dengan kurangnya perhatian dari orang tua. Meski ada kakek, nenek juga ibunya, dia seperti terkurung sendiri dalam dunianya.
Sakti tidak bebas mengekspresikan apa yang ingin dia lakukan. Serta tidak bisa bebas mengatakan apa yang dia rasa. Setiap dia menangis untuk meluruhkan kesedihan yang bersarang di hati, ibu atau mbahnya akan menegurnya. Melarangnya menangis karena Sakti merupakan anak laki-laki. Di benak para sesepuh Sakti, laki-laki tidak boleh cengeng.
Mereka lupa jika Sakti juga adalah seorang anak kecil. Anak yang butuh pelukan, bocah yang masih ingin bermanja, serta ingin di dengar saat dirinya bercerita.
Bukan menyalahkan ibunya karena sibuk bekerja, semua orang tahu jika Shopiah adalah single parent yang bekerja menghidupi anak serta kedua orang tuanya. Tapi, setidaknya tanyakan pada anak jika ada perubahan pada sikap atau sifat yang tiba-tiba menjadi pemurung, pendiam atau mungkin fisik anak yang terlihat makin kurus. Bukan hanya orang tua saja yang bisa stress, anak-anak juga bisa mengalami kondisi yang demikian.
__ADS_1
Seperti sekarang ini, Sakti memilih mengurung dirinya di dalam kamar setelah pulang dari makam ayahnya. Ada kepedihan di hati yang dia pendam sendiri. Dia ingat ucapan ibu serta simbahnya, jika laki-laki haruslah kuat, tidak boleh cengeng. Entah kenapa semua orang melarangnya menangis atau sekedar mengeluh, bagi Sakti semua itu sulit dilakukan.
"Ayo makan dulu kak, kamu belum makan kan?" Panggil Shopiah.
Tak ada jawaban, Sakti sedang melihat ke arah foto keluarganya. Ada ayahnya yang tersenyum lebar menggendong dirinya, juga ibunya yang bergelagut manja di lengan sang ayah. Sungguh pandangan yang manis sekali. Seulas senyum tercipta dengan sendirinya menyaksikan foto itu. Sakti membayangkan jika senyum lebar itu ayah tunjukkan padanya.
"Sakti mau ikut ayah aja.." Lirih bocah itu.
Kembali Shopiah memanggil Sakti, kali ini Shopiah tak hanya memanggil anaknya dari kejauhan melainkan menghampiri anaknya yang ada di kamar.
Netranya menangkap pemandangan pilu, Shopiah melihat anaknya membelakangi pintu, badannya yang kecil tak mampu menutupi apa yang Sakti lakukan. Bocah itu menggambar foto keluarganya pada sampul bagian dalam buku gambar itu.
"Kakak.." Panggil Shopiah sedih.
Sakti menoleh ke arah ibunya, cepat-cepat dia menutup buku gambar itu agar tak terlihat oleh ibunya. Tapi Shopiah kadung melihat apa yang Sakti torehkan di sampul buku tersebut.
"Kakak kangen ayah banget ya?" Tak perlu bertanya pun sebenarnya Shopiah tahu jawabannya.
__ADS_1
Sakti diam tak bergeming. Shopiah melihat anaknya dari ujung rambut, di usapnya rambut hitam sedikit ikal itu, wajahnya cenderung mirip ayahnya padahal biasanya anak laki-laki akan terlihat mirip dengan ibunya juga sebaliknya tapi tidak dengan Sakti, di usianya sekarang garis wajahnya sudah nampak jika dirinya begitu mirip almarhum Wibi, ayahnya.
"Ibu juga kangen sama ayah kak, bukan kakak saja.. Tapi, sekarang ayah sudah tidak bersama kita. Serindu apapun kita pada ayah, kita tak bisa memeluknya. Iya kan? Yang bisa kita lakukan adalah mengikhlaskan ayah juga mendoakan ayah biar ayah tenang di alam sana."
Shopiah berusaha menguatkan hati putranya supaya lebih legowo (ikhlas).
"Ikhlas, berdoa, ikhlas, berdoa! Itu terus!! Kapan aku pernah nggak berdoa buat ayah? Tapi ayah tetap nggak mau datang meski cuma di mimpiku! Kapan aku nggak berdoa buat ayah? Lihat tadi aku kemana?? Aku ke kuburan ayah! Aku ke sana buat do'ain ayah, berdoa biar ayah bilang sama Allah kalo aku mau ikut ayah aja!!"
Sakti berucap seperti meledak-ledak. Kalimatnya terdengar marah serta keras penuh penekanan. Dia menjerit menaikkan nada bicaranya, hal yang langsung mengejutkan Shopiah tentunya. Dan tanpa berpikir kenapa Sakti bisa seperti itu, Shopiah malah menghadiahi anaknya sebuah tamparan keras di pipi.
Seketika anak itu menangis memegang pipinya yang memanas. Shopiah lepas kontrol, dia refleks membuat cap lima jari di pipi anaknya. Berusaha membujuk agar Sakti diam, Shopiah langsung memeluk tubuh kecil Sakti.
"Maafin ibu kak.. Maafin ibu, ibu cuma punya kamu Sakti.. Jangan bikin ibu hancur dengan kehilangan kamu. Ibu nggak mau, jangan berpikir untuk pergi menyusul ayah mu.. Apa kamu tidak sayang ibu kak?" Tangisan Sakti nyatanya menular pada Shopiah.
Sakti berusaha melepaskan diri dari dekapan ibunya, bocah itu merasa ibunya sangat egois. Tapi ada rasa nyaman saat dia dipeluk seperti itu, rasanya dia ingin sekali mengadu tentang semua tindakan pembullyan yang teman-temannya lakukan di sekolah kepadanya.
Satu hari berlalu, Sakti bocah kecil itu akhirnya tidur tanpa makan di pelukan ibunya setelah kelelahan menangis. Entah kemana perginya rasa lapar di perut Sakti sehingga dengan mudahnya dia tertidur tanpa memikirkan perutnya yang sedari tadi berbunyi.
__ADS_1
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat buah hatinya tertidur dengan sesenggukan seperti itu. Shopiah hanya bisa berdoa semoga Sakti bisa memahami kondisi mereka sekarang. Rindu terberat adalah saat raga tak lagi bisa berjumpa, jemari tangan tak mampu lagi saling menggenggam, ingin memeluk tapi hanya sebatas angan. Karena tak ada lagi yang tertinggal meski itu sekedar bayangan, karena yang dirindukan telah berpulang ke sisi Tuhan Pemilik seluruh insan.