Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 150.Makin kagum padamu


__ADS_3

"Pak.." Ayu memanggil bapaknya yang tadi dia lihat ada di samping rumahnya.


Tapi, setelah Ayu mencari ke sana Ayu tak menemukan bapaknya. Ayu kembali ke dalam rumah. Mengambil ponsel yang ada di meja lalu menekan tombol hijau untuk memanggil, siapa lagi kalau bukan menelpon bapaknya.


"Lho, hpnya di rumah to.. Lha bapak kemana?" Tentu Ayu bertanya pada dirinya sendiri karena tak ada siapapun di rumah. Dering telepon dari ponsel Teguh berhenti berbunyi ketika Ayu memutus panggilan.


"Pak.." Ayu mengetuk pintu kamar bapaknya.


Dia jarang melakukan hal itu karena selama ini bapaknya tak pernah main petak umpet dengannya seperti ini. Sekarang pun sebenarnya mereka juga tidak sedang melakukan permainan jadul itu.


Pintu kamar sedikit terbuka ketika tangan Ayu ingin mengetuknya kembali. Ayu memberanikan diri untuk melihat ke dalam. Hanya memastikan jika bapaknya ada di sana atau tidak.


Dan benar saja, bapaknya sedang duduk bersila dengan tasbih di tangan. Lalu yang tadi dia lihat lewat di samping rumahnya itu siapa kalau bapaknya ada di sini?


Tak mau larut dalam halusinasi yang membuatnya bingung sendiri, Ayu sengaja menutup kembali pintu kamar bapaknya. Mungkin bapaknya itu sedang ingin berkeluh kesah pada Sang Khalik, dan tak ingin diganggu.


Di ruang tamu, Ayu mengarahkan pandangannya pada foto bapaknya. Di dalam foto tersebut terlihat bapaknya tengah fokus bekerja. Ayu selalu kagum dengan sosok pekerja keras itu. Dari semua laki-laki yang dia kenal, belum ada yang sepadan dengan bapaknya. Oleh karena itu Ayu selalu menjadikan bapaknya sebagai tempat ternyaman untuknya.



"Ngapain Yu?" Tanya Teguh mengagetkan Ayu yang sibuk dengan lamunannya.


"Astaghfirullah bapak.. Ayu kaget.. Lho pak, tadi Ayu lihat bapak ada di kamar. Kok sekarang muncul dari luar." Makin bingung saja Ayu karena kemunculan bapaknya dari luar rumah.


"Ngawur.. Dari tadi bapak di belakang kok, mangkas dahan pohon mangga. Udah rimbun banget, sampai ada yang mepet di atap dapur. Bahaya kan kalau ada hujan angin, bisa patah nanti nimpa dapur." Teguh mengembalikan sabit pada tempatnya.


"Ayu tadi beneran lihat bapak ada di kamar kok! Kok bisa, bapak jadi dua?" Ayu bersikukuh mengatakan jika bapaknya lah yang tadi dia lihat sedang berdzikir di dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu ini kecapean, kurang istirahat. Makanya jadi salah lihat begitu. Sudah nggak usah dipikirin, ayo ke rumah om Ervin. Kemarin bapak disuruh ke sana, om mu itu mau selametan karena dapet kerjaan di outlet baru punya mbak Gendis. Nggak main-main, dia langsung jadi kepala bagian di sana.." Teguh tersenyum menyalurkan kegembiraan atas berita yang dia sampaikan pada Ayu.


"Waah kereen.. Om Ervin emang luar biasa ya pak, jatuh bangun meniti karir dan sekarang bisa sukses dengan jabatan yang diimpikan banyak orang." Ayu ikut girang.


Keduanya sudah selesai bersiap untuk berangkat ke rumah Ervin. Ayu dengan gaya khas anak muda yang tetap sopan dengan hijabnya. Dan bapak Teguh yang ketampanannya tak berkurang meski setiap tahun usianya bertambah. Beliau justru terlihat makin berkharisma saja.




"Udah siap nduk? Pake motor ini nggak apa-apa kan?" Teguh mengeluarkan motor tua yang selalu dia pakai kemana-mana.


"Huum pak! Ayu malah seneng bisa dibonceng bapak," Tak ada malu atau minder yang Ayu tunjukkan saat bapaknya lebih memilih menggunakan motor lama daripada motor lainnya.


Mereka punya tiga motor di rumah, tapi yang sering dipakai adalah motor lama yang sekarang mereka gunakan untuk menyambangi rumah Ervin. Di perjalanan, Ayu masih berpikir tentang keanehan yang terjadi tadi pagi. Dia sangat yakin jika yang dia lihat di kamar bapaknya tadi memang benar Teguh, bapaknya. Tapi anehnya dia malah mendapati bapaknya muncul dari luar saat dia menunggu di ruang tamu.


"Bapak pernah cerita ke kamu nggak Yu, jika setiap manusia di muka bumi.. Siapapun itu memiliki jin qorin sebagai pendampingnya. Jin itu memiliki wujud yang sama dengan diri kita. Bahkan dia memiliki kesukaan, kesenangan juga hal yang tidak disukai atau dibenci sama dengan mahkluk yang dia dampingi." Ucap Teguh lugas.


"Jadi tadi Ayu liat jin gitu pak? Tapi.. Jin nya kok mau zikir?" Ayu bingung.


"Jin qorin itu mengikuti kemanapun kita pergi, merasakan emosi kita. Tapi, dia bukan teman kita atau harus kita nobatkan menjadi sahabat nduk. Dia tetaplah jin yang senantiasa menggoda dan menjebak manusia agar jauh dari Allah, dan lebih percaya pada dirinya."


"Perbanyak ibadah ya nduk, jangan tinggalkan sholat, jangan jadikan hal tadi sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan terus menerus. Nggak penting. Semakin kamu mikirin 'dia', itu jin bakal seneng dan makin sering muncul. Fokus mu untuk beribadah jadi terbelah, dan itulah tujuan lelembut itu muncul.. Menjauhkan kamu dari ajaran agama. Ngerti?"


Anggukan Ayu mantab. Makin kagum saja Ayu pada bapaknya ini. "Pak.. Ayu kagum sama bapak, bapak bisa tau semuanya.. Bapakjuga bisa jelasin apapun yang Ayu tanyakan tanpa mengejek Ayu. Makin sayang deh Ayu sama bapak.." Ayu tersenyum lembut.


"Hahaha.. Kamu mujinya nanggung Yu, nggak sekalian bilang bapak itu pinter, ganteng, lucu, serba bisa-"

__ADS_1


"Idiiih bapak narsis hahaha.." Ayu menepuk punggung bapaknya pelan. Keduanya tertawa. Obrolan sederhana di atas motor tua itu nyatanya mampu membuat Ayu makin menghormati Teguh sebagai bapaknya. Beruntungnya Ayu karena memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Bisa diajak bertukar pikiran dalam bidang apapun.


____


Menggunakan parfum yang nyaris habis, Selvi mencium ulang area ketiaknya. Wangi. Tentu saja, nyaris habis minyak itu karena dia pakai secara bar-bar.


Pak Darmaji melihat anaknya keluar dari dalam kamar, wangi menusuk hidungnya saat berpapasan dengan Selvi.


"Kamu pake minyak berapa botol ini Sel? Wanginya bikin kepala kliyengan." Ujar pak Darmaji yang memang tak suka mencium bau parfum yang terlalu menyengat.


"Parfum mahal ini pak.. Dipakai dikit juga udah wangi." Selvi melihat jam di ponselnya tak begitu memperhatikan bapaknya yang semakin menjauh karena bau yang ditimbulkan oleh parfum tadi begitu menusuk hidung.


"Kamu mau kemana?" Pak Darmaji memakai kerah kaos oblongnya untuk menutupi hidung.


"Ya ampyuun bapak, aku ini wangi.. Wangii! Ya kali bapak nyampe tutup hidung, duuuh.. Pelecehan ini namanya!"


"Aku? Mau kemana? Nggak kemana-mana, hmm ada yang mau ke sini sih pak.. Boleh kan?" Selvi menjelaskan.


"Wangi kanggomu.. kanggoku blengeri! Siapa yang mau ke sini?"


"Temen pak hehehe.." Selvi cengengesan.


"Inget kamu lagi hamil, jangan bikin tetangga di sini makin seneng ngomongin kamu." Mendengar omongan bapaknya, senyum Selvi menghilang.


"Aku baik diomongin, aku nakal dighibahin, aku susah diketawain, gini amat punya tetangga! Aku mau pindah ke Mars aja biar nggak punya tetangga! Ngeselin!" Selvi kembali ke kamar sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Karepmu.. Are arep pindah jo lali gowo kasur, nek Mars ora ono sing adol kasur!" Kata pak Darmaji asal.

__ADS_1


__ADS_2