
Ayu dan Dinda sedang ada di bawah rindangnya pohon bougenville yang sedang berbunga lebat. Di sana sangat teduh sehingga siapapun akan betah berlama-lama duduk di bawah naungannya.
"Yu.. Kata orang, mamah itu janda gatel. Itu artinya apa ya Yu?" Dinda membuka suara.
"Mamah kamu panuan kali Din, atau punya alergi makanan gitu.. Jadi suka garuk-garuk kalau gatel." Kata Ayu dengan polosnya.
"Enggak Yu.. Mamah enggak panuan lah. Kamu gimana sih. Aku suka sebel sama yang ngomongin mamah.. Tapi mamah cuek aja, bikin aku makin kesel. Mamah kok cepet banget lupain papah lho Yu, mau nikah lagi dia." Dinda manyun. Mukanya memerah sekarang.
"Hmm Ayu enggak tahu kudu ngomong apa Din.." Ayu memaksakan senyum di wajahnya.
"Kalau mau nikah lagi harusnya tanya pendapatku kan ya Yu? Itu mamah kayak enggak anggap aku.. Aku lebih seneng kalau mamah nikah sama paklek Teguh Yu, bapak kamu." Mata Ayu langsung membola.
"Kenapa?" Tanya Ayu singkat.
"Ya karena bapak kamu baik Yu. Bapak kamu perhatian, sayang sama aku, kamu tahu enggak.. Bapakmu pernah ngiket rambut aku waktu kita main bareng dulu. Kata bapakmu gini... 'Kalau main rambutnya diiket ya nduk, biar enggak berantakan kena angin, anak cewek harus rapi. Biar enggak kayak mak lampir.' Gitu Yu! Kamu enak Yu, tiap hari dapet perhatian bapak kayak gitu. Pengen aku Yu.." Dinda berkata sambil mengingat kembali saat Teguh mengikat rambutnya.
"Bapak emang baik Din. Bapakku terbaik.." Kata Ayu tersenyum bangga.
"Kenapa mamah enggak nikah aja sih sama paklek Teguh. Kan kita juga bisa jadi sodara nanti. Bapak kamu jadi papahku, mamahku juga jadi mamahmu juga.. Pasti seru Yu!" Dinda sudah bisa membayangkan keseruan jika kedua orang tua mereka menikah.
"Apanya yang seru.. Mamahmu aja enggak suka sama aku.." Ucap Ayu lirih.
"Apa Yu?" Tanya Dinda tak mendengar ucapan Ayu.
"Enggak apa-apa Din. Mamahmu cantik semalem." Bocah ini berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku takut sama calon suami mamah lho Yu. Dia kalau lihat aku kayak benci gitu." Kembali bercerita.
"Ya sama. Aku juga takut sama mamahmu. Mamahmu malah bukan kayak benci kalau lihat aku tapi emang benci." Lagi-lagi Ayu bergumam.
"Ayu.. Ih aku mah enggak denger! Kalau ngomong kencengan dikit lah Yu!" Dinda kesal juga akhirnya.
'Masa aku bilang ke kamu kalau aku enggak suka mamakmu.. Mamakmu yang kayak nenek sihir itu.. Kamu enggak marah apa kalau aku bilang aku enggak setuju jika bapakku sama mamakmu nikah? Marah lah.. Masa enggak marah.' Ayu dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Dan Dinda kembali terdiam. Membayangkan jika nanti mamahnya sudah jadi istri orang asing itu. Apa nanti mamahnya akan tetap peduli dan perhatian sama dia? Meski terkesan judes, galak, cerewet dan semaunya sendiri.. Tapi bagi Dinda, mamahnya tetep kesayangan buat bocah itu. Tempatnya berkeluh kesah, tempatnya berlindung dari siapapun yang enggak suka sama Dinda. Dinda selalu bercerita apapun pada mamahnya.
Tak terasa air mata itu kembali jatuh, Dinda ingat papahnya... Semudah itu papahnya tergantikan. Apa memang buat mamahnya, papahnya itu tak penting?
"Din.. Jangan nangis.." Ayu menyentuh pundak temannya.
"Yu.. Aku mau tinggal sama kamu sama bapakmu aja boleh enggak... Aku takut kalau nanti mamah berubah jadi enggak peduli lagi sama aku, Yu.. Orang itu kayak enggak suka sama aku Yu.." Bendungan itu jebol. Air mata tumpah membasahi pipi chubby nya.
Ayu tak bisa menjawab pertanyaan Dinda. Dia diam. Dia kesihan sama Dinda tapi tak bisa berbuat apa-apa.
____
"Emang lagi manjah.. Lagi pengen dimanjaaah.. Pengen berduaan dengan mas Teguh sajaaah, aku emang ganteng terkenal se-Indonesia, ganteng ganteng gini.. Tapi kok enggak punya bini!! Waseeeeek"
Entah ada apa dengan Ervin hari ini, dia sepertinya senang sekali. Menyusun box sambil bersenandung, tak masalah liriknya morat-marit yang penting hatinya senang.
"Kena sawan?" Budhe Efa geleng-geleng kepala menatap miris ke arah Ervin. Ervin malah ngakak.
"Kenapa Vin?" Tanya Teguh yang juga memperhatikan tingkah temannya sedari tadi.
"Mas.. Ibuku kemarin bilang makasih sama aku mas.. Padahal aku cuma beliin beliau bakso aja. Eh dia nyampe tanya gini 'Kamu udah makan? Kalau belum ayo makan bareng.' Ya Allah.. Senengnya aku mas.. Rasanya kayak dapet pesan suara dari Selena Omes mas.." Ervin sangat bersemangat saat bercerita.
"Alhamdulillah.. Ikut seneng Vin."
"Makasih ya mas.. Karena saran mas Teguh aku jadi deket lagi sama ibu. Rasanya udah lama banget beliau enggak nanya kayak gitu ke aku. Tiap hari hanya marah, ngomel, belain suaminya terus.. Sekarang makin sering ngomong sama aku, ngomong selayaknya ibu ke anak gitu mas.."
Budhe Efa ikut tersenyum mendengar penuturan Ervin. Diam-diam, budhe Efa juga perhatian dengan semua karyawannya. Hanya saja budhe Efa tak menunjukkan semua itu secara terang-terangan.
"Lain kali aku mau minta saran cari jodoh sholehah lah sama mas Teguh. Biar ktpku berubah status dari belum ka_win jadi dika_winin." Mulai tak jelas.
"Ada-ada aja kamu.. Pacar onlenmu apa kabar?" Mendengar kata pacar onlen, Ervin langsung terbatuk-batuk.
"Eh mas.. Tetangga mas Teguh yang pernah ke sini dulu itu oke juga. Boleh lah mas kenalin ke aku.." Ervin menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Udah tunangan dia Vin. Sama sultan negeri Alakazam hahaha.. Telat kamu." Teguh teringat sosok Djaduk malah ngakak sendiri.
"Negeri apa mas? Walah.. Udah sold out ternyata.. Hmm enggak apa-apa deh. Ada yang kayak gitu lagi enggak mas?" Ervin makin bersemangat.
"Ada! Tuh Mulyani, ingat Mulyani enggak kelian hah?! Lama-lama ku kirim juga kelian ke pulau Dugong, dari tadi ngoceh mulu kerja enggak kelar-kelar!! Kerjaaaa!!!" Budhe Efa mengagetkan Ervin, Teguh serta beberapa karyawan lainnya.
"Astaghfirullah budhe.. Iya iya budhe iyaaa ini juga lagi kerja.. Ya Allah bikin jantungan aja." Ervin melirik budhe Efa kesal.
_____
Othor baru mau kasih kelian pisual ya gaeess.. Maaf kalau enggak sesuai bayangan kelian.
Vera Nacia Minolta☝
Teguh Prastyo☝
Nur nya Teguh ☝
Djaduk Mangkulangit ☝
Ervin☝
Buat pisual lain nyusul ya gaess. Sekali lagi maaf jika enggak sesuai bayangan dan imajinasi kelian.
__ADS_1