
Teguh mencium wangi bunga kantil dan kemenyan saat menarik tangan Selvi agar tak bergelayut di lengan Ervin terus.
"Lepasin Guh! Aku nggak suka kamu ikut campur urusan ku!" Bentak Selvi dengan mata melotot. Dia tak menunjukkan ketakutan sama sekali.
"Urusan macam apa hah? Hei Sel urusan mu itu bisa menghancurkan hidup orang lain kamu tau?!" Teguh menarik paksa tangan sepupunya meski si empunya berusaha berontak.
"Mas Ervin.. Tolongin, Teguh nyakitin aku maaass.." Suara manja itu membuat Teguh bergidik ngeri.
Tapi seperti terkena hipnotis, Ervin berdiri dan menyuruh Teguh keluar dari ruangannya. Teguh sampai tak percaya jika yang berkata demikian adalah temannya.
"Vin! Astaghfirullah kamu kenapa?" Tanya Teguh menggoyangkan pundak Ervin. Selvi menangkisnya,
"Denger kan?! Pergi kamu! Ganggu tau nggak!! Mas Ervin bentar lagi tuh mau nikahin aku, kamu harusnya seneng dong sahabatmu bisa nikah sama sepupumu." Ucap Selvi sombong.
"Vin inget Vin, kamu udah punya keluarga! Astaghfirullahalazim."
"Selvi kamu jangan makin nggak jelas gini bisa kan?? Ervin nggak mungkin nikahin kamu! Dia udah punya anak istri Sel! Kamu ini bikin semua berantakan tau nggak!"
Bentak Teguh, dia memikirkan bagaimana nanti jika Caca tahu semua kegilaan ini. Dan bagaimana kalau mbak Gendis merealisasikan niatannya untuk memecat Ervin karena terbukti melakukan perselingkuhan. Kepala Teguh terasa mau meledak hanya dengan memikirkan semua itu.
"Mas Ervin nggak mungkin nikahin aku? Masa? Kamu tau apa Guh? Kami ini udah lama pacaran! Udah lama kenal, sering ketemuan juga.. Ya kan mas.." Sekarang ini Selvi menaruh kepalanya di dada Ervin, bersandar tanpa malu di tempat yang bukan haknya.
Teguh tak tinggal diam, dia menarik Selvi menjauhi Ervin. Sedangkan Ervin terlihat tak suka saat Teguh melakukan hal itu. Merasa miliknya dijauhkan darinya, Ervin malah mendorong Teguh dan sepersekian detik sebuah pukulan mendarat tepat di ulu hati Teguh.
__ADS_1
"Pergi dari sini! Aku nggak suka kamu ikut campur urusanku!" Titah Ervin menggelegar, suaranya berat bisa disebut bentakan.
Teguh sampai kaget. Ada apa dengan semua ini? Tadi pagi mereka masih baik-baik saja, bahkan waktu bos mereka datang dan membahas perluasan usahanya, semua masih tampak biasa saja. Tak ada yang berbeda, sampai saat Selvi datang.
Ya, Teguh menyadari sesuatu. Selvi adalah penyebab semua kesemprawutan ini.
"Kamu ikut aku! Suka atau nggak, mau atau nggak, aku masih keluarga mu! Jangan bikin aku main kasar di sini! Dan kamu Ervin, mending kamu wudhu, sholat. Kayaknya otakmu bermasalah!" Teguh menarik paksa Selvi dari kantor Ervin.
Hal yang bisa dibilang memalukan itu harus Selvi terima karena meski berteriak dan memukul tangan Teguh berkali-kali, lelaki gagah itu tak berniat melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Selvi.
Semua yang di sana baik karyawan yang ada di depan atau di dalam kafe tentu berbondong-bondong melihat pemandangan langka ini. Saat Teguh yang terkenal ramah dan sabar bisa menarik tangan wanita dengan sorot mata sangar yang dia punya.
Sedangkan Ervin, dengan efek pelet sekuat itu, meski hatinya melarang tapi perlahan asap dukun mulai masuk lewat semua panca indera Ervin. Dan menjadikan Ervin tunduk di hadapan Selvi.
"Mas Erviiiiiin.. Maaaass..." Seperti melihat drama. Itulah yang patut dikatakan. Tak ada yang berani mendekati Teguh, tapi saat Ervin ingin keluar dari kafe dan menolong Selvi agar Teguh tak menarik atau menyeret Selvi lebih tepatnya, Ervin seperti mendapat hantaman keras pada kepalanya. Dan bisa ditebak, Ervin kembali tumbang sebelum bisa menjadi pahlawan untuk Selvi.
"Teguh, berhenti! Kamu gila ya?! Kamu nggak liat itu mas Ervin pingsan tadi?! Teguh!! Kamu budeg apa gimana?!" Selvi terus berteriak menolak dipisahkan paksa dengan pujaan hatinya.
"Diem Sel! Jangan paksa aku lakuin kekerasan lebih dari ini!!"
Seketika Selvi diam. Rasa percaya diri dan keberanian yang tadi dia banggakan mendadak menguap oleh bentakan Teguh.
Keduanya diam. Ingin rasanya Teguh menampar Selvi, menyadarkan sepupunya ini akan kesalahan yang dia perbuat. Tapi dia tau, kali ini kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Dia akan membawa Selvi pulang ke rumahnya. Orang tua Selvi harus tahu bagaimana kelakuan anak mereka di luar rumah.
__ADS_1
Di sisi lain, Selvi amat murka karena perbuatan Teguh yang dia anggap sudah membuatnya malu di depan umum. Dengan jari yang terus menggosok cincin akik pemberian mbah Ribut yang katanya terdapat penjaga untuknya, dia berharap agar sepupunya ini celaka dan tak merecoki urusannya lagi. Apapun hal buruk yang Selvi pikirkan, dia salurkan lewat mulutnya yang komat-kamit merapalkan mantra pemanggil sang kodam penunggu akik tersebut.
Dan benar saja, entah kebetulan atau bagaimana, tak berselang lama setelah Selvi merapalkan jampi jampi.. Mobil yang ditumpangi Teguh dan Selvi mengalami ban bocor. Terpaksa mereka keluar dari mobil. Berbeda dengan Teguh yang berpikir ban mobil itu pasti bocor karena terkena paku atau sejenisnya di jalan, Selvi malah tersenyum puas karena berpikir apa yang dia mau langsung terkabul.
Kesempatan ini tak disia-siakan Selvi, dia bergegas berlari menjauh dari Teguh. Teguh yang sibuk mengganti ban mobil tak menyadari jika Selvi telah berjarak darinya.
Teguh baru sadar setelah selesai memperbaiki kebocoran pada ban, dia tak melihat sosok Selvi lagi.
"Aku harus ketemu mbah Ribut secepatnya. Kemarin istrinya mas Ervin sekarang si Teguh, nggak! Aku nggak mau jalanku buat dapetin mas Ervin malah makin sulit! Aku udah berkorban banyak untuk bisa dapetin dia!" Kata Selvi sambil berlari.
Teguh memilih langsung ke rumah Selvi, berharap nanti dia bisa menemukan sepupunya itu di sana. "Kamu sudah melangkah terlalu jauh Sel! Jalan yang kamu ambil salah, akan menyakiti dirimu sendiri dan orang lain. Terlebih orang tuamu sendiri.." Teguh bergumam.
Di jalan, Teguh melihat beberapa orang berkumpul. Karena penasaran, dia menepikan mobilnya. Dan betapa terkejutnya dia karena dia melihat sosok sepupunya yang tadi masih satu mobil dengannya kini telah tergeletak di pinggir jalan seperti itu.
"Astaghfirullah.. Selvi!"
"Mas nya kenal?" Tanya seorang bapak bapak yang berada di sana.
"Iya pak, ini Selvi sepupu saya.. Pak bisa minta tolong bantu angkat sepupu saya ini ke mobil..." Ucap Teguh meminta tolong.
"Dia tadi pingsan pak abis lari lari, ya syukur kalau ada yang kenal.. Kami takutnya dia ini korban begal atau ODGJ makanya pada bingung mau bawa dia kemana wong tiba-tiba pingsan gitu." Terang seseorang yang lain.
Setelah mengucapkan terimakasih, Teguh segera membawa Selvi ke klinik terdekat. Bagaimanapun juga, Selvi tetap saudaranya. Dengan orang lain saja dia begitu peduli, apalagi dengan saudara sendiri. Dia berharap, Selvi baik baik saja.
__ADS_1