
"Sesuai rencana om, aku enggak perlu susah payah deketin dia. Justru orang tuanya lah yang nyodorin dia ke aku. Tinggal tunggu tanggal mainnya, aku balas apa yang mereka lakukan ke kamu." Sebuah senyum devil terulas.
____
Sore itu Ervin dan Teguh dibuat repot dengan banyaknya pesanan yang seperti tak ada henti. Sebenarnya Ervin ada janji dengan Delavona, hubungan yang dulu merenggang kembali merapat setelah kedatangan Delavona waktu itu. Beberapa kali Ervin melihat jam tangannya.
"Kenapa Vin?" Tanya Teguh melirik Ervin yang mukanya sudah ditekuk.
"Enggak apa-apa mas. Ini tinggal dua tempat lagi kan ya?" Ervin mengamati list yang dia bawa.
"Iya. Tinggal dua tempat tapi kedua tempat itu berjauhan. Kenapa?" Fokus di belakang kemudi.
Ervin mengeluarkan ponselnya. Mengetik sesuatu lalu memasukkan kembali. Saat terdengar nada panggilan, Ervin malah tak menggubrisnya.
"Ada telepon tuh." Kata Teguh mengingatkan.
"Biarin lah mas. Telepon buat ngomel doang, enggak usah diangkat. Bikin makin pusing." Jawab Ervin sekenanya.
"Siapa yang ngomel?"
"Avon."
"Siapa Avon?"
"Itu mas si Delavona."
"Oowh."
__ADS_1
"Oowh? Mas Teguh kenal Delavona?"
"Enggak. Biar cepet aja aku oowh'in, nanya sama orang gabut malah bikin aku bingung."
Ervin ngakak mendengar jawaban Teguh. Akhirnya dia cerita siapa itu Delavona, pacar onlen yang sekarang dia dekati secara real. Meski beda kota, tak masalah bagi keduanya. Delavona sedang kuliah di kota tempat Ervin tinggal sekarang ini. Paling lama setengah jam perjalanan sudah sampai di kos Delavona.
"Angkat aja. Siapa tahu penting." Suruh Teguh setelah mendengar cerita Ervin tentang siapa itu Delavona.
"Penting buat dia mas. Lha wong mau ngomelin aku kok, aku janji mau nemuin dia sore ini malah kerjaan kayak gini banyak. Ya udah, gagal ketemuan. Tadi aku WA dia ngasih tahu kalau kemungkinan aku enggak bisa nemuin dia, dia enggak bales WA malah telepon mulu gini." Ervin menjelaskan.
"Oowh ya udah terserah kamu aja. Kalau mau nemuin dia, aku stop di sini. Kamu turun. Biar aku kelarin pesenan dua terakhir itu."
"Eh lho mas.. Aku enggak enak lah. Lagian nanti mas Teguh pulangnya kemaleman, kesian Ayu kan?"
"Ayu lagi nginep di rumah mbahnya."
Di satu rumah terakhir, Teguh mengantarkan pesanan. Dia tertegun mengetahui siapa yang memesan kue itu.
"Assalamu'alaikum.. Paket atas nama Senandung Arsella. Ada dua puluh box bolu gulung, dan sepuluh box roti sobek." Teguh tak ingin berlama-lama menatap wanita di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Iya pak Teguh, terimakasih ya.. Cepet banget sampainya pak, kirain tadi malem baru sampai sini."
"Iya bu guru."
Benar, dia adalah bu guru.. Wanita di depannya ini guru yang mengajar di sekolah Ayu. Teguh tak ingin berbasa-basi menanyakan kenapa pesan kue sebanyak itu, karena itu bukan suatu yang sopan dilakukan kurir seperti dia.
"Terimakasih ya pak Teguh," Ucapnya setelah memberikan uang sejumlah nominal yang tertulis di nota pembayaran.
__ADS_1
"Iya sama-sama. Saya permisi bu. Assalamu'alaikum." Teguh lantas berlalu pergi.
"Wa'alaikumsalam.."
Di mobil, Teguh memikirkan putri semata wayangnya yang sekarang pasti menunggu dijemput olehnya. Dia meminta Ayu untuk menginap di rumah ibunya tapi, Ayu punya kebiasaan tak bisa tidur jika bukan di rumah sendiri. Meski kata orang rumah Ayu seperti gubuk, tapi Ayu betah di sana.
Teguh memacu kendaraan sedikit lebih cepat. Bukan ingin bergaya menunjukkan kemampuan mengemudinya, tapi dia ingin lebih cepat sampai toko. Mengembalikan mobil yang dia bawa dan langsung menuju rumah ibunya.
Sedang fokus berkendara, Teguh dikagetkan dengan bunyi ponsel yang dia tahu milik siapa. Tadinya kepunyaannya tapi, sekarang beralih kepemilikan menjadi kepunyaan Ervin.
Teguh melihat ke arah layar ponsel itu sekilas, kemudian dia mengambilnya.
"Assalamu'alaikum.. Ya halo ini hpnya-"
"Wa'alaikumsalam, Mpin.. kenapa baru angkat telepon sih? Iya kalau kamu enggak bisa dateng juga enggak apa-apa. Lagian tiba-tiba orang tuaku minta aku pulang Mpin, kamu enggak marah kan? Ini aku udah di jalan. Dari tadi aku hubungi kamu tapi enggak nyambung juga. Mpin.. Kayaknya kita enggak bisa lanjutin hubungan ini deh..." Terdengar jeda dan hembusan nafas berat di sebelah sana.
"Mpin.. Makasih ya, selama ini kamu udah baik sama aku. Kamu baik banget, aku nyampe enggak tahu lagi dengan cara apa bilang makasih ke kamu... Hubungan kita ini hanya akan nyakiti kita Mpin. Aku dan kamu enggak bisa sama-sama. Mpin.. Kita udahan aja ya, sebesar apapun rasaku ini ke kamu.. Tak akan bisa membawa kita bersatu Mpin."
Teguh masih diam tanpa mau menyela kalimat Delavona di seberang sana.
"Mpin.. Maaf ya..." Agak lama Teguh menunggu kelanjutan ucapan Delavona tapi tak ada kelanjutan lagi setelahnya.
"Iya mbak. Nanti aku sampein sama Mpin." Teguh tak tahu harus menjawab apa, akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Lho.. Ini siapa?" Delavona mungkin kaget karena udah banyak kalimat yang terucap tapi ternyata yang diajak ngomong bukan Mpin.
'Kesian kamu Mpin...' Ucap Teguh dalam hati.
__ADS_1