Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 144. Bertemu lagi


__ADS_3

"Jangan kayak gini.." Ucap orang yang sekarang duduk di samping Selvi.


"Kamu nggak tahu apa-apa. Nggak usah sok bijak dan menggurui. Kita aja nggak kenal satu sama lain! Jadi nggak usah sok peduli! Aku nggak butuh." Selvi menolak air mineral yang sudah siap minum karena tutupnya telah dibuka lebih dulu oleh seseorang yang baru dua kali ditemuinya.


"Emang. Aku emang nggak tau apa-apa tentang kamu, juga aku nggak mau menggurui mu karena aku bukan guru. Tapi ada yang salah dari ucapan mu. Kita bukan nggak kenal satu sama lain, karena sebenernya kamu udah tau namaku. Ya kan? Aku aja yang belum tahu siapa nama kamu." Senyum itu terbit tanpa dibuat-buat.


Tapi Selvi yang kadung emosi tak bisa tertular oleh hadirnya senyum itu. Baginya semua orang saat ini sudah di cap menyebalkan! Suka mencampuri urusan orang lain, dan dia tak suka.


"Masalah mereka apa sebenarnya? Aku nggak pernah ganggu mereka?! Memang hanya aku manusia berdosa di muka bumi? Kenapa mereka terus menerus membicarakan aibku??" Tanpa memperdulikan ocehan Theo, lelaki yang menghentikan Selvi memukuli perutnya, Selvi malah seperti sedang curcol.


Theo, secara tak sengaja dia lewat di depan jalan di mana Selvi tadi sedang berteriak. Merasa ada yang tak beres dengan tangisan gadis yang dia lihat, Theo mendekati dan mencegah aksi Selvi yang akan memukul perutnya sendiri.


Dan Theo bukan orang bodoh, dia juga sudah punya pengalaman cukup buruk dengan masa lalu. Dia tahu dengan membaca gerakan dan sedikit ungkapan hati dari Selvi, dia bisa menebak apa yang terjadi.


"Apa kamu punya saudara? Orang tua atau mungkin kerabat yang lain? Motorku di sana.. Ayo aku anterin pulang." Ucap Theo menawarkan diri agar tak membuat Selvi makin ngamuk di tempat umum seperti ini.


Selvi menatap ke arah Theo juga pada akhirnya, diperhatikan garis wajah itu. Matanya yang indah dengan alis tebal serta bulu mata nyaris sempurna yang Theo miliki. Belum lagi hidung mancung dan bibir sensual yang tercetak indah sebagai maha karya Tuhan Yang Maha Esa. Lelaki itu tampan tanpa editan!

__ADS_1


"Kenapa liatnya gitu?" Theo memiringkan wajahnya.


"Kamu kenapa baik sama aku? Kita bukan teman, bukan saudara, juga bukan tetangga. Kita nggak ada hubungan apa-apa, alasanmu baik padaku itu apa?" Selvi tak lagi melihat ke arah Theo, dia takut hal sama terulang. Terpesona pada pria yang salah. Karena dia tak tahu status Theo apa, jadi lebih baik jika dia menjaga hati saja.


Semua orang butuh proses untuk sadar dan berubah, entah jadi lebih baik atau lebih buruk. Dan kejadian beberapa bulan belakangan membuat Selvi merubah pola pikirnya. Dia tetap Selvi yang judes dan semaunya sendiri tapi dia lebih dewasa sekarang. Lebih bisa menimbang hal yang pantas dan tidak pantas dia lakukan.


Lakon antagonis bisa juga berubah jadi protagonis. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, ya kan?


"Nggak harus punya ikatan apapun untuk baik kepada orang lain. Dan nggak perlu alasan juga untuk bisa berguna bagi sesama." Theo menatap lurus ke depan.


"Pergi aja. Aku cuma pengen sendiri." Selvi tak peduli dengan ucapan Theo.


Bukan salahnya tak percaya pada orang lain tapi, keadaan yang menekan hati Selvi agar tidak mudah memberikan kepercayaan pada orang yang belum dia kenal.


"Ya udah aku pergi. Tapi jangan lakuin tindakan tadi lagi, kamu nggak boleh ngejudge anakmu sendiri.. Apalagi dia belum lahir! Kamu sedih dia juga ikut sedih, kamu bahagia dia akan berkali-kali lipat senengnya dari pada kamu. Apa yang kamu lakukan berdampak pada bayimu. Sebesar apapun masalahmu pasti ada jalan keluarnya, tinggal pinter pinter nya kamu milih jalan keluar yang mana."


Theo langsung berdiri dan melangkah pergi. Ada banyak hal yang ingin dia ketahui dari Selvi, perempuan yang di matanya terlihat unik.

__ADS_1


"Situ sih enak tinggal ngomong ini itu. Lha nggak ngalamin apa yang aku rasain kok! Pinter omong!" Selvi tak percaya pada Theo rupanya.


"Aku masih bisa mendengar mbak. Lain kali coba bicara lebih pelan saat ada aku, telinga ku seperti punya radar khusus untuk menangkap suara ngedumel mu."


Selvi tak menggubris. Dia sibuk menata hati. Dia berpikir bagaimana memeriksakan kandungannya jika tiap ke rumah sakit atau rumah bidan selalu ada saja yang mengolok-oloknya. Sedangkan jika tidak diperiksakan bapaknya serta Teguh akan berubah seperti kumbang yang membuat dengungan di telinganya akibat rentetan ceramah tak berujung untuknya.


"Benar-benar merepotkan!" Selvi berdecak sendiri.


Dia tak tahu jika gerak-geriknya masih di perhatian oleh seseorang yang tadi mengajaknya berbincang. Mungkin lebih tepat disebut Theo sendiri yang berdialog, karena Selvi tak begitu menggubris omongannya.


Dia memperhatikan pintu klinik bidan lalu melihat ke arah jam tangannya. Dia sudah susah payah sampai sini dan hanya di sini rumah bidan yang terbilang dekat dari tempat tinggalnya serta baik pelayanannya. Karena kebetulan suami dari bu bidan itu adalah dokter kandungan, jadi di sana dia bisa USG karena fasilitas dan ketersediaan peralatan yang memadai.


"Kira-kira dua jam lagi baru dipanggil kalau di lihat dari banyaknya orang yang tadi mengantri. Hmmmm.. Orang kalo udah miskin kok ya gini amat, mau periksa kandungan aja susah. Coba aku punya uang.. Nggak perlu ngantri kayak gini, nggak bakal ada yang hina aku juga. Kalo mau periksa kandungan tinggal tunjuk dokter mana yang mau aku datangi.. Lha ini? Emang nyebelin sih!" Selvi masih bergumam sendiri.


Selvi melihat orang berlalu lalang keluar masuk klinik, ada yang wajahnya sumringah. Ada yang letih tapi tampak bahagia karena bersama pasangannya, semua terlihat baik kecuali dia.


"Vin.. Ervin.. Semoga kamu bisa hidup bahagia setelah semua kejadian ini! Pretty ah mending ku panggil dia kampret aja, semoga suamimu lekas sadar kalo punya istri suka ndukun. Dan Ribut, orang tua bau tanah, bau vang_ke juga bau lainnya.. Aku berharap di dalam kubur mu, tiap hari digebukin malaikat! Hancur ragamu disatuin lagi, biar kamu tau.. Kamu matipun tak akan semudah itu lepas dari dosa-dosamu!!" Ujar Selvi sambil meremas tas kecil yang dia bawa.

__ADS_1


__ADS_2