Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
99. Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Lilian menggeliat dalam selimut tebalnya. Setelah mengadakan acara bersama para penduduk sampai larut malam, ia kembali beristirahat didalam kamarnya.


Beberapa kali tidur Lilian di usik oleh Citto, namun sayangnya gadis itu enggan untuk membuka matanya. Lilian bahkan menarik selimutnya dan menenggelamkan semua badannya didalam selimut itu.


Dari arah pintu terdengar seseorang yang memasuki kamar Lilian dan menduduki salah satu sisi ranjang yang masih kosong.


Seint menghela napas pelan melihat selimut yang menutupi seluruh tubuh Lilian. "Bagaimana bisa seorang Putri Mahkota tidur dengan posisi seperti ini!! Tidak ada anggunnya sama sekali!!" Kesalnya.


Sesuatu bergerak dari dalam selimut Lilia. Citto menyembulkan kepala dari dalam selimut dan berjalan menuju tempat Seint.


"Citto seharusnya kamu membangunkan Ibumu! Lihatlah dia!" Tunjuk Seint kearah selimut Lilian.


Ciitt ... Ciitt ... Ciitt ...


"Aku setuju dengan mu!! Dalam hitungan ketiga kita tarik selimutnya samaan." Saran Seint.


Citto menganggukkan kepalannya pelan tanda menyetujui ucapan Seint.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Tarik!!" Ucap Seint sambil menarik selimut Lilian bersama dengan Citto.


Wajah Seint memerah melihat tampilan Lilian Sekarang. Gadis itu tidur menggunakan gaun yang sangat tipis. Dari tempanya berdiri, Seint dalam melihat dalaman Lilian dan belahan dadanya.


Seketika napas Seint tercekat dan ia mulai merasakan panas di seluruh tubuhnya. Mata Seint bertubrukan dengan sorot mata sendu khas bangun tidur Lilian. Refleks Seint langsung membalikan badannya agar menghindari tatapan mata Lilian.


"Apakah kamu sudah tidak waras!!" Ketus Seint.


Lilian mengerutkan kening bingung dengan ucapan Seint. "Waras ... Memangnya aku kenapa?" Tanyanya polos.


Seint mendengus kesal. "Masih bertanya kenapa?" Tanya Seint dengan suara meninggi.


Lilian mendudukkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada sisi ranjang. "Kamu kenapa-sih! Pagi-pagi bukannya sarapan malah marah." Ucap Lilian masih tidak sadar.


Seint membalikkan tubuhnya kesal, saat melihat Lilian wajahnya kembali memerah. Sesegera mungkin Seint memalingkan pandangannya dan tidak ingin melihat kearah Lilian.


"Kenapa wajah mu memerah? Apakah kamu demam?" Tanya Lilian dan mendekatkan tubuhnya ke arah Seint.


"Berhenti!!" Kesal Seint dan membuang wajahnya kembali.


"Kamu ini kenapa-sih?" Tanya Lilian bingung.


Seint meneguk ludahnya susah. "Aku ini adalah lelaki normal ... Jika aku disuguhkan dengan pemandangan yang seperti itu tentu saja aku akan bereaksi." Jelasnya.


"Maksud mu apa? Jelaskan lebih rinci!" Ucap Lilian bingung.

__ADS_1


"Kenapa kamu menggunakan baju setipis itu!! Kamu sedang tidak menggodaku kan?" Tanya Seint sambil mengatur napas.


Lilian mengerutkan kening bingung kemudian memeriksa gaunnya. Mata Lilian terbelalak menyadari baju yang sekarang ia kenakan. Tadi malam, Lilian merasa kepanasan hingga harus mengganti gaun tidurnya dengan kain yang jauh lebih tipis.


"AAAAKKKKHHHH" Teriak Lilian.


Seint langsung membekap mulut Lilian agar tidak lagi berteriak.


"Hmmmppp kepnappa kmppa hmmmpppp." Ucap Lilian sambil memukul tangan Seint yang membekap mulutnya.


"Dasar mesum ... Mengambil kesempatan dari kesempitan." Ketus Lilian sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai dada.


"Siapa yang mesum? Siapa yang menyuruh mu menggunakan gaun setipis itu?" Tanya Seint ikut kesal.


"Aku tadi malam merasa kepanasan ... Jadi aku mengganti gaunku tidurku." Jelas Lilian.


Seint menatap tajam kearah Lilian. "Bagaimana kalau ada orang lain yang masuk kesini dan mendapati mu sedang tertidur menggunakan gaun seperti itu." Tunjuk Seint kesal.


Lilian mengerjapkan mata beberapa kali. "Tidak ada orang yang berani masuk kesini, terkecuali kau!!" Ketusnya.


"Jika ada orang berniat jahat kepada mu dan memasuki kamar mu, bagaimana?" Kesal Seint.


"Aku memiliki Citto yang akan selalu melindungi ku!!" Jawab Lilian.


Lilian mengerucutkan keningnya. "Apa yang kamu lakukan sepagi ini dikamar ku? Jangan-jangan kamu sengaja memasuki kamar ku agar bisa mengambil kesempatan." Ketusnya.


Seint mendengus pelan. "Memangnya kenapa kalau aku mengambil kesempatan? Kamu adalah wanitaku jadi tidak akan jadi masalah jika aku melihat mu dalam kondisi seperti ini!" Jawabnya enteng.


"Dasar mesum!! Apa saja yang telah kamu lihat?" Tanya Lilian panik.


Seint berdehem sebentar. "Aku tidak melihat apapun." Ucapnya sambil memasang wajah datar.


Lilian memicingkan mata." Bohong!!"


"Aku hanya melihat sedikit saja." Jujurnya Seint dengan wajahnya yang mulai memerah.


Lilian menggigit bibir bawahnya dan menatap kesal ke arah Seint. "Keluar!!" Ketusnya.


"Baiklah ... Cepat keluar, dua Kakak mu telah sampai dan sekarang sedang menunggu mu untuk sarapan." Ucap Seint sambil menggendong Citto keluar meninggalkan Lilian sendiri.


Lilian membuang selimutnya kasar. "Dia selalu mengambil kesempatan kepadaku." Kesalnya sendiri kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


°°°

__ADS_1


Saat sarapan Lilian tidak henti-hentinya menatap kesal ke arah Seint. Sedangkan orang yang ditatap hanya menunjukkan raut wajah datar khas miliknya.


Sedari tadi Lilian hanya mengaduk makanannya tanpa mempunyai niat untuk memakannya.


"Sepertinya susana hatimu sedang tidak baik Lilian. Kenapa?" Tanya Asgar.


Lilian menghela napas pelan. "Sepertinya kamar ku membutuhkan keamanan tambahan." Ucapnya sambil menatap sinis ke arah Seint.


"Apakah kamu merasa tidak aman?" Tanya Zheyan khawatir.


"Awalnya aku merasa sangat nyaman namun akhir-akhir ini ada seseorang yang memasuki kamar ku tanpa ijin dan mengambil kesempatan kepadaku." Sindir Lilian ke arah Seint.


"Apakah dia menyakiti mu?" Tanya Asgar.


"Menyakiti secara fisik mungkin tidak ... Namun aku merasa dirugikan secara mental." Ketusnya ke arah Seint.


Seint hanya memakan sarapannya dengan tenang dan hal itu tambah membuat Lilian kesal. Sedari tadi Lilian memberikan tatapan permusuhan namun Seint tidak meresponnya sama sekali. Seint hanya sibuk dengan sarapannya dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Bukankah Citto akan bereaksi berbeda jika merasa Yang mulia dalam masalah?" Tanya Artem.


"Sayangnya orang itu bisa menaklukkan Citto dengan sangat mudah. Bukannya menyerang Citto hanya akan menjadi penonton saat orang itu mengambil kesempatan." Jelas Lilian masih dengan menatap kesal ke arah Seint secara terang-terangan.


Seint mengelap mulutnya setelah selesai makan. "Citto tahu mana orang yang berniat mengambil kesempatan dan mana orang yang memberi kesempatan." Ucapnya datar.


"Maksud mu?" Ketus Lilian.


Seint menghela napas pelan. "Citto akan melukai seseorang yang memiliki niat jahat. Jika Citto hanya diam saja itu artinya orang itu tidak berbahaya." Ucapnya.


Lilian menatap Seint sinis. "Kamu memasuki kamar ku tanpa ijin dan mengambil kesempatan saat aku tertidur." Kesalnya.


"Aku masuk karena kamu tidak mengunci pintu, Kakak mu datang dan kamu sebagai adiknya bukan menyambut malah masih tertidur dengan gaun setipis itu." Kesal Seint.


"Jika kamu melihat gaun yang aku kenakan tipis seharusnya kamu langsung keluar saja." Ucap Lilian dengan nada tinggi.


"Bagaimana caranya aku keluar sedangkan kamu malah mendekatiku masih dengan mengenakan gaun tipis itu. Lagian aku tidak melihat kearah mu, aku membuang muka ke arah lain." Jelas Seint.


Artem menggelengkan kepala pelan sambil menatap bosan ke arah Asgar dan Zheyan. "Sebaiknya kita memberikan mereka waktu untuk menyelesaikan rumah tangganya." Kesalnya.


Zheyan dan Asgar berdiri menyetujui ucapan Artem dan berjalan menjauhi keduanya.


"Semuanya gara-gara kamu!! Mereka jadi salah paham!" Kesal Lilian.


"Kamu sendiri yang awalnya membahas tentang hal itu!" Kesal Seint.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2