
Sedari tadi Lilian sangat bersemangat menunggangi kudanya, tak peduli kulitnya akan berubah gosong karena terkena sinar matahari langsung namun gadis itu tetap bersemangat menunggangi kudanya. Ketika ia ingin mengarahkan kudanya menuju ke tempat Zheyan dan yang lain beristirahat tiba-tiba ada sebuah anak panah yang meluncur ke arahnya hingga mengenai kaki kanan belakang kuda yang ia tunggangi.
Karena terkena anak panah yang datang secara tiba-tiba membuat kuda yang Lilian tunggangi berteriak kesakitan. Lilian secara spontan memegang erat tali kekang kuda yang membuat kuda tersebut berlari tak tentu arah.
Karena laju kuda yang sangat kencang membuat Lilian ketakutan setengah mati dan berteriak sekencang mungkin. "KAKAAAAAK." Teriak Lilian entah bisa di dengar oleh Zheyan dan Asgar atau tidak.
Kuda tersebut melaju dengan kencang hingga melewati perbatasan daerah pacuan memasuki hutan yang terlihat menyeramkan.
"Akhhhhh...apakah aku akan mati untuk yang kedua kali?" Teriak Lilian yang terus memegangi leher kuda dengan sangat erat.
Lilian kemudian menangis histeris saat kuda yang ia tunggangi benar-benar tak bisa ia kendalikan. "Ayah...Ibu...terima kasih atas kasih sayang yang kalian berikan kepada ku walau cuman sebentar namun semua sangat bermakna di hatiku...Kak Zheyan...aku sangat menyayangi mu...kau begitu tulus menyayangi ku...Kak Asgar kau juga sangat menyayangi ku dan selalu jadi penolong ku saat aku susah...Rosa...kau pelayan terbaik ku...dan...kalaupun aku mati setidaknya aku mati sudah punya kekasih yang tampan meskipun datar." Ucap Lilian di sela-sela tangisnya.
Kuda yang ia tunggangi tetap melaju dengan kencang memasuki area hutan beberapa kali Lilian terkena dahan pohon yang membuat tubuh dan tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Kuda tersebut tetap melaju dengan cepat menuju sebuah tebing yang agak curam, sebelum kuda tersebut berlari mendekati tebing, sebuah anak panah kembali melesat ke arah kuda tersebut dan melukai kaki kiri depan kuda. Lilian terjatuh di atas kudanya dan berguling ke arah tebing.
Kepala Lilian sempat terbentur pada sebuah batu yang cukup besar hingga tubuhnya terjatuh ke tebing. Sebelum Lilian benar-benar terjatuh, ia sempat meraih akar yang tumbuh disekitar tebing.
"SIAPAPUN TOLONG AKU!" Teriak Lilian.
"Apakah aku akan benar-benar akan mati seperti ini?" Batin Lilian, tangannya sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya, belum lagi seluruh tubuhnya mengeluarkan darah karena terkena ranting pohon dan terjatuh di atas kuda.
Penglihatan Lilian mulai memburam, kepalanya sakit dan mengeluarkan banyak darah yang mengalir menutupi wajah cantiknya.
"Aku sudah tidak kuat lagi." Ucap Lilian lemah.
Lilian sudah benar-benar tidak kuat lagi menahan berat badannya kemudian mata Lilian mulai melemah hingga Lilian benar-benar melepaskan pegangannya pada akar-akar tanaman tersebut.
__ADS_1
Saat kesadarannya mulai hilang sepenuhnya, Lilian merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. "Seint." Ucapnya lemah hingga matanya benar-benar tertutup.
°°°
Semua orang yang berada di ruangan tersebut tampak cemas melihat kondisi seorang gadis yang berbaring lemah di atas ranjangnya.
Tubuhnya dipenuhi luka goresan, tangannya terkilir dan yang paling parah adalah luka yang berada di kepalanya.
"Bagaimana keadaan Putri ku Tabib?" Tanya Duke Marven dengan cemas.
"Saya tidak bisa mengatakan Putri Anda dalam keadaan baik-baik saja, ia kekurangan banyak darah akibat luka di kepalanya namun saya sudah memberikannya obat agar menghentikan pendarahannya sedangkan tangan kirinya terkilir dan harus diperban." Ucap Tabib.
"Lalu kapan Lilian akan sadar Tabib?" Ucap Illyria yang sedari tadi menangis melihat kondisi Putrinya.
"Saya tidak bisa memastikan kapan Putri Anda sadar Nyonya...Putri anda sedikit mengalami trauma hingga membuatnya kesulitan untuk membuka mata, kalau sampai besok Nona Lilian belum juga sadar maka kita harus mencari cara lain agar membuatnya tersadar" Ucap Tabib.
Seint mengepalkan tangannya erat mengingat kejadian sebelumnya. Saat gadis itu masih terlihat sangat bahagia karena bisa menunggangi kudanya sendiri.
Saat Seint, Zheyan, Asgar dan Artem melihat kuda Lilian berlari memasuki hutan, ke empatnya langsung berlari menunggangi kudanya masing-masing untuk mengejar Lilian. Seint menunggangi kudanya dengan sangat cepat saat mendengar Lilian berteriak kesakitan karena terkena dahan pohon.
Perasaan Seint mulai tak enak saat kuda yang di tunggangi Lilian berlari mendekati sebuah tebing yang sangat curam dan dari jarak yang cukup jauh mata tajam Seint dapat melihat jelas sebuah anak panah yang mengenai kaki kuda tersebut dan membuat Lilian terjatuh berguling ke arah tebing.
Saat sampai didekat tebing, Seint langsung melompat dari atas kudanya dan berlari mendekati tebing. Beruntunglah Seint sampai lebih cepat kalau tidak Lilian pasti akan terjatuh dari tebing tersebut.
Mata Seint memanas saat melihat kondisi Lilian yang sangat tidak baik, sesekali ia memanggil nama Lilian agar gadis itu tetap membuka matanya namun gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Zheyan, Asgar, dan Artem, berlari menghampiri Seint yang tengah membekap Lilian dalam pangkuannya, nafas mereka tercekat saat melihat kondisi tubuh Lilian penuh darah dan luka.
Karena tak kunjung mendapat respon dari Lilian, Seint mengangkat gadis itu dan berlari ke arah kudanya. Sebelum meninggalkan tempat itu, Seint menyuruh Artem untuk mengamankan kuda yang sebelumnya Lilian tunggangi.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang berusaha menyakiti mu." Batin Seint sambil mengepalkan tangannya erat dan berdiri dari duduknya.
"Anda mau kemana?" Tanya Artem yang melihat Seint berdiri dari duduknya.
"Aku akan mencari orang yang telah mencelakai Lilian, tidak akan aku biarkan dia hidup tenang." Ucapnya dengan aura suram.
"Bagaimana Yang Mulia tau kalau Lilian di celakai?" Tanya Artem yang diangguki semua orang.
"Saya melihat ada sebuah anak panah yang menancap di kaki depan kuda yang Lilian tunggangi." Ucap Seint.
"Ya benar...saya juga melihat luka gored di kaki belakang kuda sepertinya itu juga dari anak panah." Ucap Artem.
"Kalau begitu itu artinya Putri ku sengaja di celakai oleh orang lain?" Tanya Duke Marven.
"Ya...kuda itu sejak awal baik-baik saja namun setelah Lilian menungganginya sendirian...kuda itu tiba-tiba berteriak kesakitan dan berlari ke arah hutan." Ucap Asgar.
"Itu artinya ada yang dengan sengaja ingin menyakiti Lilian." Gumam Zheyan.
"Saya tidak akan memaafkan orang yang telah menyakiti Lilian...dia akan ikut merasakan apa yang Lilian rasakan, jika Lilian tidak bangun juga dalam waktu dekat maka orang itu tidak akan terbangun untuk selamanya." Ucap Seint dingin.
Seint kemudian berjalan keluar kamar Lilian di ikuti oleh Artem, Zheyan dan Asgar.
"Jika Yang Mulia ingin menyelidiki orang yang telah menyakiti Lilian maka ajaklah kami juga Yang Mulia." Ucap Zheyan tegas.
Seint menatap tajam ke arah Zheyam dan Asgar. "Karena kalian adalah salah satu orang yang Lilian sayangi maka akan ku ijinkan kalian ikut namun untuk hukuman sang pelaku biarkan urusan itu akan menjadi tugas ku." Ucap Seint sambil tersenyum yang membuat orang lain merinding melihatnya.
°°°
__ADS_1
Jangan bosan sama cerita Author ya