Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
116. Buku Catatan Lilian I


__ADS_3

Seint mengambil buku yang berada ditangan Asgar kemudian dengan perlahan membukanya. Halaman pertama buku tersebut tertulis beberapa kalimat yang mengatakan kepemilikan dari Lilian.


Terkadang melindungi orang yang kita sayangi akan jauh membuat kita bahagia.


^^^Lilian Daisyla Marven^^^


Rangkain kata yang tertulis pada halaman pertama. Seint kemudian membuka lembar kedua, ketiga dan seterusnya namun ia tidak dapat melihat tulisan selain dihalaman pertama.


"Buku ini kosong." Ucapnya datar.


Duke Marven mengerutkan kening bingung. "Bisa saya periksa Yang Mulia?" Tanyanya sopan.


Seint mengangguk singkat kemudian menyerahkan buku tersebut kepada Duke Marven. Sama seperti yang Seint lakukan, Duke Marven membuka lembar perlembar yang ada pada buku namun tidak ada satupun tulisan yang terlihat di sana.


"Benar ... Ini hanyalah buku kosong." Ucap Duke Marven kecewa.


Sein kembali mengambil buku tersebut dan menatapnya aneh. "Tidak mungkin Tuan Martin menyimpan buku ini secara rahasia dalam kediamannya jika buku ini tidak penting." Ucapnya sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Lilian membaca surat yang tidak memiliki tulisan namun gadis itu menggunakan lilin untuk melihat tulisannya.


"Ambilkan saya lilin!!" Ucap Seint cepat.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Asgar penasaran.


"Beberapa bulan yang lalu saya melihat Lilian menggunakan lilin untuk membaca tulisan pada sebuah gulungan surat. Siapa tahu tulisan pada buku ini akan muncul jika kita melakukan hal yang sama." Jelas Seint.


Asgar mengangguk cepat kemudian segera ia mengambil lilin sesuai perintah dari Seint. Setelah lilin dinyalakan, Seint mendekatkan buku tersebut kearah lilin namun mereka harus menelan kekecewaan karena buku tersebut masih terlihat kosong tanpa ada satupun tulisan di sana.


"Buku itu masih kosong." Ucap Duke Marven.


"Sepertinya kita harus membawa Putri Mahkota kembali kesini untuk memeriksa buku tersebut." Usul Artem.


Seint menggeleng cepat. "Tidak! Dia baru saja meninggalkan Istana. Akan sangat melelahkan untuknya jika ia harus kembali ke Istana lagi." Ucapnya.


"Kalau begitu kita yang ke sana." Tegas Raja Reinal.


Semua orang menatap terkejut kearah Raja Reinal. "Tidak bisa Yang Mulia. Akan sangat mencurigakan jika Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota secara bersamaan pergi ke kediaman saya." Sanggah Duke Marven.


"Kita akan ke kediaman mu dengan cara menyamar. Saya akan menyuruh salah satu pengawal saya untuk menggantikan saya di sini. Orang akan mengira jikalau saya masih tetap berada di Istana." Jelas Raja Reinal.

__ADS_1


"Tapi Yang Mulia ..." Ucap Duke Marven khawatir.


"Ini keputusan mutlak dari saya, jika kita tidak bergerak secepatnya maka para pengkhianat itu akan semakin membuat ulah. Saya tidak bisa hanya duduk manis saja di Istana, lebih baik kalian tidak usah protes dan siapkan kuda agar kita bisa berangkat secepatnya." Tegas Raja Reinal.


Semua orang hanya mengangguk pasrah mendengar keputusan Raja Reinal. Setelah persiapan keberangkatan menuju kediaman Duke Marven telah selesai. Raja Reinal dan yang lainnya keluar Istana menuju gerbang samping Istana agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang.


°°°


Lilian memeluk Rosa dengan sangat erat saat melihat gadis itu. Sudah hampir dua minggu Lilian tidak bisa melihatnya dan hanya bisa berkomunikasi lewat surat saja.


"Aku sangat merindukan mu Rosa ... Lama sekali rasanya kita berpisah." Ucap Lilian senang sambil melepas pelukannya.


"Saya juga merindukan mu Yang Mulia. Sejak Anda pergi, saya hanya bolak balik ke rumah Tuah Ni untuk mencari informasi yang Anda butuhkan." Ucap Rosa senang.


"Kamu bersama siapa ke sana?" Tanya Lilian sambil berjalan menuju ranjangnya.


"Saya berangkat ke sana dengan pengawal Anda namun mereka hanya menjaga saya dari jauh supaya tidak menimbulkan kecurigaan." Jelas Rosa.


Lilian tersenyum senang. "Bagus Rosa ... Kau selalu bisa aku andalkan." Ucapnya sambil memberi kedua jempolnya. "Lalu apakah ada informasi lain dari Tuah Ni?" Tanyanya lagi.


Rosa mengangguk pelan. "Selama Yang Mulia berada di wilayah barat. Orang-orang Tuah Ni mengatakan ada seseorang yang sangat asing terlihat memasuki kediaman Marquis Gaustark. Orang itu memakai baju yang sangat aneh, kata Tuah Ni baju yang ia kenakan mirip dengan baju kelompok penyihir." Jawabnya


"Entahlah Yang Mulia ... Jaman dahulu memang ada penyihir namun keberadaan mereka menghilang bersamaan dengan menghilangnya para naga." Jawab Rosa.


"Lalu mengapa para penyihir itu muncul setelah lama menghilang?" Tanya Lilian curiga.


"Entahlah Yang Mulia ... Namun saya curiga hal ini ada kaitannya dengan keberadaan Citto sekarang." Ucap Rosa.


Lilian menatap kearah Citto yang tertidur lelap di atas ranjangnya. "Apakah karena kemunculan Citto akhirnya penyihir itu keluar dari persembunyiannya? Tapi apa hubungannya dengan Citto." Pikir Lilian.


"Apa mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu? Tapi apa?" Ucap Lilian lebih ke diri sendiri.


"Apa mereka sedang merencanakan hal lain yang berkaitan dengan Citto?" Tanya Rosa serius.


Lilian mengangguk pelan. "Bisa saja ... Di wilayah barat kami mendapatkan beberapa informasi tentang penyihir. Mereka menyerang kaum naga untuk mendapatkan kekuasaan." Ucapnya terjeda kemudian Lilian membuka matanya dengan lebar. "Itu dia!!" Ucapnya spontan mengagetkan Rosa.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Rosa panik.

__ADS_1


"Mereka menginginkan kekuasaan ... Aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu. Tidak ... Tidak ... Aku harus secepatnya menghubungi Seint." Ucap Lilian sambil berdiri dari duduknya dan berniat berjalan keluar.


"Yang Mulia mau kemana?" Tanya Roda panik.


"Aku harus pergi menemui Seint dan memberitahunya hal ini ... Setidaknya mereka harus tahu apa tujuan mereka yang sesungguhnya." Ucap Lilian cepat.


"Tidak Yang Mulia ... Anda baru saja sampai. Saya akan mengirimkan surat pemberitahuan kepada Pangeran Mahkota." Usul Rosa.


"Tidak bisa Rosa! Hal ini tidak bisa saya diskusikan lewat surat ... Saya harus bertemu dengannya secara langsung untuk membahas hal ini." Ucap Lilian sambil berjalan keluar.


"Tidak Yang Mulia saya mohon ... Anda baru saja kembali. Bisakah Yang Mulia berangkat besok saja?" Harap Rosa cemas.


"Tidak bisa Rosa ... Hal ini sangatlah serius dan harus secepatnya dibicarakan. Pergilah untuk menyiapkan keberangkatan sana." Ucap Lilian.


Rosa hanya menghela napasnya pelan. "Baiklah Yang Mulia ... Namun biarkan saya untuk pergi mencari Tuan Muda Zheyan untuk mengantar Yang Mulia pergi." Tawarnya.


Lilian mengangguk pelan. "Pergilah ... Aku akan menunggu di sini." Ucapnya sambil berjalan kembali menuju ranjangnya.


Rosa akhirnya bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Zheyan untuk mengantar Lilian kembali ke Istana untuk menemui Seint.


Sudah sejak lama Lilian menunggu kepergian Rosa namun pelayan itu masih belum kembali. Lilian bahkan berjalan bolak-balik menunggu kedatangan Rosa.


"Ada apa dengan Rosa ... Mengapa ia kembali sangat lama." Kesal Lilian.


"Aku tidak bisa lagi menunggu ... Rosa terlalu lama." Gumam Lilian kemudian berjalan mengitari ranjangnya dan mengangkat tubuh Citto.


"Akan lebih baik jika kamu ikut Citto. Seint akan marah kepadaku jika aku tidak membawa mu bersama ku." Gumam Lilian sendiri kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Sebelum Lilian benar-benar mencapai pintu keluar. Rosa kembali dengan napas ngos-ngosan.


"Ada apa Rosa? Apa kamu sudah bertemu dengan Kakak?" Tanya Lilian cepat.


"Saya memang menemukannya Yang Mulia namu ..." Ucap Rosa terjeda.


"Namun apa? Bicara yang benar Rosa jangan sepotong-sepotong." Kesal Lilian.


Rosa mengatur napasnya. "Saya tadi sedang mencari Tuan Zheyan ke semua kediaman namun tidak menemukannya. Akhirnya saya pergi menuju tempat pengolahan coklat, siapa tahu Tuan Zheyan ada di sana. Setelah sampai saya memang menemukannya namun Tuan Zheyan juga sedang terburu-buru kesini. Awalnya saya bingung namun akhirnya saya tahu bahwa Tuan Zheyan buru-buru karena Yang Mulia Raja, Pangeran Mahkota dan yang lainnya sedang menuju kesini. Mereka mungkin sudah memasuki kediaman kita." Jelas Rosa.

__ADS_1


Lilian tidak lagi bertanya apapun kepada Rosa. Setelah menyerahkan Citto, Lilian berjalan keluar kamar dengan tergesa dan berjalan menuju ruang pertemuan.


°°°


__ADS_2