Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
142. Peristirahatan Terakhir Rosa


__ADS_3

Setelah melewati malam yang panjang, akhirnya matahari mulai memancarkan sinarnya. Sisa hasil pertarungan semalam meninggalkan banyak kenangan bagi banyak orang. Tanah retak, suasana kacau, banyak mayat yang tergeletak di atas tanah karena gugur dalam pertarungan semalam.


Tidak sedikit prajurit yang mendapatkan luka, mulai dari luka ringan sampai luka yang sangat serius. Pertarungan semalam juga meninggalkan banyak duka pada semua orang, terutama bagi Lilian yang sampai sekarang belum bisa menerima kematian Rosa.


Ditempat pertarungan tersebut terlihat prajurit yang mendapatkan sedikit luka membantu prajurit lain yang memiliki kondisi yang buruk. Para Tabib sejak semalam berjuang memberikan pengobatan untuk prajurit maupun orang-orang yang membutuhkan pertolongan saat pertempuran terjadi.


Bekas pertarungan semalam memberikan kenangan yang tidak akan mereka lupakan sampai kapanpun. Perlahan Seint mulai mengarahkan para prajurit yang tidak terluka untuk membantu membereskan sisa pertempuran semalam. Bagi prajurit yang memiliki luka serius maupun luka ringan diberikan pengobatan.


Seint bersama dengan yang lainnya mengumpulkan mayat-mayat yang gugur untuk di kuburkan secara masal. Raja Reinal telah memutuskan akan menguburkan mereka semua ditempat itu sebagai tanda jikalau mereka telah berjuang ditempat itu. Untuk mayat para lawan akan dipindahkan ketempat lain dan dikuburkan secara masal namun mereka akan diberi tanda pengkhianat sebagai hukumannya.


Bagi bangsawan tinggi yang masih menghembuskan napas seperti Marquis Gaustark dan Viscount Wilson dimasukan kedalam penjara tanpa diberi pengobatan sampai hari hukuman mereka tiba. Raja Reinal telah memutuskan hukuman mati didepan semua rakyatnya bagi para pengkhianat yang masih hidup. Sedangkan untuk rekan yang membantu para pengkhianat seperti bantuan dari kerajaan Elmore akan ikut dihukum mati namun sebelumnya Raja Reinal akan mengirimkan surat pemberitahuan kepada kerajaan yang bersangkutan agar tidak mendapat masalah lagi untuk ke depannya.


Sementara untuk bangkai ular hijau tersebut akan dipindahkan bersama dengan mayat para penghianat. Pangeran Igor dan Selir Gracia tidak akan dikuburkan di pemakaman anggota keluarga inti kerajaan karena mereka telah melakukan penghianatan, mayat mereka akan dibawa bersama mayat penghianat lainnya.


Untuk mayat para pejuang kerajaan Apollonia akan dikuburkan dengan penghormatan penuh tanda rasa terima kasih karena mereka telah berkorban demi mempertahankan perdamaian kerajaan Apollonia. Bagi prajurit yang gugur dalam pertempuran akan diberikan penghargaan dan diberikan kompensasi bagi keluarga yang ditinggalkan.


°°°


Lilian menatap pantulan dirinya didepan cermin kamarnya, ia kembali memikirkan Rosa yang selalu saja membantunya dalam segala hal. Namun hari ini tidak ada lagi sosok yang selalu menemaninya di manapun ia berada.


Lilian kembali meneteskan air matanya saat mengingat kejadian yang merenggut banyak nyawa semalam. Dalam semalam Lilian kehilangan banyak hal seperti kehilangan Rosa yang selalu menemani hari-harinya. Lilian juga harus merelakan kepergian Citto untuk selama-lamanya dan yang membuat Lilian tertekan adalah ia harus bisa menerima jiwa masa lalunya kembali berkorban untuk keselamatan dirinya. Padahal Lilian sudah menguatkan diri agar tidak terluka pada malam peperangan supaya tidak lagi membuat jiwa masa lalunya merasakan sakit.

__ADS_1


Hal yang paling Lilian sesali adalah sebelum kehilangan mereka, Lilian belum sempat mengatakan apapun kepada mereka. Lilian menyesal diakhir hidup Rosa, ia tidak menghabiskan banyak waktu bersamanya ataupun sekedar bercerita tentang hal-hal kecil seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari. Lilian juga menyesal karena tidak bisa memeluk Citto untuk terakhir kali saat naga itu menghilang. Lilian juga menyesali mengapa semalam ia tidak bisa mengendalikan perasaannya, jika ia bisa mengendalikan perasaannya Citto tidak akan kehilangan kesadaran dan jiwa masa lalunya tidak akan mengorbankan dirinya lagi.


Lilian menatap kedua tangannya yang masih meninggalkan bekas goresan kecil saat pertempuran semalam. Sejak Lilian sadar, tempat disekitarnya telah banyak yang hancur, karena pertempuran semalam membuat tubuh Lilian terasa lemah dan pandangannya sedikit mengabur.


Lilian meyakinkan dirinya agar tetap kuat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Rosa. Jika kondisi Lilian melemah maka ia tidak akan diijinkan untuk mengantar Rosa ke peristirahatan-nya yang terakhir. Lilian kembali menatap kearah cermin didepannya dan terlihat wajah pucat-nya sangat kontras dengan warna gaun putih yang ia kenakan.


Saat Lilian sedang sibuk dengan pikirannya. Seseorang berjalan membuka pintu kamar Lilian dan berjalan mendekat kearah gadis itu.


"Apakah kamu baik-baik saja? Jika kamu merasa tidak kuat maka sebaiknya kamu beristirahat saja disini." Ucap Seint.


Lilian secepatnya membalikan badannya dan menatap langsung ke mata Seint. "Tidak. Aku harus memberikan penghormatan terakhir kepada Rosa. Tidak banyak yang bisa aku lakukan dan berikan semasa hidupnya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk yang terakhir kalinya." Jelas Lilian.


Seint mengangguk pelan. "Baiklah. Kamu akan tetap ikut, namun jika nanti kamu merasa kondisi mu memburuk maka kamu harus mengatakannya." Ucapnya


Seint kembali mengangguk pelan. "Baiklah. Jika kamu sudah siap maka kita bisa berangkat sekarang." Ucapnya sambil mengusap pelan kepala Lilian.


"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang." Ajak Lilian.


Seint mengangguk pelan kemudian menggandeng tangan Lilian untuk berjalan bersamanya. Seint dapat merasakan tangan Lilian sangat dingin dan wajah Lilian terlihat sangat pucat namun Seint tidak ingin membuat hati Lilian bersedih jika ia harus melarangnya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Rosa.


°°°

__ADS_1


Suara tangis mengisi semua tempat penghormatan terakhir bagi orang-orang yang gugur dalam pertarungan semalam. Raja Reinal resmi mengumumkan tempat itu akan dikenal sebagai para pejuang kerajaan Apollonia. Setiap tahun yang akan datang malam lentera bukan hanya akan menjadi malam untuk meminta harapan namun malam lentera selanjutnya akan dikenang sebagai malam perjuangan dan akan diadakan acara penghormatan bagi orang-orang yang telah gugur.


Lilian tidak bisa untuk tidak menangis melihat gundukan tanah yang berada didepannya. Zheyan mencoba memeluk erat tubuh Lilian berharap agar gadis tersebut merasakan ketenangan dan mengikhlaskan kepergian Rosa dalam hidupnya.


Meski berat untuk menerima kepergian Rosa namun Lilian harus tetap bisa mengikhlaskan kepergiannya demi ketenangan jiwa Rosa. Lilian memberikan beberapa kali penghargaan kepada Rosa kemudian menatap lama ketempat peristirahatan Rosa.


"Aku berharap keinginan terakhir mu terwujud. Jika diberikan kesempatan hidup lagi, maka aku juga ingin menjadi adik mu dan aku akan menuruti semua kata-kata mu." Batin Lilian.


Asgar menatap lama kearah Lilian yang berdiri diam didepan kuburan Rosa. "Kakak tahu kamu merasa sedih atas kepergian Rosa. Namun ketahuilah, Rosa sangat menyayangi mu. Kamu tidak perlu terlalu lama terpuruk dengan perasaan bersalah mu itu. Kakak yakin Rosa sudah bahagia di atas sana." Ucapnya.


Lilian membalikan badannya dan memeluk Asgar dengan erat. "Apakah Rosa tidak akan membenciku?" Tanyanya.


Asgar mengusap kepala Lilian pelan. "Rosa melakukan hal itu atas dasar keinginannya dan bukan dari paksaan dari orang lain. Jika bisa memilih maka Kakak juga menginginkan Rosa tetap bersama kita. Namun Rosa sangat menyayangi mu dan memilih mengorbankan dirinya." Jelasnya.


"Kau hanya perlu mendo'akan ketengan untuk Rosa." Timpal Zheyan yang berdiri di samping keduanya.


Lilian mengangguk pelan dalam pelukan Asgar. Hal terakhir yang Lilian bisa lakukan adalah mendoa'akan ketenangan untuk jiwa Rosa.


"Jika sudah selesai maka sebaiknya kita kembali. Ada banyak hal yang harus kita urus karena pertempuran semalam. Tubuh kalian juga memerlukan banyak istirahat untuk kembali bertenaga." Ucap Duke Marven.


Semua orang mengangguk membenarkan ucapan Duke Marven. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat peristirahatan Rosa, Lilian menatap lama pada pusaran didepannya kemudian ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


°°°


__ADS_2