
Lilian membawa sebuah buntelan kain dan menyimpannya ditengah-tengah meja. Setelah mendapat perintah dari Raja Reinal, secepat mungkin Lilian berjalan menuju kamarnya dan memasuki ruangan pribadinya untuk mengambil buntelan tersebut.
Semua pasang mata memfokuskan pandanganya kearah buntelan kain tersebut. Setelah Raja Reinal memberi kode untuk membuka kain tersebut, Lilian akhirnya dengan perlahan membuka buntelan kain itu.
Sama seperti yang terakhir kali Lilian lihat. Ada beberapa buku dan juga barang lain seperti sebuah tanda pengenal. Setelah Lilian membongkar isi dari buntelan itu, Raja Reinal tidak melepaskan pandangan ke arah tanda pengenal.
"Bisakah kamu bawakan saya tanda pengenal itu?" Tanya Raja Reinal sambil menunjuk tanda pengenal itu.
Lilian dengan cepat memberikan tanda pengenal itu kepada Raja Reinal. Sesekali Raja Reinal membolak-balikan tanda pengenal itu.
"Tanda pengenal ini seperti tidak asing." Ucap Raja Reinal.
"Mirip dengan milik Pangeran Igor." Ucap Seint datar.
Semua pasang mata menatap kearah tanda pengenal itu. "Benarkah Yang Mulia?" Tanya Baron Avalon.
Raja Thanos mengangguk pelan. "Namun ada lambang kerajaan Elmore didalamnya." Ucap Raja Reinal.
"Kami juga berpendapat seperti itu Yang Mulia ... Kami masih menyelidiki tentang tanda pengenal itu namun sampai sekarang kami tidak mendapat informasi apapun." Jelas Zheyan.
"Menurut catatan Lilian, tanda pengenal itu milik pemimpin dari para penghianat. Identitasnya sungguh misterius, jika kita dapat mengetahui siapa pemilik tanda itu maka kita akan lebih mudah mengetahui siapa lawan kita." Ucap Baron Avalon.
Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Baron Avalon. Mereka sudah memiliki banyak petunjuk namun tidak satupun petunjuk yang mengarah kepada pemimpin para penghianat.
"Beberapa waktu lalu saya telah menyelidiki tentang Kelompok Kesatria Elang. Awalnya saya tidak melihat keanehan apapun dengan kelompok itu, mereka melakukan kegiatan normal seperti biasa. Namun beberapa penyerangan terhadap Lilian selalu mengarah kearah ke sana. Akhirnya saya menyelidiki tempat mereka secara diam-diam dan menemukan keanehan pada beberapa bangunan yang ada di sana." Jelas Asgar panjang.
"Keanehan seperti apa?" Tanya Baron Avalon penasaran.
__ADS_1
"Bangunan depan sampai ketengah kelompok itu beraktifitas secara normal, namun pada bagian belakang mereka melakukan aktifitas tersembunyi. Dalam peta bangunan itu seharusnya digunakan untuk penyimpanan bahan makanan serta alat-alat lain. Namun setelah saya memasuki wilayah itu ternyata mereka melakukan pekerjaan membuat alat perang dan berbagai jenis racun." Jelas Asgar.
"Mengapa kamu baru mengatakan hal penting ini sekarang?" Tanya Zheyan.
Asgar menghela napas pelan. "Aku juga baru tahu." Ucapnya kemudian menatap kearah Raja Reinal. "Kemarin Pangeran Seint memberi perintah kepada saya untuk menutup semua akses keluar masuk Ibukota. Saat menjalankan tugas, saya berpapasan dengan beberapa orang yang gelagatnya sangat mencurigakan membawa gerobak yang berisi bahan peledak. Karena penasaran saya memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam sampai ke tempat tujuan mereka. Mereka masuk ke wilayah Kelompok Kesatria Elang lewat jalan lain yang langsung tembus kearah belakang. Di sana saya terkejut melihat semua aktifitas yang sedang mereka kerjakan. Rencananya saya ingin melapor saat samapi di Istana namun situasi waktu itu tidak memungkinkan saya untuk melapor." Jelasnya panjang.
Raja Reinal mengangguk pelan. "Ternyata kecurigaan saya dengan Pangeran Mahkota benar. Untung saja setelah mendapatkan surat dari Pangeran Mahkota, saya langsung menarik sedikit demi sedikit Prajurit yang berasal dari kelompok itu dan mengirim mereka ke medan perang." Ucapnya menahan marah.
"Lalu apakah kita akan menyerang kelompok iru Yang Mulia?" Tanya Baron Avalon.
"Tidak! Kelompok itu memiliki pengaruh yang besar di kerajaan kita. Kita harus menggunakan akal jika ingin membantai para penghianat itu." Jawab Raja Reinal.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang Yang Mulia?" Tanya Duke Marven.
"Menyerang mereka tanpa diketahui." Ujar Lilian tiba-tiba.
Lilian mengangguk pelan. "Bagian belakang kelompok itu sedang membuat persenjataan. Jika tebakan saya benar maka saya yakin senjata-senjata itu akan digunakan untuk melawan kita. Sebelum mereka menggunakan alat-alat itu untuk melawan kita, maka yang harus kita lakukan adalah memusnahkan senjata-senjata itu atau paling tidak mereka harus menggunakan senjata itu untuk saling menyerang satu sama lain." Jelas Lilian dengan tatapan dinginnya.
"Maksud mu? Bisakah kamu memperjelas-nya? Tanya Duke Marven.
Lilian tersenyum dingin mirip dengan senyuman yang selalu Seint pamerkan. "Salah satu bahan yang mereka gunakan dalam membuat persenjataan adalah bahan peledak. Jika kita memercikan sedikit api di sana maka semua persenjataan yang ada di sana akan iku hancur bersama dengan balan pedak itu. Namun sebelum itu kita harus membuat rencana yang lebih matang dulu agar kita todak dicurigai sebagai pelaku peledakan." Jelas Lilian panjang.
"Putri Mahkota sudah memiliki rencana?" Tanya Artem penasaran.
Lilian kembali mengangguk pelan. "Saat pesta dansa berlangsung saya melempar umpan kepada pihak musuh. Saya mengatakan jikalau Yang Mulia Raja Reinal telah menyimpan barang bukti terkait dengan para penghianat. Jika umpan yang saya lempar termakan, maka mereka akan melakukan dengan cara apapun agar bisa mendapatkan bukti itu dan menghancurkannya. Tugas kita adalah membuat bukti palsu dan menyimpannya di sana." Jelasnya.
"Lalu kita akan menangkap mereka jika berhasil mengambil bukti palsu itu?" Tanya Zheyan.
__ADS_1
Lilian menggeleng pelan. "Biarkan mereka mengambil bukti itu tanpa halangan apapun. Namun setelah mereka pergi maka kita harus meninggalkan jejak palsu setelahnya." Jawab Lilian.
"Maksud mu kita akan sengaja meninggalkan jejak di ruangan Yang Mulia dan melempar kesalahan itu kepada orang lain bukan kepada orang yang telah memasuki ruangan yang sebenarnya." Ucap Seint sambil tersenyum dingin.
"Betul Pangeran Mahkota ... Kita memiliki banyak benda yang berhubungan dengan Kelompok Kesatria Elang. Sebarkan informasi tentang menghilangnya barang bukti yang kita dapatkan di wilayah barat dan kita jadikan kelompok itu sebagai kambing hitam." Jelas Lilian.
"Kelompok itu akan menyalahkan orang yang sebenarnya mencuri barang itu dan membuat hubungan mereka renggang." Ucap Seint.
"Lalu kita akan menyusun rencana agar bagian belakang bangunan kelompok itu meledak dan merusak semua alat-alat mereka. Tidak lupa pula kita akan sengaja meninggalkan jejak dari pelaku peledakkan bangunan itu sehingga mereka akan saling menyalahkan satu sama lain." Jelas Lilian sambil tersenyum dingin.
Semua orang menatap Seint dan Lilian bergantian. Mereka tidak menyangka jika Lilian memiliki rencana yang sungguh kejam. Terlebih lagi Seint yang dapat memahami pemikiran gadis itu membuat semua orang menatap ngeri kepada keduanya.
Seint memang selalu bisa membuat musuhnya merasa ketakutan namun siapa sangka Lilian pasangannya juga memiliki sifat dari Seint juga jika sedang berhadapan dengan musuhnya seperti sekarang. Semua orang hanya mengangguk menyetujui rencana keduanya.
"Langkah apa yang kita akan ambil setelah ini?" Tanya Zheyan.
"Kita akan memulai rencana kita ... Jangan terlalu memperketat penjagaan diruang kerja Yang Mulia ... Kita akan tetap menyuruh Prajurit untuk berjaga didepan ruangan namun jika para penghianat itu mulai memunculkan diri maka buatlah Prajurit itu lengah dari penjagaan dan membiarkan mereka masuk dengan mudah." Jelas Seint.
Semua orang mengangguk paham dengan penjelasan Seint. Kemudian mereka beralih kembali kepada tumpukan buku yang berada ditengah meja.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan buku-buku ini?" Tanya Artem.
"Buku Mantra ini akan tetap dipelajari oleh Pangeran Mahkota untuk berjaga-jaga kedepannya. Siapa tahu mantra-mantra ini sangat berguna seperti yang Lilian catat dalam buku itu." Ucap Zheyan.
"Baiklah." Ucap Seint lalu mengambil buku mantra yang ditulis menggunakan bahasa kuno itu.
°°°
__ADS_1