
Didalam aula pertemuan namun ditempat yang berbeda kembali diadakan pertemuan membahas tentang malam lentera yang akan segera dilaksanakan oleh pihak Istana.
Sudah banyak sekali orang yang hadir memenuhi panggilan dari Marquis Gaustark. Setelah mendapatkan surat pemberitahuan penting dari orang yang mereka sebut Tuan Besar, Marquis Gaustark akhirnya mengumpulkan para rekannya untuk membahasnya.
Setelah semua orang dirasa sudah hadir semua, Marquis Gaustark akhirnya membuka pertemuan.
"Beberapa waktu lalu saya mendapatkan surat dari Tuan Besar. Ia mengabarkan jika malam yang kita tunggu-tunggu akan tiba dan memerintahkan kita agar memulai persiapannya mulai dari sekarang." Jelas Marquis Gaustark.
"Kapan malam itu tiba Tuan?" Tanya salah satu rekannya.
"Sepertinya bertepatan dengan malam lentera. Mungkin sebentar lagi Yang Mulia akan mengumumkan festival itu dan akan menunjuk salah seorang untuk mempersiapkan semuanya. Untuk itu Tuan Besar berharap agar kita bisa mendapatkan kesempatan untuk bertanggung jawab dalam festival itu." Jelas Marquis Gaustark.
"Bisa Tuan jelaskan lebih rinci lagi? Jujur saya belum terlalu paham." Pinta salah satu rekannya
Marquis Gaustark mengangguk pelan. "Yang Mulia Raja akan melaksanakan festival dan tentunya membutuhkan seseorang sebagai penanggung jawab semua kegiatan yang akan dilaksanakan. Tuan Besar meminta agar kita mengajukan diri untuk mengurus festival itu untuk mempermudah rencana kita." Jelas Marquis Gaustark.
Semua orang mengangguk paham mendengar penjelasan Marquis Gaustark. "Baik Tuan." Ucap mereka serentak.
"Kita juga harus mengecek kembali rencana-rencana yang telah kita persiapkan sebelumnya. Jangan lupa dengan mengirimkan surat kepada sekutu, katakan jikalau kita siap menjalankan rencana." Ucap Marquis Gaustark.
Semua orang mengangguk pelan mendengar ucapan dati Marquis Gaustark.
"Kini saatnya kita bangkit dan singkirkan orang-orang itu." Ucap Marquis Gaustark sambil tertawa kencang.
Semua rekannya ikut tertawa membayangkan rencana mereka akan berhasil. "Kita tidak perlu lagi menuruti aturan-aturan bodoh itu. Saatnya kita melangkah maju dsn melengserkan keturunan Sang Raja." Ucap Viscount Wilson sambil tertawa kencang.
"Kita akan membentuk kerajaan Apollonia yang baru. Selain terkenal dengan kekayaannya, kita akan membentuknya sebagai kerajaan yang ditakutkan oleh semua kerajaan lain." Ucap salah satu bangsawan lainnya.
"Betul namun bagaimana dengan kesiapan Kelompok Kesatria Elang?" Tanya Bangsawan lainnya.
"Mereka memutuskan komunikasi dengan kita. Sepertinya mereka tidak akan bergabung dengan kita lagi." Jawab Viscount Wilson.
"Biarkan saja!! Bahan peledak yang kita butuhkan sebelumnya sudah dikirim dan disimpan ditempat yang aman." Ucap Marquis Gaustark tidak pedululi.
__ADS_1
Semua orang mengangguk membetulkan ucapan Marquis Gaustark. Tidak lama setelahnya seorang pengawal masuk untuk melaporkan sesuatu.
"Gawat Tuan." Ucap pengawal khawatir.
"Gawat apa?" Tanya Marquis Gaustark heran.
"Lokasi penyimpanan bahan peledak terbakar dan merusak semua bahan yang ada." Lapor pengawal tersebut.
Marquis Gaustark dan para rekannya terkejut mendengar berita tersebut dan mereka berlari keluar menuju lokasi penyimpanan bahan peledak.
°°°
Alben Benito bersama dengan beberapa Tetua dan Guru lainnya melakukan pertemuan kembali untuk membahas masalah bahan yang pernah ia kirimkan kepada Marquis Gaustark.
Menurut informasi yang berhasil ia kumpulkan, malam bulan purnama yang selama ini Tuan Besar mereka nantikan akan jatuh tepat pada malam lentera.
Merasa pembalasan mereka belum sepenuhnya terbalas, Alben Benito bersama dengan Tetua dan para Guru lainnya mulai menyusun rencana untuk menghancurkan semua bahan yang mereka telah kirim sebelumnya demi membalas rasa sakit hatinya.
Salah satu Muridnya membeberkan informasi terkait dengan tempat keberadaan bahan-bahan peledak lain yang sebelumnya telah dikirim oleh Kelompok Kesatria Elang. Merasa kali ini adalah kesempatan untuk menghancurkan rencana besar Marquis Gaustark, Alben Benito pun menyusun rencana untuk membakar tempat itu agar Marquis Gaustark dan rekan-rekannya merasakan bagaimana rasa hancur yang mereka rasakan sebelumnya.
Setelah selesai mengadakan pertemuan, Alben Benito mengirimkan beberapa orang Murid untuk menjalankan rencana mereka sebelumnya. Setelah meninggalkan Kediaman Kelompok Kesatria Elang secara sembunyi-sembunyi. Beberapa Murid itu bertemu dengan pengawal yang menjadi rekannya ditempat yang sudah ditentukan.
Letak penyimpanan bahan bakar itu masih Didalam Ibukota namun ditempat yang tidak ramai. Tempat itu mirip dengan sebuah gua kecil dan didalamnya berisi banyak sekali bahan peledak.
Setelah mengelabui beberapa Pengawal penjaga tempat itu, beberapa Murid Kelompok Kesatria Elang memercikan api kecil kemudian secepatnya berlari keluar sebelum apinya membesar.
Tidak lama setelah mereka keluar, dari dalam mulut gua keluar asap yang semakin lama semakin banyak. Satu persatu pengawal keluar untuk menyelamatkan diri, ada beberapa pengawal juga yang dibawa keluar dengan bantuan pengawal lainnya.
Terdengar suara ledakan yang sangat besar dari dalam mulut gua dan itu berlangsung sangat lama sehingga kejadian itu memancing orang-orang ke sumber suara. Asap hitam yang semakin tebal-pun menambah rasa penasaran orang-orang untuk mengetahui tentang apa yang sedang terjadi.
Tempat yang awalnya sangat sepi dan tidak ramai dikunjungi oleh banyak orang sekarang menjadi sangat ramai dikepung oleh banyak orang yang ingin melihat apa yang telah terjadi. Tidak lama Marquis Gaustark dan rekan-rekannya sampai dan bingung melihat banyak orang yang telah berkumpul.
Sebelum membelah kerumunan banyak orang, Marquis Gaustark menormalkan kembali raut wajahnya agar tidak dicurigai banyak orang dan bergabung dengan kerumunan banyak orang.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya datang Seint dan Artem berserta dengan prajurit lainnya untuk melihat lokasi kebakaran. Seint turun dari kudanya dan berjalan mendekati mulut gua yang masih mengeluarkan asap hitam yang pekat.
"Sepertinya ada bahan peledak didalamnya." Ucap Seint sambil mencoba memeriksa bagian luar gua.
"Benar Yang Mulia." Ucap Artem kemudian berjalan mendekati Seint dan berbisik kecil kepadanya. "Tuan Marquis Gaustark dan rekan-rekannya ada disini dan sedang bergabung dengan penduduk lain."
Seint hanya mendengarkan dengan diam kemudian pura-pura melihat kearah banyak orang yang sedang berkumpul. Marquis Gaustark dan yang lainnya menunduk untuk menyembunyikan diri dari Seint.
Sayangnya mata Seint sudah menangkap beberapa wajah yang ia kenal sebagai bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi di kerajaan.
"Sepertinya selain di kediaman Kelompok Kesatria Elang yang memiliki bahan peledak. Mereka juga menyimpannya ditempat ini." Ucap Seint pelan.
Artem mengangguk kecil. "Benar Yang Mulia. Namun kali ini bukanlah rencana kita lalu siapa yang membakar tempat ini?" Tanya Artem bingung.
"Sepertinya Kelompok Kesatria Elang, mungkin saja mereka ingin membalas dendam karena merasa sudah dikhianati. Mereka juga telah kehilangan bahan peledak pada malam kebakaran itu. Bisa saja mereka ingin membalas dendam dengan menghancurkan senjata yang sama dengan yang mereka miliki sebelumnya." Jelas Seint.
Artem mengangguk paham. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan menangkap Tuan Marquis Gaustark karena telah menyembunyikan hal ini?" Tanyanya.
"Tidak!! Biarkan saja mereka melihatnya dulu. Kita ikuti permainan mereka seperti rencana. Sebaiknya kita periksa semua tempat ini " Tegas Seint
"Baiklah Yang Mulia." Jawab Artem kemudian berjalan kearah prajurit yang datang bersama mereka.
"Prajurit!! Telusuri semua tempat ini! Cari sesuatu yang terlihat mencurigakan dan segera laporkan kepada kami. Cari juga orang yang bertanggung jawab pada tempat ini!!" Tegas Artem.
"Baik Tuan." Ucap semua prajurit lalu bergerak memencar agar mempermudah penyelidikan.
Melihat Prajurit telah mengepung banyak tempat itu, Marquis Gaustark dan rekan-rekan lainnya sedikit demi sedikit berjalan mundur agar tidak diketahui keberadaannya. Setelah merasa aman, mereka akhirnya berjalan menjauhi tempat itu setelah mengurus pengawal yang berjaga disekitar gua.
Seint menyaksikan semua yang mereka kerjakan dengan diam, biarkan saja Marquis Gaustark dan Alben Benito saling menyerang satu sama lain. Kehilangan banyak bahan peledak dan alat-alat lain setidaknya mengurangi banyak kekuatan dari pihak lawan.
Jika pada malam lentera nanti mereka benar-benar diserang, setidaknya mereka sudah mengurangi banyak kekuatan mereka sebelumnya.
°°°°
__ADS_1