Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
102. Petunjuk Lain


__ADS_3

Lilian masih tidak melepaskan pelukannya pada Seint meski sudah sangat lama ia memeluk lelaki itu. Masih terekam jelas diingatan Lilian raut wajah ganas dari Citto yang selalu membuatnya merasakan ketakutan.


Seint juga tidak mempunyai niat untuk melepaskan pelukan dari Lilian. Seint merasa biarkan Lilian sendiri melepas pelukannya sampai gadis itu merasa tenang.


Setelah mengalahkan ketiga harimau itu, Citto duduk tidak jauh dari Lilian berada. Bentuk tubuh Citto masih saja belum berubah sehingga mengurungkan niatnya untuk mendekati Lilian.


Zheyan, Asgar dan Artem sedang memeriksa orang-orang yang sudah dilumpuhkan oleh Citto sendiri. Kondisi jasad beberapa orang itu sangat mengenaskan. Mereka mendapat luka bakar yang serius pada tubuh. Hal anehnya, setelah orang-orang itu mendapat luka bakar, tidak ada suara satu orangpun yang berteriak kesakitan.


Kondisi ketiga harimau juga tidak kalah mengenaskan dengan jasad orang-orang itu. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Citto melawan sendiri ketiga harimau itu. Citto tidak memberikan ampun kepada harimau-harimau itu karena telah berusaha menyakiti Lilian. Mungkin hal itu yang membuat Lilian merasakan kesakitan dan sedari tadi tidak ingin melepaskan pelukannya pada Seint.


Setelah sekian lama berdiam diri dalam pelukan Seint, Lilian akhirnya dapat menenangkan dirinya dan melepaskan pelukannya pada Seint.


"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Tanya Seint khawatir.


Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa." Jawabnya.


Seint belum ingin menanyakan apapun kepada Lilian. Gadis itu masih terlihat syok, menanyakan sesuatu yang terjadi sama saja seperti memberi tekanan pada diri Lilian.


Lilian mengarahkan pandangannya kearah Citto yang masih dengan tubuh naga-nya. Lilian bisa melihat jelas, ada banyak sekali bekas darah dari tubuh Citto namun tatapan naga itu terlihat sangat sendu saat menatap mata Lilian.


Merasa kasihan dengan tatapan Citto, Lilian berjalan mendekat kearah Citto dan mengusap pelan kepalannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lilian yang diangguki pelan oleh Citto.


Lilian membawa Citto menuju sungai yang berada dekat dengannya dan membersihkan darah yang menempel pada tubuh Citto.


Setelah memastikan Lilian baik-baik saja, Seint berjalan mendekat kearah Zheyan, Asgar dan Artem berada.


"Bagaimana keadaan Lilian?" Tanya Zheyan khawatir sambil menatap ke arah Lilian yang membersihkan badan Citto.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja, namun untuk saat ini kita jangan dulu menanyakan apapun kepadanya. Biarkan saja dia sendiri yang akan menceritakannya, ia berusaha tidak terlihat takut didepan Citto padahal tubuhnya gemetaran saat melihatnya." Jelas Seint panjang.


Asgar menghela napas pelan. "Mereka terlihat seperti sepasang Anak dan Ibu dimana-pun mereka pergi. Wajar saja jikalau Lilian harus tetap menjaga Citto meski ia sedang merasa ketakutan." Jelasnya.


Seint mengangguk pelan. "Bagaimana dengan penyelidikan kalian? Adakah yang bisa memberikan kita petunjuk?" Tanya Seint.


Artem maju dan memberikan sebuah lencana. "Saya menemukan lencana itu pada salah satu jasad orang-orang itu. Lencana itu tidak terbakar meski kondisi jasad orangnya sungguh mengenaskan." Lapornya.


"Lagi-lagi kerajaan Elmore ... Kerajaan itu selalu menyusahkan kita. Kita harus sesegera mungkin memberi mereka tekanan agar mereka merasa jikalau kerajaan kita tidak mudah ditindas." Tegas Seint sambil menatap lencana itu tajam.


"Saya menemukan hal yang sama pada harimau yang menyerang Lilian sebelumnya dengan harimau yang sekarang. Mereka memiliki kalung yang sama dengan harimau yang sebelumnya namun sepertinya kali ini kita mendapat petunjuk lain yang ditinggal oleh orang itu pada harimau itu." Jelas Zheyan.


"Apa?" Tanya Seint.


"Tubuh harimau-harimau itu memang dirobek secara mengenaskan oleh Citto, namun masih ada tempat dimana Citto menyisakan tempat yang memiliki lambang sebuah perkumpulan pada paha ketiga harimau itu." Jelas Zheyan.


"Lambang perkumpulan mana?" Tanya Seint.


Seint tersenyum sinis. "Lagi-lagi pondok itu ... Terakhir kali Lilian terjatuh dari kuda disebabkan panah yang juga berasal dari mereka. Tidak ada kata kebetulan untuk kedua kalinya, Oh tidak ... Ketiga kalinya. Terakhir kali mereka selalu menyangkalnya namun untuk kali ini mereka tidak akan lepas dari tanganku." Ucap Seint dengan raut wajah suramnya.


"Apa yang akan kita lakukan pada mereka Yang Mulia?" Tanya Asgar.


"Selidiki semua kegiatan apa saja yang sedang mereka kerjakan untuk saat sekarang. Sepertinya kita harus segera kembali ke Istana, kita perlu memastikan beberapa hal pada perkumpulan itu." Jelas Seint datar.


"Memastikan apa Yang Mulia." Tanya Zheyan penasaran.


"Kita harus memastikan keterlibatan perkumpulan itu dengan orang yang berkhianat pada kerajaan. Jika mereka terbukti tidak terlibat maka lepaskan mereka namun jika mereka terlibat maka dugaan saya sekarang seharusnya benar." Jelas Seint.


"Jika boleh kami tahu, dugaan yang seperti apa Yang Mulia?" Tanya Artem.

__ADS_1


"Perkumpulan itu sangat banyak mengirimkan muridnya untuk menjaga pertahanan kerajaan. Jika mereka terlibat maka saya menduga jikalau mereka sengaja mengirim murid-muridnya ke Istana untuk melakukan seleksi menjadi Prajurit. Jika suatu saat nanti mereka membuat rencana untuk menyerang, maka murid mereka akan menyerang kita dari berbagai arah." Jelas Seint.


Artem menarik napas pelan dan membuangnya kasar. "Betul juga. Jadi Yang Mulia berencana menekan para Prajurit itu?" Tanyanya.


Seint menggeleng pelan. "Bukan menekan namun mengeluarkan mereka ... Jika mereka memang terlibat maka cari Prajurit yang berasal dari perkumpulan itu dan kirim mereka jauh ke medan perang. Akhir-akhir ini ada banyak sekali orang-orang yang berusaha menentang kita. Kirimkan mereka secara bertahap agar bisa mengurangi jumlah mereka di kerajaan." Jelas Seint.


Zheyan menganggukkan kepalanya pelan. "Saya sangat salut kepada Anda Yang Mulia ... Anda dapat memikirkan beberapa rencana untuk kedepannya." Ucapnya.


"Tuan Zheyan akan menjadi Panglima perang menggantikan Ayahmu. Kita harus memikirkan sesuatu dalam jangka panjang dalam kondisi seperti ini. Tidak bisa dipungkiri kondisi kita saat ini sedang mengalami krisis. Meski bukan krisis keuangan namun kita sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap orang-orang kita di kerajaan. Agar tetap bertahan dari orang-orang itu, kita harus mempunyai beberapa rencana kedepannya." Jelas Seint.


"Terima kasih atas pencerahannya Yang Mulia." Ucap Zheyan.


Dari arah sungai Lilian berjalan mendekati ke empat lelaki itu berdiri sambil membawa Citto yang sudah berubah wujud asli dalam dekapannya.


Melihat gaun Lilian yang basah semua, Seint melepas jubahnya dan memakaikan pada tubuh Lilian.


"Tetap jaga kondisi tubuh mu! Jika gaun mu basah seperti ini maka kamu bisa masuk angin." Ucap Seint datar.


Lilian mendongakkan wajahnya untuk menatap mata Seint. "Kalau begitu biarkan Citto saja yang mengeringkan-nya" Ucapnya sambil tersenyum senang.


"Tidak!!" Ucap ke empat lelaki itu samaan.


Zheyan masuk selangkah. "Kamu pikir api dari mulut Citto berfungsi untuk mengeringkan baju mu? Bukan baju yang kering namun kamu yang terpanggang." Marah Zheyan.


Asgar menggelengkan kepala pelan. "Betul kata Zheyan."


"Selama ini saya belum pernah melihat Citto tidak membakar orang dengan apinya." Ucap Artem sambil menatap beberapa jasad yang letaknya tidak jauh dari mereka.


Lilian hanya mengerucutkan mulut dan menundukkan kepalanya saat melihat raut wajah tidak suka yang Seint tunjukkan kepada Lilian secara terang-terangan.

__ADS_1


"Jika penyelidikan kita telah selsai sebaiknya kita segera kembali ke penginapan untuk menyiapkan kepulangan kita kembali ke Ibukota." Ucap Seint datar kemudian berjalan menjauhi semua orang.


°°°


__ADS_2