
Setelah turun dari kudanya Seint, Lilian membawa Citto dalam pelukannya berjalan mendekati sungai. Saat sampai, Lilian melepaskan sendalnya dan mencelupkan kakinya kedalam air sungai tersebut.
"Citto! meski disini terdapat tambang emas, namun akan lebih enak jika sungainya memiliki air yang segar. Mungkin faktor dari gunung merapi makanya air sungai di wilayah barat semua terasa hangat." Ucap Lilian.
Citto hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa ada niatan untuk memasuki air sungai seperti Lilian.
"Citto ayo kemari-lah!! Rasakan air sungai ini!" Ucap Lilian sambil mengulurkan tangannya untuk mengangkat Citto.
Citto bergerak mundur tanda ia tidak ingin memasuki air sungai itu.
"Eh ... Citto jangan membuat ku kesal!! Ayo kemari-lah!!" Bujuk Lilian.
Citto semakin bergerak mundur menghindari Lilian. Merasa kesal karena Citto tidak ingin bermain air dengannya, Lilian mulai menyipratkan air ke arah Citto.
Kesal karena Lilian terus saja menyerangnya terus dengan air, Citto akhirnya memasuki air sungai dan melompat-lompat kecil didekat Lilian sehingga menyipratkan air ke arah Lilian.
Lilian dan Citto saling menyerang satu sama lain menggunakan air sungai. Keduanya bahkan berlari saling mengejar satu sama lain. Awalnya Lilian merasa ada orang yang sedang memperhatikannya, namun perasaan itu hilang setelah ia menatap ke arah empat orang lelaki yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.
Tidak ingin terlalu lama memandang ke empat lelaki tersebut, Lilian kembali mengejar Citto yang berhasil membasahi gaunnya. Citto terus saja menghindari serangan air dari Lilian sehingga tidak menyadari jarak antara keduanya bermain dengan jarak Seint, Zheyan, Asgar, dan Artem berada cukup jauh.
Tidak lama mereka saling menyerang dengan air, Citto mulai merasa posisi mereka sedang di incar oleh beberapa orang. Melihat tatapan mata Citto yang mengarah kesemua arah, Lilian mulai merasakan kembali perasaan yang sebelumnya ia rasakan.
"Ada apa Citto? Ada yang sedang memperhatikan kita?" Tanya Lilian dengan raut wajah khawatir.
Citto tidak menjawab namun tatapan matanya mengarah kearah hutan pinus yang jaraknya tidak jauh dari mereka. Merasa akan ada bahaya yang mengincarnya, Lilian mulai menarik Citto untuk segera berlari ke arah Seint dan yang lainnya berada.
Rencana Lilian sudah diketahui oleh orang-orang yang sedari tadi mengintainya. Dari arah hutan pinus, muncul beberapa orang dengan membawa tiga ekor harimau besar.
__ADS_1
Citto bergerak dari pelukan Lilian dan melepaskan diri saat orang-orang itu menghadang keduanya.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" Ketus Lilian.
Orang-orang itu menatap Lilian dengan tatapan tajam serta melempar senyum sinis-nya. "Tentu saja memberi mu hukuman. Tuan kami telah merencanakan hal ini sudah sejak lama namun kehadiran mu yang hanya menghitung hari membuat semua rencana kami jadi berantakan!!" Jelas salah satunya.
Lilian menatap sinis ke arah orang-orang itu. "Siapa Tuan kalian?" Tanyanya serius.
Orang-orang itu menertawakan pertanyaan Lilian. "Gadis jalang seperti mu tidak berhak tahu siapa Tuan kami. Namun kami akan memberitahu mu nanti setelah memastikan ajal mu datang." Ucap salah seorang diantara mereka.
Lilian tersenyum sinis kearah orang-orang itu. "Kalian pikir aku akan takut dengan kalian? Disini ada Pangeran Seint, kedua Kakak ku dan seorang pengawal Pangeran. Kalian berniat melukai ku namun sayangnya aku hanya perlu sebuah teriakan untuk membuat mereka menghampiri ku dan merobek mulut kalian satu persatu." Jelas Lilian marah.
Semua orang itu tertawa mendengar ucapan Lilian. "Kamu pikir kami keluar menampakan diri sebelumnya tidak membuat persiapan? Jarak mu dengan keempat orang itu cukup jauh. Kami tidak yakin mereka akan mendengar mu, jika mereka mendengar mu kemungkinan besar kau hanya tinggal jasad saja dan itupun jika kami masih memberi mu belas kasihan. Sepertinya ketiga harimau kami merasa sangat lapar, wajah mu sangat cantik namun sayangnya tubuh mu hanya pantas dirobek oleh gigi tajam ketiga harimau kami." Ucap salah seorang diantaranya.
Lilian mengepalkan tangannya erat. "Aku memberikan kalian kesempatan untuk dihukum oleh ke empat orang itu namun kalian memilih pilihan lain. Bukan ke empat orang itu yang mesti kalian waspadai namun yang harus kalian waspadai adalah dia." Tunjuk Lilian ke arah Citto.
GGGGRRRRR ... Suara geraman Citto
Lilian kembali tersenyum sinis. "Silahkan saja kalian coba, siapa yang tubuhnya akan dirobek nanti." Ucapnya santai.
Salah seorang maju beberapa langkah kearah Lilian. "Banyak omong ... Sepertinya kau harus secepatnya pergi dari muka bumi ini!!" Teriak orang tersebut dan mengangkat pedangnya ke arah Lilian.
Citto sudah bersedia ditempatnya, saat orang itu jaraknya tinggal beberapa langkah lagi dengan Lilian. Citto langsung melompat dan menyerang orang itu.
Citto memberikan luka goresan pada pipi dan tangan orang itu.
"Kucing sialan!! Marah orang itu kemudian berniat menendang Citto.
__ADS_1
Dengan Lihai Citto menghindari orang itu kemudian ia mengeluarkan api dari dalam mulutnya ke arah orang yang tadinya ingin menyerang Lilian.
Tanpa bisa dihindari, orang tersebut terkapar di atas tanah dengan api yang membakar ke seluruh tubuhnya. Teman-teman orang tersebut menelan ludah susah melihat temannya terbakar tanpa mengeluarkan suara kesakitan.
Marah melihat temannya terbakar dengan sekali serangan, orang-orang itu maju bersama melawan Citto dan melepas ke tiga harimau-nya untuk melawan Lilian.
Citto menatap sengit kearah orang-orang itu dan merubah wujudnya menyerupai naga yang memiliki ukuran tubuh sebesar harimau. Citto menyerang orang-orang itu dengan sekali gerakan, sehingga mereka memiliki luka goresan di masing-masing tubuhnya.
Setelah memberi luka goresan, Citto menyemburkan api yang berwarna biru dari mulutnya dan membakar orang-orang itu dalam sekejap mata.
"AAAKKHHHH ..." Terdengar suara teriakan Lilian.
Sedari tadi Lilian berhasil menghindari serangan ketiga harimau itu, namun tenaga Lilian tidak bisa melawan harimau itu sendiri secara bersamaan. Kehabisan tenaga, Lilian akhirnya berhasil dikepung oleh ketiga harimau itu dan segera akan menerkamnya.
Mendengar teriakan Lilian, Citto menatap kearah Lilian yang sedang dikepung oleh ketiga harimau. Dengan gerakan cepat Citto terbang kearah ketiga harimau yang sedang ingin menerkam Lilian.
Setelah sampai dihadapan Lilian, Citto melindungi Lilian dengan melingkari tubuhnya ke tubuh Lilian. Citto memiliki sisik yang sanagt keras dalam bentuk naga-nya sehingga ia tidsk akan merasakan apapun meski harimau-harimau itu menggores tubuhnya beberapa kali.
Merasa posisi Lilian sedang ketakutan, Citto mulai menyerang salah satu harimau dan berhasil mengeluarkan Lilian dari kepungan ketiga harimau itu.
Setelah memastikan posisi Lilian aman, Citto mulai menyerang ketiga harimau itu dengan membabi buta. Citto bahkan tidak ragu merobek tubuh ketiga harimau yang berusaha menyakiti Lilian.
Lilian bergetar takut menatap kearah Citto, bukan hannya tubuhnya yang berubah namun raut wajah Citto yang dari dulu Lilian lihat sangat menggemaskan kini berubah menjadi sangat ganas.
Kedua kaki Lilian mulai melemas dan hampir terjatuh, namun ia melihat Seint berjalan kearahnya dengan raut wajah terkejut. Tanpa aba-aba Lilian memeluk Seint dengan sangat erat, Lilian bahkan merasakan tangan Seint membelai punggungnya pelan untuk menenangkannya.
°°°
__ADS_1