
Sepanjang jalan Lilian mendengus kesal kepada Seint. Setelah acara adu mulut dengan Seint berakhir, Lilian tidak mau berbicara maupun menatap ke arah Seint.
Adu mulut yang dilakukan oleh Lilian dan Seint ternyata terdengar sampai diluar kamar. Orang-orang yang awalnya berniat untuk membangunkan Lilian mengurungkan niatnya karena mendengar suara lain yang berasal dari dalam kamar Lilian.
Saat Lilian keluar dari dalam kamarnya, semua orang menatapnya sambil tersenyum aneh. Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang, Lilian akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Lilian seakan ingin mengubur dirinya sendiri saat mendengar penjelasan salah satu penduduk yang mengatakan jikalau percakapan antara Lilian dan Seint sebelumnya terdengar sampai diluar kamar.
Lilian merasa sangat malu karena mengingat sebelumnya Seint mengatakan hal-hal aneh. Itu sebabnya Lilian sekarang tidak mau berbicara dengan Seint.
Awalnya Lilian berniat menjauhi Seint untuk beberapa hari ke depan namun sayang seribu kali sayang, Lilian harus terjebak bersama Seint.
Sebelumnya mereka telah membuat rencana jikalau pagi ini mereka harus menyelidiki tempat yang diyakini sebagai tempat tinggal naga. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sedikit lama, sehingga mengharuskan mereka untuk menunggangi kuda masing-masing.
Lilian awalnya tidak mau menunggangi kuda yang sama dengan Seint namun nasib Lilian begitu tidak beruntung. Semua orang tidak akan ada yang berani mengajukan diri untuk menunggangi kuda bersama Lilian.
Saking ingin menjauhi Seint, Lilian bahkan akan memberikan orang yang mau menunggangi kuda bersamanya dengan hadiah besar. Sayangnya harapan Lilian tidak akan menjadi kenyataan karena menerima tawaran Lilian itu sama dengan mencari mati dengan Seint.
Tidak henti-hentinya Lilian menyumpah serapahi Seint dalam hatinya. Lelaki itu masih mempertahankan raut wajah datarnya meski ia tahu semua orang telah mendengar percakapan antara keduanya.
Lelah dengan pikirannya sendiri, Lilian akhirnya memutuskan untuk tidur dengan menyenderkan punggungnya pada dada bidang Seint sambil memeluk erat Citto dalam dekapannya.
Seint menarik sedikit sudut bibirnya saat merasakan Lilian mencari posisi nyamannya. "Kalau tidak salah tadi ada orang yang tidak ingin berada dekat dengan ku." Sindir Seint.
Lilian menghela napas pelan sambil menutup matanya. "Jangan berisik!! Aku lelah butuh istirahat!!"'Ketus Lilian.
Seint menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Lilian. "Istirahatlah! Peluk Citto dengan erat. Dia bisa jatuh dari kuda jika kamu terlelap." Ucapnya.
"Mmm." Gumam Lilian sambil mengeratkan pelukannya pada Citto.
°°°
Lilian merasakan Citto mulai bergerak gelisah dalam dekapannya. Lilian seperti dapat merasakan apa yang Citto rasakan untuk sekarang.
"Seint! Citto sepertinya sedang gelisah." Ucap Lilian serak.
Seint mengerutkan kening dan memelankan laju kudanya. "Citto kenapa?" Tanya Seint.
__ADS_1
Lilian mengelus pelan kepala Citto. "Sepertinya Citto sedang gelisah." Jawabnya.
Seint kemudian menghentikan laju kudanya dan menatap kearah Citto. "Ada apa Citto?" Tanyanya.
Ciitt ... Ciitt ... Ciitt ...
Seint menghela napas pelan. "Kamu tidak suka kita mengunjungi tempat itu?" Tanyanya penasaran.
Ciittt ...
"Citto ... Kami perlu menyelidiki sesuatu di sana. Aku janji jika urusan kita sudah selesai maka kita akan segera kembali ke penginapan." Ucap Seint meyakinkan Citto.
Citto hanya mengangguk pelan dan kembali menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Lilian.
"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Artem yang ikut menghentikan kudanya.
Seint menggeleng pelan. "Tidak kenapa-kenapa ... Hanya membetulkan posisi Citto saja." Bohongnya dan menatap ke arah Tuan Asadel. "Apakah kita masih jauh?" Tanyanya.
Tuan Asadel menggeleng cepat. "Tidak Yang Mulia. Sebentar lagi kita sampai ... " Jawabnya.
Seint mengangguk pelan kemudian kembali menjalankan kudanya. Tidak lama setelahnya, dari jarak yang lumayan dekat semua orang dapat melihat sebuah gua yang memiliki ukuran cukup besar. Setelah sampai, Seint dan yang lainnya langsung turun dari kudanya dan berjalan mendekat ke arah gua tersebut.
"Betul Tuan." Jawab Tuan Asadel.
Seint berjalan mendekati mulut gua. Setelah dirasa aman, ia kemudian memutuskan untuk memasuki gua tersebut dsn memberikan aba-aba kepada semua orang agar ikut masuk.
"Gua ini sepertinya terawat." Ujar Artem yang di angguki oleh semua orang.
Lilian berjalan mendekati dinding goa dan memeriksa tulisan-tulisan yang terpahat rapi.
"Pangeran Mahkota kemari-lah!!" Panggil Lilian.
Seint berjalan mendekati Lilian dan menatap arah mata Lilian. "Sepertinya ini sebuah pesan." Ucapnya.
Semua berjalan mendekati Lilian dan Seint. Mereka semua mengernyitkan kening bingung melihat tulisan-tulisan pada dinding gua yang tidak mereka ketahui.
"Bahasa apa ini?" Tanya Artem sambil memperjelas penglihatannya pada dinding gua.
__ADS_1
"Bahasa Citto." Jawab Seint dan Lilian samaan.
Semua orang menatap keduanya dengan raut wajah bingung. "Ampun Yang Mulia ... Ini bahasa Kuno." Jawab salah satu penduduk.
Seint dan Lilian sama-sama mengernyitkan kening bingung mendengar ucapan salah satu penduduk tersebut. "Tapi ini bahasa yang Citto gunakan saat berbicara dengan kita." Jawab Lilian.
Semua orang kembali terkejut mendengar jawaban Lilian. "Maaf Yang Mulia namun selama ini yang kami dengar Citto hanya menyebutkan satu kata yaitu Ciitt ... Ciitt ... " Jelas Artem sambik menggaruk kepalanya pelan.
Seint menatap Artem dengan raut wajah datar. "Citto memeng berbunyi seperti itu ... Namun dia menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan orang lain." Ucapnya sambil menunjuk tulisan pada dinding tersebut.
Artem menatap Seint dan Lilian dengan raut wajah bingung. "Yang Mulia ... Sejak awal Citto memang tidak bisa berbicara ... "
Lilian menghela napas pelan. "Citto katakan sesuatu kepada mereka!!" Ucapnya sambil menatap ke arah Citto.
Ciitt ... Ciitt ... Ciitt ...
Seint dan Lilian mengangguk pelan dengan raut wajah serius. "Kalian dengarkan Citto bilang apa?" Tanya Lilian.
Semua orang serentak menggeleng. "Kami hanya mendengar dia mengatakan Citt ... Citt ... saja." Jawab Artem.
Seint menghela napas kasar. "Artem jangan membuat ku marah ... Jelas-jelas Citto mengatakan kalau tempat ini adalah tempat diadakan ritual pemanggilan naga!!"
Semua orang yang mendengar nada tinggi dari Seint serentak menunduk sopan. "Ampuni kami Yang Mulia ... Tapi kami benar-benar tidak bisa mengerti apa yang Citto katakan." Ucap Tuan Asadel takut.
Seint dan Lilian sambil memandang satu sama lain. "Apakah selama ini hanya kita yang bisa mengerti ucapan Citto?" Tanya Lilian penasaran.
Seint memijit kening pelan. "Artem selama ini kau melihat ku terus berbicara dengan Citto. Selama itu kau tidak mengerti apa yang kami bicarakan?" Tanya Seint penasaran.
"Saya tidak mengerti Yang Mulia ... Saya pikir selama ini Yang Mulia hanya menebak saja." Jawab Seint sopan.
Lilian menatap Seint dengan raut wajah tidak percaya. "Selama ini hanya kita berdua yang mengerti ucapan Citto?"
Seint kembali menghembuskan napas kasar. "Kenapa hanya kita berdua saja yang mengerti ucapan Citto?" Tanyanya heran.
Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt .... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....
Seint mengepalkan tangan erat mendengar penjelasan dari Citto sedangkan Lilian menutup mulut tidak percaya. Artem dan yang lainnya hanya bisa menyaksikan perubahan raut wajah antara Seint dan Lilin tanpa bisa mengerti apa yang Citto katakan.
__ADS_1
°°°