
Sepanjang perjalanan Seint tidak lagi menanyakan tentang dunia masa depan Lilian. Sejak Seint mengetahui jikalau ia tidak ada dalam kehidupan masa depan Lilian, ia merasa tidak ada lagi hal lainnya yang ingin ia ketahui.
Sinar matahari-pun mulai digantikan oleh sinar bulan yang belum bulat sempurna. Seint memutuskan beristirahat dan mendirikan tenda didekat sungai kecil bersama para pengawalnya.
Disepanjang perjalanan mereka berburu hewan yang bisa mereka olah. Ada beberapa ekor kelinci dan ayam hutan yang mereka dapatkan saat melewati hutan.
Setelah berhasil mendirikan tenda, Artem sibuk menyalakan api untuk memanggang hasil buruan mereka sedangkan para Pengawal lainnya bertugas menjaga keamanan dan sebagiannya lagi sibuk membersihkan daging buruan mereka.
Artem menatap heran ke arah Seint yang sejak dari tadi hanya duduk diam dengan memperhatikan pedangnya sedari tadi. Entah apa yang tengah Seint pikirkan, bertanya kepadanya untuk saat ini hanya akan mendapat tatapan tajam dari Seint, itu yang Artem pikirkan.
Artem beralih menatap ke arah Lilian yang sedang duduk didekat api untuk menghangatkan diri.
"Bolehkah saya bertanya Yang Mulia?" Tanya Artem sopan.
Sejak Lilian diangkat menjadi Putri Mahkota, ia harus terbiasa dengan panggilan formal dari orang-orang terdekatnya.
Lilian tersenyum kecil. "Boleh ... Tidak ada yang minta bayaran kepada mu hanya untuk beberapa pertanyaan." Ucapnya.
Artem tersenyum canggung. "Apakah Yang Mulia tahu, mengapa Pangeran Mahkota sejak dari tadi hanya duduk diam dan tidak banyak bicara?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Sejak kapan dia banyak bicara? Kapan-pun dan dimana-pun ia selalu bersikap dingin dan datar." Ucap Lilian sambil menatap ke arah Seint.
"Aissh ... Pangeran Mahkota akan berbicara banyak jikalau dekat dengan mu namun kali ini sikapnya sangat aneh." Ucap Artem sambil menatap Seint. "Jangan-jangan kalian beradu mulut lagi saat diperjalanan?" Tebak Artem.
Lilian menggeleng dengan gugup. "Tidak!! Kami tidak beradu mulut. Ia sudah bersikap seperti itu selama diperjalanan." Sanggah Lilian.
"Benarkah? Mungkin Pangeran Mahkota sedang memikirkan sesuatu." Ucap Artem.
Lilian menghela napas pelan ke arah Seint. "Apakah ia sedang kesal gara-gara ceritaku yang terakhir kali?" Batin Lilian. "Aku akan menghampirinya." Ucap Lilian yang di angguki oleh Artem.
Lilian berjalan mendekati Seint dan mengambil tempat duduk disampingnya. "Apa yang sedang kamu kerjakan?" Tanya Lilian.
"Tidak ada!!" Ucap Seint datar.
__ADS_1
"Kamu sedang marah kepada ku?" Tanya Lilian dengan nada pelan.
"Tidak!!" Ucap Seint cuek.
"Lalu kenapa kamu bersikap seperti ini?" Tanya Lilian.
"Seperti apa?" Tanya Seint cuek.
"Biasanya kamu memang dingin dan datar namun kali ini kamu berbeda." Jawab Lilian.
"Apanya?" Tanya Seint datar.
"Entahlah ... Jika kamu sedang marah seharusnya kamu bilang. Katakan kenapa kamu marah!!" Ucap Lilian.
Seint menatap acuh ke arah Lilian. "Tidak." Ucapnya datar.
Lilian membuang napas kasar. "Di masa depan umurku masih enam belas tahun. di sana aku sedang menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Papa ku adalah orang yang sangat sibuk, kami jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Papa ku juga sering berpindah kota karena pekerjaannya. Di masa depan tidak ada seorang-pun yang benar-benar bisa aku jadikan teman." Cerita Lilian mulai mengalir.
Seint mencuri pandang kearah Lilian dan tidak menghentikan atau menyela ucapan dari Lilian.
Seint mulai menatap Lilian secara terang-terangan saat mendengar cerita dari Lilian.
"Papa ku sebenarnya sangat menyayangi kami, ia adalah salah satu lelaki terhebat yang pernah aku temui. Sepanjang karirnya ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk membahagiakan kami. Meski kami jarang menghabiskan waktu bersama namun Papa ingin kami selalu bersamanya. Untuk itu kami berani mengambil resiko tidak memiliki seorang teman-pun. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah akhir, Kakak ku mengambil keputusan berada jauh dari kami. Tidak mungkin ia harus berpindah Universitas untuk mengikuti kemana-pun kami pindah." Cerita Lilian terjeda.
Lilian menatap Seint dalam. "Kami pernah pindah keluar negri itu sebabnya aku bisa menguasai bahasa asing. Karena waktu ku di satu kota tidak akan lama, aku memutuskan untuk tidak mencari teman dan menghabiskan waktu ku dengan membaca. Meski awal masuk sekolah aku memiliki teman namun pada akhirnya akan percuma jika kami terus berpindah tempat. Mungkin saja di kehidupan masa depanku aku belum bertemu dengan mu karena terus berpindah tempat. Jika aku tidak masuk ke raga masa lalu ku bisa saja aku sekarang sudah bertemu dengan mu dimasa depan." Jelas Lilian sambil menatap ke arah Seint lembut.
"Itu sebabnya kamu selalu merasa senang saat bersama Fania dan Violet?" Tanya Seint.
Lilian mengangguk pelan. "Saat mengetahui bahwa di kehidupan masa lalu aku memiliki sahabat. Aku sangat merasa bahagia, di sini aku merasa jauh lebih beruntung jika dibandingkan masa depan ku. Aku bisa melakukan hal-hal bersama sahabatku yang tidak bisa aku lakukan dimasa depan ku di sini." Jelas Lilian.
"Di masa depan mu ... Kamu pernah menjalin hubungan dengan orang lain?" Tanya Seint penasaran.
Lilian tertawa kecil sambil menggeleng pelan. "Teman saja aku tidak punya bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan seseorang!"
__ADS_1
Seint tersenyum cerah mendengar ucapan Lilian. "Kamu tidak mengenal laki-laki lain dimasa depan mu?" Tanyanya lagi.
"Aku mungkin mengenal beberapa namun tidak terlalu dekat. Aku selalu menjaga jarak setiap kali ada lelaki yang ingin mendekati ku." Jelas Lilian.
"Kenapa?" Tanya Seint.
Lilian mengedikkan bahu. "Mungkin karena aku selalu berpindah tempat, sehingga dalam pikiran ku tertanam memiliki teman itu adalah hal yang percuma. Pada akhirnya kami akan berpisah dan menjadi orang asing kembali." Jelas Lilian.
Seint menatap Lilian serius. "Jika kamu bertemu denganku dimasa depan. Akankah kamu mau menjalin hubungan dengan ku?" Tanya Seint harap-harap cemas.
Lilian memicingkan matanya ke arah Seint dan mengetuk dagunya pelan sambil menatap Seint dari atas ke bawah. "Sebenarnya orang-orang macam seperti mu yang menjadi idola dimasa depan. Di masa depan para gadis lebih menyukai cowok dingin, datar, pelit berbicara, bad boy, dan memiliki wajah rupawan seperti mu." Jelas Lilian menilai.
"Kalau begitu kamu juga akan menyukai ku?" Tanya Seint antusias.
Lilian tersenyum cerah. "Bisa dibilang begitu, lelaki macam kamu akan banyak diperebutkan banyak gadis di masa depan namun apakah kamu juga akan menyukai ku?" Ucapnya.
"Tentu saja ... Jika seandainya aku terlahir kembali dimasa depan, saat pertama kali melihat mu aku akan langsung mengenali dan menjatuhkan hatiku kepada mu." Jelas Seint dengan raut wajah ceria.
"Itu kalau kita bertemu ... Jika seandainya kita juga bertemu, kau lahir dengan tampang seperti ini dan banyak dikejar para gadis, kamu juga akan sulit memilih ku karena terlalu banyak gadis yang mengejar mu." Ucap Lilian sambil berkhayal jika Seint ada di masa depan.
"Aku akan mencari dimana-pun kamu berada. Aku masih akan tetap memilih mu meski ada banyak gadis yang mengejar ku." Ucap Seint sambil tersenyum senang.
"Kalau begitu kita harus melakukan janji jari kelingking." Ucap Lilian sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Seint bingung dengan apa yang dilakukan Lilian. Melihat Seint yang menatapnya dengan raut wajah bingung, Lilian mengambil jari kelingking Seint dan menautkan-nya pada jari kelingkingnya.
"Berjanjilah ... Sampai kapan-pun kamu akan tetap memilih ku sebagai pasangan mu. Entah itu puluhan, ratusan atau ribuan tahun ke depan kamu akan tetap memilih ku." Ucap Lilian.
"Aku ... Pangeran Mahkota King Alpenseint Balaz berjanji ... Entah puluhan, ratusan bahkan sampai ribuan tahun ke depan akan tetap memilih Putri Mahkota Lilian Daisyla Marven sebagai pasangan hidup ku." Janji Seint sambil mengeratkan jari kelingkingnya.
Lilian dan Seint saling tersenyum cerah setelah mengucap janji. Artem yang melihat interaksi keduanya-pun menggelengkan kepala heran.
"Cinta tidak hanya merubah seseorang tapi cinta juga bisa membuat penderitanya jadi tidak kenal tempat." Gumam Artem sambil menggelengkan kepala heran.
__ADS_1
°°°