Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
27. Harga


__ADS_3

Semua orang masih terdiam dengan ekspresi bingung. Mereka tidak tau bagaimana cara mengutarakan rasa kopi tersebut.


"Kopi ini sangat enak namun rasanya..." Ucap Seint terpotong.


Melihat semua orang memberikan ekspresi bingung setelah meminum kopi itu membuat Lilian penasaran untuk mencobanya. Lilian kemudian menuangkan kopi ke dalam gelasnya dan meminumnya.


Lilian memejamkan matanya saat kopi tersebut berhasil melewati tenggorokannya. "Sangat enak, tak salah jika di dunianya dulu kopi ini sangat enak, rasa dan aromanya sangat kuat." Batin Lilian.


"Aku heran..." Ucap Lilian terhenti.


"Kenapa?" Tanya Seint.


"Bagaimana bisa kopi jenis ini bisa tumbuh liar diperkebunan mu? Ada banyak kopi yang aku kenal namun jenis kopi ini benar-benar langka dan mahal." Ucap Lilian sambil menatap gelasnya.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui banyak jenis kopi sedangkan kau sendiri kehilangan ingatan mu, yang seharusnya heran adalah kami, kau begitu paham dengan tanaman yang tak kami ketahui jenis dan manfaatnya namun kamu yang bahkan belum bisa mengingat baik dirimu sendiri bisa begitu paham dengan tanaman itu." Ucap Seint panjang.


"Aissss sekalinya kau berbicara panjang namun mengacaukan suasana yang lagi serius ini." Ucap Lilian kesal.


"Apa kau pikir aku tidak serius." Ucap Seint dan menatap tajam ke mata Lilia.


Lilian yang ditatap begitu tajam menjadi gugup dan gelisah, alasan apalagi yang harus ia berikan untuk meyakinkan mereka.


"Jawab Lilian." Ucap Seint tajam.


"Aku harus menjawab apa?" Tanya Lilian yang mulai bingung.


"Dari mana kamu mengetahui ini semua? Jujur saja Kakak juga sangat penasaran akan hal itu" Ucap Zheyan.


Lilian menghembuskan napas pasrah dan menatap serius ke semua orang. "Aku bahkan tidak tau mengapa aku begitu mengerti dengan tanaman yang tak pernah aku lihat sebelumnya." Ucap Lilian jujur, "Aku memang tak pernah melihat kedua tanaman itu, aku hanya pernah membaca artikel yang membahas tentang kedua tanaman itu dulu." Batin Lilian.


Semua orang menatap serius ke arah Lilian, mencari celah kebohongan pada raut wajah cantik gadis itu namun ekspresi yang gadis itu tunjukan adalah ekspresi kejujuran yang terlihat.


"Bukankah itu hal yang baik bagi Lilian, semakin banyak ia mengingat sesuatu akan semakin cepat Lilian pulih." Ucap Asgar.


"Ya...benar Tuan, maafkan saya Pangeran Mahkota serta Tuan dan Nyonya jika saya lancang menyela pembicaraan kalian namun setau saya, dulu sebelum Nona Muda kehilangan ingatannya Nona selalu memiliki rasa penasaran yang besar, apa yang Nona lihat akan ia jadikan sebagai bahan percobaannya, mungkin saja kedua tanaman itu salah satu tanaman hasil percobaannya." Jelas Rosa menunduk takut.


"Jadi sebelum kehilangan ingatannya Lilian pernah meneliti tentang banyak tumbuhan Rosa?" Tanya Illyria.


"Benar nyonya...bahkan..." Ucap Rosa terhenti dan menatap ke arah Lilian takut.


"Bahkan apa? Lanjutkan saja." Ucap Lilian yang juga penasaran.


"Bahkan...bahkan Nona pernah memasuki daerah terlarang demi mendapatkan sesuatu." Ucap Rosa takut.


"Dan kau bahkan membiarkan dia pergi?" Tanya Duke Marven marah.


"Ampun Tuan...saya sebelumnya sudah menahannya dengan keras, namun Nona mengancam saya akan dijual ke bangsawan lain kalau saya terus menahannya memasuki daerah terlarang itu sendiri." Ucap Rosa.


"Sendiri?" Ucap Duke Marven mulai meninggi. "Apa yang Lilian lakukan di sana?" Tanyanya.


"Ampun Tuan, saya tidak tau...sekembalinya Nona dari daerah terlarang, Nona memang membawa sesuatu namun Nona menyembunyikan dibalik gaunnya dan tidak mengijinkan saya untuk melihatnya." Ucap Rosa.

__ADS_1


"Aisss kenapa pembahasannya jadi kemana-mana...kita tadi membahas kopi terus kenapa jadi membahas daerah terlarang." Ucap Lilian.


"Lilian kau begitu misterius." Ucap Seint.


"Aisss meski kalian mengatakan aku adalah gadis yang misterius tetap saja aku tak mengingat apapun jadi biarkan aku mengingat semuanya dulu baru kita membahas hal ini, sekarang kita fokuskan dulu pembahasan tentang kopinya." Ucap Lilian kesal.


"Memangnya kenapa dengan kopinya?" Tanya Zheyan bingung.


Lilian membuang napas kasar. "Aisss gara-gara pembahasan yang sudah kemana-mana kalian jadi tidak fokus dengan pembahasan kita, aku tadi bilang kenapa bisa tumbuhan yang mahal dan bagus itu bisa tumbuh diperkebunan mu." Ucap Lilian sambil menatap Seint.


"Mana aku tau." Ucap Seint cuek.


Lilian menatap Seint kesal, "Lalu bagaimana kita bisa menentukan harganya kalau kau tak tau."


Seint mengidikan bahunya tanda tak tau kemudian meminum kopi yang berada di teko yang berbeda.


Seint memejamkan mata sebentar saat merasakan kenikmatan kopi tersebut.


"Apa cuman perasaanku saja, kopi ini mengapa terasa berbeda." Batin Seint lalu menatap Lilian. "Kenapa rasanya berbeda."


"Tentu saja berbeda, memangnya kenapa?" Tanya Lilian penasaran.


"Aku lebih menyukai yang ini." Ucap Seint menatap gelasnya.


"Tentu saja kau lebih menyukainya, itu kopi yang hanya diseduh dengan gula saja tanpa tambahan susu, semua lelaki akan lebih menyukai rasa pahit-pahit manis kopi biasa dibandingkan kopi yang dicampur dengan susu." Ucap Lilian santai.


Mendengar ucapan Lilian, Zheyan Asgar, Artem dan Duke Marven segera menuangkan kopi di gelasnya masing-masing dan meminumnya.


"Itu masalahnya." Ucap Lilian pasrah.


"Apa masalahnya?" Tanya Artem.


Lilian menghembuskan napas berat. " Kalian ini kenapa sih, katanya sangat hebat dan pintar di kerajaan ini namun saat diajak berdiskusi kalian malah seperti nggak paham." Ucap Lilian kesal.


"Masalahnya adalah karena jenis kopinya, walau hanya ditambahkan gula namun tetap enak jadi Lilian bingung bagaimana cara menjualnya." Ucap Asgar tak mau dianggap bodoh oleh Lilian.


"Nah itu maksudnya aku..." Ucap Lilian membenarkan ucapan Asgar.


"Ya tinggal jual saja." Ucap Artem lagi.


"Jual dengan harga berapa? Itu adalah jenis kopi yang mahal, kalau kita menjualnya terlalu murah maka tidak sepadan dengan kualitas kopinya, siapa tau suatu hari nanti orang-orang akan menemukan jenis kopi yang berbeda lagi karena setau aku ini adalah jenis kopi yang paling mahal dan tentunya berkualitas." Ucap Lilian mulai meninggikan suaranya karena kesal sama Artem.


Semua orang menatap ke arah Artem dan menertawakan kebodohannya menghadapi Lilian. Artem hanya menghela napas pelan dan terdiam pasrah.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Zheyan.


"Itu yang harus kita pikirkan bersama, jika kita menargetkan harga yang mahal itu berarti rakyat biasa tidak akan bisa menjangkaunya juga." Ucap Lilian.


"Kalau menurut Ayah itu tidak apa-apa, wajar kalau harganya mahal karena dilihat dari kualitas kopi itu sendiri dan yang paling penting..." Jeda Duke Marven dan menatap ke semua orang "Kopi belum ada yang memproduksinya." Lanjutnya.


"Saya setuju dengan anda Tuan." Ucap Seint.

__ADS_1


"Benar juga ya, kalaupun harganya memang mahal itu sebanding dengan kualitasnya." Batin Lilian.


Lilian terdiam sebentar lalu tiba-tiba menepuk tangannya membuat orang didekatnya.


"Kenapa kau tiba-tiba menepuk tangan mu?" Ucap Zheyan.


"Aku baru ingat hal yang paling penting dan hampir terlupakan." Ucap Lilian senang.


"Apa?" Tanya Seint penasaran.


"Sebelumnya, mana yang kalian suka...kopi yang hanya dengan gula atau dicampur dengan susu?" Tanya Lilian.


"Kalau aku lebih suka dengan gula." Ucap Seint.


"Aku juga setuju dengan Pangeran Mahkota." Ucap Zheyan.


Kemudian di angguki oleh semua orang dan membuat Lilian tersenyum senang.


"Nah disitu letak perbedaannya, kalau yang hanya pakai gula berarti kopi tersebut hanya diseduh dengan air dan manis dari gula, sedangkan yang pakai susu kita bisa memasukan sedikit kopi saja." Ucap Lilian.


"Dengan begitu harganya akan bisa dijangkau oleh rakyat yang kebawah" Ucap Artem.


"Kau benar sekali." Ucap Lilian senang.


"Jadi kita sepakat untuk harganya." Ucap Seint.


Setelah sepakat dengan harga masing-masing, kemudian para anak muda membahas tentang persiapan untuk festival nanti sedangkan Duke Marven dan istrinya pergi mengurus pekerjaannya diluar kediaman yang sempat tertunda. Obrolan mereka tak terasa memakan banyak waktu sehingga mereka tak menyadari waktu sudah menunjukkan siang hari.


"Sepertinya kami harus kembali, urusan kopi akan kita bahas lagi lain kali." Ucap Seint.


"Usahakan perbanyak persediaan kopi kita sebelum festival." Ucap Lilian.


"Ya...kami telah mendapat pesan dari pengurus perkebunan jika hari ini kopi-kopi yang telah dipanen sampai ke ibukota." Ucap Artem.


"Baguslah kalau begitu, kalian sudah melihat proses dari awal pembuatan bubuk kopi namun bisakah kalian membawa salah satu pelayanku yang sebelumnya sudah mengerti proses pembuatannya, biarkan ia yang akan bertanggung jawab mengajarkan kepada pekerja yang lain, bagaiman?" Ucap Lilian.


"Itu usulan yang bagus, kami akan membawa salah satu pelayan mu." Ucap Seint


Lilian kemudian mengangguk dan mengantarkan Seint dan Artem ke depan pintu kediamannya. Sesaat setelah kepergian mereka berdua Asgar datang menghampiri Lilian.


"Kakak juga harus secepatnya pulang." Ucap Asgar.


"Loh...Kakak nggak makan siang dulu disini?" Tanya Lilian.


"Maafkan Kakak, tapi secepatnya Kakak harus pulang, ada hal penting yang harus segera Kakak urus." Ucap Asgar.


"Kalau begitu, berhati-hatilah." Ucap Lilian sambil tersenyum.


Setelah kepergian Asgar, Lilian kembali kedalam untuk makan siang bersama Zheyan, karena kedua orang tua mereka sebelumnya telah keluar kediaman untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


°°°

__ADS_1


Terus dukung Author ya... ☺️


__ADS_2