Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
127. Bola Kristal


__ADS_3

Lilian menggeliat dari tidurnya, sebuah cahaya yang sangat menyilaukan membuatnya terpaksa harus membuka kedua matanya.


Dari arah samping tempat tidurnya terpancar sebuah cahaya yang menyilaukan mata. Lilian memicingkan mata dan berusaha melihat cahaya apakah yang bersinar seterang itu.


Lilian menatap sebuah bola Kristal yang sering ia gunakan untuk memasuki ruangan pribadinya bercahaya sangat terang. Cahaya itu bahkan hampir memenuhi seluruh seisi kamar Lilian.


"Sejak kapan bola kristal itu dapat bercahaya?" Batin Lilian heran.


Lilian berjalan mendekati bola kristal itu dan berniat memegangnya namun langkahnya terhenti karena Citto menggigit gaun tidur bagian bawahnya dan berusaha menarik Lilian untuk menjauhi bola kristal itu.


Lilian mengerutkan kening bingung. "Aku tidak boleh mendekati bola kristal itu?" Tanyanya penasaran.


Citto segera melompat-lompat kecil tanda mengiyakan pertanyaan dari Lilian.


"Apakah berbahaya?" Tanya Lilian lagi.


Citto kembali melompat kecil dan terus saja menggigit gaun bagian bawah Lilian agar menjauhi bola kristal itu. Lilian menatap bingung ke arah bola kristal yang terus saja menyala dengan sangat terangnya tanpa berkedip sedikitpun.


Saat Lilian memikirkan banyak hal dari bola kristal itu, terdengar ada beberapa suara langkah kaki mendekat kearah kamarnya dan mengendor pintu kamarnya dengan sangat keras.


"Lilian apakah kamu baik-baik saja?" Teriak Zheyan panik.


"Lilian bisakah kamu mendengar kami? Jika iya maka cepatlah buka pintu!!" Teriak Duke Marven.


Lilian segera berjalan kearah pintu lalu membuka pintu kamarnya dengan sangat lebar. Semua orang menghalau cahaya yang sangat terang itu menggunakan tangannya dan menatap kearah bola kristal yang sejak tadi memancarkan cahaya yang kuat.


Seint segera memasuki kamar Lilian dan bergegas menuju bola kristal itu namun langkahnya ditahan oleh Lilian.


"Jangan!! Citto bilang itu berbahaya." Ucap Lilian sambil menarik tangan Seint.


Seint menatap kearah Lilian dan memegang tangannya dengan lembut. "Percayakan saja kepada ku ." Ucapnya menenangkan Lilian.


Lilian menatap kearah Seint ragu namun tetap saja melepaskan tangannya. Setelah Lilian melepaskan tangannya, Seint berjalan mendekati bola kristal itu dan membacakannya sebuah mantra. Tidak lama, bola kristal yang sedari tadi bersinar terang akhirnya sedikit demi sedikit meredup dan akhirnya kembali ke posisi seperti biasa.

__ADS_1


"Ada yang terjadi Lilian? Sejak kapan bola kristal itu bisa mengeluarkan cahaya?" Tanya Zheyan beruntun.


Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu! Tadi aku sedang beristirahat dan terbangun karena merasa terganggu dikarenakan cahaya bola kristal itu." Jelas Lilian.


"Kami juga tadi sedang melakukan pertemuan namun tiba-tiba para pelayan datang dan mengatakan jikalau dari dalam kamar mu keluar cahaya yang sangat terang. Karena khawatir kamipun berlari kemari untuk memeriksa keadaan mu." Jelas Zheyan.


Lilian menghela napas pelan. "Aku juga bingung ... Selama ini bola kristal itu tidak pernah bersinar namun entah kenapa hari ini bola kristal itu bisa bersinar seterang itu." Jelasnya.


"Seseorang sedang melakukan ritual untuk menemukan bola kristal ini." Ucap Seint tiba-tiba yang langsung ditatap oleh semua orang.


Seperti yang Zheyan sebelumnya jelaskan, jikalau mereka sedang melakukan pertemuan tanpa Raja Reinal yang harus mengurus beberapa kasus di Istana. Saat melihat cahaya yang keluar dari kamar Lilian, Seint akhirnya mengetahui apa yang terjadi.


"Maksud Yang Mulia?" Tanya Artem penasaran.


"Ini adalah benda yang aku cari di kediaman Kelompok Kesatria Elang namun saya tidak menemukannya. Ternyata bola kristal itu berada disini." Jawab Seint sambil menatap kearah bola kristal itu.


"Yang Mulia tadi menyebutkan tentang ritual. Bisakah jelaskan kepada kami lebih jelas lagi?" Tanya Asgar yang diangguki oleh semua orang.


"Bola kristal ini akan terlihat seperti bola kaca biasa jika tidak bercahaya namun jika seseorang sudah melakukan sebuah ritual maka bola ini akan bersinar." Jawab Seint.


"Tentu saja untuk menemukan bola kristal ini ... Seseorang telah memenuhi syarat untuk melakukan ritual agar bola kristal ini bercahaya." Jelas Seint.


"Apa fungsi dari bola kristal itu?" Tanya Lilian yang sejak tadi hanya diam dan mengamati suasana.


"Bola kristal ini dapat digunakan untuk menangkap hewan mitos." Jawab Seint datar.


Lilian refleks menatap kearah Citto yang sejak tadi terus saja menarik gaun Lilian untuk menjauhi bola kristal itu.


"Itu sebabnya Citto bilang jikalau bola kristal itu berbahaya? Bola kristal itu juga dapat menangkap Citto?" Tanya Lilian khawatir.


Seint menatap ke arah Citto sebentar dan mengangguk pelan setelahnya.


"Lalu akan yang mulia apakan bola kristal itu?" Tanya Duke Marven.

__ADS_1


"Saya akan membawanya untuk tidak terlalu dekat dengan Citto. Bola kristal ini sudah dilakukan ritual maka secara bertahap ia akan menarik energi Citto. Sebaiknya Citto harus dijauhkan dari bola kristal ini dan saya akan mencari cara lain agar bola kristal ini tidak akan menarik energi dari Citto." Jelas Seint.


Semua orang mengangguk setuju dengan keputusan dari Seint yang akan membawa bola kristal itu berada jauh dari Citto.


"Yang membuat saya penasaran, bagaiman bosa bola kristal itu berada disini?" Tanya Artem tiba-tiba.


"Bola kristal itu saya dapatkan dari seorang kakek waktu melakukan tugas diluar kota. Karena merasa sangat cantik akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan bola kristal itu sebagai alat agar Lilian bisa memasuki ruangan pribadinya. Namun saya benar-benar tidak mengetahui fungsi asli dari bola kristal itu." Jelas Duke Marven sambil mengingat wajah orang tua yang sebelumya menjualkan barang itu kepadanya.


"Bukankah semua ini sangat kebetulan? Ada banyak sekali kejadian yang persis seperti ini terjadi secara kebetulan." Heran Zheyan.


"Betul ... Semua kejadian mengalir begitu saja dan selalu saja ada kebetulan semacam ini yang selalu terjadi seperti semua hal ini telah direncanakan sebelumnya." Ucap Duke Marven yang diangguki semua orang.


Setelah lama berbincang, Akhirnya mereka semua kembali melakukan pertemuan yang sebelumnya sempat tertunda.


°°°


Dilain tempat yang lokasinya masih berada dalam Ibukota kerajaan Apollonia. Seseorang tengah melakukan sebuah ritual yang memakan waktu sedikit lama.


Orang itu tidak lain adalah Alben Benito, sedari tadi ia tengah melakukan ritual untuk mencari keberadaan bola kristal yang selama ini disembunyikan oleh Tuan Besar keberadaannya dari semua orang.


Alben Benito secara tidak sengaja mempelajari tentang bola kristal itu sebelum akhirnya Tuan Besar mereka melarang untuk mencari dimana posisi pasti dari bola kristal itu.


Ritual itu hanya menggambar beberapa simbol yang mereka butuhkan dengan menggunakan batu kapur. Setelah simbol-simbol itu telah jadi sepenuhnya, maka seseorang yang sudah mempelajari tentang bola kristal akan membacakan mantra yang akan membuat bola kristal itu bercahaya dan memunculkan cahaya terangnya.


Setelah melakukan ritual itu, dari jauh Alben Benito masih tetap dengan jelas dapat melihat cahaya yang sangat terang berada tidak jauh dari tempatnya mengadakan ritual.


Dengan bantuan Tetua dan para Guru lainnya, Alben Benito berhasil keluar kediamannya tanpa diketahui oleh Prajurit dan mengikuti arah cahaya itu muncul.


Alben Benito berhenti tidak jauh dari kediaman Duke Marven dan tersenyum pelan melihat cahaya yang sedari tadi bercahaya terang mulai meredup dan tidak lama cahaya itu tidak lagi tampak.


"Jadi ini alasannya mengapa mereka selalu menargetkan Putri Mahkota." Ucap Alben Benito sinis.


"Ternyata bola kristal itu berada dikediaman Duke Marven. Putri Mahkota sangatlah cerdas, jika ia sudah merasa sangat penasaran akan sesuatu maka ia akan berusaha mencari tahu tentang kebenarannya. Bola kristal itu sudah bercahaya sangat terang, tidak mungkin ia hanya berdiam diri dan menatap cahaya bola kristal itu. Langit masih memberkatiku agar bisa membalaskan dendam ku kepada orang-orang keparat itu. Tunggu dan lihat saja kapan bola kristal itu akan menuntun Putri Mahkota ke rencana busuk kalian." Gumam Alben Benito senang.

__ADS_1


Alben Benito kemudian berbalik dan berjalan kembali ke kediamannya. Ia sudah merasa sangat beruntung telah melakukan ritual itu sehingga membawanya sampai ke depan Kediaman Duke Marven. Alben Benito merasa bahwa ia hanya perlu menunggu waktu saja melihat orang-orang itu hancur dengan sendirinya.


°°°


__ADS_2