Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
115. Pembunuhan Masal


__ADS_3

Pesta dansa yang berlangsung dengan sangat meriah terpaksa dihentikan lebih cepat dari yang direncanakan sebelumnya. Dengan teratur para tamu undangan meninggalkan aula dan pulang kembali ke kediaman masing-masing.


Beda halnya dengan keluarga Duke Marven dan Keluarga dari Baron Avalon yang harus tetap tinggal untuk menyelidiki kasus penyerangan terhadap Lilian. Setelah mendapat ijin dari Raja Reinal, Seint berserta Duke Marven dan yang lainnya berangkat menuju kediaman Tuan Martin.


Saat sampai kediaman itu terlihat sangat sepi, sebelumnya Tuan Martin terlihat berada di aula pesta namun setelah penyerangan terhadap Lilian terjadi ia menghilang begitu saja dengan para pelayannya.


Seint menahan langkah kaki Duke Marven untuk memasuki gerbang kediaman Tuan Martin, Sesaat setelah ia mencium aroma yang sangat ia kenal.


"Semuanya tutup hidung kalian menggunakan apapun didekat kalian!! Jangan hirup udara disini karena udaranya sudah tercampur dengan racun!!" Tegas Seint.


Semua orang serentak menutup hidung mereka menggunakan kain agar tidak menghirup udara.


"Kepung kediaman ini kesemua sisi dan jangan biarkan satu orangpun melangkah keluar dari kediaman ini!!" Perintah Seint tegas.


"Baik Yang Mulia." Ucap para Prajurit kemudian berlari berpencar sesuai arahan dari Seint.


Setelah merasa keadaan mulai aman, Seint memberi kode kepada Duke Marven, Zheyan dan Artem untuk memasuki kediaman sedangkan Asgar ditugaskan untuk menutup semua akses keluar masuk di Ibukota.


Saat memasuki kediaman, ada banyak sekali pengawal bahkan para pelayan yang jatuh terkapar dengan wajah yang membiru. Mereka terkena racun udara sehingga tidak memiliki waktu untuk berusaha keluar kediaman untuk menyelamatkan diri.


Semakin lama mereka berjalan, semakin banyak pengawal atau pelayan yang terkapar sepanjang jalan. Entah apa yang terjadi sebelum Seint dan yang lainnya datang.


Seint dan yang lain akhirnya menemukan ruangan yang diyakini adalah ruang kerja Tuan Martin karena terlihat ada banyak pengawal yang jatuh terkapar didepan pintu ruangan tersebut.


Zheyan menendang pintu tersebut dengan keras agar kain yang menutupi hidungnya tidak terjatuh. Mereka semua memasuki ruang kerja tersebut dan mata mereka membulat saat melihat Tuan Martin terduduk di kursinya dengan wajah yang sama-sama membiru.


Tidak jauh dari posisi Tuan Martin terlihat pengawal pribadinya terjatuh dengan wajah yang juga sudah membiru.


"Sepertinya satu kediaman ini telah diracuni dengan racun yang disebarkan melalui udara." Ucap Artem.


"Benar Tuan Artem. Mereka mati dengan kondisi wajah yang sudah membiru." Ucap Zheyan sambil berjalan mengamati sekitar.

__ADS_1


Seint meninju sesuatu yang berada di dekatnya. "Sial!! Mereka telah memprediksi hal ini akan terjadi sehingga mereka harus menyingkirkan Tuan Martin agar tidak membocorkan rencana mereka." Marahnya.


"Pangeran Mahkota! Sepertinya mereka berniat kabur." Ucap Duke Marven sambil menunjuk sebuah kota yang berisi barang berharga milik Tuan Martin.


"Benar ... Sepertinya mereka berniat meninggalkan Ibukota namun mereka tidak mengetahui jika mereka akan diracuni lewat udara." Kesal Seint.


"Apakah yang harus kita lakukan sekarang Yang Mulia? Tuan Martin sudah mati dengan membawa informasi penting bersamanya." Ucap Artem khawatir.


Seint menatap tajam kearah mayat Tuan Martin. "Dia boleh saja mati namun informasi yang ia punya pasti masih ada. Saat pertama kita sampai, disini tercium jelas aroma racun yang masih kental. Sebelum kita pasti orang lain juga belum memasuki kediaman ini. Itu artinya kita masih punya kesempatan untuk mendapatkan informasi lain lewat benda atau apapun yang bisa kita ambil sekarang." Jelas Seint panjang.


"Betul juga." Ucap Zheyan.


"Geledah semua isi yang ada dikediaman ini!!" Perintah Seint yang langsung semua orang kerjakan.


Setelah kadar racun udara sudah hilang, Seint dan yang lain akhirnya bisa bernapas lega kerena bisa melepas kain dari hidungnya. Dengan melepas kain itu maka pekerjaan mereka mengeledah kediaman akan semakin mudah.


Mereka menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengeledah kediaman Tuan Martin yang memiliki ukuran yang lumayan besar. Tidak ada yang berhasil selamat dari racun tersebut sehingga membuat kediaman itu dipenuhi dengan banyak mayat.


"Sepertinya mereka sengaja menabur racun udara agar semua orang dikediaman ini mati bersamaan. Mereka mungkin sering melakukan pertemuan di sini sehingga mereka membungkam semua orang yang berada dikediaman ini dengan cara membunuh mereka. Sehingga kita tidak bisa bertanya apapun lagi." Jelas Duke Marven.


Zheyan tersenyum sinis. "Perkiraan Pangeran sungguh akurat. Meski mereka sudah mati namun mereka masih menyimpan bukti lainnya."


Artem berjalan mendekati Zheyan. "Tuan mendapatkan sesuatu?" Tanyanya.


Zheyan menunjukkan beberapa buku yang ia dapatkan dan juga beberapa benda yang diyakini memiliki petunjuk penting. "Saya mendapat beberapa buku yang disembunyikan pada tumpukkan harta. Saya juga mendapat beberapa buku dan barang didalam tubuh Tuan Martin." Jelasnya


"Baguslah. Saya sudah memerintahkan prajurit untuk mengepung kediaman ini. Setelah penggeledahan selesai sebaiknya kita pulang untuk beristirahat. Hari sudah mulai terang dan kita perlu istirahat yang cukup untuk mengejar buruan kita ." Ucap Seint datar.


Setelah penggeledahan selesai dilakukan, Seint dan yang lainnya kembali ke Istana dan mengamankan bukti yang belum mereka buka sama sekali.


°°°

__ADS_1


Setelah mengantar Lilian ke depan gerbang kembali ke kediamannya dengan diantar oleh Zheyan, Seint dan yang lainnya kembali mengadakan pertemuan penting didalam ruang Kerja Raja Reinal.


Raja Reinal juga meminta kepada Pangeran Erik, Putri Meira berserta tamu undangan yang dari kerajaan lain agar segera meninggalkan kerajaan Apollonia dikarenakan untuk keamanan mereka.


Kerajaan Apollonia sedang memberantas para pengkhianat sehingga Raja Reinal memutuskan untuk memulangkan tamu undangan agar ia bisa fokus dalam masalah yang menimpa kerajaannya.


Setelah kejadian yang membuat seluruh penghuni kediaman Tuan Martin mati secara mengenaskan. Raja Reinal memerintahkan bawahannya untuk mengubur semua mayat yang ada dikediaman itu dan membakar semua kediaman itu tanpa tersisa.


Kejadian itu menjadi sangat heboh, terlebih banyak sekali para penduduk Ibukota menyaksikan sendiri saat Prajurit Istana memblokir semua akses masuk kediaman tersebut dan membakar seluruh kediaman itu tanpa tersisa agar menghindari hama yang bisa saja muncul dari kematian orang-orang tersebut.


Setelah membereskan semua urusannya, Raja Reinal menatap ke semua orang yang duduk melingkari bukti yang ditinggalkan oleh Tuan Martin.


"Buku tentang apa saja itu?" Tanya Raja Reinal serius.


"Kami belum memeriksanya Yang Mulia namun salah satu buku ada yang membahas tentang naga dan yang lainnya." Jawab Asgar.


"Coba jelaskan isinya!!" Ucap Raja Reinal.


Asgar mengangguk pelan. "Didalam buku ini tertulis jika pemanggilan roh dilakukan maka akan ada orang yang harus dikorbankan. Ritual pemanggil roh membutuhkan raga seseorang agar bisa menampung roh yang datang. Roh itu bisa saja datang dari masa lalu yang memiliki kemampuan yang tinggi dan bisa saja berasal dari masa depan. Seiring berjalan waktu, roh yang memasuki raga orang lain akan menghilang entah karena apa namun hal itu belum ada yang bisa jelaskan." Jelas Asgar.


"Menghilang? Salah satu penyusup mengatakan hal yang sama kepadaku kemarin." Ucap Seint datar.


Raja Reinal kemudian menghela napas pelan. "Lanjutkan!!" Ucapnya.


"Sisanya hanya membahas tentang naga yang sebelumnya sudah kita ketahui Yang Mulia." Jelas Asgar.


Semua orang mengangguk paham. Mata Asgar menangkap salah satu buku yang bertuliskan nama Lilian.


"Yang Mulia sepertinya ini adalah buku catatan Lilian namun mengapa bisa berada didalam tumpukan buku yang berada dikediaman Tuan Martin?" Tanya Asgar heran.


Semua orang menatap kearah buku yang sekarang Asgar pegang. Sampul buku itu memang tertulis nama Lilian.

__ADS_1


°°°


__ADS_2