
Lilian membawa Ratu Elena, Putri Evilia dan Putri bangsawan serta anak-anak lainnya ketempat yang Seint sediakan sebelumnya. Selama penyerangan terjadi, Seint tidak mengijinkan siapapun untuk meninggalkan tempat itu.
Fania dan Violet bahkan membantu mengarahkan anak-anak kecil untuk mengikuti mereka ke tempat yang sudah Seint dan yang lainnya siapkan. Dari tempat mereka berkumpul, terdengar suara ledakan dan suara benturan pedang diluar sana.
Ratu Elena mencoba menenangkan anak-anak kecil untuk tidak panik mendengar suara-suara itu. Meskipun Ratu Elena sama khawatirnya dengan yang orang-orang rasakan namun ia percaya dengan Raja Reinal dan juga Seint yang sedang berjuang untuk mereka.
Tidak lama dengan keheningan yang mereka semua rasakan. Tiba-tiba dari arah samping datang segerombolan orang dengan membawa beberapa benda tajam ditangan mereka masing-masing.
"Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan dari kami?" Tanya Lilian sambil memegang erat pedang ditangannya.
Seorang laki-laki gembul tertawa mendengar pertanyaan dari Lilian. "Kami tidak akan menyakiti kalian jika kalian semua menurut pada kami." Ucapnya.
Lilian menatap lelaki gembul itu dengan sinis. "Untuk apa kami mengikuti kalian? Kami tidak akan kemanapun sampai penyerangan itu telah selesai." Tegas Lilian.
Salah satu lelaki kurus yang berdiri di samping lelaki gembul kali ini yang tertawa. "Kalian pikir penyerangan itu akan segera selesai? Tentu saja tidak!! Pihak Istana sedang merasa kewalahan melawan rekan-rekan kami. Selama kami masih berbicara baik-baik maka ikutilah perkataan kami." Ucapnya sinis.
Lilian kembali tertawa sinis. "Kami tidak akan pergi selangkah-pun dari sini." Ucapnya yang di angguki oleh semua orang dibelakang Lilian.
"Jika tidak bisa dengan cara baik-baik maka gunakan dengan cara kasar." Ucap salah satu gadis yang berada dibelakang barisan laki-laki gembul dan kurus tersebut.
"Nona Raina!! Kau juga adalah salah satu pengkhianat!!" Teriak Lilian kesal.
Raina tertawa lepas mendengar ucapan Lilian. "Memangnya kenapa? Aku harus bersikap setia kepada kerajaan yang tidak memberikan kami keuntungan?" Tanyanya sinis.
__ADS_1
"Kerajaan ini tidak membutuhkan wanita seperti mu di sini." Ketus Lilian.
Raina mengepalkan tangannya erat. "Orang-orang yang sepertimu yang tidak dibutuhkan di sini!! Kalian semua hanya pengganggu jalan kesuksesan kami!!" Teriaknya.
"Kalian mengatakan kesuksesan? Dengan cara menjadi pecundang?" Tanya Ratu Elena.
Raina kembali tertawa terbahak-bahak. "Orang-orang seperti kalianlah yang membuat kami seperti ini!! Untuk itu, wanita seperti kalian tidak akan berumur panjang!! Semuanya serang dan seret mereka semua!!" Teriaknya.
Lilian menarik pedangnya dan mengarahkannya kepada orang-orang yang berad didepannya. Fania dan Violet melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Lilian, sedangkan yang lainnya mundur beberapa langkah kebelakang menghindari pertarungan.
Lilian mengayunkan pedangnya saat posisi lawan berada dekat dengannya. Di belakangnya sudah ada Citto yang bersedia melindungi Lilian kapanpun gadis itu perlukan. Lilian mengayunkan pedang serta bergerak memutar melawan orang-orang tersebut.
Pergerakan Lilian sangat gesit dan berhasil melukai banyak lawan, Raina yang tidak menyukai hal itupun mengambil pedang dari salah satu temannya dan menggunakannya untuk melawan Lilian.
Lilian menghindari bubuk racun yang dilempar oleh Raina, kemudian menendang perut Raina. Melihat Raian yang sedang kesakitan Lilian kemudian segera memukul bahu Raina sampai gadis itu terjatuh. Saat Lilian ingin mengarahkan pedangnya kearah Raina, Adrian Pavel datang dan membantu Raina untuk menghindari serangan Lilian.
Lilian menatap sinis kearah Adrian Pavel. "Setelah kalah, tunangannya-pun datang untuk membantu." Sinisnya.
Adrian Pavel hanya tersenyum singkat kemudian maju menyerang Lilian. Lilian beberapa kali berhasil menghindari serangan Adrian Pavel dengan sangat gesit. Gerakan Lilian bahkan sangat sulit Adrian Pavel tebak. Lilian berhasil menekan Adrian Pavel berkat kelincahannya dalam bermain pedang
Saat melihat Adrian Pavel didalam situasi tidak baik, Raina akhirnya mengeluarkan sebuah bahan peledak yang berukuran sedang dan bersiap melempar kearah Lilian. Sebelum bahan peledak terjatuh ketempat Lilian, Citto dengan cepatnya mencakar tangan Raina kemudian mengeluarkan sedikit api dari mulutnya dan menyebabkan sebuah ledakan.
Tubuh Raina dalam kondisi tidak baik-baik saja setelah merasakan bahan peledaknya sendiri. Sekujur tubuhnya terbakar dan mengeluarkan banyak darah, jika bukan Adrian Pavel cepat menariknya kemungkinan Raina tidak bisa diselamatkan
__ADS_1
Citto kembali menggeram dan melawan semua musuh yang ada menggunakan api kecil dari mulutnya. Dikarenakan di pihak lawan memiliki bahan peledak masing-masing akhirnya bahan pedak itu meledak dengan sendirinya di karenakan api kecil yang Citto keluarkan.
Adrian Pavel bahkan mendapatkan luka akibat ledakan tersebut. Tidak lama suara ledakan terdengar, malam yang tadinya suram tambah suram dikarenakan muncul aura yang sangat berbeda. Angin berhembus sangat kencang dan aura dingin-pun terasa menusuk sampai tulang.
Di atas langit terdengar suara gemuruh yang sangat besar membuat orang-orang harus menutup kedua telinga menggunakan kedua tangan masing-masing. Cahaya petir bahkan menyambar ke sana kemari seakan mendukung suasana yang sedang berlangsung.
Dari atas langit muncul sebuah lingkaran besar dan terdengar suara irang yang tertawa puas. Dari lingkaran tersebut keluarlah sebuah makhluk yang ukurannya sangat besar dan panjang. Hewan tersebut adalah seekor ular berwarna hijau yang menyerupai seekor naga.
Hewan itu mungkin sudah hidup ribuan tahun dan mungkin baru saja dibangkitkan. Semua orang memandang kearah ular hijau tersebut. Dari arah jauh Lilian dapat melihat jikalau ular itu sedang dikendalikan oleh seseorang dan sedang menyerang seseorang.
Tanpa memperdulikan sekitar Lilian berlari kencang yang diikuti oleh Citto kearah ular hijau tersebut. Lilian memandang kearah formasi yang dibentuk oleh Zheyan tadi menjadi sudah tidak berbentuk.
Dari arah depan Lilian dapat melihat Zheyan dan Duke Marven sedang berusaha melawan para musuh yang sedang berusaha memberi mereka tekanan. Lilian juga melihat Artem dan Asgar yang melakukan penyerangan kombinasi untuk tetap melindungi barisan pertengahan.
Ditempat yang jaraknya cukup jauh sana, Lilian dapat melihat Raja Reinal dan Seint sedang berjuang melawan seseorang yang sedang menaiki seekor hewan yang memiliki ukuran yang sangat besar. Lilian bahkan melihat ada banyak darah segar yang mengalir dari tubuh Seint karena melawan hewan besar itu.
Saat seekor ular besar itu ingin menggigit Seint, Lilian dengan cepat melihat kearah Citto. "Lindungi Seint Citto!!" Teriaknya.
Citto berlari kearah Seint dan merubah bentuk tubuhnya ke bentuk naga yang sesungguhnya.
ROOOOOAAAARRRRR ...
Citto merubah bentuknya ke bentuk naga dengan dua sayap besar di punggungnya. Tubuhnya ia lingkarkan ke tubuh Seint agar ular besar tersebut tidak dapat menyakiti Seint.
__ADS_1
°°°