Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
24. Mentega dan Kopi


__ADS_3

Sepulang dari tempat pembuatan kursi kemarin, Seint dan Lilian sepakat akan mengolah buah kopi hari ini. Untuk itu Lilian harus bangun sangat pagi seperti sekarang.


Sebelum mengolah buah kopi, Lilian akan mengolah susu yang telah ia simpan selama dua hari menjadi mentega. Untuk itu, Lilian menyuruh Seint agar datang agak siang.


"Hari ini akan menjadi hari yang berat." Ucap Lilian sambil menghela napas pelan.


Kemudian Lilian mengambil salah satu kursi yang berada didepannya dan menduduki kursi tersebut, didepannya sudah tersedia sarapan yang telah Rosa sediakan saat ia sedang membersihkan diri tadi.


Setelah menghabiskan sarapannya, Lilian kemudian berjalan menuju tempat pembuatan mentega. Dari jauh Lilian dapat melihat Zheyan sudah berada di sana dan sekarang sedang menyiapkan sesuatu yang akan mereka butuhkan nanti.


"Selamat pagi Kakak." Sapa Lilian saat ia sudah sampai.


"Pagi juga." Sapa Zheyan kembali dan mengusap pelan kepala Lilian.


"Kakak dari kapan kesini?" Tanya Lilian.


"Baru kok, oh iya...Kakak sudah menyuruh para pelayan untuk merendam wadah dengan air panas seperti yang kau katakan kemarin" Ucap Zheyan.


"Kalau begitu kita mulai saja pembuatannya." Ucap Lilian


Zheyan kemudian menyuruh para pelayan untuk mengambil mentega yang sebelumnya telah mereka simpan selama dua hari.


"Sekarang yang perlu dilakukan adalah mengambil krim yang mengapung di permukaan susu." Ucap Lilian.


Lilian kemudian berjalan mengambil sendok yang sebelumnya telah Zheyan rendam dengan air panas kemudian Lilian menyendok kan krim pada salah satu wadah.


"Yang putih ini namanya krim." Ucap Lilian sambil menunjukan sendok ditangannya kepada para pelayan."Gunakan sendok yang sudah direndam dengan air panas untuk mengambil krim yang mengapung di permukaan susu, lalu pindahkan krim ke dalam wadah yang juga sudah dipanaskan, lakukan proses tersebut hingga tidak ada krim yang tersisa." Ucap Lilian.


Para pelayan bergerak sesuai dengan arahan yang Lilian berikan. Tidak membutuhkan waktu lama para pelayan selesai memindahkan semua krim yang mengapung ke wadah .


"Tutup semua wadah rapat-rapat dan ambilkan saya air yang kemarin malam saya suruh simpan di atap." Ucap Lilian.


Para pelayan bergerak sesuai arahan Lilian, kemudian beberapa saat kemudian para pelayan datang dengan membawa wadah yang terbuat dari tanah liat ditangannya masing-masing.


Lilian kemudian membuka penutup wadah tersebut dan tersenyum senang saat melihatnya. Sebelumnya Lilian pernah membaca sebuah artikel di dunianya dulu jika orang-orang mesir kuno membuat es batu dengan merebus air lalu menyimpannya di wadah yang terbuat dari tanah liat kemudian menutupnya dan menyimpannya di atap rumah pada suhu tertentu.


Awalnya ia sempat ragu namun kalau tidak dicoba Lilian tidak akan tau hasilnya begitu pikir Lilian sebelumnya.


"Kakak ini namanya es batu, sangat dingin dan sangat cocok diminum pada siang hari saat musim panas, akan segar jika dicampur dengan sari buah." Ucap Lilian.


"Benarkah?" Tanya Zheyan yang sedari tadi hanya melihat cara pembuatan mentega.


"Benar Kakak, namun ia tak akan bertahan lama karena akan mencair kembali." Ucap Lilian.


"Pelayan katakan kepada kepala koki untuk menyiapkan sari buah yang banyak secepatnya." Ucap Zheyan kepada salah satu pelayan.


"Baik Tuan." Ucap pelayan tersebut dan pergi menjalankan perintah dari Zheyan.


"Lalu langkah selanjutnya apa ?" Tanya Zheyan.


"Langkah selanjutnya letakkan wadah yang berisi krim ke wadah yang lebih besar lalu tuangkan air hangat secukupnya hingga setengah bagian wadah terendam dan tunggu sampai 5 jam, simpan kembali wadah yang berisi es tadi ke tempat yang sangat lembab agar tidak mencair." Ucap Lilian.


Para pelayan segera melakukan sesuai arahan Lilian, kemudian Lilian menatap ke arah Zheyan.

__ADS_1


"Kakak aku rasa selama kita menunggu lebih baik kita ke tempat pembuatan kopi." Ucap Lilian


"Baiklah, diselesaikan lebih cepat akan lebih baik." Ucap Zheyan.


"Kalian tunggu disini sampai kami kembali dan silahkan beristirahat dulu." Ucap Lilian pada para pelayan.


"Kamu, bawa wadah es ini ikut kami." Tunjuk Zheyan kepada para pelayan. "Jika pelayan yang saya suruh menemui koki tadi kembali, katakan padanya agar segera menyusul kami dan simpan sari buahnya untuk kalian juga." Lanjutnya.


"Kalian hanya perlu menambah es kedalam sari buahnya dan nikmatilah." Ucap Lilian tersenyum senang.


Para pelayan merasa bahagia bisa mencicipi es sari buah, terlebih lagi mereka mendapatkan senyum dari Lilian yang membuat mereka tambah mengagumi Nona Mudanya.


Zheyan dan Lilian kemudian berjalan ke tempat buah kopi yang sudah kering dan dikumpulkan. Zheyan kemudian memeriksa peralatan yang akan mereka gunakan untuk memproses buah kopi.


"Kita harus menunggu Pangeran Seint terlebih dahulu sebelum memulai." Ucap Lilian.


"Ya...kau benar, sebentar lagi mungkin ia akan datang." Ucap Zheyan.


Tak lama kemudian Seint datang bersama Artem yang berjalan di samping kanannya dan Asgar di samping kirinya.


"Tidakkah Kakak berpikir kalau Seint seperti majikan sedangkan Artem dan Kak Asgar adalah bawahannya saat berjalan seperti itu?" Tanya Lilian.


"Memang seperti itu." Ucap Zheyan tersenyum ke arah Lilian.


"Ahhh benar juga, diakan calon Rajanya dan keduanya memang bawahannya, kenapa otak ku selalu saja lemot kalau menyangkut tentangnya." Batin Lilian.


"Kau...kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Seint saat ia sampai didepan Lilian.


"Seperti apa?" Tanya Lilian kembali.


"Dia kenapa? Pms kali ya?" Gumam Lilian yang tak didengar oleh Seint.


"Selamat pagi menjelang siang Lilian." Sapa Artem.


Lilian tersenyum ke arah Artem, "Juga." Lalu melirik ke arah Asgar. "Kakak datang juga?" Lanjutnya.


"Ya...Kakak juga ingin melihat hasilnya." Ucap Asgar yang kemudian di angguki oleg Lilian.


Kemudian mereka berdiri di depan tumpukan buah kopi.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang." Ucap Artem.


"Yang pertama adalah pengupasan kulit, kita sudah menjemurnya selama beberapa hari hingga kandungan airnya berkurang banyak, sekarang masukan buah kopi ke dalam karung dan pukul sampai bijinya keluar. Ucap Lilian.


Kemudian mereka menyuruh pelayan melakukan hal yang diucapkan Lilian. Tak lama setelahnya, Lilian menyuruh membersihkan kulit yang masih menempel pada biji tersebut.


"Setelah bijinya sudah bersih dari sisa kulit buah, langkah selanjutnya adalah merendamnya menggunakan air panas untuk memisahkan biji yang akan kita konsumsi dan biji yang cacat, sama seperti buah kakao kemarin pisahkan buah yang tengelam dan yang mengapung dipermukaan air lalu jemur kembali biji yang tenggelam sampai kering." Jelas Lilian.


Para pelayan segera melakukan hal yang diarahkan oleh Lilian. Setelah beberapa waktu berlalu biji kopi yang dijemur tadi sudah mengering.


"Siapkan perapian dan wajan yang besar, kita akan melakukan proses penyangraian, setelah wajannya panas masukan biji-biji kopi dan aduk hingga biji kopi tersebut berwana hitam." Ucap Lilian.


Para pelayan segera melakukan arahan dari Lilian kembali. Saat mereka sedang asik memperhatikan pembuatan kopi, seorang pelayan membawa sebuah guci besar yang berisi sari buah.

__ADS_1


Zheyan mengambil guci tersebut dan menyuruh pelayan tadi beristirahat menikmati sari buah bersama para pelayan yang lain. Lilian berjalan mendekati Zheyan dan memanggil Seint, Asgar, dan Artem duduk bersama mereka untuk beristirahat.


"Sambil menunggu biji kopi itu menghitam kita istirahat dulu sebentar dan meminum sari buah segar ini." Ucap Lilian sambil memberikan segelas sari buah ke masing-masing orang.


Seint, Zheyan, Asgar, dan Artem terdiam cukup lama saat meminum sari buah tersebut, rasanya sangat manis dan segar. Rasa dingin yang melewati tenggorakan mereka memberikan kesegaran tersendiri saat cuaca panas seperti sekarang.


"Lilian...minuman ini sangat enak." Ucap Asgar girang dan di angguki oleh semua orang.


Lilian tersenyum senang. "Tentu saja...itu minuman yang sudah aku campur dengan es batu, makanya terasa dingin dan menyegarkan tenggorokan." Ucap Lilian


"Es batu?" Ucap Seint bingung.


"Iya...es batu, rasa dinginnya itu sama sepertimu." Ucap Lilian.


Seint tersenyum penuh arti ke arah Lilian, "Seperti yang kau bilang tadi, dingin dan menyegarkan." Ucap Seint sambil tersenyum manis kearah Lilian.


"Ada apa dengannya kenapa dia tersenyum begitu menawan ke arah ku." Batin Lilian, "Ahh sudahlah aku akan memeriksa biji kopinya." Lilian berdiri dari duduknya dan berjalan cepat ke arah penyangraian biji kopi sambil memegang dadanya, "ini jantung kenapa berdetak sangat cepat apakah sebentar lagi aku akan mati lagi?" Batin Lilian.


Seint tersenyum ke arah Lilian pergi, Sedangkan Zheyan, Asgar, dan Artem lagi-lagi menjadi saksi keanehan yang ditunjukkan oleh Seint. Seint jarang sekali tersenyum semanis itu, ia bahkan mungkin tak pernah tersenyum semanis itu kebanyakan orang hanya melihatnya tersenyum sinis.


Setelah puas memandangi Lilian. Seint kemudian menoleh ke arah tiga orang yang menatanya dengan tatapan aneh, mengerti dengan tatapan mereka Seint kemudian berdehem untuk mencairkan suasana.


"Sebaiknya kita menyusul Lilian untuk melihat biji kopinya." Ucap Artem mencairkan suasana canggung.


Mereka berjalan mendekati Lilian yang sedang memperhatikan penyangraian biji kopi.


"Baunya harum sekali." Ucap Asgar.


"Ya tentu saja." Ucap Lilian tersenyum senang.


Setelah memastikan bijinya benar-benar menghitam Lilian kemudian menyuruh pelayan agar mengangkatnya dan membiarkan biji kopi dingin sebentar agar tidak terlalu panas saat proses penumbukan.


"Selanjutnya tumbuk biji-biji itu sampai halus, dan gunakan kain yang kemarin untuk mengayak supaya kita bisa mendapatkan bubuk kopi yang siap kita nikmati." Ucap Lilian.


Kemudian para pelayan melakukan hal yang diarahkan oleh Lilian. Setelah beberapa waktu berlalu, Lilian memeriksa bubuk kopi yang selesai di ayak.


"Baunya tambah harum saat ditumbuk." Ucap Artem.


"Ya...bubuk kopinya sudah jadi." Ucap Lilian senang.


Artem kemudian mengambil sedikit bubuk kopi dan mencobanya. "Baunya saja yang harum namun rasanya pahit." Ucap Artem.


"Tentu saja pahit, bubuk kopinya belum kita campurkan dengan gula atau susu, karena setelah ini aku masih harus membuat mentega jadi sudah ku putuskan untuk menyeduhnya menjadi minuman besok saja." Ucap Lilian.


"Jadi kami harus menunggunya sampai besok ?" Tanya Seint.


"Tentu saja, kalau kau tak bisa maka jangan datang." Ucap Lilian.


"Baiklah kami akan menunggu sampai besok." Ucap Seint mengalah.


Setelah memutuskan untuk membuat minuman besok, Zheyan dan Artem kembali ke istana untuk mengerjakan tugas yang belum sempat mereka selesaikan sedangkan Zheyan dan Artem menemani Lilian untuk membuat mentega.


°°°

__ADS_1


Author dari kemarin sangat penasaran mau menanyakan ini, "ada tidak yang menunggu UP dari Author?". Itu saja si 🤭


__ADS_2