Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
144. Kondisi Lilian


__ADS_3

Sedari tadi Lilian masih setia menutup kedua matanya. Setelah kepergian Rosa, semua tugas yang biasa dikerjakan oleh Rosa diambil alih oleh Nora pelayan Lilian saat berada di Istana. Setelah selesai membersihkan diri, Nora membantu Lilian untuk menyiapkan diri agar segera berangkat menuju Istana karena harus ikut membantu persiapan perayaan atas kemenangan mereka dalam melawan para penghianat.


Sebelumnya Lilian sudah merasa sangat baikan dan siap melakukan aktifitasnya kembali namun baru beberapa langkah Lilian bangun dari kursi riasnya, Lilian jatuh dan tidak sadarkan diri.


Dengan Panik Nora berteriak untuk meminta bantuan untuk Lilian. Dari arah pintu masuk, Zheyan dan Asgar memasuki kamar Lilian dan melihat Lilian terbaring lemah di atas lantai kamarnya. Dengan sigap Zheyan langsung mengangkat Lilian ketempat tidurnya sedangkan Asgar memerintahkan Nora untuk memanggil tabib agar segera datang memeriksa kondisi tubuh Lilian.


Tidak lama Nora kembali dengan seorang tabib keluarga yang biasa memeriksa kondisi tubuh Lilian. Tabib tersebut mengerutkan kening bingung saat memeriksa kondisi tubuh Lilian. Tubuh Lilian memiliki suhu yang sangat dingin, biasanya kondisi itu hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah mati namun Lilian masih menghembuskan napas secara teratur.


Akhirnya Tabib memutuskan untuk membuatkan Lilian obat untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Setelah mencatat bahan yang diperlukan, Nora kembali keluar dengan membawa kertas tersebut untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk membuat obat bagi Lilian.


Tidak lama Nora keluat, suara langkah kaki kembali terdengar memasuki kamar Lilian. Seint dan Artem dengan tergesa berjalan menuju tempat tidur Lilian. Seint mengambil tempat di samping Lilian dan memeriksa suhu tubuh Lilian.


"Suhu tubuhnya sangat dingin ... Apakah suhu ini normal untuk orang yang masih hidup?" Tanya Seint khawatir.


Zheyan dan Asgar langsung menatap serius ke arah Tabib untuk mendengar apa jawaban darinya.


Tabib langsung menunduk sopan. "Ampun Yang Mulia ... Maaf jika saya lancar namun saya harus mengatakan hal ini. Sebenarnya kondisi Putri Mahkota tidak wajar untuk seseorang yang masih hidup namun setelah saya memeriksa nadi Putri Mahkota semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal yang aneh selain suhu tubuhnya yang tidak normal. Saya sedang berusaha membuatkannya obat agar suhu tubuhnya kembali normal." Jelasnya.


"Apakah Anda sudah memeriksanya dengan betul-betul? Bagaimana bisa seorang yang memiliki suhu tubuh tidak normal namun tidak ada hal lain yang janggal dalam tubuhnya." Tanya Artem penasaran.


"Maaf Tuan namun saya sudah memeriksanya beberapa kali. Hasilnya tetap sama, biarkan obat yang akan saya buat bereaksi terlebih dahulu setelahnya kita lihat lagi apa yang aneh dengan kondisi Putri Mahkota." Jawab Tabib.


Zheyan menghembuskan napas pelan. "Kapan Nora kembali? Ia pergi begitu lama dan sampai sekarang masih belum kembali juga."


"Iya ... Mungkinkah persediaan bahan-bahan itu tidak ada disini? Jika benar iya maka sebaiknya aku pergi mencari saja." Ucap Asgar.


Namun sebelum Asgar melangkahkan kakinya, Nora datang dengan membawa beberapa bahan ditangannya. Tabib itu langsung membuatkan obat untuk Lilian. Tidak lama kemudian, Tabib itu selesai membuatkan obat dan langsung meminumkannya kepada Lilian.


Tidak lama obat itu mulai bereaksi pada tubuh Lilian. Suhu tubuh Lilian kembali normal namun gadis itu masih belum membuka matanya. Tabib kembali memeriksa kondisi tubuh Lilian namun tidak menemukan keanehan setelah ia memeriksanya.


"Ini kasus yang aneh ... Tubuhnya sudah kembali normal dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dalam kondisi Putri Mahkota namun Yang Mulia sudah lama tidak sadarkan diri, seharusnya Putri Mahkota sekarang sudah sadar." Jelas Tabib.


"Anda adalah seorang Tabib ... Seharusnya tahu mengapa kondisinya seperti ini." Kata Seint dengan raut wajah marah.


"Benar ... Jika Yang Mulia baik-baik saja maka seharunya ia sudah lama sadar namun ini sudah sangat lama namun mengapa ia tidak bangun-bangun juga?" Tanya Artem.


"Ampun Yang Mulia saya benar-benar tidak tahu. Tubuhnya sudah normal namun entah mengapa Putri Mahkota tidak sadarkan diri." Kata Tabib takut.

__ADS_1


"Kalau Anda yang Tabib saja tidak tahu bagaimana dengan kami? Apa mungkin adik saya tertidur?" Tanya Zheyan masih berpikir positif.


Tabib tersebut tidak berani menjawab karena takut akan salah jawab. Tidak lama tangan Lilian mulai bergerak yang menandakan Lilian mulai tersadar.


"Tangan Lilian tadi bergerak ... Aku melihatnya tadi!" Sorak Asgar girang.


Semua mata menatap kearah Lilian dan tidak lama tangan Lilian kembali bergerak dan membuka kedua matanya. Lilian memperhatikan sekelilingnya dan sudah ada banyak orang yang telah menunggunya siuman.


"Sejak kapan kalian disini?" Tanya Lilian dengan suara seraknya.


"Jangan berbicara dulu! Tabib segera periksa keadaannya!" Perintah Seint.


Tabib langsung mengangguk pelan kemudian kembali memeriksa kondisi Lilian. "Sama seperti sebelumnya ... Kondisi Putri Mahkota baik-baik saja." Jawabnya.


Semua orang kembali menatap kearah tempat Lilian berbaring. Lilian hanya menatap mereka semua dengan raut wajah bingung.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Lilian.


"Seharusnya kami yang bertanya padamu! Sebenarnya ada apa dengan mu? Mengapa tiba-tiba kamu tidak sadarkan diri?" Tanya Asgar beruntun


Seint menghembuskan napas pelan. "Sebaiknya kamu tidak perlu ke Istana untuk membantu, di sana sudah banyak orang yang berkerja. Tubuhmu butuh istirahat, kamu hanya perlu berangkat pas acaranya, itupun jika kondisi mu memungkinkan mu untuk menghadirinya." jelasnya.


"Aku baik-baik saja ... Dan aku tidak merasakan sakit apapun ditubuh ku." Ucap Lilian.


"Lalu bagaimana bisa kamu jatuh tidak sadarkan diri?" Tanya Zheyan.


"Entahlah ... Akhir-akhir ini tubuhku bereaksi sangat aneh. Aku merasa sangat sehat namun diwaktu tertentu aku merasa lelah padahal sedang tidak mengerjakan apapun." Ucap Lilian.


"Sejak kapan kondisi Yang Mulia mulai seperti itu?" Tanya Artem.


Lilian tampak berpikir sebentar. "Beberapa hari ini ... Mungkin karena terakhir kali aku memiliki banyak pikiran sehingga aku mudah lelah." Jawab Lilian.


Zheyan kemudian menatap Tabib yang sedari hanya diam saja. "Apakah Anda tahu mengenai kondisi adik saya saat ini?" Tanyanya.


Tabib tersebut menunduk takut. "Untuk sekarang saya belum bisa memastikan namun saya akan membuatkannya obat untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya supaya tidak mudah jatuh sakit. Saya juga akan memantau kondisi Putri Mahkota selama mengkonsumsi obat itu supaya saya tahu apa yang sebenarnya yang Putri Mahkota alami saat ini." Jawabnya.


"Baiklah ... Sebaiknya Anda segera membuatkannya obat supaya kondisi tubuhnya kembali sehat seperti semula." Kata Zheyan yang diangguki cepat oleh Tabib tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya saya undur diri dulu ... Saya harus secepatnya menyiapkan obat untuk Putri Mahkota." Ucap Tabib menunduk hormat.


"Baiklah." Ucap Zheyan.


Tabib tersebut secepatnya keluar kamar Lilian untuk membuatkan gadis itu obat. Nora bahkan mengikuti tabib tersebut untuk mencatat semua bahan yang akan dijelaskan oleh tabib itu.


Setelah kepergian Tabib itu, semua mata kembali tertuju kearah Lilian yang sedang berbaring.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu untuk memulihkan kondisi mu." Ucap Zheyan yang diangguki oleh Asgar.


"Baiklah." Jawab Lilian


Zheyan mengangguk pelan kemudian menatap kearah Seint. "Saya undur diri terlebih dahulu Yang Mulia ... Ada yang harus saya kerjakan. Jika Yang Mulia masih ingin disini, tolong jaga dia." Ucapnya sambil menunduk hormat.


Seint hanya mengangguk pelan, setelahnya Zheyan dan Asgar keluar untuk menyelesaikan urusannya masing-masing.


"Bisakah kamu berjaga diluar?" Tanya Seint sambil menatap Artem serius.


Mengerti dengan tatapan yang Seint berikan, Artem akhirnya mengangguk pelan dan meninggalkan Seint dan Lilian berdua. Setelah kepergian Artem dan Nora, Seint langsung menatap serius kearah Lilian.


"Selain yang kamu jelaskan tadi, apa saja yang biasa kamu rasakan?" Tanya Seint dengan wajah dingin.


Lilian gugup melihat tatapan dari Seint. "Tidak ada lagi yang aku rasakan selain itu." Ucapnya mencoba menghilangkan rasa gugupnya.


"Lilian! Aku sedang bertanya serius kepada mu jadi jawablah dengan jujur. Semua orang bisa kamu bohongi namun tidak denganku." Tegas Seint.


Lilian menghembuskan napas pelan. "Memang susah untuk berbohong kepadanya." Batinnya.


"kamu tidak ingin menjawab pertanyaan ku?" Tanya Seint mulai tidak sabaran.


Lilian kembali menghembuskan napas pelan. "Penglihatan ku mulai memburam, Tubuhku sering menggigil hebat dan kadang jantungku seperti tidak berdetak namum aku masih bernapas dengan normal. Aku sudah menanyakan gejala ini pada Tabib namun saat memeriksa kondisi tubuh ku, mereka mengatakan jikalau aku baik-baik saja." Jelas Lilian.


"Sejak kapan?" Tanya Seint serius.


Lilian menatap Seint serius. " Sejak Citto dan Jiwa masa laluku menghilang." Jawabnya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2