
Setelah mendengar kondisi Lilian yang cukup parah dari tabib kemarin. Seint, Zheyan, Asgar, dan Artem pergi memeriksa kondisi kuda yang sebelumnya Lilian tunggangi.
Mereka menemukan luka gores disebelah kanan belakang kaki kuda yang di akibatkan oleh anak panah dan di kaki depan kuda tersebut masih tertancap sebuah anak panah. Seint kemudian mencabut anak panah yang berada di kaki kuda dan memeriksa anak panah tersebut.
Seint mengeraskan rahangnya, matanya menatap tajam dan tangannya mengepal erat anak panah tersebut. "Ini adalah anak panah dari kelompok kesatria elang." Ucap Seint dingin.
Artem kemudian berjalan mendekat ke arah Seint dan ikut memeriksa anak panah tersebut. "Yang Mulia benar...ini anak panah yang berasal dari kelompok kesatria elang." Ucap artem.
Zheyan dan Asgar diam memikirkan sesuatu. "Ini aneh...mengapa kelompok kesatria elang menyerang Lilian?" Tanya Asgar.
"Entahlah... Saya rasa keluarga kami tidak memiliki masalah dengan kelompok itu." Ucap Zheyan.
"Tidak kah kalian merasa ini sebuah taktik untuk mengelabui kita?" Ucap Seint dingin sambil menatap anak panah tersebut.
"Ya...Yang Mulia benar...setahu ku kelompok ini sangat banyak membantu perdamaian kerajaan kita...mereka selalu aktif dalam memerangi kejahatan." Ucap Artem.
"Kelompok ini dipimpin oleh Tuan Alban Benito...sejak Ayahnya meninggal ia mengambil alih posisi ayahnya menjadi pemimpin kelompok...tidak ada yang aneh selama masa kepemimpinannya...namun hari ini..." Ucap Seint mengepalkan tangannya marah.
Saat mereka sedang berdiskusi siapa dalang dari penyerangan Lilian, seorang prajurit datang untuk memberikan sesuatu.
"Mohon maaf Yang Mulia hamba datang mengganggu." Ucap prajurit.
"Ku harap kau membawa sesuatu yang penting." Ucap Seint sambil menatap tajam ke arah prajurit tersebut.
Prajurit tersebut mulai ketakutan melihat tatapan tajam dari Seint. "Ampun Yang Mulia...hamba datang membawa sesuatu yang hamba temukan di dekat Nona Lilian terjatuh di atas kudanya." Ucap prajurit tersebut dan memberikan sebuah botol kecil pada Seint.
"Dari mana kamu menemukan botol ini?" Tanya Seint tajam.
"Ampun Yang Mulia hamba menemukannya di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari lokasi Nona Lilian terjatuh." Ucap prajurit.
Seint mengangguk pelan. "Sekarang kamu boleh pergi." Ucap Seint dingin.
Seint menatap botol kecil itu lama kemudian ia membuka untuk memeriksa apa isi botol tersebut.
Mata Seint melebar melihat isi botol tersebut. "Ini..." Ucap Seint terjeda.
"Apa isinya Yang Mulia?" Tanya Asgar.
"Ini adalah botol racun, terakhir kali saya juga pernah melihat racun ini." Ucap Sein.
"Dimana?" Tanya Zheyan tak sabar.
"Terakhir kali saat saya memberantas pemberontak...salah satu dari pimpinan tertinggi mereka ingin menggunakan racun yang sama untuk melumpuhkan saya." Ucap Seint mengingat.
"Boleh saya lihat jenis racunnya Yang Mulia"? Tanya Asgar.
Seint kemudian menyerahkan botol kecil tersebut kepada Asgar. Mata Asgar membulat melihat jenis racun itu.
"Racun ini..." Ucap Seint terjeda.
__ADS_1
"Kau mengenalinya?" Tanya Zheyan.
Asgar kemudian mengangguk dan menatap ke arah Seint. "Saya adalah seorang bangsawan yang memiliki usaha di bidang mebel...sudah ada banyak tempat yang sudah saya jelajahi termasuk ke kerajaan-kerajaan lain." Ucap Asgar terjeda sebentar. "Jenis racun ini bukan berasal dari kerajaan kita namun racun ini dibuat di kerajaan Elmore." Lanjutnya.
Seint menatap bingung ke arah Asgar. "Tuan yakin?"
"Ya...jika kita menghirup racun ini maka kita akan merasakan sesak, mata memanas dan tak lama kita akan kehilangan kesadaran." Jelas Asgar.
"Lalu apa hubungan semua ini dengan Lilian?" Tanya Zheyan khawatir.
"Semuanya semakin rumit." Ucap Seint.
Mereka berempat mulai menyambungkan kejadian demi kejadian yang terjadi.
"Pertama Lilian terjatuh di atas kudanya disebabkan oleh anak panah yang berasal dari kelompok kesatria elang, kedua ditemukannya botol racun yang sama dengan para bandit, dan yang ketiga racun tersebut berasal dari kerajaan Elmore." Ucap Artem menyimpulkan pembahasan mereka.
"Saya rasa ini akan menjadi kasus yang panjang." Ucap Asgar.
"Meski kasus ini akan panjang dan memakan banyak waktu...saya tetap harus menemukan pelakunya." Ucap Zheyan dengan mata memanas, rahang mengeras dan tangan mengepal erat. " Orang ini telah berani menyakiti adik ku maka akan aku buat dia lebih menderita di banding yang di rasakan oleh adik ku." Lanjutnya.
"Kita harus lebih berhati-hati lagi dengan kasus ini, saya rasa ada banyak jebakan di dalamnya." Ucap Artem.
"Tuan benar...jangan sampai kita termakan jebakan mereka...ku rasa ada banyak pelaku adalan kasus ini." Ucap Zheyan.
"Untuk itu kita harus saling berkerja sama, laporkan sesuatu yang kalian curigai walaupun hanya hal kecil." Ucap Seint.
"Baik Yang Mulia." Ucap mereka serempak.
Mereka semua kemudian mengangguk setuju dengan ucapan Asgar kemudian berjalan bersama untuk melihat kondisi Lilian.
°°°
Suara seorang gadis yang terus memanggilnya semakin lama semakin membuat Lilian bingung dimana arah suara tersebut. Yang Lilian lihat hanyalah kegelapan tanpa ada sedikitpun cahaya.
"Lilian...." Suara itu kembali terdengar oleh Lilian.
"Lilian..." Suara itu lagi-lagi terdengar.
"Kemarilah!" Suara itu kembali terdengar.
"Ak..aku tidak bisa melihat mu di sini hanya ada kegelapan." Ucap Lilian gugup.
"Kemarilah Lilian!" Ucap suara itu lagi.
"Aku tidak bisa melihat mu...di sini sangat gelap dan aku tak tau kamu di mana." Ucap Lilian sesak.
"Berjalanlah terus ke depan maka kau akan menemukan ku." Ucap suara tersebut.
"Ak...aku...tidak bisa...di sini gelap." Ucap Lilian.
__ADS_1
"Maka teruslah berjalan maka kau akan menemukan cahaya." Ucap suara itu kembali.
Kemudian Lilian mengikuti saran dari suara tersebut dan terus berjalan ke depan hingga semakin lama Lilian berjalan ia dapat menemukan sebuah cahaya.
Setelah lama Lilian mengikuti cahaya tersebut akhirnya Lilian dapat keluar dari kegelapan tersebut dan menemukan sebuah taman yang begitu indah. Di sana ditumbuhi banyak aneka bunga salah satunya adalah bunga kesukaannya Daisy.
"Apakah ini yang namanya Surga? Apakah aku sudah mati?" Tanya Lilian pada dirinya sendiri.
Lilian mengarahkan pandangannya ke semua arah. "Tempat ini sangat indah dan begitu sejuk...lebih sejuk dari danau diujung ibu kota." Ucap Lilian kembali.
"Lilian.." Sebuah suara kembali terdengar yang membuat Lilian kaget.
"Astaga...aku kaget sekali." Ucapnya sambil mengelus dada.
"Berbalik Lah!" Ucap suara tersebut.
Kemudian Lilian berbalik dan menghalau cahaya yang datang dengan menggunakan kedua tangannya. Cahayanya begitu terang membuatnya tidak bisa melihat dengan jrlas siapa orang yang berada di depannya.
"Kau terlalu bersilau...membuatku tidak bisa melihat mu dengan jelas." Ucap Lilian sambil berusaha melihat orang yang berada di hadapannya.
Suara tawa terdengar dari orang yang berada dihadapan Lilian sekarang. "Untuk sekarang kau tidak bisa melihat ku dengan jelas namun suatu saat nanti kau akan bisa melihat ku dengan sangat jelas." Ucapnya.
Lilian bisa menebak orang yang berbicara dengannya adalah seorang gadis seusianya, tingginya juga sama dengannya dan gadis itu memiliki rambut panjang yang sama dengannya.
"Memangnya kau siapa? Dan dimana aku sekarang? Apakah aku sudah mati?" Tanya Lilian beruntun.
Gadis itu tersenyum. "Aku adalah kau...sekarang kita ada di alam bawah sadar mu dan kau saat ini belum mati." Ucap gadis tersebut.
"Aku adalah kau? Apa maksudnya?" Tanya Lilian bingung.
"Raga yang kau tempati sekarang adalah aku." Ucap gadis tersebut.
"Ka...kau...kau adalah Lilian asli? Selama ini kau dimana saja dan mengapa aku ada ditubuh mu?" Tanya Lilian tak sabar.
"Kau akan menemukan semua jawaban yang ingin kau tanyakan nanti namun sekarang yang bisa aku beritahukan adalah jaga dirimu baik-baik selama kau ada dalam tubuh ku...untuk kunci yang kau cari selama ini...Kak Asgar tau bagaimana cara menemukannya." Ucap gadis tersebut.
"Mengapa kau tak mengambil kembali tubuh mu ini?" Tanya Lilian penasaran.
"Itu adalah tugas mu untuk mencari tau...di sini kau memiliki sebuah misi yang harus kau selesaikan." Ucap gadis itu lagi.
"Kenapa harus aku? kenapa bukan kau sendiri saja?" Tanya Lilian.
"Karena pikiran mu sekarang jauh lebih matang dibandingkan aku...sekarang pulanglah dan selesaikan misi mu...oh ya Seint terlebih dahulu terpikat oleh ku...kau hanya melanjutkannya saja maka jaga dia baik-baik untuk ku jangan sampai ia terpikat oleh gadis lain." Ucapnya.
Sebelum Lilian menjawab, gadis itu terlebih dahulu mendorong tubuhnya dengan kencang. Lilian menutup matanya dan merasa tubuhnya ditarik dari belakang hingga ia tidak bisa bernafas dengan normal.
Sesaat kemudian Lilian membuka matanya dengan napas ngos-ngosan. Ia melihat ada banyak raut wajah khawatir yang orang-orang arahkan padanya.
°°°
__ADS_1
Halooooooo para Raiders ter ❤️❤️❤️.. bagaimana keadaan kalian hari ini? Semoga baik-baik saja....
Happy Reading ♥️♥️♥️