Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
106. Khawatir


__ADS_3

Asgar memeriksa racun yang telah menyebar ke tangan Seint. Racun itu berkerja sangat cepat membuat Seint harus menahan rasa sakit. Setelah memastikan racun itu, Asgar kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam kantongnya.


"Racun ini berasal dari kerajaan Elmore. Nanti saya jelaskan jika tangan Yang Mulia telah diberikan obat." Ucap Asgar.


Setelah mendapat persetujuan dari Seint, Asgar kemudian mengobati tangan Seint yang telah membiru dan memberikannya sebuah pil kecil yang harus Seint telah segera.


Beberapa waktu berlalu, Seint mulai merasakan reaksi obat tersebut. Tangan Seint terasa terbakar namun ia masih tetap bisa menahannya. Setelah beberapa waktu, tangan Seint kini mulai kembali ke warna semula. Hanya saja lukanya masih tetap harus diobati dan diberikan salep.


Setelah merasa lebih baikan Seint menatap ke arah Zheyan serius. "Periksa kondisi Lilian. Apakah ia baik-baik saja selama didalam tenda." Ucapnya.


Zheyan kemudian mengangguk pelan dan berjalan cepat menuju tenda Lilian. Artem pergi mengambil air untuk membasuh tangan Seint yang penuh dengan darah.


"SEINT!!" Teriak Lilian.


Seint langsung menatap ke sumber suara, ia melihat Lilian berlari dengan tergesa menuju kearahnya.


Napas Lilian tercekat melihat tangan Seint yang terluka. Lilian duduk didekat Seint dan menatap tangan Seint lama. Terdengar suara isak tangis dari Lilian saat melihat tangan Seint.


"Hei ... Kenapa menangis? Aku baik-baik saja!" Ucap Seint.


"Bagaimana bisa baik-baik saja ... Tangan mu berdarah dan terlihat membiru." Ucap Lilian sambil terisak.


Seint berniat menghapus air mata Lilian namun terhenti saat melihat tangannya penuh dengan darah.


"Aku baik-baik saja. Tanganku juga sudah diobati." Ucap Seint.


Tiba-Tiba Artem datang dengan membawa air untuk mengelap luka Seint. Lilian mengambil air beserta kain lap ditangan Artem dan mengelap tangan Seint.


"Tidak bisakah agar kamu tidak terluka?" Ucap Lilian sambil terisak kecil.


"Bisakah kamu jangan menangis? Aku tidak bisa melihat mu menangis seperti ini. Ini hanyalah luka kecil, lelaki manapun pasti tidak akan merasakan sakit sepertiku." Jelas Seint dengan suara lembut.


Semua orang yang menyaksikan obrolan Seint dan Lilian terdiam dan merasa canggung. Tidak ingin melihat obrolan Seint dan Lilian lebih lama lagi, Artem akhirnya memberi kode ke semua orang agar meninggalkan keduanya.


Setelah kepergian semua orang, Seint mengacak pelan rambut Lilian. "Ini hanya luka kecil, kamu tidak perlu merasa khawatir." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Lilian menatap ke sekelilingnya penuh dengan mayat orang-orang yang telah menyerang mereka. "Siapa mereka? Dan mengapa mereka menyerang kita?" Tanyanya.


Seint juga menatap ke arah tatapan Lilian. "Entahlah ... Masih kami selidiki. Kita mempunyai banyak musuh untuk itu kita tetap harus waspada." Jelasnya.


"Apakah mereka akan menyerang kita lagi setelah kejadian ini?" Tanya Lilian.


Seint mengangguk pelan. "Tentu saja. Sebelum kita menangkap para pelakunya, maka mereka akan tetap terus menyerang kita." Jelasnya.


Lilian menatap sendu kearah Seint. "Bisakah agar kamu tidak terluka?"


Seint menatap Lilian dengan lembut. "Lilian ... Aku ini adalah Pangeran Mahkota. Menjaga keamanan kerajaan kita adalah kewajiban ku. Sesekali mendapat luka karena bertarung bukan lagi hal yang perlu dikhawatirkan."


Air mata Lilian terjatuh tanpa ia sadari. Hatinya begitu merasa sakit mendengar ucapan dari Seint. "Berarti menghawatirkan mu adalah hal yang percuma?" Tanyanya.


"Bukan seperti itu maksudku. Di medan perang, terluka adalah hal yang wajar. Sesekali aku harus merasakan sakit bila ingin tetap maju. Jika luka seperti ini saja aku tidak bisa menahannya lalu bagaimana jika seandainya ..." Penjelasan Seint terhenti saat melihat air mata Lilian turun semakin deras dikedua pipinya.


"Ada kemungkinan kamu, Ayah, Kakak dan yang lainya akan terluka lebih dari ini jika dalam medan perang? Lalu maksudmu aku tidak perlu risau atau khawatir saat melihat kalian terluka? Apakah aku harus terus memasang wajah tersenyum melihat kalian terluka. begitu?" Emosi Lilian.


"Bukan begitu maksud ku." Ucap Seint.


Artem yang sedari tadi berjaga didekat keduanya segera berlari mendekat saat mendengar namanya dipanggil.


"Ada yang Yang Mulia butuhkan?" Tanya Artem.


"Obati lukanya!!" Ucap Lilian lalu berjalan meninggalkan Seint dan Artem.


Artem menatap heran kearah Lilian pergi. "Ada apa? Apakah kalian sedang berantem?" Tanya Artem menghilangkan formalitasnya.


Seint menghela napas. "Aku tidak pandai menjelaskan sesuatu dan membuatnya marah." Jelasnya.


"Makanya ... Kau harus banyak berinteraksi dengan orang lain. Kau berbicara banyak jika itu mengenai hal-hal penting saja. Sesekali kau berbaur dengan banyak orang." Ujar Artem sambil mengobati luka Seint.


"Kau sedang mengajariku sekarang?" Tanya Seint kesal.


"Percuma aku menghawatirkan mu ... Sepertinya keadaan mu baik-baik saja. Aku bahkan membunuh ketua dari orang-orang itu dengan sangat kejam karena melihat kau yang terluka. Untung saja Tuan Asgar memiliki penawar untuk racun itu, kalaupun tidak aku harus melapor apa pada Yang Mulia Raja." Gerutu Artem.

__ADS_1


"Kenapa kau menghawatirkan ku?" Tanya Seint serius.


Artem menghela napas pelan. "Tentu saja aku menghawatirkan mu Yang Mulia Pangeran Mahkota." Kesal Artem. "Kau adalah orang yang sangat dekat denganku, melihatmu terluka sama saja melihat diriku sendiri terluka. Sama halnya seperti kau memilih menolongku tadi, kau tidak akan merasa tenang melihat orang yang dekat dengan mu terluka." Jelasnya panjang.


Seint mengangguk pelan mencerna penjelasan dari Artem. "Jika Lilian khawatir kepadaku itu artinya dia tidak rela melihatku terluka?" Tanya Seint serius.


"Tentu saja! Memangnya apa yang kau pikirkan?" Tanya Artem kesal. "Ohh jangan-jangan kalian bertengkar hanya gara-gara hal sepele seperti itu?" Tanyanya tak habis pikir.


"Aku sudah bilang tidak pandai menjelaskan." Ketus Seint.


Artem menepuk keningnya pelan. "Sungguh bodoh!! Hal sepele seperti itu saja dibuat susah."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Seint.


Artem menatap Seint tidak percaya. "Masalah di medan perang kau begitu ahli!! Memahami hal seperti ini saja kau tidak tahu ... Menikah saja sama alat-alat perang sana jika kau tidak bisa memahami pasangan mu." Ketusnya.


"Kau sepertinya sangat pintar mengajariku sekarang!! Bagaimana kau begitu mengerti hal semacam itu jika kamu tidak memiliki pasangan?" Tanya Seint curiga.


"Tentu saja aku harus mengerti agar tidak bisa bernasib sama dengan mu. Seandainya aku bertemu dengan pasanganku nanti, aku tidak akan mengecewakannya." Jelas Artem sombong.


Seint menatap tajam kearah Artem. "Kau benar!! Umurmu sudah memenuhi untuk memilih pasangan. Saat kita nanti sampai di Istana, aku akan meminta secara khusu pada Ayahku untuk memilih pasangan untukmu." Kesalnya.


Artem membulatkan mata sempurna. "Jangan macam-macam dengan pasanganku!! Hanya aku sendiri yang berhak untuk memilihnya!! Awas saja jika kau benar-benar melakukan hal gila itu!!" Ketusnya.


Seint berdiri dari duduknya setelah Artem selesai mengobati lukanya. "Melihat kau yang seperti ini membuat ku sangat ingin agar segera sampai ke Istana." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Artem.


"Kau tidak boleh melakukan hal apapun dalam memilih pasanganku!!" Teriak Artem frustasi.


Seint tidak menghiraukan teriakan Artem dan berjalan mendekati Zheyan dan Asgar yang sedang menyelidiki orang-orang yang menyerang mereka.


"Ada petunjuk yang mereka tinggalkan?" Tanya Seint serius.


Zheyan mengangguk pelan. "Iya Yang Mulia."


°°°

__ADS_1


__ADS_2