Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
49. Latihan II


__ADS_3

Semua menatap satu sama lain secara bergantian, mereka bingung ingin memulai pembicaraan dari mana. Setelah kejadian Lilian memeluk Seint secara tiba-tiba akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di salah satu kursi taman.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" Tanya Artem bingung.


Asgar berdehem pelan. "Kami sedang latihan." Ucap Asgar.


"Tidak...mereka sedang menyiksa ku." Ucap Lilian sambil menatap ke arah Seint.


Seint mengangkat sebelah alisnya. "Menyiksa?" Tanya Seint.


"Ya...dari pagi mereka menyiksa ku dengan itu semua." Tunjuk Lilian ke arah alat yang akan digunakan untuk latihan.


Seint menatap ke arah tunjuk Lilian kemudian menatap ke arah Zheyan. "Benarkah?" Tanyanya.


Zheyan menghembuskan napas pelan. "Kami sedang latihan Yang Mulia bukan menyiksanya." Ucapnya.


"Latihan apa?" Tanya Seint.


"Kami sedang melatihnya agar bisa bertahan dan mengunakan pedang...sebelum masuk ke latihan inti...kami harus melatih ketahan fisiknya terlebih dahulu." Jelas Zheyan.


Seint menatap ke arah Lilian. "Lalu apa masalahnya?" Tanyanya.


"Masalahnya latihan-latihan itu terlalu berat." Ucap Lilian kesal.


Seint kembali melirik ke arah alat yang akan digunakan Lilian untuk latihan. "Setahu ku itu adalah latihan yang paling ringan." Ucap Seint


Lilian mengerucutkan mulutnya kesal. "Aku ini adalah perempuan seharusnya berikan latihan sesuai kemampuan ku." Ucap Lilian.


"Itu adalah latihan yang paling mudah untuk seorang perempuan." Ucap Seint.


Lilian menutup mulut tidak percaya. "Kalau itu latihan yang paling mudah lalu latihan yang paling sulitnya itu bagaimana?" Tanya Lilian kesal.


"Yang paling sulit adalah bisa sampai merenggut nyawa seseorang." Ucap Artem tiba-tiba.


Lilian melirik ke arah Artem. "Mana ada wanita yang mau mengorbankan nyawanya demi latihan." Ucap Lilian.


"Ada...sebagian prajurit di istana adalah seorang perempuan...bahkan ada yang memimpin sebuah pasukan...setiap hari mereka melakukan latihan yang berat terus." Ucap Artem.


"Kenapa mereka melakukannya?" Tanya Lilian.


"Karena mereka adalah seorang prajurit...mereka rela bertarung sampai mati demi kejayaan kerajaannya...mereka biasa disebut dengan Kesatria Wanita." Jelas Artem.

__ADS_1


"Ya itukan karena mereka seorang Prajurit yang memiliki tanggung jawab sebagai pelindung perdamaian kerajaan sedangkan aku hanyalah anak kecil yang lemah." Ucap Lilian.


"Kenapa baru sekarang kau mengakui kalau kau anak kecil yang lemah? tiap kali kamu kabur dari sini dan selalu tertangkap berada diluar kediaman...kamu tidak pernah mengaku jika kau adalah anak kecil yang lemah." Ucap Zheyan.


"Itukan beda..." Ucap Lilian tidak mau kalah.


"Apa bedanya?" Tanya Zheyan.


"Ya...ya...pasti beda." Ucap Lilian.


Zheyan menghembuskan napas pelan. "Lilian kami melakukan hal ini untuk mu...demi untuk melindungi mu...awalnya memang berat untuk mu namun lama kelamaan kamu oasti terbiasa." Ucap Zheyan.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Apakah cuman saya di sini yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini?" ucap Artem bingung dengan pembahasan mereka.


Asgar menatap ke arah Artem. "Begini Tuan...setelah kejadian tadi malam Paman Duke Marven telah memutuskan agar Lilian berlatih melindungi dirinya sendiri...kita tidak ada yang bisa menjamin keselamatan Lilian untuk kedepannya...bisa saja suatu hari nanti saat Lilian sedang sendiri akan ada yang berusaha menyakitinya untuk itu kami perlu melatihnya untuk bisa melindungi dirinya sendiri." Jelas Asgar.


"Menurut saya itu rencana yang bagus...Lilian seharusnya kamu bisa mengerti...latihannya memang akan berat diawal namun jika kamu terbiasa maka nanti kamu tidak akan merasa berat lagi." Ucap Artem sambil menatap Lilian.


Lilian menghembuskan napas berat. "Lalu aku akan terus berlatih sampai tangan ku patah?" Ucap Lilian kesal.


"Tidak sampai patah juga." Ucap Zheyan sambil tersenyum.


"Lilian...jika kita niat untuk melakukan sesuatu maka lelah pun tidak akan terasa...terkadang kita memang harus memaksakan diri kita dalam melakukan sesuatu agar kita mengetahui sampai mana batasan yang ada dalam diri kita." Ucap Zheyan.


"Lalu sampai kapan aku harus berlatih?" Tanya Lilian.


"Sampai kami yakin bahwa kamu bisa melindungi dirimu sendiri." Ucap Seint tiba-tiba.


Lilian menatap kesal ke arah Seint. "Aku pikir kau akan mendukungku." Ucap Lilian ketus.


"Jika latihan ini yang terbaik untuk mu kenapa aku harus mendukung mu?" Ucap Seint cuek.


"Lilian kau terlahir sebagai salah satu anak yang jenius dan semua orang tahu akan hal itu namun yang harus kau ketahui juga ada banyak rumor jelek di luar sana tentang dirimu...meski kau tidak perduli namun bagaimana dengan orang-orang sekitar yang menyayangi mu?" Ucap Asgar.


Lilian terdiam sebentar mencerna ucapan Asgar dalam pikirannya.


"Kau terlahir spesial Lilian...ada banyak orang yang akan mengincar mu, saat sebelum kau kehilangan ingatan mu...kau begitu cerdik menyembunyikan kemampuan mu namun setelah kecelakaan itu kau bagaikan lepas kendali...Ayah memiliki posisi tinggi di kerajaan ini pasti ada keluarga lain yang ingin memiliki posisinya...Ayah sudah banyak melakukan cara untuk melindungi dan membuat mu nyaman selama ini dan sekarang waktunya kau sendiri yang belajar bagaimana cara melindungi dirimu sendiri." Jelas Zheyan panjang


"Kau kan sudah besar dan sudah memiliki pemikiran yang dewasa...melawan Tuan Zafran saja kau bisa mengapa kau tidak bisa melawan dirimu sendiri?" Ucap Seint.


"Aku tahu kamu pasti bisa melampaui batasan mu Lilian...selama ini kau dijuluki sebagai gadis yang jenius dan untuk mengalahkan tantangan mu kedepannya seharusnya kau sudah memiliki rencana sendiri." Ucap Artem.

__ADS_1


"Aisss ya sudahlah..." Ucap Lilian pasrah.


Setelah beristirahat cukup lama, Lilian kembali melakukan latihannya. Setelah mendengar ucapan keempat lelaki tadi membuat Lilian menjadi bersemangat untuk membuktikan dirinya bahwa Lilian bisa.


Selama ini mungkin orang berpikir kalau Lilian itu adalah gadis lemah untuk itu Lilian harus melakukan latihan keras agar ia tidak lagi bergantung kepada orang lain. Lilian ingin membuktikan bahwa ia bisa melindungi dirinya sendiri.


Ayahnya Adalah seorang panglima perang dan Kakaknya calon panglima berikutnya, meski raga yang sekarang ini ia tempati bukan miliknya sendiri namun Lilian ingin membuktikan kepada semua orang bahwa raga ini juga ada dari pertemuan dua gen yang luar biasa.


Semangat dari Lilian membuatnya tidak merasakan lelah sama sekali, sudah berjam-jam lamanya Lilian melakukan latihan fisik yang membuat seluruh tubuhnya terasa sakit namun tekadnya sekarang adalah melindungi dirinya sendiri agar orang lain tidak mudah menyakitinya.


Artem memandang khawatir ke arah Lilian. "Apakah tidak apa-apa membuatnya melakukan latihan seberat itu?" Tanya Artem cemas.


"Mulai sekarang Lilian harus terbiasa merasakan rasa sakit itu...bagaimanapun dia tetap harus bisa melawan orang-orang yang akan menyakitinya..." Ucap Zheyan.


"Ya...Lilian harus bisa membalas orang-orang itu." Ucap Asgar.


Seint menatap tajam ke arah Asgar. "Membalas apa?" Tanya Seint dengan aura dingin.


Asgar meneguk ludahnya susah payah. dan menatap ke arah Zheyan.


"Lilian harus membalas orang-orang yang membuatnya kehilangan ingatannya." Ucap Zheyan serius menatap Seint.


"Jelaskan lebih rinci lagi." Perintah Seint tegas.


"Saat kami menyelidiki terus kecelakaan saat Lilian terjatuh di atas kudanya...kami menemukan fakta bahwa kejadian yang sama juga pernah Lilian rasakan...yaitu dimana kecelakaan yang mengakibatkan ia kehilangan ingatannya." Ucap Zheyan sambil menatap ke arah Lilian yang sedang giat berlatih.


"Ada yang sengaja memancing Lilian agar naik ketempat dia terjatuh...saat Lilian lengah kemungkinan orang itu mendorong Lilian...sebenarnya dari awal tabib tidak bisa menjamin Lilian bisa membuka matanya kembali dikarenakan saat terjatuh organ dalam Lilian rusak parah, namun setelah beberapa hari dirawat Lilian bisa melewati masa sulitnya dan entah keajaiban apa...tabib kembali mengatakan jikalau organ dalam Lilian secara tiba-tiba sembuh sendiri namun siapa sangka saat terbangun Lilian tidak bisa mengingat apapun sehingga kami tidak bisa bertanya lebih kepadanya." Jelas Zheyan lagi.


mereka semua terdiam mencerna ucapan Zheyan. "Apa mungkin sebelumnya Lilian terlibat masalah?" Tanya Artem.


"Entahlah...Lilian selalu membuat masalah untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya...sehingga kami tidak merasa heran jika dia bisa melakukan hal yang tidak orang bisa lakukan...mungkin saja saat aksi usilnya itu ia tidak sengaja menyinggung seseorang." Ucap Zheyan.


Mereka semua menghela napas pelas dan menatap ke arah Lilian. Entah masalah seperti apa yang sebelumnya Lilian hadapi sendiri begitu pikiran keempatnya.


°°°°


Halo semua para pembaca setia ku...terimakasih karena masih setia dengan cerita ku ini...terimakasih telah memberikan dukungan untuk Author agar tetap bisa terus berkarya..... semoga kalian tetap diberikan kesehatan ya....


Bagaimana untuk part yang ini? apakah kalian udah bisa menebak alur cerita untuk kedepannya? Kalau belum jelas apakah perlu Author perjelas lagi?


selamat membaca.......

__ADS_1


__ADS_2