
Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari, akhirnya Seint, Lilian, Artem dan beberapa pengawal Seint sampai di tempat tujuan saat matahari berada tepat di atas mereka
Tandus, satu kata yang cocok Lilian berikan untuk tempat itu. Sepanjang perjalanan menuju tempat penginapan, Lilian sibuk mengamati wilayah sekitar.
Tidak heran banyak penduduk yang tinggal di wilayah ini memilih tempat lain untuk dijadikan tempat tinggal melihat kondisi wilayah tersebut.
Tidak banyak orang yang berlalu lalang sepanjang perjalanan mereka. Tempat itu bisa dikatakan seperti kota mati yang tidak berpenghuni.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai ditempat penginapan. Kondisi tempat itu sangat lusuh, terlihat sudah sangat lama tempat itu tidak pernah dirawat dikarenakan kondisi keuangan mereka yang tidak memadai.
Di depan penginapan ada beberapa orang yang sepertinya sudah mengetahui kedatangan mereka. Beberapa laki-laki paruh baya berjalan mendekati mereka setelah semuanya turun dari kuda masing-masing.
"Hormat kami Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Putri Mahkota." Hormat mereka serentak.
"Mmmm." Gumam Seint.
"Perkenalkan nama saya Asadel, hamba dipercaya untuk memimpin daerah ini. Sebelumnya saya mohon maaf Yang Mulia karena telah menyambut kalian dengan cara seperti ini." Ucapnya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa ... Ini sudah lebih dati cukup." Jawab Seint datar.
"Silahkan masuk Yang Mulia ... Kami telah menyiapkan makan siang namun sekali lagi saya mohon maaf karena hanya menu sederhana yang bisa kami siapkan." Jelas Tuan Asadel.
"Tidak apa-apa." Ucap Seint kemudian menggenggam tangan Lilian untuk berjalan bersama.
Penginapan itu terlihat lusuh diluar namun sangat nyaman saat mereka memasukinya. Meski tidak ada barang yang mencolok didalamnya namun tempat itu sangat bersih dan rapih.
"Silahkan Yang Mulia." Ucap Tuan Asadel yang mengarahkan Seint dan yang lainnya untuk menempati tempat duduk yang telah mereka sediakan.
"Kita akan membahas tentang kondisi wilayah ini setelah Putri Mahkota beristirahat sebentar. Semalam ia hanya tertidur sebentar di karenakan kami harus secepatnya untuk sampai di sini." Jelas Seint panjang sambil menatap Lilian.
"Baiklah Yang Mulia." Ucap Tuan Asadel.
Mereka akhirnya memakan hidangan yang disediakan oleh orang-orang di sana. Meski sederhana, Lilian bisa melihat ketulusan dari orang-orang yang telah menyambutnya.
__ADS_1
°°°
Setelah beristirahat dan membersihkan diri, Lilian berjalan ketempat Seint dan yang lainnya berkumpul. Sudah ada banyak sekali orang-orang yang hadir di sana untuk membahas kondisi wilayah tersebut.
Seint menunjuk sebuah kursi yang berada disampingnya untuk Lilian duduki. Setelah melihat Lilian sudah duduk nyaman ditempatnya, Seint menatap ke aran Tuan Asadel Serius.
"Putri Mahkota telah hadir, silahkan sampaikan kondisi wilayah ini!!" Tegas Seint.
Tuan Asadel mengangguk singkat. "Kondisi di wilayah kami semakin hari semakin memburuk Yang Mulia. Sebagian besar penduduk wilayah ini memilih untuk meninggalkan tempat ini dan mencari tempat lain untuk mereka tinggali. Sebagai pemimpin wilayah ini saya merasa gagal karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk para penduduk di sini." jelasnya dengan raut wajah sendu.
"Masih tersisa berapa banyak orang yang memilih untuk tinggal?" Tanya Seint.
"Tiga puluh persen dari seratus persen Yang Mulia. Sekitar dua ratus orang termasuk anak kecil." Lapor Tuan Asadel.
Seint mengangguk singkat. "Dari mana kalian bisa mendapatkan bahan makanan selama ini?" Kali ini Lilian yang bertanya.
"Kami mendapatkan bahan makanan dari luar. Kami harus membayar dengan harga dua kali lipat karena letak daerah ini terlalu jauh dari Ibukota." Jawab Tuan Asadel.
"Kalian harus membayar bahan makanan dua kali lipat, lalu darimana kalian bisa mendapat penghasilan jikalau tempat ini tidak bisa kalian olah?" Tanya Lilian penasaran.
Lilian menatap sendu ke arah penduduk daerah itu. "Tidakkah kalian punya pikiran untuk pergi meninggalkan tempat ini?"
Tuan Asadel menunduk lesu. "Kami sudah lama tinggal di sini Yang Mulia. Tempat ini adalah sebagian hidup kami, tidak mudah bagi kami untuk meninggalkan tempat ini." Jawabnya.
"Sebelumnya upaya apa saja yang telah kalian lakukan?" Tanya Seint datar.
"Sudah puluhan kali kami menanam bibit dan berharap untuk tumbuh namun harapan kami selalu tidak terwujud. Kami sudah melakukan perawatan tanah dan menanam bibit yang berbeda namun tetap saja hasilnya gagal." Jelas Tuan Asadel sedih.
"Tidak bisakah kalian melakukan pekerjaan lain selain bertani? Kalian bisa mencoba melakukan pekerjaan lain seperti membuat alat perang atau lain sebagainya." Tawar Lilian.
Tuan Asadel menunduk lesu. "Kami telah mencoba Yang Mulia, namun karena jarak kami yang terlalu jauh maka bahan yang datang-pun memiliki harga yang mahal. Produk kami akan dijual dengan harga mahal sedangkan tempat lain menjualnya dengan harga murah. Orang-orang akan lebih memilih yang murah jikalau bahannya sama." Jawabnya.
"Bagaimana dengan sumber air disini?" Tanya Seint.
__ADS_1
"Kami memiliki sumber air yang melimpah Yang Mulia. Entah mengapa semua upaya yang telah kami lakukan selalu gagal, mungkin saja tanah di sini tidak cocok untuk kami tanami. Ada banyak sekali anak sungai di wilayah ini meski airnya terasa aneh." Jelas Tuan Asadel.
"Aneh kenapa?" Tanya Lilian.
"Air yang mengalir di semua anak sungai terasa hangat meski pagi-pagi buta." Jelas Tuan Asadel.
Lilian menatap Tuan Asdel serius. "Apakah penduduk di sini menggunakan air itu untuk minum dan sebagainya?" Tanyanya.
Tuan Asadel menggeleng pelan. "Tidak Yang Mulia, kami mengkomsumsi air ditempat lain. Di daerah dekat sini ada sebuah air terjun yang airnya begitu segar. Karena air itu lebih segar kami memutuskan untuk mengkosumsi air itu." Jelasnya lagi.
"Sebelumnya ada yang pernah menyelidiki tentang air sungai itu?" Tanya Seint.
Tuan Asadel mengangguk cepat. "Sudah Yang Mulia. Kami menggunakan air itu untuk menyiram tanaman kami, jadi para ahli datang memeriksanya namun para ahli tidak menemukan keanehan pada air itu." Jawabnya.
Lilian mengangguk pelan. "Ada gunung berapi di dekat sini?" Tanya Lilian.
"Ada Yang Mulia. Anak sungai itu terbentuk dikarenakan sisa lahar dari gunung berapi." Jawab Tuan Asadel.
Lilian membulatkan mata sempurna mendengar jawaban Tuan Asadel. "Itu dia jawabannya!" Pekik Lilian keras.
"Ada apa? Apakah kamu mengetahui sesuatu? Tanya Seint penasaran.
Lilian mengangguk antusias. "Jika tebakan ku benar maka tempat ini akan menjadi salah satu sumber penghasilan terbesar untuk kerajaan kita." Jawab Lilian dengan raut wajah serius.
Semua orang menatap tidak percaya ke arah Lilian. Selama ini ada banyak sekali orang yang meneliti tempat itu, namun belum ada yang bisa menyimpulkan apapun. Lilian belum sampai sehari berada di sana namun gadis itu langsung menyimpulkan sesuatu yang besar.
"Yang Mulia yakin?" Tanya Tuan Asadel ragu.
"Saya belum yakin!" Ucap Lilian yang membuat semua orang kembali lesu. "Saya belum yakin karena hanya mendengar cerita darimu. Untuk meyakinkan saya maka bawalah saya ke tempat itu!!" Ucap Lilian antusias.
Semua orang kembali menatap Lilian dengan raut wajah harap. Penduduk memiliki sedikit harapan mendengar ucapan Lilian. Selama ini mereka belum pernah mendengar sedikitpun harapan dari para ahli. Sehingga mereka tidak ingin terlalu berharap dengan ucapan Lilian.
Lilian memaparkan semua bahan yang ia perlukan untuk memastikan sesuatu yang ia simpulkan. Setelah semua bahan tersedia, Seint memerintahkan semua orang agar pergi ke tempat yang mereka ceritakan.
__ADS_1
°°°