Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
26. Membuat Kopi dan Coklat


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah secerah hati Lilian saat ini. Sedari ia bangun dari tidurnya Lilian tak henti-hentinya untuk tidak tersenyum.


Hari ini adalah hari yang Lilian tunggu-tunggu, dimana Lilian akan membuktikan kata-katanya. Meski orang-orang terdekat mempercayai kata-katanya namun Lilian bisa melihat tatapan tak yakin selalu mereka tujukan pada Lilian.


"Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba, untuk pertama kalinya aku akan membuat kopi dan coklat panas disini." Ucap Lilian pada diri sendiri saat ia sedang bercermin di dalam kamarnya.


Saat Lilian sedang merapikan gaunnya, suara langkah kaki terdengar memasuki kamar Lilian dan berjalan mendekat ke arah Lilian.


"Pangeran Mahkota, Tuan Artem dan Tuan Asgar telah tiba Nona, Tuan Duke Marven menyuruhmu agar segera keruang tamu." Ucap Rosa sopan.


"Kalau begitu ayo kita pergi." Ucap Lilian dan berjalan menuju ruang tamu yang diikuti oleh Rosa dibelakangnya.


Saat sampai diruang tamu, Lilian dapat melihat di sana sudah ada Seint, Zheyan, Artem, Asgar dan kedua orang tuanya yang sedang mengobrol.


"Selamat pagi semua." Ucap Lilian sopan.


"Selamat pagi juga." Ucap semuanya.


"Bagaimana keadaan mu pagi ini? Tubuh mu masih sakit?" Tanya ibunya.


"Tidak ibu, berkat minuman yang dibuat oleh Rosa tubuhku jadi segar kembali." Ucap Lilian kemudian melirik ke arah Rosa. "Terima kasih ya." Ucap Lilian yang di angguki oleh Rosa.


"Memangnya kamu kenapa Lilian?" Tanya Zheyan bingung.


"Ahh tidak ada apa-apa kok, semalam tubuhku hanya pegal-pegal saja karena terlalu banyak beraktifitas tapi sekarang sudah jauh lebih baik kok." Ucap Lilian sambil tersenyum.


"Lain kali kau tak perlu memaksakan diri." Ucap Zheyan.


"Baik Kakak." Ucap Lilian.


"Istirahatlah...kami akan datang lain waktu." Ucap Seint dan mulai berdiri dari duduknya.


Lilian membulatkan matanya mendengar ucapan Seint. "Enak saja...aku sudah sedari lama menunggu hari ini, bahkan hari ini aku bangun sangat pagi, iyakan Rosa." Ucap Lilian kesal dan menatap ke arah Rosa.


"Benar yang mulia." Ucap Rosa.


"Kamu lagi sakit." Ucap Seint


"Siapa yang bilang aku sakit? Kamu tak lihat aku segar begini?" Ucap Lilian.


"Aku yang bilang." Ucap Seint.


"Si datar ini bikin kesal aja, kalau begini caranya aku harus mengeluarkan jurus andalan." Batin Lilian.


Kemudian Lilian berjalan mendekati Seint lalu memegang tangannya dan mengarahkan satu tangan Seint di keningnya.

__ADS_1


"Aku tidak sakitkan?" Tanyanya selembut mungkin dengan ekspresi yang sangat dibuat semenggemaskan mungkin.


Seint bahkan tidak bisa bernafas saat Lilian menatapnya layaknya seperti anak kecil yang sedang meminta mainan, segera Seint memalingkan wajahnya saat merasa jantungnya berdetak dengan cepat karena berada didekat Lilian. "Ba...baiklah, mundur sedikit... bukankah disini sangat panas." Ucapnya sambil membuang napasnya kesamping dan mengipasi wajahnya dengan telak tangannya.


Lilian tersenyum mendengar persetujuan dari Seint dan memutar tubuhnya kebelakang. Lilian bingung melihat semua orang menatapnya dengan tatapan yang tak ia mengerti.


"Ada apa dengan kalian semua?" Tanya Lilian.


Duke Marven berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang terjadi. Mereka semua tak menyangka Lilian akan memberikan tatapan semenggemaskan itu untuk membujuk Seint. Terlebih respon yang Seint tunjukkan adalah ia yang salah tingkah saat ditatap oleh Lilian sedangkan Lilian sendiri terlihat baik-baik saja.


"Kalau begitu apa yang kalian tunggu? Ayo kita pergi kedapur." Ucap Lilian.


"Untuk apa?" Tanya Asgar bingung.


"Ya...untuk membuat minuman lah apalagi? Kalian ini kenapa sih?" Ucap Lilian mulai kesal.


"Oh iya...kita memang harus secepatnya kesana." Ucap Zheyan Lalu berdiri dari duduknya.


Semua orang berdiri dari duduknya masing-masing dan berjalan mengikuti Lilian yang berjalan duluan menuju dapur.


"Tunggu pembalasan ku Lilian akan aku balas, kau yang memulai perang ini maka tunggu dan lihat saja." Batin Seint sambil menatap horot ke arah punggung Lilian.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Artem pelan pada Seint yang sekarang mengeluarkan aura suramnya.


"Ya." Ucap Seint datar sambil menatap punggung Lilian tajam.


°°°


Setelah menyuruh para pelayan agar menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan, sekarang Lilian mengarahkan koki kediamannya untuk memperhatikan langkah-langkah pembuatan kopi dan coklat. Supaya jika nanti dibutuhkan pas festival koki dikediamannya sudah mengerti cara pembuatannya.


Pertama Lilian merebus air dan susu sapi dulu, sembari menunggu air dan susunya mendidih Lilian menyiapkan bahan untuk membuat kue. Karena menteganya belum bisa dibuka maka Lilian membuat kue yang bahannya tak perlu menggunakan mentega.


Lilian kemudian mencampur semua bahan tersebut dan memanggang dalam tungku yang biasa koki kediamannya gunakan untuk memanggang roti.


Setelah air dan susunya mendidih, Lilian menuangkan air panas kedalam teko lalu mencampurkan bubuk kopi secukupnya menurut Lilian kemudian menambahkan gula dan mengaduknya. Bau khas kopi hitam bisa tercium di seluruh ruang dapur kediaman Duke Marven.


"Ini adalah jenis kopi yang mahal di duniaku dulu, rasa dan aromanya begitu kuat." Gumam Lilian pelan.


Semua orang yang hanya menyaksikan Lilian sedari tadi hanya bisa meneguk ludahnya sendiri saat mencium bau harum kopi yang begitu nikmat tercium di seluruh ruangan.


Setelah selesai menyeduh kopi yang hanya dikasih gula tadi, kini Lilian kembali menuangkan susu panas dalam sebuah teko dan memasukan bubuk kopi dan sedikit gula didalamnya lalu mengaduknya. Bau harum kembali tercium namun kali ini baunya tidak terlaku kental seperti yang pertama, ada bau khas susu yang gurih tercampur dalam kopi tersebut.


Kemudian Lilian menuangkan susu lagi kedalam teko dan memasukkan bubuk coklat, gula, sedikit kayu manis dan madu lalu mengaduknya. Bau harum kembali tercium ke seluruh ruangan.


Setelah selesai dengan minumannya, Lilian kemudian membuka tungku dimana tadi ia memanggang kue coklat. Bau harum kembali mengisi seisi ruangan namun kali ini baunya sangat menggunggah membuat semua orang tak tahan untuk bertanya.

__ADS_1


"Apakah belum selesai?" Tanya Zheyan sambil melirik kue yang Lilian pegang.


"Sebentar lagi, hanya tinggal toping nya saja." Ucap Lilian.


Semuanya mengangguk kemudian membiarkan Lilian menyelesaikan pekerjaannya. Lilian kemudian memasukan bubuk coklat kedalam susu yang sudah dipanaskan lalu mengaduknya sebentar kemudian mengangkatnya lalu menyiram coklatnya di atas kue.


"Selesai." Ucap Lilian girang, "Pelayan bawa teko-teko ini ke meja sana." Tunjuk Lilian ke tempat semua orang duduk.


Kemudian para pelayan membawa teko-teko, tersebut kehadapan Duke Marven dan lainnya duduk, setelahnya Lilian datang dengan membawa kue ditangannya.


"Lilian apa yang kamu bawa? Baunya sangat harum sekali." Ucap Asgar.


"Tentu saja, ini namanya kue coklat, "Ucap Lilian senang. "Ayo silahkan dicoba." Lanjutnya sambil memotong kue tersebut.


Kemudian mereka mengambil sepotong kue dan mencobanya. Mata mereka terbuka sangat lebar saat mencoba kue tersebut. Rasa dari kuenya tidak terlalu manis namun gurih, saat dimasukan didalam mulut seakan meleleh sendirinya tanpa dikunyah.


"Lilian ini adalah kue terenak yang pernah ibu coba." Ucap Illyria senang.


"Tentu saja, aku sebelumya sudah pernah bilang kalau pohon diperkebunan kita akan membawa keuntungan untuk keluarga kita." Ucap Lilian senang.


"Kau benar Lilian, Kakak bahkan tidak yakin dengan ucapan mu namun hari ini Kakak mendukung mu sepenuhnya." Ucap Zheyan pada Lilian.


"Bagaimana bisa kuenya bisa seenak ini? Sebelumnya Ayah pernah mencoba bubuk coklat itu namun rasanya sangat pahit, saat kau memasukan bubuk coklat itu kedalam adonan kue mu, Ayah menjadi khawatir kalau kuenya akan pahit, namun saat Ayah mencoba kuenya memang sedikit pahit tapi itu yang membuat rasanya berbeda dengan kue lain" Ucap Duke Marven.


"Itu adalah salah satu kelebihan dari coklat Ayah, bukan hanya dijadikan kue saja, coklat juga bisa dijadikan minuman seperti ini." Tunjuk Lilian ke salah satu teko berisi coklat.


Lilian kemudian menuangkan coklat yang masih sangat panas itu ke gelas mereka masing-masing. "Ayo di cobalah." Ucap Lilian.


Mereka semua kemudian meminum coklat panasnya. Semua mata menatap takjub kearah gelas yang masih tersisa coklat tersebut.


"Lilian selain baunya yang enak, rasa dari coklat ini benar-benar enak dan menenangkan." Ucap Artem.


"Tentu saja, manfaat dari coklat itu salah satunya meningkatkan perasaan bahagia dan ada banyak lagi, sisanya akan aku jelaskan pada saat festival nanti jadi kalian harus membawa banyak koin untuk memasuki kedai ku nanti, mengerti?" Ucap Lilian menatap Seint dan Artem bergantian.


Keduanya kemudian mengangguk singkat dan mata Seint beralih ke kedua teko yang tersisa.


"Terus ini apa?" Ucap Seint sambil menunjuk dua teko yang tersisa.


Semua mata kemudian menatap ke arah tunjuk Seint dan menatap Lilian dengan tatapan seakan-akan bertanya apa sisa dari dua teko tersebut.


"Ini adalah kopi yang aku tambahkan susu sebagai pengganti airnya." Jelas Lilian, "Silahkan diminum." Ucap Lilian sambil menuangkan kopi ke masing-masing gelas.


Setelah meminum kopi yang Lilian berikan, semua orang terdiam cukup lama. Berbeda saat mereka mencoba coklat yang langsung mereka berikan tanggapan.


"Ada apa? Apakah tidak enak?" Ucap Lilian deg-degan.

__ADS_1


°°°


Jangan terlalu di hayati bacanya ya... ingat ini lagi bulan puasa 🤭


__ADS_2