
Setelah merasa baikan, Lilian memutuskan untuk pergi bersama Seint dan yang lainnya untuk memeriksa tempat yang sering orang-orang dari kerajaan Elmore kunjungi.
Pertama mereka mengunjungi sebuah air terjun yang terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk. Sejak pertama kali memasuki wilayah barat, kesan Lilian pada tempat itu adalah gersang, tandus dan panas.
Berbeda halnya dengan tempat air terjun itu berada. Suasananya sangat sejuk dan meski tidak terdapat banyak pohon namun tempat itu setidaknya memiliki warna lain selain warna tanah yang tandus.
Tidak ada banyak tumbuhan yang tumbuh sekitar air terjun itu mengalir. Hanya ada beberapa tumbuhan liar dan lumut saja. Lilian membasuh mukanya menggunakan air terjun itu dan merasakan sensasi segar diwajahnya.
"Segarnya ... " Pekik Lilian senang.
"Air terjun inilah yang saya maksud Yang Mulia. Air dari tempat ini yang sering kami gunakan untuk minum dan sebagainya." Jelas Tuan Asadel.
Lilian mengangguk pelan kemudian kembali mengambil air menggunakan tangannya dan meminumnya. Lilian mengerutkan kening bingung saat merasakan rasa itu. "Apa cuman perasaan saya saja? Air ini rasanya manis!" Ujar Lilian.
Mendengar ucapan Lilian, Seint ikut mencoba air tersebut. "Benar." Ucapnya sambil mengerutkan kening bingung. "Air yang kami minum sebelumnya berasal dari sini?" Tanyanya.
"Benar Yang Mulia." Jawab Tuan Asadel.
"Aneh ... Saat di penginapan air yang coba rasanya tidak semanis ini." Ucap Lilian.
"Apakah rasa air tawar akan berbeda saat kita memasaknya?" Tanya Tuan Asadel.
Lilian menatap ke arah tuan Asadel. "Tentu saja. ada banyak proses yang terjadi jika air dipanaskan." Jawab Lilian sambil menengok ke atas. "Apakah ada jalan agar kita bisa naik ke atas?" Tanyanya.
Tuan Asadel mengangguk cepat. "Ada Yang Mulia. Kita harus lewat jalan itu." Tunjuk-nya ke arah selatan air terjun.
Seint berserta rombongannya berjalan mengikuti arah tunjuk Tuan Asadel. Setelah berjalan sedikit menukik ke atas, akhirnya mereka sampai di atas ketinggian air terjun tersebut.
Seint dan Lilian serentak berjalan mendekati tanaman yang hidup didekat air terjun tersebut. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan raut wajah heran.
"Kamu mengenali tanaman ini?" Tanya Lilian.
Seint mengangguk singkat. "Tanaman ini sejenis lotus, namun berbeda dengan lotus tanaman ini bisa menghasilkan air menjadi manis." Jawab Seint.
Lilian mengangguk setuju dengan jawaban Seint. "Seperti yang kamu bilang, tanaman ini menghasilkan air menjadi manis ... Tanaman ini bisa membunuh tanaman lain. Tidak heran tidak ada banyak tanaman yang hidup sekitar air terjun ini." Ucap Lilian.
__ADS_1
"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Artem mendekati.
Seint dan Lilian menatap serius ke arah semua orang. "Apakah tanaman ini sejak lama tumbuh di sini?" Tanya Lilian sambil menunjuk tanaman itu.
"Entahlah Yang Mulia. Namun sejak kami menemukan jalan menuju ke sini tumbuhan itu sudah ada." Jelas salah satu penduduk.
Seint mengangguk pelan. "Tanaman ini memang tidak berbahaya jika kita konsumsi namun tumbuhan ini bisa membunuh tumbuhan lainnya." Jelas Seint.
Tuan Asadel bersama penduduk lainnya membulatkan mata sempurna. "Maksud Yang Mulia?" Tanya salah satu penduduk panik.
Lilian menghela napas pelan. "Tidak heran jikalau sekitar air terjun ini tidak ada tanaman yang tumbuh. Tumbuhan ini menghasilkan air menjadi manis, kandungan dari tanaman ini meski tidak merugikan bagi tubuh manusia namun merugikan untuk tanaman lain. Tanaman ini bisa membunuh tanaman lain terlebih lagi ada banyak sekali tanaman ini disini." Tunjuk Lilian pada tanaman-tanaman itu.
Seint menghela napas pelan. "Cabut semua tanaman itu dan jangan biarkan tanaman itu tetap tumbuh sekitar sini!"
"Baik Yang Mulia." Ucap Semua orang.
Seint, Lilian, Artem dan penduduk lainnya segera mencabut semua tanaman itu. Tanaman itu memiliki bunga yang indah namun dibalik keindahannya tanaman itu bisa membunuh tanaman lain.
Tanaman seperti itu cocoknya di tanam di tempat air yang tenang dan bukan seperti air terjun yang mengalir deras. Sepanjang air itu mengalir maka tidak akan ada tanaman yang akan tumbuh.
Semua orang mengangguk setuju kemudian berjalan menuju tempat yang di sebutkan oleh Lilian.
Setelah sampai ditempat yang mereka tuju. Semua orang mulai menyebar dan mencari sesuatu yang bisa mereka jadikan petunjuk. Tempat itu sangatlah bersih dan tidak ada apapun yang bisa mereka jadikan petunjuk.
"Sepertinya tempat ini hanya dijadikan tempat peristirahatan mereka." Ucap Seint datar.
"Sepertinya mereka bergerak dengan sangat hati-hati, tidak ada sedikitpun yang bisa kita jadikan petunjuk di sini." Ucap Artem sambil menghela napas pelan.
Tiba-tiba seorang penduduk berteriak kencang ke arah Seint dan yang lainnya berkumpul. "Yang Mulia saya menemukan sesuatu." Teriaknya sambil berlari ke arah Seint.
Seint menerima sebuah gulungan yang diberikan oleh satu penduduk tersebut. Seint mengerutkan kening bingung melihat gambar yang ada gulungan tersebut.
"Apa ini?" Tanya Seint sambil memutar ke kiri dan ke kanan gulungan tersebut.
Lilian mengambil gulungan tersebut dari tangan Seint dsn menatap serius gambar tersebut. "Sepertinya ini sebuah peta!" Ujar Lilian.
__ADS_1
Tuan Asadel maju selangkah mendekati Lilian. "Bisakah saya melihatnya Yang Mulia?" Tanyanya.
"Silahkan ... " Ucap Lilian sambil memberikan gulungan tersebut.
Tuan Asadel tersenyum cerah ke arah Lilian dan berganti ke Seint. "Ini peta wilayah barat secara keseluruhan Yang Mulia. Kami biasanya menggunakan simbol warna untuk menyambungkan daerah satu ke daerah lainnya." Jelasnya.
"Begitu-kah? Tanya Lilian.
"Iya Yang Mulia ... Silahkan di cek kembali!" Ucap Tuan Asadel sambil memberikan peta tersebut ke Lilian.
Lilian kembali menerima peta tersebut dan memeriksanya dengan seksama. "Tidakkah menurutmu jika warnanya diurutkan maka akan terlihat seperti gambar naga?" Tanya Lilian sambil memperlihatkan gulungan tersebut pada Seint.
Seint mencoba menyambungkan gambar tersebut sesuai simbol warna yang ada di sana. "Benar." Ucap Seint lalu menatap ke arah Tuan Asadel serius. "Wilayah ini berbentuk naga?"
Tuan Asadel merasa gugup saat ditatap secara intens oleh Seint. "Benar Yang Mulia ... Kami meyakini jikalau salah satu daerah kami ini adalah tempat naga tinggal." Jelasnya.
Lilian mengerutkan kening mendengar penjelasan dari Tuan Asadel. "Mengapa tidak bilang sejak awal? Lalu dimana tempat itu berada?" Tanyanya beruntun.
Tuan Asadel menunduk sopan. "Maafkan saya Yang Mulia. Tempat itu berada sedikit jauh dari sini, jika kita berangkat ke sana sekarang maka hari akan berganti gelap." Jelasnya.
"Kita lanjutkan perjalanan ini besok saja ... Lebih baik sekarang kita pulang dan beristirahat." Tegas Seint.
Lilian menghembuskan napas pelan dan mengangguk pasrah. "Baiklah." Ucapnya.
Seint menatap ke arah para penduduk saru persatu. "Tetap pantau tanaman itu, jangan sampai tanaman itu tumbuh dan membunuh tanaman lainya." Tegas Seint.
"Baik Yang Mulia." Ucap Semua orang serentak.
Mereka semua akhirnya kembali pulang untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan, Lilian memikirkan banyak hal dipikirannya. Sebelumnya Lilian telah membaca sebagian dari isi buku sejarah kerajaan Appolonia.
Di sana menyatakan, untuk memanggil naga seseorang harus bisa menemukan tempat yang naga itu sukai. Jika ritual pemanggilan naga itu telah dilakukan ditempat ini maka tempat ini memiliki daya tarik bagi seekor naga seperti Citto.
Lilian memejamkan mata dan fokus memikirkan Citto. "Citto jika kamu mendengar ku maka datanglah dan hampiri aku." Batin Lilian.
Jika Citto memiliki ikatan kuat dengan Lilian, maka naga itu seharusnya bisa mendengar Lilian meski jarak mereka terlampau sangat jauh. Lilian mencoba melakukan hal-hal yang tertulis dalam buku itu dan akan mempercayai isi buku tersebut jika ia bisa melihat Citto datang menghampirinya.
__ADS_1
°°°