Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
126. Kebakaran


__ADS_3

Pagi harinya kerajaan Apollonia kembali digegerkan oleh berita kebakaran yang dialami oleh Kelompok Kesatria Elang. Sebelum matahari terbit api yang berkobar melahap semua bangunan belakang milik Kelompok Kesatria Elang berhasil dipadamkan.


Para Penduduk Ibukota Apollonia dengan berbondong-bondong pergi ke lokasi kebakaran itu terjadi. Bagian depan bangunan Kelompok Kesatria Elang terlihat baik-baik saja namun bagian belakang bangunannya habis dilahap semua oleh api tadi malam.


Terlihat Tuan Alben Benito, para Tetua, Guru dan semua Murid tampak kelelahan. Semalaman mereka tidak bisa tidur karena harus memadamkan api agar tidak merambat kebangunan lainnya.


Setelah berhasil memadamkan api, Alben Benito mengepalkan tangannya kuat melihat bangunan yang sebelumnya baik-baik saja telah habis dan hanya menyisakan arang sisa dari bangunan tersebut.


"Semua usaha yang telah aku lakukan selama ini lenyap hanya dalam satu malam." Batin Alben Benito dengan raut wajah marah.


"Siapa dalang dari kebakaran ini? Apakah Tuan Marquis Gaustark? Dia telah menolak utusanku dan takut aku akan menyerangnya menggunakan alat-alat itu sehingga mereka memusnahkan bangunan belakang." Batin Alben Benito berkecamuk.


Salah satu Tetua berjalan mendekati Alben Benito yang sedang menatap nanar bangunan yang ada didepannya. "Ketua! Yang Mulia Raja sedang menuju kesini dan sebentar lagi akan sampai." Lapornya.


"Lalu saya harus bagaimana? Menyambutnya setelah semua ini? Todak mungkin!!" Marah Alben Benito.


"Ketua boleh saja marah namun kondisi kita tidak mendukung untuk memberontak. Kita sudah dijadikan kambing hitam dan sekarang semua usaha yang kita lakukan selama ini terbakar semua. Kita harus tetap berpikir dengan kepala dingin!! Jangan sampai karena kita sedang marah sehingga menimbulkan masalah lainnya dengan Yang Mulia Raja." Jelas Tetua itu menenangkan Alben Benito.


Alben Benito menggenggam erat kedua tangannya sampai kukunya memutih. "Siapapun pelakunya tidak akan saya lepaskan!! Jangan berpikir karena telah berhasil membakar bangunan, membuat kami menjadi melemah. Tidak mungkin!! Saya akan membalas sesuai apa yang kita dapatkan hari ini!!" Marahnya, wajahnya sampai berwarna merah padam.


Tidak lama setelahnya, seorang Murid datang mengabarkan tentang kedatang Raja Reinal. Setelah menenangkan diri sebentar Alben Benito berjalan menemui Sang Raja yang telah menunggu di aula pertemuan Kelompok Kesatria Elang.


Alben Benito membuka pintu aula pertemuan dan langsung bersujud dihadapan Raja Reinal.


"Apa yang sudah terjadi dikediaman mu Tuan Alben Benito? Bukankah saya sudah menyuruh mu agar tidak melakukan aktifitas apapun selama penyelidikan berlangsung?" Tanya Raja Reinal dengan raut wajah datar.


"Ampun Yang Mulia! Kami telah melaksanakan sesuai dengan perintah mu. Sejak titah diturunkan kami tidak melakukan aktifitas lain didalam Kediaman. Entah apa yang terjadi selama semalam yang membuat bangunan belakangan kami habis tidak bersisa." Lapor Alben Benito.

__ADS_1


Raja Reinal menatapnya dengan raut wajah datar. "Salah satu Prajurit yang berada di lokasi kebakaran semalam mengatakan bahwa memang tidak ada aktifitas yang mencurigakan selama di sini namun mengapa bangunan belakang kediaman kalian cepat sekali terlalap api? Jika saja Prajurit tidak membantu maka semua bangunan kalian akan habis terbakar."


Alben Benito bingung mau menjawab apa pertanyaan dari Raja Reinal. "Bangunan belakang kami terisi oleh barang-barang yang mudah terbakar sehingga membuat api cepat menjalar kebangunan lainnya." Jelasnya.


"Lalu suara ledakan apa yang terdengar semalam? Bukan hanya di sini ... Namun semua Penduduk sepanjang jalan membicarakan tentang ledakan itu!!" Tegas Raja Reinal.


"Itu ... Itu ..." Jawab Alben Benito gugup.


"Pihak Istana akan menyelidiki kebakaran semalam sampai ke akar-akarnya. Jika ada yang kalian sembunyikan maka terima saja hukuman apa yang pantas kalian akan dapatkan." Marah Raja Reinal.


"Ampun Yang Mulia ... Kami tidak berniat untuk menyembunyikan apapun darimu namun Kelompok kami adalah salah satu perguruan bela diri terbesar di Kerajaan Apollonia. Untuk menghindari serangan mendadak dari musuh maka kami membuat bahan peledak namun jumlahnya hanya sedikit dan tidak kami edarkan." Kata Alben Benito takut.


"Kau membuat bahan peledak secara ilegal!! Seharusnya jika kau memang benar-benar menggunakan bahan-bahan itu untuk melindungi Kelompok mu, maka seharusnya pihak Istana telah menerima laporannya dan akan memutuskan layak atau tidaknya kalian untuk mendapatkan ijin." Marah Raja Reinal.


"Ampun Yang Mulia ...Kami berniat melapor setelah semua telah selesai dikerjakan." Sanggah Alben Benito.


Raja Reinal tersenyum sinis. "Kau berniat melaporkannya setelah pengerjaannya selesai? Tidakkah jawaban mu terlalu sulit saya terima?" Tanya Raja Reinal.


"Semua kegiatan atau aktifitas kalian selama beberapa tahun terakhir akan pihak Istana periksa semua. Termasuk semua pengeluaran dan pemasukan yang kalian dapatkan dan dari sumber apa saja kalian mendapatkan penghasilan untuk kelompok kalian!!" Jeda Raja Reinal sebentar.


"Bahan-bahan yang masih tersisa akan pihak Istana sita demi penyelidikan lanjutan. Kau mungkin bisa bernapas lega sebentar sebelum saya benar-benar mendapatkan kebusukan Anda." Marah Raja Reinal kemudian berjalan keluar meninggalkan Alben Benito yang menahan marah.


°°°


Sesampainya Alben Benito di ruangannya, Ia kembali mengacak seluruh isi ruangan karena merasa tidak terima dengan keputusan dari Raja Thanos yang ia merasa berat sebelah.


"Semua ini gara-gara kumpulan orang-orang busuk itu!! Jika saja saya tidak termakan rayuan mereka maka saya tidak akan menerima kesepakatan pada hari itu!!" Teriak Alben Benito sampai terdengar dari luar ruangan.

__ADS_1


Para Tetua dan orang-orang penting Kelompok Kesatria Elang memasuki ruangan yang sangat berantakan itu dan menatap nanar ke arah Alben Benito yang sedang pada kondisi tidak baik-baik saja.


"Tenanglah Ketua!! Jika kita harus menanggung perbuatan mereka maka kita juga harus menarik mereka bersama dengan kita!" Teriak salah satu Tetua yang menenangkan Alben Benito.


"Saya sudah tidak bisa lagi tenang!! Jika Yang Mulia tahu tentang apa yang kita lakukan selama ini maka tamatlah sudah sejarah dari Kelompok Kesatria Elang!!" Marah Alben Benito sambil membanting benda yang bisa ia raih.


"Tenanglah Ketua!! Selama ini kita selalu bisa mengatasi masalah yang terjadi pada Kelompok kita. Saat ini juga saya yakin jika kita bisa keluar dari masalah ini dan membalaskan dendam kita!!" Kata Frans mencoba menenangkan Alben Benito.


Mendengar ucapan dari salah satu orang pentingnya, Alben Benito mulai bisa mengendalikan emosinya lagi. Tidak lama kemudian ia mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang sempat tadi ia lempar ke samping karena marah.


"Kita harus bisa membalikkan keadaan ini!! Mereka tidak hanya menjadikan kita sebagai kambing hitam namun mereka berencana menghapus nama Kelompok Kesatria Elang dari Kerajaan Apollonia." Kesal Alben Benito.


"Kalau begitu kita harus membuat rencana yang akan membuat mereka merasakan apa yang saat ini kita rasakan." Kata salah satu Tetua.


Alben Benito tersenyum sinis. "Mereka melupakan hal-hal penting dari kita. Selama ini kitalah yabg selalu berada di garda depan untuk melindungi mereka namun mereka sudah mengkhianati kita dan akan merasakan penderitaan yang kita alami."


"Apakah Ketua memiliki rencana untuk membalas mereka?" Tanya Frans.


Alben Benito mengangguk pelan. "Mereka sangat takut jika orang yang selalu mereka panggil Tuan Besar marah. Kita akan memancing kemarahan Tuan Besarnya dan lihat saja apakah mereka masih bisa duduk tenang seperti sekarang." Sinis-nya.


"Apa yang hendak Ketua lakukan?" Tanya salah satu Tetua.


"Bola kristal ... Selama ini mereka sangat menghawatirkan tentang keberadaan bola kristal itu. Maka sekarang saatnya bola kristal itu diperlihatkan kepada orang banyak." Ucap Alben Benito sambil tersenyum sinis.


Para Tetua dan Orang-orang penting Kelompok Kesatria Elang mengangguk setuju atas rencana Ketua mereka. Mereka merasa telah dikhianati berkali-kali oleh rekan mereka sendiri dan saatnya para rekan mereka juga harus merasakan kekhawatiran yang sama seperti yang mereka rasakan saat ini.


Alben Benito menggigit bibirnya kesal. "Lihat saja nanti ... Kalian akan tahu bagaimana rasanya terbakar oleh api sendiri." Sinisnya.

__ADS_1


°°°°


Sebenarnya Author mau UP tiga part namun Author agak demam dan sedikit batuk nggak bisa ngejar dan sangat butuh istirahat. Jadi bisanya ngetik sampai dua part saja.


__ADS_2