
Semua orang tidak menyangka bahwa hewan kecil itu dapat mengeluarkan api dari mulutnya. Seint bahkan meringis pelan menahan rasa perih yang ia rasakan pada tangannya.
Semua orang hendak berlari melihat kondisi tangan Seint, namun langkah mereka terhenti dikarenakan Citto lagi-lagi kembali mengeluarkan api dari mulutnya.
"CITTO KAU TIDAK BOLEH MELAKUKANNYA!" Teriak Lilian marah.
Naga kecil itu kemudian berhenti mengeluarkan api dari mulutnya dan menundukkan kepalanya saat melihat kemarahan dari Lilian. Lilian menatap ke arah Seint yang sedang menahan perih kemudian menatap ke arah Artem.
"Ambilkan salep luka bakar!" Ucap Lilian yang diangguki cepat oleh Artem.
Lilian menarik tangan Seint untuk duduk di sebalahnya dan meniup tangan kemerahan Seint. "Apakah ini sangat sakit?" Tanya Lilian sambil terus meniup tangan Seint.
"Sedikit." Ucap Seint sambil menetap Lilian. "Sedang marah tapi masih peduli." Batin Seint sambil menahan senyumnya.
Artem datang dengan membawa beberapa obat dan kain lap ditangannya. Saat ia ingin mendekati Seint dan Lilian langkahnya terhenti dan menatap ragu ke arah Citto. Mengerti dengan tatapan dari Artem, Lilian kemudian menatap ke arah Citto. "Tidak boleh melakukannya lagi ingat!" Ucap Lilian tegas.
Ciiiitttt....
Suara Citto terdengar sedih. Lilian kemudian kembali menatap Artem dan mengangguk ke arahnya. Artem berjalan mendekat dan memberikan obatnya pada Lilian. Zheyan, Asgar, Fania dan Violet berjalan mendekati Seint dan Lilian setelah memastikan Citto tidak akan menyerang orang lagi.
Lilian mengompres tangan Seint dan sesekali meniupnya. "Apakah perih?" Tanya Lilian dengan raut wajah khawatir.
"Sssss sakit." Seint pura-pura meringis sakit.
"Maafkan Citto ya! Aku tidak tahu kalau dia bisa mengeluarkan api dari mulutnya." Ucap Lilian sambil mengoleskan saleb ditangan Seint.
"Tidak apa-apa?" Ucap Seint masih menatap wajah khawatir dari Lilian.
"Aku khawatir ini akan berbekas." Ucap Lilian.
"Aku adalah lelaki." Ucap Seint masih menatap Lilian.
Lilian mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Seint. "Matanya sungguh sangat indah." Batin Lilian.
Deg...Deg...Deg...
Suara detak jantung Lilian, ia bahkan menelan ludah gugup melihat wajah tampan Seint dari dekat. "Apa cuman perasaan ku saja? Seint semakin hari semakin tampan saja." Batin Lilian menilai.
"Ekhemmm... Bisakah kalian berdua melihat situasi dan kondisi dulu kalau mau bermesraan?" Ucap Artem menyadarkan Lilian.
Lilian melepas tangan Seint dan memejamkan mata dengan gugup. "Bodoh! Mengapa aku bisa lupa kalau di sini ada banyak orang." Runtuk Lilian dalam hati.
Seint menatap tajam ke arah Artem. "Jika tidak suka jangan lihat!" Ketusnya.
"Kami sedang mengkhawatirkan mu Yang Mulia." Ucap Artem menekan setiap katanya.
"Lalu?" Ucap Seint datar.
"Argghhhh.." Teriak Artem frustasi.
"Apakah Yang Mulia baik-baik saja?" Tanya Zheyan menatap tangan Seint.
"Tidak apa-apa." Ucap Seint.
Seint menatap ke arah Lilian yang masih menundukkan kepalanya. "Kenapa menunduk?" Tanya Seint.
Lilian berdehem sebentar untuk mencairkan suasana yang menurutnya menegangkan. "Tidak apa-apa." Ucapnya sambil menatap Citto.
"Sejak kapan dia bisa mengeluarkan api dari mulutnya?" Tanya Asgar.
__ADS_1
Lilian menggeleng pelan. "Entahlah...aku pikir dia tidak akan mengeluarkan api." Ucap Lilian bingung.
"Sepertinya Citto terlihat sedih." Ucap Fania.
"Mungkin karena Lilian memarahinya." Ucap Violet.
Lilian menatap ke arah Citto kemudian menariknya dalam pelukan. "Mereka semua adalah Kakak dan tema-teman ku, lain kali kamu tidak boleh melakukannya lagi ya!" Ucap Lilian lembut sambil mengelus pelan kepala Citto.
Cittt...Citt...Citt... Suara kecil Citto.
"Aku anggap kamu menyetujuinya." Ucap Lilian tersenyum senang.
Zheyan menatap Lilian serius. "Sepertinya Citto akan bereaksi marah kalau seseorang berusaha menyakiti Lilian." Ucapnya.
"Benar. Ia pikir Pangeran Seint akan menyakiti Lilian jadi Citto mengeluarkan api dari mulutnya." Ucap Asgar.
"Mungkinkah Citto bisa merubah bentuk tubuhnya?" Tanya Zheyan penasaran.
Seint menghela napas pelan. "Sepertinya iya." Ucap Seint menatap serius ke arah Citto.
°°°
Keesokan harinya, waktu menunjukan siang hari. Sudah 3 hari para bangsawan melakukan kegiatan berburu yang di adakan oleh pihak istana. Setelah kejadian yang membuat gempar semua orang, pihak istana melakukan penjagaan yang sangat ketat.
Sekarang disinilah semua orang berkumpul, disebuah area yang sangat luas di dalam hutan. Mereka tengah menanti kedatangan Sang Raja yang akan menyampaikan pidato singkat dan secara langsung mengumumkan pemenang dari kegiatan tersebut.
Terlihat Sang Raja berjalan dengan gagahnya dengan di ikuti oleh para pengikutnya. Sesampainya Sang Raja dikursi kebanggaannya, ia mengendarkan pandangannya ke semua orang yang telah berkumpul.
"Semuanya beri hormat kepada Yang Mulia Raja!" Teriak seorang Prajurit.
Semua orang serentak menunduk memberi hormat pada sang Raja. "Semoga Yang Mulia selalu sehat dan terus diberkati oleh langit." Ucap semua orang.
Semua orang mengangkat kepala masing-masing dan menatap serius ke arah Sang Raja.
"Hari ini adalah hari terakhir kegiatan buru diadakan." Ucap Raja Reinal lantang.
Raja Reinal menarik napas pelan dan mengeluarkannya. "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah berpartisipasi untuk menyukseskan kegiatan ini. Meski dihari pertama kegiatan ini terjadi masalah yang begitu besar." Ucapnya.
"Dihari pertama telah terjadi sesuatu diluar rencana kami. Dua harimau besar telah memasuki kawasan para Putri bangsawan dan telah melukai banyak Prajurit serta Putri dari penjabat tinggi Duke Marven." Ucap Raja Reinal.
Raja Reinal kembali menghela napas pelan. "Untuk kejadian yang menimpa Nona Lilian, kami secara resmi meminta maaf atas nama kerajaan kepada keluarga bangsawan Duke Marven karena telah lalai dalam menjaga keamanan pada acara kegiatan ini. Dalam kesempatan ini juga saya ingin berterima kasih kepada Nona Lilian karena berkat aksi heroiknya, ia telah menyelamatkan banyak nyawa dari Putri bangsawan termasuk Putri saya sendiri." Ucapnya terjeda sambil memandang ke semua orang.
"Untuk menghargai jasa dari Nona Lilian, maka pihak istana telah menyiapkannya sebuah hadiah. Beberapa hari sebelum kegiatan ini diresmikan, kami telah mengirim surat pemberitahuan hubungan resmi antara Putra Mahkota dan Nona Lilian. Untuk itu pada hari ini saya akan mengumumkan secara resmi Nona Lilian dari keluarga bangsawan Duke Marven resmi saya angkat menjadi Putri Mahkota kerajaan Apollonia." Ucap Raja Reinal tegas.
Suara riuh terdengar dari semua orang yang hadir. Ada yang setuju dengan titah Sang Raja dan ada yang tidak menyetujui titah Sang Raja.
"Ampun Yang Mulia... Sebelumnya saya minta maaf karena telah lancang memotong titah mu namun bukankah dalam aturan kerajaan seorang Putri Bangsawan yang memiliki hubungan dengan Pangeran Mahkota baru bisa diangkat secara resmi jika umurnya sudah menginjak dua puluh tahun." Ucap Marquis Gaustark tidak terima.
Suara riuh kembali terdengar karena mendengar bantahan dari Marquis Gaustark.
"Tolong agar Yang Mulia memikirkan titah ini kembali." Ucap para bangsawan lainnya serentak.
Raja Reinal mengangkat kepalanya dengan tegas. "Keputusan saya telah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat." Ucap Raja Reinal.
"Yang Mulia... Hamba tahu, Nona Lilian telah berjasa atas apa yang dilakukannya namun keputusan Yang Mulia menyalahi aturan dari kerajaan ini. Mohon Yang Mulia pertimbangkan kembali." Ucap Marquis Gaustark.
"Mohon Yang Mulia pertimbangkan lagi." Ucap semua orang menunduk serentak.
"Saya tidak bisa menarik keputusan saya." Ucapnya tega.
__ADS_1
"YANG MULIA." Ucap semua orang serentak.
"Saya memiliki alasan yang kuat untuk mengangkat Nona Lilian sebagai Putri Mahkota secara resmi meski umurnya masih enam belas tahun." Ucap Raja Reinal tegas.
"Yang Mulia, meski Nona Lilian telah menyelamatkan banyak nyawa namun mengangkatnya sebagai Putri Mahkota di umurnya yang sekarang itu tidaklah benar." Ucap Viscount Wilson.
Raja Reinal menghembuskan napas pelan. "Di kerajaan Apollonia telah muncul seekor naga." Ucapnya terjeda.
Semua orang terkejut mendengar ucapan dari Raja Reinal. Sekian lama mereka hidup, mereka hanya menganggap keberadaan naga hanyalah sebagai mitos.
"Naga itu muncul setelah kejadian dua harimau besar yang memasuki kawasan Putri bangsawan. Kerajaan kita dilambangkan dengan naga, yang berarti kekuasaan tertinggi. Siapa pun yang bisa menaklukan seekor naga maka dia juga bisa menguasai banyak wilayah." Jelas Raja Reinal.
"Lalu apa hubungan kemunculan naga dengan Nona Lilian Yang Mulia?" Tanya Viscount Wilson.
"Dalam sejarah kerajaan Apollonia, dipercaya bahwa naga akan selalu melindungi kita. Jika seorang perempuan dapat mengendalikan seekor naga maka dia dianggap sebagai dewi. Sekarang naga itu muncul dan hanya bisa dikendalikan oleh Nona Lilian. Dalam peraturan kerajaan seseorang yang bisa mengendalikan naga maka ia memiliki hak kekuasaan mutlak dalam kerajaan meski ia masih berumur enam belas tahun." Jelas Raja Reinal panjang.
Semua orang menatap tidak percaya ke arah Sang Raja. Marquis Gaustark dan Viscount Wilson saling memberi kode, kemudian menatap Sang Raja serius.
"Mohon maaf Yang Mulia, bukan maksud hamba tidak mempercayai ucapan mu akan tetapi setiap perkataan harus memiliki bukti." Ucap Marquis Gaustark.
Raja Thanos menghela napas pelan kemudian menatap ke arah Duke Marven lalu ia mengangguk singkat. Selang beberapa waktu, Zheyan datang dengan menggendong Lilian, di susul oleh Seint, Artem, Asgar, Fania dan Violet dibelakangnya. Duke Marven sendiri kembali ke barisannya semula.
Saat sampai Zheyan mendudukkan Lilian pada sebuah kursi yang sebelumnya telah dipersiapkan khusus untuknya. Semua orang menatap ngeri melihat wajah serta tangan Lilian yang tidak tertutupi gaunnya penuh dengan luka.Terlihat Lilian membawa sesuatu dalam dekapannya yang ia sembunyikan dalam buntalan kain.
"Perlihatkan pada kami dimana naga itu berada Nona Lilian!" Ucap Viscount Wilson.
Lilian kemudian membuka buntalan kain tersebut dan muncul seekor hewan yang mirip sekali dengan kucing yang berbulu panjang.
Semua orang tertawa melihat Citto. "Apakah kucing ini yang Nona bilang naga?" Tanya Marquis Gaustark menahan senyumnya kemudian ia menatap Raja Reinal. "Yang Mulia bagaimana bisa seekor kucing dianggap sebagai naga?" Tanyanya sambil tersenyum sinis.
GRRR...GRRR...GRRR... Suara Citto marah.
Semua orang kembali tertawa melihat tingkah lucu Citto yang sedang marah.
Marquis Gaustark tidak dapat menahan tawanya melihat Citto, kemudian ia berjalan mendekatinya dan berniat memegangnya. "Bagaimana bisa kucing..." Ucapanya terjeda.
GGGGRRRROOOOOAAAAAARRRRRR...
Citto mengeluarkan api yang cukup besar dari mulutnya. Semua orang yang berdiri dekat dengannya refleks berlari menjauh. Zheyan bahkan dengan panik mengangkat Lilian cepat dan berlari sedikit menjauh.
"AAAARRRGGGGHHHHH..." Teriak Marquis Gaustark merasa panas karena bajunya terbakar api.
Semua orang yang hadir refleks berlari dan menyiram Marquis Gaustark dengan air yang ada. Setelah api padam perhatian mereka kembali ke arah Citto yang bertingkah aneh.
GGGGGGRRRRRR...GGGGGGRRRRRR...
Kaki Citto yang kecil mulai berubah membesar, mata abu-abunya berubah warna menjadi merah, ekornya semakin memanjang. Semua orang menahan napas melihat perubahan dari Citto, mereka bahkan tidak bisa menggerakkan badannya walau sejengkal dari posisinya.
Saat Citto mulai berubah sedikit demi sedikit. Lilian meronta di pelukan Zheyan dan berlari kearah Citto.
"JANGAN LILIAN." Teriak Seint dan Zheyan panik.
Semua orang berdiri dengan gemetar melihat Lilian yang berlari dan langsung memeluk Citto dengan sangat erat. "Tenanglah Citto... Aku ada disini bersama mu." Ucap Lilian sambil mengelus pelan bulu Citto.
°°°
Sengaja Author buat part yang ini agak panjang, soalnya Author rasa part yang sebelumnya terlalu pendek.
Selamat membaca....
__ADS_1