
Semua pasang mata memandang ke arah gantungan burung poenix yang berada ditangan Asgar. Gantungan itu terlihat sangat cantik, terbuat dari batu giok berwana hijau muda terang jika terkena sinar matahari, gantungan itu seakan-akan bersinar dan dari mulut sampai ekor burung tersebut terdapat sebuah lubang kecil.
"Apakah Tuan yakin kalau gantungan itu bisa menemukan pasangannya?" Tanya Artem tidak yakin.
"Entahlah. Kita akan tahu setelah mencobanya." Ucap Asgar.
Asgar menarik napas pelan kemudian meniup gantungan burung Poenix itu. Untuk sesaat mereka terbius dengan suara yang dihasilkan gantungan burung poenix tersebut. Mereka tidak menyangka jika ada benda yang seperti itu. Suara yang dihasilkan mirip dengan suara seruling, menenangkan dan sangat lembut untuk didengarkan.
Saat mereka mengagumi gantungan burung poenix tersebut, tiba-tiba suara yang sama terdengar tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Apakah kalian mendengar sesuatu?" Tanya Lilian terkejut.
"Ya, aku mendengar suara yang sama dengan suara yang dihasilkan gantungan itu." Ucap Zheyan.
"Coba ditiup sekali lagi!" Ucap Seint.
Asgar kembali meniup gantungan kunci itu kemudian tidak lama setelahnya terdengar suara yang sama. Semua pasang mata saling memandang satu sama lain saat mendengar kembali suara itu.
"Suara yang sama seperti gantungan kunci ini." Ucap Artem.
"Sepertinya suara itu masih disekitar sini." Ucap Zheyan.
"Tiup lagi sampai kita bisa menemukan dimana asal suara gantungan lainnya berada!" Ucap Seint.
Setelah yakin dengan gantungan tersebut, mereka akhirnya memfokuskan pendengaran mereka untuk mencari dimana sumber suara gantungan kunci lainnya.
Setelah beberapa kali Asgar meniup gantungan kunci itu, akhirnya mereka berkumpul ditempat yang sama yaitu di samping ranjang Lilian.
"Saya yakin asal suaranya di sini." Tunjuk Artem ke samping ranjang Lilian.
Seint berjongkok di samping rajang Lilian dan mengetuk keramiknya. Suara yang dihasilkan keramik tersebut sama saja namun Seint masih tetap mencoba untuk mengetuk keramik lainnya dan akhirnya terdengar suara lain yang dihasilkan dari keramik tersebut.
"Di sini." Tunjuk Seint.
Artem maju kemudian mengetuk keramik yang ditunjuk oleh Seint. "Sepertinya ada sesuatu dibawah sini." Ucapnya.
Zheyan akhirnya mengambil sesuatu untuk membuka keramik tersebut. Setelah berhasil mengangkat keramik, ternyata di sana ada sebuah kotak kecil.
"Buka!!" Ucap Seint tidak sabaran.
Artem kemudian perlahan membuka kotak tersebut dan menemukan kunci dengan gantungan burung poenix yang mirip dengan milik Asgar.
__ADS_1
"Itu... Gantungan yang sama." Ucap Lilian terkejut.
"Aku semakin penasaran dengan isi laci itu. Lilian menyembunyikan kuncinya dengan sangat rapi." Ucap Zheyan sambil menatap serius ke arah Lilian.
"Benar sekali Tuan Zheyan, Sepertinya isi laci itu sangat penting sehingga Putri Mahkota menyembunyikan kuncinya." Ucap Artem.
"Kalau begitu langsung saja kita buka laci itu." Ucap Seint datar.
Semua orang mengangguk singkat mendengar ucapan Seint kemudian mereka berjalan mendekati pintu masuk ruang perpustakaan. Setelah berhasil membuka pintu, mereka semua dengan tergesa-gesa berjalan menuju laci itu.
"Bukalah Lilian!" Ucap Seint.
Lilian mengangguk pelan dan menerima kunci yang diberikan oleh Artem. Lilian menarik napas pelan dan memasukan kunci laci tersebut.
Semua mata membulat sempurna melihat isi laci Lilian. Di sana terlihat ada beberapa barang seperti beberapa panah, buntelan kain, sebuah tanda pengenal dari giok, beberapa obat dan banyak barang lainnya.
Pertama Lilian mengeluarkan sebuah panah dari dalam laci. "Panah?" Ucap Lilian bingung.
Seint mengambil panah tersebut dan memeriksanya. "Ini panah yang sama, saat Lilian terjatuh dari atas kuda." Ucapnya.
"Kesatria Garuda." Ucap Zheyan.
"Lagi-lagi kelompok itu. Apa hubungan Lilian dengan kelompok itu!" Ucap Asgar.
Seint mengambil panah tersebut dan sesaat kemudian wajah Seint memerah menahan marah.
"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Artem khawatir melihat raut wajah Seint.
"Viscount Adrian Pavel." Ucap Seint sambil menatap tajam ke arah panah tersebut.
Artem kemudian mendekat ke arah Seint dan memeriksa panah tersebut. "Panah ini milik Tuan Adrian. Seingat ku Yang Mulia Raja Thanos menghadiahkannya karena telah berhasil mendominasi pada acara festival keluarga bangsawan beberapa tahun yang lalu." Jelas Artem.
"Dia memang terlihat aneh tiap dekat dengan ku." Ucap Lilian.
"Aneh?" Ucap Seint sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Dia selalu menatap ku dengan tatapan yang berbeda, bukan sebagai musuh namun setiap kali dia menatap ku, aku merasa tidak nyaman." Jelas Lilian.
"Kau sering bertemu dengannya?" Tanta Seint datar.
"Tidak bisa disebut sering, mungkin beberapa kali. Saat aku bersama Rosa sedang keluar, sesekali kami bertemu dan saling menyapa dan ... " Ucap Lilian terjeda sambil membulatkan mata. "Aku baru ingat... Aku pernah menceritakan kepada mu jika aroma yang ada disurat itu sama dengan aroma yang menguar dari tubuh Tuan Adrian." Ucapnya.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Tanya Asgar.
Lilian mengangguk cepat. "Waktu itu aku dan Rosa sedang bersantai di danau buatan. Kami tidak sengaja bertemu dengannya sedang bersama dengan Nona Raina, karena hubunganku memang tidak baik dengan Nona Raina akhirnya aku memutuskan pulang namun setelah aku melewati tubuh Tuan Adrian aku mencium bau yang sama ditubuhnya." Jelas Lilian.
"Sepertinya dulu Putri Mahkota memiliki hubungan dengannya." Celetuk Artem.
Seint menatap Artem dengan raut wajah tajam. "Apa maksud mu?" Tanyanya tidak suka.
"Maksud saya... " Ucap Artem bingung.
"Ahh sudahlah... pikirkan itu nanti saja. Masih ada banyak barang yang harus kita periksa." Ucap Lilian menyela.
"Benar yang diucapkan oleh Putri Mahkota." Ucap Artem cepat.
Seint hanya menatap Artem dengan raut wajah tidak suka. "Mengapa udara di sini terasa dingin ya?" Batin Artem.
Lilian kemudian mengeluarkan tanda pengenal yang terbuat dari batu giok. "Sepertinya ini tanda pengenal." Ucapnya sambil memberikan batu giok itu pada Seint.
Seint kemudian menatap batu giok itu lama. "Apa sebelumnya kamu pernah bertemu dengan Pangeran Igor?" Tanya Seint datar.
Lilian menggeleng pelan. "Tidak! Aku baru pertama kali bertemu dengannya saat di istana." Ucapnya.
Seint memandang ke arah Artem dan memberikan tanda pengenal itu. "Periksa!" Ucapnya.
Artem memeriksa tanda pengenal itu. "Sepertinya bukan milik Pangeran Igor." Ucap Artem. "Hampir mirip dengan miliknya namun di sini ada ukiran lambang lain." Tunjuk Artem ke arah batu giok tersebut.
Asgar mengambil batu giok itu dan memeriksanya. "Ini lambang dari salah satu petinggi dari kerajaan Elmore." Ucap Asgar.
"Kau yakin?" Tanya Zheyan.
"Apakah kalian masih ingat petinggi yang datang menawarkan kerja sama itu?" Tanya Asgar.
Mereka semua serentak mengangguk mendengar pertanyaan Asgar.
"Para pengawalnya memakai baju dengan lambang yang sama di dada kirinya." Ucap Asgar.
Zheyan mengerutkan kening bingung. "Makin kesini semakin rumit saja." Ucapnya.
"Apakah saat ini orang-orang itu sedang merencanakan hal yang besar? Maksud saya rencananya tidak hanya melibatkan orang-orang di kerajaan kita saja melainkan orang luar juga ikut terlibat." Ucap Asgar.
"Sepertinya kita harus membagi tugas untuk menyelidiki hal ini." Ucap Seint.
__ADS_1
"Yang Mulia benar." Ucap Artem serius.
°°°