
Wanita paruh baya itu tersenyum puas mendengar ucapan dari Lilian kemudian ia menatap serius ke arah Lilian.
"Pertama saya ingin memperkenalkan diri saya dulu, Nona boleh memanggil saya dengan sebutan Tuah Ni." Ucap Tuah Ni.
Lilian mengangguk pelan. "Baiklah Tuah Ni. Kami hanya memiliki waktu sebentar jadi mohon kerja samanya." Ucapnya.
"Baik Nona. Informasi apa yang ingin Anda ketahui?" Tanya Tuah Ni.
Lilian menatap Rosa sebentar dan kembali menatap Tuah Ni. "Dulu ada kasus dimana beberapa orang membawa bahan peledak menggunakan gerobak. Saya ingin tahu bagaimana kelanjutan kasus itu." Ucap Lilian.
Tuah Ni menatap Lilian intens. "Informasi yang Nona inginkan sangat berbahaya, baik itu untuk Nona ataupun saya sendiri. saya harus bisa memastikan kalau suatu saat nanti tidak akan ada masalah untuk saya sendiri." Ucapnya.
"Tuah Ni tenang saja. Jika suatu saat nanti akan ada masalah yang timbul, saya jamin kau akan tetap selalu aman." Ucap Rosa.
Tuah Ni mengangguk singkat kemudian mulai menunjukan raut wajah seriusnya. "Kasus itu sebelumnya telah ditangani oleh Pangeran Igor, menurut informasi yang dapat bahwa bahan-bahan peledak itu dibawa oleh orang luar lalu masuk ke kerajaan kita. Kemungkinan besar orang luar kerajaan telah melakukan kerja sama secara ilegal dengan salah satu bangsawan di kerajaan kita. Seiring berjalannya waktu saya tidak pernah lagi mendengar kelanjutan tentang kasus itu." Jelas Tuah Ni.
Lilian mengerutkan kening. "Jadi maksud mu kasus itu tidak pernah diselesaikan?" Tanyanya penasaran.
"Bukan tidak diselesaikan namun saya merasa kasus itu telah sengaja ditutupi, buktinya sampai sekarang belum ada kabar tentang penangkapan bangsawan itu." Jelas Tuah Ni kembali.
"Lalu apakah Tuah Ni tau siapa-siapa saja yang terlibat dalam kasus itu?" Tanya Rosa.
Tuah Ni melirik ke kanan dan kiri lalu menatap Lilian serius. "Saya dengar ada satu nama bangsawan yang terlibat dalam kasus itu." Ucapnya serius.
"Siapa?" Tanya Lilian tidak sabaran.
"Marquis Gaustark." Bisik Tuah Ni.
Lilian mengepal erat tangannya. "Apakah Tuah Ni yakin?" Tanya Lilian penasaran.
Tuah Ni mengangguk cepat. "Saya pernah menyuruh orang-orang untuk memata-matai kediamannya namun di sana sangat aneh." Ucapnya.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Aneh kenapa?" Tanyanya penasaran.
"Selama orang-orang saya memantau kediamannya, mereka tidak pernah meninggalkan kediaman itu sedikitpun namun anehnya pas hari menjelang sore ada banyak sekali orang yang keluar dari kediamannya melalui pintu belakang padahal sebelumya orang-orang saya tidak pernah melihat orang-orang itu masuk." Jelasnya.
"Mungkin saja mereka adalah Prajurit atau Pelayan dari kediaman itu." Ujar Rosa.
"Awalnya saya berpikir seperti itu, namun orang-orang suruhan saya melaporkan jikalau orang-orang itu memakai baju yang bagus terbuat dari sutra." Jelas Tuah Ni.
Lilian mengangguk pelan. "Lalu apa yang mereka lakukan di sana?" Tanyanya.
Tuah Ni menghela napas pelan. "Itulah yang sampai sekarang masih membuat saya penasaran. Kasusnya selesai begitu saja tanpa diketahui pelakunya, karena kasus itu telah ditutup maka saya juga tidak lagi mencari tahu kelanjutannya." Jelasnya.
Lilian mengangguk pelan lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong bawaannya. "Bekerja samalah dengan saya." Ucapnya sambil memberikan sebuah lencana.
__ADS_1
Tuah Ni mengambil lencana itu dan memeriksanya. "Putri Mahkota?" Ucapnya sambil membulatkan mata.
Lilian kemudian menyerahkan sekantong penuh emas. "Ini bayaran untuk informasi mu hari ini, namun saya masih ingin Anda memberikan informasi lainnya kepada saya lagi." Ucapnya.
"Yang ... Yang Mulia ..." Ucap Tuah Ni gugup.
"Jadilah orang-orang saya." Ucap Lilian serius.
"Apakah Yang Mulia yakin dengan saya?" Tanya Tuah Ni gugup.
"Saya yakin, namun jika Tuah Ni berkhianat pada saya maka Anda akan menanggung resikonya." Ucap Lilian menatapnya tajam.
"Baiklah Yang Mulia suatu kehormatan besar jika saya bisa menjadi salah satu orang dari Yang Mulia. Tuan Duke Marven pernah menyelamatkan nyawa saya, menjadi salah satu orang dari Putrinya adalah kehormatan untuk saya." Ucap Tuah Ni.
"Baiklah. Langkah pertama yang harus Tuah Ni lakukan sekarang adalah mencari tahu informasi terkait kasus itu, cari tahu aktifitas apa saja yang Tuan Marquis Gaustark lakukan dikediamannya. " Ucap Lilian tegas.
"Baik Yang Mulia. Jika saya sudah mendapatkan informasinya maka saya akan segera menghubungi mu." Ucap Tuah Ni.
"Baiklah, waktu kami tidak banyak. Kami harus segera pergi sebelum pengawal ku menemukan ku di sini. Ku harap Anda segera mendapatkan informasi yang saya butuhkan." Ucap Lilian sambil berdiri.
"Akan segera saya laksanakan Yang Mulia." Ucap Tuah Ni tegas.
"Ayo Rosa kita harus segera kembali." Ucap Lilian sambil berjalan keluar.
°°°
"Ada apa Rosa?" Tanya Lilian sambil mengerutkan keningnya.
"Apakah Yang Mulia yakin memberikan lencana itu kepadanya?" Tanya Rosa khawatir.
"Kamu tenang saja Rosa, aku bukanlah orang yang gegabah seperti yang kau pikirkan. Aku akan menyuruh salah satu pengawal ku untuk mengawasi aktifitas mereka. Aku harus bisa memastikan dulu mereka kawan atau lawan." Ucap Lilian sambil menatap lurus.
Rosa bernapas lega mendengar ucapan dari Lilian. "Syukurlah Yang Mulia, saya pikir Anda langsung mempercayainya." Ucapnya senang.
Lilian hanya tersenyum samar mendengar ucapan dari Rosa. Setelah berjalan sedikit lama, Lilian berhenti dan memastikan sekitarnya.
"Ada apa Nona?" Tanya Rosa bingung.
"Ada orang yang mengikuti kita." Ucap Lilian.
Rosa membulatkan mata sempurna mendengar ucapan Lilian. "APA? ada orang yang mengikuti kita?" Tanya Rosa panik.
Mendengar ucapan dari Rosa, enam orang orang Pria yang sedari tadi mengikuti mereka berdua keluar dari persembunyiannya.
"Hebat juga kalian Nona bisa merasakan kehadiran kami." Ucapnya sambil tertawa sinis.
__ADS_1
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Rosa meninggi.
Ke enam orang Pria itu tertawa mendengar ucapan Rosa. "Kalian telah memasuki daerah kami jadi kalian harus membayar pajak jalannya." Ucap salah seorang darinya.
"Sejak kapan petugas pajak modelnya seperti preman pasar kayak kalian." Ucap Rosa.
Seorang Pria meludah mendengar ucapan dari Rosa. "Besar juga nyali mu Nona kecil." Ucapnya sambil tersenyum sinis.
"Berikan saja koinnya Rosa. kita tidak perlu berurusan dengan orang seperti mereka." Ucap Lilian.
Rosa mengangguk pelan kemudian mengeluarkan sekantong koin dan melemparkannya ke arah enam Pria tersebut. "Kalian sudah mendapatkannya maka pergilah dari sini." Ucap Rosa sinis.
Ke enamnya kembali tertawa. "Tidak secepat itu Nona, kita perlu bermain sebentar." Ucap salah salahnya.
"Kalian sudah mendapatkan keinginan kalian jadi biarkan kami pergi." Ucap Lilian sambil menatap tajam ke arah ke enam Pria tersebut.
Mereka kembali tertawa dan berjalan mendekati Lilian dan Rosa. "Berhenti!" Ucap Rosa marah.
Mereka kembali tertawa terbahak-bahak, salah satu dari mereka mulai memegang pergelangan tangan Lilian namun ditepis kasar oleh Lilian. "Sekalinya dari kaum rendahan maka akan tetap jadi rendahan." Ucap Lilian marah.
"KAU!!." Ucap salah satunya marah kemudian mengangkat tangannya untuk memukul Lilian namun Lilian berhasil menendang selangkangannya dan menarik tangan Rosa untuk berlari.
Melihat salah satu temannya kesakitan, ke limanya kemudian mengejar Lilian dan Rosa. Tak lama mereka berhasil mengepung kedua gadis tersebut.
"Kita harus bisa melawan Rosa." Ucap Lilian.
"Bagaimana caranya Yang Mulia? Mereka berlima sedangkan kita hanya berdua." Ucap Rosa panik.
"Kalian tidak perlu berunding lagi, bermainlah dengan kami!" Ucap salah satunya sambil tertawa lepas.
Salah satu Pria kemudian mendekati Lilian sebelum tangannya mencapai tangan Lilian, gadis itu berhasil mendaratkan pukulannya pada wajah Pria itu, kemudian Lilian menendang perutnya dan memukul punggung Pria itu dengan sikunya.
Melihat temannya yang terjatuh akibat ulah Lilian, seorang lagi maju dan menyerang ke arah Lilian namun lagi-lagi Lilian berhasil menangkisnya dan memberikan pukulan kepada orang itu.
"Hebat juga kau Nona." Ucap salah satunya lagi kemudian maju melawan Lilian lagi.
Melihat teman-temanya takluk oleh Lilian. mereka berencana menyerang Lilian bersamaan namun Lilian selalu gesit menghindari serangan mereka. Rosa tidak tinggal diam, ia mencari sesuatu untuk ia pakai melawan salah satu dari mereka, setelah ia mendapatkan sebuah kayu, Rosa berlari membantu Lilian yang sudah sangat kewalahan melawan mereka.
Penutup wajah Lilian ditarik paksa oleh salah satu Pria tersebut dan lengan atas bajunya sedikit robek.
"Lari Yang Mulia." Ucap Rosa sambil memukul orang-orang tersebut dengan kayu.
"Tidak bisa Rosa!! Aku tidak bisa meninggalkan mu sendiri." Ucap Lilian tegas.
Ke enam orang tersebut mulai mengeluarkan senjata mereka untuk melawan Lilian dan Rosa. Rosa mulai mengeluarkan cairan kental dari lengannya karena selalu melindungi Lilian.
__ADS_1
°°°